Why Are All the Fashion People Obsessed with DHL Right Now?
Haven’t you heard, darling? Delivery is *so* in.
Stranger Things

Discoholic 🪩

Origami Around

Kaledo Art
Claire Keane

titsay
tumblr dot com
No title available
dirt enthusiast
he wasn't even looking at me and he found me
Game of Thrones Daily

izzy's playlists!
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

oozey mess
noise dept.
One Nice Bug Per Day
cherry valley forever
Sweet Seals For You, Always
macklin celebrini has autism
Monterey Bay Aquarium

seen from United States
seen from Russia
seen from Canada
seen from South Korea
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Ecuador
seen from Ecuador

seen from Tunisia

seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@inaliapartemundi
Why Are All the Fashion People Obsessed with DHL Right Now?
Haven’t you heard, darling? Delivery is *so* in.
#NowPlaying Please enjoy this playlist >> Better Than Your Radio Station by Zakki Wirasenjaya
A younger Hector Salamanca surprised to Mike, on Better Call Saul Ep. 6 - Bali Ha’i.
I’m the hero of the story, don’t need to be saved
(500) Days of Summer (2009) dir. Marc Webb
Concert Review - Tersihir Magis Trees and Wild di Komunitas Salihara
Semenjak berubah nama dan berubah personil, band ini juga berubah genre. Dulu pertama kali mendengar The Trees and The Wild (TTATW), suasana hati dan pikiran menjadi damai dan tenang khas musik folk akustik. Serasa sedang di tengah hutan sendirian... Tapi semua berubah semenjak ada Barasuara, (salah satu personil Barasuara adalah mantan personil TTATW) nuansa musik TTATW berubah menjadi semacam rock psychedelic tapi lebih instrumental dan berganti identitas menjadi Trees and Wild. Apakah menghilangkan kata “the” termasuk mengganti identitas? Silakan cari sendiri jawabannya. - ZW
Di suatu Minggu di bulan Maret, saya tergerak untuk melihat salah satu grup musik yg menemani waktu-waktu membuat skripsi semasa kuliah. Adem banget musiknya dan saya pikir cuaca yang sedikit mendung akan mendukung musik-musik grup tersebut.
Sampailah saya di venue-nya, Komunitas Salihara di daerah Ps. Minggu, Jakarta Selatan. Organizernya adalah sebuah fakultas dari kampus di Indonesia jadi silakan bayangkan saja banyak muda-mudi gaul berumur awal 20an di sana. Semacam pensi tapi tidak mau dibilang pensi. Ketika saya datang, grup musik Feast sedang bermain (sepertinya mereka bagus). Sebelum Trees and Wild mulai sempat ada beberapa acara lain, jadi skip saja langsung.
Sekelompok orang berbaju hitam datang sembari membawa alat-alat musik. Tampak ada personil-personil Trees and Wild yang saya kenal dari youtube dan membawa mungkin hampir seluruh alat musik yang ada di studio. Set Trees and Wild yang khas seperti foto saya diatas disusun. Ucap seorang teman, set panggung seperti itu adalah salah satu cara memanggil setan. Apalah. Setelah set diatur sedemikian rupa, orang-orang tersebut kembali ke backstage dan naik lagi ke panggung.
Tanpa basa basi, Trees and Wild langsung menghentak ruangan dengan lagu di album kedua mereka yang belum bisa saya cari dimana-mana kecuali versi live di youtube dan beberapa versi di soundcloud. Wow. Saya sempat tak percaya ini grup yang sama yang memainkan lagu “Malino” beberapa tahun lalu. Banyak distorsi, efek delay dan reverb full di gitar, dan juga gebukan drum bersemangat hingga kacamata si drummer beberapa kali terlempar.
Mereka memainkan beberapa lagu, yang saya tidak tahu, tapi asik untuk dilihat secara live. Sepertinya 3 lagu pertama berjudul “Nyiur”, “Serangan”, dan “Tuah Sebak”. Sekilas seperti campuran dari Pink Floyd, Black Sabbath, dan Led Zeppelin. Tapi cuma sekilas. Jeda antar lagu sangat sebentar, suara vokal wanita dengan nada tinggi dan delay, serta riff gitar yang repetitif tapi catchy membuat saya tersihir oleh magisnya Trees and Wild. Di depan saya ada pasangan muda mudi yang sepertinya hingga saat ini masih belum lepas berpelukan. Setelah itu terdengar intro lagu “Saija” dan mulailah kembali perjalanan magis dari Trees and Wild. Lagu ini sedikit lebih ‘gembira’ dibandingkan lagu mereka sebelumnya. Ada sedikit rasa Explosions in The Sky disini. “Empati Tamako” menjadi pilihan lagu terakhir dari mereka. Lagu ini salah satu lagu yang bisa dibuat singalong selama 1 menit awal setelah saya browsing beberapa hari sebelumnya dan setelah itu para personil Trees and Wild kembali kerasukan memainkan alat musiknya masing-masing hingga sekitar 7-10 menit.
