Selera Kosmopolitan Generasi Y versus Hitung-hitungan Weton Jawa
Buku: Menikahlah Denganku Penulis: Annisa Andrie Jumlah halaman: 254 Terbit: November 2014 Penerbit: Pustaka Populer (Imprint Bentang Pustaka)
DALAM novel Menikahlah Denganku, dua tokoh utamanya yakni Jenna dan Satura digambarkan sebagai pasangan yang sedang sangat serius merancang pernikahan mereka. Maklum saja, cewek-cowok yang telah berpacaran sekitar dua tahun tersebut telah sama-sama memunyai pekerjaan yang memberikan aliran penghasilan terandalkan. Jenna merupakan videografer senior sekaligus staf kreatif sebuah biro iklan bernama Clipper. Satura adalah pengusaha muda pemilik Saturion Modif, sebuah bengkel perekayasa mobil-mobil off-road yang telah memiliki 21 karyawan. Lagi pula, pihak orangtua masing-masing sudah juga memberikan restu.
Tentang akad nikah maupun pesta pernikahannya dengan Satura, Jenna merencanakan aneka detail idamannya secara antusias, yang secara umum disetujui saja juga oleh Satura. Wish list Jenna itu meliputi: bunga dari Semeru sebagai mahar perkawinan, undangan berbahan utama daun-daun kering, pesta berdekorasi ala hutan, pelaminan sangat minimalis berwujud sebuah bangku taman, busana pengantin modern nan simpel berupa cocktail dress serta jas american style, hiburan musik perkusi, suvenir berbentuk kertas daur ulang bertuliskan puisi romantis yang diwadahkan dalam stoples kaca kecil langsing, hingga pilihan hari akad serta resepsi pada 1 April 2014 yang dinilainya sebagi tanggal cantik karena dapat ditulis sebagai 1-4-14. Cenderung terasa kosmopolitan dan eklektik 'kan? Nyaris tak lagi menunjukkan kelekatan Jenna yang seorang perempuan Jawa terhadap akar etnistitasnya.
Jenna dan Satura kiranya merupakan representasi dari apa yang dalam istilah demografi populer disebut sebagai Generasi Y. Itu artinya Jenna dan Satura termasuk orang-orang yang terlahir pada dekade 1980-an sampai dengan medio 1990-an, galib menjunjung rasionalitas dalam pola pikir dan tindakan sehari-harinya, digital immigrant yang aktif mengonsumsi informasi serta produk budaya populer melalui televisi dan gadget, juga mulai memandang diri sebagai bagian dari warga global atau dengan kata lain tak lagi benar-benar memandang diri mereka tersekat etnisitas maupun nasionalitas tertentu.
Jenna digambarkan sebagai perempuan Jawa yang tidak lagi nyaman dengan beberapa praktik sinkretik dan berbau klenik dalam budaya Jawa, sekaligus bersimpati kepada perilaku hidup yang lebih sesuai dengan aturan-aturan ajaran agama Islam. Sekalipun Jenna memang digambarkan belum sampai kepada tahap berhijab, satu hal yang di Indonesia pada beberapa tahun terakhir diterima secara luas sebagai simbol identitas muslimah yang saleh, baik dalam tata pergaulan sehari-hari maupun dalam produk-produk budaya populer seperti tontonan televisi, film, dan pemberitaan media massa.
Untuk Satura, pria yang memiliki hobi naik gunung dan panjat tebing tersebut kurang lebih sepemikiran dengan pacarnya. Hal tersebut antara lain bisa ditilik dari tidak terlalu percayanya pemuda berambut gondrong tersebut terhadap mitos Tanjakan Cinta di jalur pendakian Semeru, juga ketidaknyamannya melihat sejumlah orang Sulawesi melakukan ritual 'naik haji' ke Gunung Bawakaraeng pada bulan Dzulhijjah serta menganggap batu besar di gunung itu sebagai Hajar Aswad.
Perkataan Eyang Kakung Hanya saja, Eyang Kakung Jenna justru menjadi pihak yang seolah ingin mengempiskan optimisme Jenna mengenai prospek pernikahannya dengan Satura. Awalnya, ia menyebut Jenna yang ber-weton Jumat Pahing tidak cocok berpasangan dengan Saturan yang ber-weton Minggu Legi karena konon menjadi suami istri yang jauh dari sandang pangan. Sang Eyang pun tidak menyetujui pilihan tanggal pernikahan Jenna. Kata sang kakek, hari pilihan Jenna itu jatuh bertepatan dengan bulan Jumadilawal menurut penanggalan Jawa, akan menghadirkan efek buruk dalam hidup berumah tangga yakni sering mengalami kehilangan serta memiliki banyak musuh.
