Concert Review - Tersihir Magis Trees and Wild di Komunitas Salihara
Semenjak berubah nama dan berubah personil, band ini juga berubah genre. Dulu pertama kali mendengar The Trees and The Wild (TTATW), suasana hati dan pikiran menjadi damai dan tenang khas musik folk akustik. Serasa sedang di tengah hutan sendirian... Tapi semua berubah semenjak ada Barasuara, (salah satu personil Barasuara adalah mantan personil TTATW) nuansa musik TTATW berubah menjadi semacam rock psychedelic tapi lebih instrumental dan berganti identitas menjadi Trees and Wild. Apakah menghilangkan kata “the” termasuk mengganti identitas? Silakan cari sendiri jawabannya. - ZW
Di suatu Minggu di bulan Maret, saya tergerak untuk melihat salah satu grup musik yg menemani waktu-waktu membuat skripsi semasa kuliah. Adem banget musiknya dan saya pikir cuaca yang sedikit mendung akan mendukung musik-musik grup tersebut.
Sampailah saya di venue-nya, Komunitas Salihara di daerah Ps. Minggu, Jakarta Selatan. Organizernya adalah sebuah fakultas dari kampus di Indonesia jadi silakan bayangkan saja banyak muda-mudi gaul berumur awal 20an di sana. Semacam pensi tapi tidak mau dibilang pensi. Ketika saya datang, grup musik Feast sedang bermain (sepertinya mereka bagus). Sebelum Trees and Wild mulai sempat ada beberapa acara lain, jadi skip saja langsung.
Sekelompok orang berbaju hitam datang sembari membawa alat-alat musik. Tampak ada personil-personil Trees and Wild yang saya kenal dari youtube dan membawa mungkin hampir seluruh alat musik yang ada di studio. Set Trees and Wild yang khas seperti foto saya diatas disusun. Ucap seorang teman, set panggung seperti itu adalah salah satu cara memanggil setan. Apalah. Setelah set diatur sedemikian rupa, orang-orang tersebut kembali ke backstage dan naik lagi ke panggung.
Tanpa basa basi, Trees and Wild langsung menghentak ruangan dengan lagu di album kedua mereka yang belum bisa saya cari dimana-mana kecuali versi live di youtube dan beberapa versi di soundcloud. Wow. Saya sempat tak percaya ini grup yang sama yang memainkan lagu “Malino” beberapa tahun lalu. Banyak distorsi, efek delay dan reverb full di gitar, dan juga gebukan drum bersemangat hingga kacamata si drummer beberapa kali terlempar.
Mereka memainkan beberapa lagu, yang saya tidak tahu, tapi asik untuk dilihat secara live. Sepertinya 3 lagu pertama berjudul “Nyiur”, “Serangan”, dan “Tuah Sebak”. Sekilas seperti campuran dari Pink Floyd, Black Sabbath, dan Led Zeppelin. Tapi cuma sekilas. Jeda antar lagu sangat sebentar, suara vokal wanita dengan nada tinggi dan delay, serta riff gitar yang repetitif tapi catchy membuat saya tersihir oleh magisnya Trees and Wild. Di depan saya ada pasangan muda mudi yang sepertinya hingga saat ini masih belum lepas berpelukan. Setelah itu terdengar intro lagu “Saija” dan mulailah kembali perjalanan magis dari Trees and Wild. Lagu ini sedikit lebih ‘gembira’ dibandingkan lagu mereka sebelumnya. Ada sedikit rasa Explosions in The Sky disini. “Empati Tamako” menjadi pilihan lagu terakhir dari mereka. Lagu ini salah satu lagu yang bisa dibuat singalong selama 1 menit awal setelah saya browsing beberapa hari sebelumnya dan setelah itu para personil Trees and Wild kembali kerasukan memainkan alat musiknya masing-masing hingga sekitar 7-10 menit.
Selama 1,5 jam perjalanan dari “Nyiur” hingga “Empati Tamako” tak terasa karena rasa heran dan takjub saya terhadap grup musik ini. Karena saya belum mendengar versi studio dari lagu-lagu baru mereka, show ini menjadi hal yang menarik untuk saya. Sok-sok paham padahal tidak selama show berlangsung. Tapi overall lagu-lagu baru Trees and Wild berhasil membuat saya tersihir.
Tanpa basa basi lagi setelah “Empati Tamako” dan outro yang panjang, mereka kembali ke backstage dan saya pun kembali ke dunia nyata di Senin dinihari.....