Selama 1,5 jam perjalanan dari “Nyiur” hingga “Empati Tamako” tak terasa karena rasa heran dan takjub saya terhadap grup musik ini. Karena saya belum mendengar versi studio dari lagu-lagu baru mereka, show ini menjadi hal yang menarik untuk saya. Sok-sok paham padahal tidak selama show berlangsung. Tapi overall lagu-lagu baru Trees and Wild berhasil membuat saya tersihir.
Tanpa basa basi lagi setelah “Empati Tamako” dan outro yang panjang, mereka kembali ke backstage dan saya pun kembali ke dunia nyata di Senin dinihari.....
Concert Review - Superbad Vol. 73 or Efek Rumah Kaca’s Last Show
“Efek Rumah Kaca bukanlah salah satu grup musik yang karyanya selalu saya dengarkan setiap hari. Bukan juga salah satu grup musik yang selalu saya ingin tonton di Youtube. Tapi, Efek Rumah Kaca selalu membuat saya penasaran. Lirik dengan bahasa yang berat, diiringi nada-nada yang sedikit “miring” namun easy listening” - ZW
Superbad Vol. 73 adalah pengalaman ketiga saya melihat live Efek Rumah Kaca. Sebelumnya 1x di Surabaya (2011an) dan 1x di Bekasi (cuma selewat saja karena tujuannya kerja pada saat itu). Saya hanya penasaran untuk datang ke Superbad Vol. 73 hanya karena sebuah rumor bahwa ini penampilan terakhir trio pop minimalis itu. Ada 2 grup musik lain, Polka Wars dan grup musik asal Jepang, namun saya (dan penonton-penonton lain) juga tidak terlalu memperhatikan.
Sekitar pukul 10 malam, saya datang ke Jaya Pub di daerah Jakarta Pusat, diiringi 2 lagu terakhir dari Polka Wars. Suasana khas irish pub menjadi tema yang cocok untuk menemani lagu-lagu Efek Rumah Kaca menurut saya.
Setelah Polka Wars selesai, tak lama muncul Efek Rumah Kaca dengan beberapa additional crew karena malam itu datang juga Adrian, salah satu personel mereka yg sudah lama tak tampak secara live karena sakit. Sebuah spanduk bertuliskan “Ada-ada saja, sifat kawan kita” dengan foto Cholil, sang vokalis yg kabarnya akan pindah ke Amerika, digelar sebagai backdrop panggung. Saya semakin yakin bahwa ini adalah konser terakhir Efek Rumah Kaca dan merasa beruntung sempat datang ke Jaya Pub. Diiringi hujan deras diluar, lagu “Merah” dari album terbaru mereka dimainkan. Saya tidak begitu hafal banyak lagu Efek Rumah Kaca, tapi just enjoy the show sajalah. Lagu favorit saya selama beberapa minggu terakhir, “Putih”, dimainkan juga dan akhirnya suasana semakin memanas. Saya sempat heran, lagu “Putih” ini dipersembahkan Cholil untuk istrinya. Coba saja cari liriknya di google dan bayangkan. Pada saat lagu “Biru” diakhiri, rasa merinding, sedih, dan takjub muncul juga. Whoooo!!!
Setelah beberapa lagu dari album Sinestesia dimainkan, berlanjut ke hits-hits lama seperti “Cinta Melulu”, “Mosi Tidak Percaya”, “Di Udara”, hingga “Sebelah Mata”. Suasana semakin gila ketika lagu-lagu tersebut dimainkan, bayangkan saja crowdsurfing di tengah-tengah orang yg sedang duduk dan ini juga bukan konser Punk!. Gokil! Ditengah konser, Cholil sempat mengumumkan ini merupakan konser terakhir mereka, jadi saya officially menjadi bagian dari sejarah Jaya Pub dan Efek Rumah Kaca juga. Saat lagu “Kuning” selesai dan Cholil dkk pun pamit, para penonton tidak mengizinkan, dan akhirnya Efek Rumah Kaca encore juga dengan memainkan lagu “Melankolia”. Saat lagu mulai dimainkan setengah tapi waktu sudah masuk ke Hari Senin, saya memutuskan untuk pulang sebelum lagu “Desember” dimulai (kata review sebuah blog lain). Sebelum pulang saya mengambil sisa pamflet “Konser Sinestesia” pada Januari lalu yg sempat kehabisan tiket sebagai sebuah memento dari Efek Rumah Kaca.
Diiringi gerimis kecil, lagu-lagu Efek Rumah Kaca semakin meresap ke dalam pikiran sampai saya menulis review ini sembari mendengarkan lagu “Putih”.
Akhirnya Efek Rumah Kaca usai juga...
Akhirnya Efek Rumah Kaca lengkap sudah..
Teenage me would love this.
The Top 15 Music
Music is one of the best creation from God. He chooses the only intelligent people around the world from any generation to expand His creation into a great combination of sound and instruments. It can mean differently to every listener.
According to me, this is the top 15 music that had been exist from any era in the world and came directly to my ear in 2015 with the reason. Why only 15? Because I want it. The list is not arranged, so grab your headphone and start listen to the top 15 music according to me.
