Audit dan Declutter Pertemanan
Salah satu hal yang terjadi saat umur kita terus bertambah adalah lingkar pertemanan yang makin kecil. Tapi sungguh saya makin senang dengan hal ini. Saya dilahirkan dengan keadaan senang mengobrol hal-hal yang deep ke beberapa orang saja. Karena itulah meskipun saya memiliki banyak sekali teman mulai dari teman sekolah, blogger, teman kampus, teman ukm, teman organisasi, dan teman-teman lainnya, saya hanya memiliki jumlah teman dekat tidak kurang dari 5 orang saja. Lima orang ini yang benar-benar tahu keadaan saya sebenarnya mulai dari pasang surut kisah asmara, passion, tujuan hidup, persiapan mengejar impian, dan lainnya.
Memang kami sangat jarang berjumpa bahkan ada yang berada di luar pulau sehingga frekuensi pertemuannya makin jarang saja ditambah pandemi ya sudah mungkin beberapa tahun lagi saya akan bertemu dengan mereka.
Teman dekat saya ini tidak saling mengenal satu sama lain, dan lucunya di antara teman dekat saya ternyata sedang menerapkan hal yang sama, yaitu hidup minimalis, termasuk juga kegiatan declutter pertemanan.
Kalau teman saya sebut saja A sedang belajar hidup minimalis dengan menyadari betul barang apa yang dia beli, teman saya yang lain sebut saja B sedang dalam proses declutter pertemanan.
Menarik sekali hal ini ketika kita melakukan proses declutter hubungan pribadi dengan seseorang dan lebih penuh perhatian dengan beberapa orang saja.
Saya jadi ingat tahun lalu mengikuti sebuah webinar yang membahas tentang audit pertemanan oleh perempuan gagal. Konsepnya hampir sama yaitu melakukan proses declutter kepada orang terdekat kita.
Bukan berarti kita memutus tali silaturahmi ya tapi lebih ke memprioritaskan siapa saja yang berhak kita beri perhatian penuh. Bagi saya sendiri hal ini sangat bermanfaat dan berguna sejak mempraktikkannya setahun lalu. Saya memasukkan list orang-orang yang berhak ada di “Kotak A1″, kotak yang isinya memang orang-orang yang sangat dekat kita hingga “Kotak Z″, kotak yang isinya dengan orang-orang yang nice to know.
Metode audit pertemanan ini bermanfaat agar saya bisa lebih fokus dengan teman yang memang betul-betul memberi value hidup ke saya dan hopefully saya juga dapat memberikan value hidup ke dia.
Karena energi di usia yang tak lagi muda ini terbatas jadi saya ingin fokus dengan hal-hal yang essential saja. Mungkin kalau seseorang tahu kalau dia tak lagi ada di A1 seseorang ada yang marah dan benci kenapa hal itu terjadi tapi ketahuilah hal itu sangat normal di tiap fase hidup seseorang karena tiap orang ada jalan hidupnya masing-masing. Dan di jalan hidup tersebut kita akan berpapasan dengan orang dan kalau memang “klop” maka akan masuk A1. Tapi kalau di fase hidup selanjutnya teman ini sudah tidak “klop” lagi, ya ndak papa, ndak usah terlalu memaksakan. Nanti kita bertemu dengan orang yang “klop” sesuai fase hidup kita lagi kok.
Oh ya ngomong-ngomong saya ngobrol soal topik ini dengan beberapa kawan saya, silahkan disimak di podcast ini ya:
https://open.spotify.com/episode/5k8ekhchEoVoR24tDsYnLf?si=VlhD_jcHQYmWA7hKHJEAZg&dl_branch=1