Benturan lain terjadi ketika pilihan konsep pernikahan kosmopolitan dan modern yang diinginkan Jenna ditentang orangtuanya yang menginginkan konsep tradisional ala Jawa. Eh, Jenna ternyata keukeh dengan konsep pernikahan idamannya. Saking keukeh-nya, Jenna sampai memutuskan untuk mengurus dan membiayai sendiri pernikahannya, tanpa melibatkan Mama-Papanya. Hmmm, menurut saya ada dua hal yang bisa dilihat dari sekuen konflik anak dan orangtua ini. Pertama, Jenna memang keras kepala luar biasa. Kedua, selera kosmopolitannya berharga puluhan juta sampai sekitar seratus juta rupiah. Terhadap sikap Jenna yang semacam tadi, Satura memilih mendukung saja.
Hanya saja, tatkala waktu pernikahan mendekat, Satura ditipu rekan bisnisnya hingga rugi ratusan juta rupiah. Duit puluhan juta yang rencananya menjadi dana pembiayaan pernikahan ikut amblas. Usahanya gulung tikar. Satura malah juga mengalami nahas saat memanjat tebing Pantai Siung, harus dirawat intensif di rumah sakit karena terancam lumpuh. Ini membuat Satura sangat depresi serta ragu melanjutkkan rencana pernikahannya dengan Jenna.
Beriringan dengan itu, Jenna tak luput juga terkena kesialan. Dia mengacaukan suatu pekerjaan dokumentasi yang dikerjakan kantornya sekaligus merusakkan kamera video properti kantor. Sebagai imbasnya, Jenna kudu membayar ganti rugi puluhan juta rupiah.
Hantaman masalah di pihak Satura maupun di pihak Jenna lantas merenggangkan kedekatan pasangan kekasih ini. Apa lagi, di tengah karut marut ini Jenna maupun Satura justru bertemu dengan perhatian dari pihak-pihak lain. Jenna menerima perhatian dari Rigel, rekan sekantornya yang sebenarnya menaruh hati kepadanya sejak lama. Satura pun dikunjungi Safia, temannya semasa kecil ketika tinggal di Makassar. Kelanjutan rencana pernikahan Jenna dan Satura jadi diliputi banyak tanda tanya. Pada saat semacam ini, Jenna jadi teringat kepada hitung-hitungan yang dilakukan Eyang Kakungnya terhadap weton kelahirannya dan weton kelahiran Satura. Ingatan tersebut sampai memunculkan sejumlah pikiran resah dalam benaknya. "Jenna sebenarnya sulit percaya, tapi apakah perkataan Eyang Kakung soal hitungan weton itu ada benarnya?” Demikian Jenna berbagi keresahannya suatu kali kepada sang Mama.
Secara pribadi, saya menyukai bagaimana Annisa Andrie menghadirkan sistem hitung-hitungan weton dalam novel ini. Itu tak cuma sebagai selipan pemanis, tetapi ternyata menjadi alat untuk menggambarkan gesekan antara Generasi Y alias kaum muda dengan keimanan mereka terhadap modernitas, rasionalitas, juga puritanisme agama di satu pihak versus kaum tua dengan kelekatan mereka terhadap nilai-nilai tradisional, okultisme lokal, hingga religiusitas yang bersifat sinkretis. Hitung-hitungan weton adalah "kekuatan" terselubung kaum tua yang ternyata sanggup menjadi hantu bagi optimisme dan kosmopolitanisme milik kaum muda.
Novel melankolis ini juga sangat bisa menggambarkan kerumitan persiapan suatu pernikahan. Namun, siapa sangka di tengah-tengahnya kita dapat menemukan sekuen yang bisa bikin ngakak atau paling tidak senyum-senyum. Itu adalah pada bagian percakapan via fasilitas pesan instan antara Jenna dan Rigel, yang acap kali konyol dan berbahasa alay.
Setting tempat yang dihadirkan Annisa Andrie dalam novel ini cukup variatif. Pembaca diajak "berkunjung" ke Pantai Siung di Gunung Kidul, dua desa di kaki Punthuk Setumbu dan Gunung Andong di Magelang, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan, juga beberapa tempat di kota Jogja. Hanya saja, menurut saya, Annisa agak malas ketika mencari setting tempat untuk sekuen cerita di dalam kota Jogja. Mosok sih lagi-lagi harus di Kilometer Nol dan Malioboro yang sudah bolak-balik nongol di FTV?
Selebihnya, cuma ada satu kesalahan kecil yang sedikit mengganggu dalam. Itu adalah di halaman 31 ketika penulis menganggap "paes ageng" dan "dodotan" sebagai dua jenis busana pengantin Jawa yang berbeda, padahal keduanya sama saja.
Hmmm, untuk karya kedua dari Annisa Andrie ini saya dengan hati memberikan rating 3,5 dari skala maksimal 5 bintang ala Goodreads.