1. November Rain by Guns N Roses. This song (especially Slash’s Solo) is my guidance to guitar and the music world.
2. Dumpweed by Blink 182. Great combination of 90′s poppunk, annoying lead vocal, and melodic guitar riffs with Travis’s beat.
3. Atlas by Plini. My door to the prog-metal.
4. Mad Sounds by Arctic Monkeys. Catchy lyrics with great tunes.
5. One More Day by Descendents. The best creation of Poppunk with non-romance lyric.
6. Marooned by Pink Floyd. Atmospheric feeling of a song.
7. Cause I’m A Man by Tame Impala. Cool mix of Kevin’s vocal and the bass.
8. Atmosphere on the Moon by Paul Gilbert. Very Gilbert guitar riff and great harmony.
9. Champagne Supernova by Oasis. Nobody will hate this.
10. Crossroads by Eric Clapton. This change my definition of Blues, from color to the best music genre in the world.
11. September by Earth, Wind, and Fire. My dance song.
12. Little Wing by Jimi Hendrix. A guitar combined with the god of guitar.
13. Blackbird by The Beatles. Calming your ear.
14. Starry Night by Joe Satriani. When virtuoso plays a sleep song.
15. Blackdog by Led Zeppelin. The perfect guitar riff.
Grazie. Danke. Merci.
Frontrow punkrockshow is the best place to go wild #supdonesia #suppynationtour #punk #poppunk #vsco (at Viky Sianipar Music Centre)
Sums me up very well
Music Nerd
Ada dua kata yang akan dibahas disini, yaitu Music dan Nerd. Music, semua sudah tahu artinya lah ya. Sedangkan Nerd, Berdasarkan Wikipedia, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai seseorang yang intektualitasnya di atas rata-rata, obsesif, dan sulit bergaul secara sosial. Jika dua kata tersebut digabungkan, kurang lebih memiliki pengertian sesorang yang intelektualitas musiknya, diatas rata-rata, obsesif terehadap musik, dan sulit bergaul karena pengaruh musik.
Terkadang hal tersebut ada benarnya juga. Bagi saya, musik bagaikan seebuah adiksi yang sulit dihentikan. Soundtrack dalam setiap detik hidup saya. Bayangkan anda hidup di dalam sebuah film dimana anda adalah sutradara dan komposer musiknya. Gokil.
Saya senang dengan semua jenis musik, tapi dengan tingkatan yang berbeda-beda. Dangdut berada pada tingkatan terbawah, sedangkan Blues dan Punk berada pada tangga lagu nomor satu untuk saya. Blues disini termasuk akar-akarnya juga seperti Rock, Rock n Roll, dan sedikit Jazz. Saya juga merasa aneh mengapa saya bisa terobsesi dengan dua genre musik yang berbeda seperti itu. Mungkin disebabkan oleh event-event dalam hidup saya yang beragam. Blues bagi saya cocok untuk didengarkan pada saat akan memulai dan mengakhiri hari sedangkan Punk lebih nyaman didengarkan tengah hari di tengah-tengah keramaian di kereta dan angkutan umum lainnya. Mendengarkan lagu-lagu tersebut rasanya memindahkan perasaan menjadi suara lengkingan gitar dan hentakan drum yang bagaikan tidak ada ujungnya. Coba saja dengarkan Chuckberry, Guns N Roses, Blink 182, dan NOFX lalu rasakan bulu kuduk anda berdiri.
Selain genre musik tersebut saya juga terobsesi dengan gitar. Semua lagu akan saya dengarkan dengan cara mendengarkan melodi gitar terlebih dahulu baru menikmati intstrumen lainnya. Nada-nada yang melodius dan tinggi menjadi adiksi tersendiri buat saya. Melodius disini saya artikan sebagai suara gitar yang dapat digumamkan dan mudah dihafalkan.
5 melodi gitar yang menurut saya melodius adalah:
Always With Me, Always With You - Joe Satriani
I Still Have That Other Girl - Paul Gilbert
Atlas - Plini
All That We Are - Angels & Airwaves
Little Wings - Jimi Hendrix
Sebenarnya masih banyak melodi gitar yang melodius menurut saya, namus saat ini saya sedang mendengarkan lagu-lagu favorit saya. (re: pikiran sedang tidak bisa diganggu)
Dalam mendengarkan musik, terkadang saya merasa menjadi Nerd. Seorang kutu buku yang sulit diganggu ketika sudah terpaku dengan buku. Obsesif terhadap genre musik favorit, selalu mencari tahu kabar dan info terbaru dari genre musik tersebut yang membuat tingkat intelektualitas dalam genre tersebut diatas rata-rata orang lain. Ketika mendengarkan lagu juga terkadang saya tidak ingin diganggu yang berdampak pada sisi sosial saya sendiri. Namun saya memang nyaman seperti itu saat ini.
Chasing the dream with @juventus #pogba #juve #juventus #championsleague #instajuve
Allegro dari SMP
How do we fix this if we never have vision?
Tom Delonge on Obvious by Blink 182
Ranu Kumbolo, December 2012
Everything will be okay in the end. If it’s not okay, then it’s not the end.
John Lennon (via quotethatword)