Merasa sendiri itu lebih menyakitkan daripada memilih untuk sendiri. Ini jalan yang kamu pilih, Nov?

No title available
taylor price
wallacepolsom
sheepfilms

blake kathryn

JVL
No title available
almost home

tannertan36
One Nice Bug Per Day

roma★
Today's Document
ojovivo

Origami Around

Kaledo Art
Stranger Things

@theartofmadeline
AnasAbdin

Discoholic 🪩

No title available

seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Lithuania
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Romania

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Germany
seen from Belarus
seen from United States
seen from United States
seen from United Arab Emirates
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
@indrnovi
Merasa sendiri itu lebih menyakitkan daripada memilih untuk sendiri. Ini jalan yang kamu pilih, Nov?
22.21
Barangkali, memang harus seperti ini jalannya. Aku mungkin hanya sedang lelah dan butuh istirahat, alih-alih merasa sia-sia jika harus "membuang" sebagian waktu untuk berhenti memberi jeda.
Aku mungkin hanya kurang sabar atas jalan yang kulalui, berharap bisa segera bertemu dengan ujung jalan. Padahal aku pun tahu kalau semua yang sedang kujalani adalah proses. Hanya saja, aku kurang sabar.
Mungkin aku hanya sedang kelelahan, menjadikan semua ini terasa sendirian. Kukira akan banyak teman, tapi ternyata umur semakin matang, hidup semakin menekan.
Mungkin aku hanya kelelahan. Menghadapi dunia seorang diri, tanpa dapat bercerita dan berbagi beban. Aku hanya perlu jeda sejenak, mengumpulkan kembali serpihan keberanian.
(c)kurniawangunadi
Kalau Memang Ia
Rasa khawatir itu bergandengan erat dengan harapan, tak kala doa-doa itu terucap dalam hati. Segala sesuatu membuat pikiranku ke mana-mana, ketidakpastian yang ingin segera kutemukan jawabannya. Hari menghitung hari, menunggumu datang beserta dengan niat dan tindakan yang sesuai.
Aku tak pernah sekhawatir ini dalam berdoa, sekaligus tak pernah seberharap ini. Biar tak ada keraguan dan penyesalan di kemudian hari, aku selalu berusaha untuk membuat pikiranku lebih jernih. Bahwa, semua kemungkinan itu mungkin untuk terjadi dan aku harus bersiap.
Kalau memang ia, mudahkanlah jalannya. Kalau ada hambatan, kuatkanlah dirinya. Kalau ada godaan, pandulah ia tetap pada niatnya. Doaku sederhana, semoga kamu tak tersesat ketika datang kepadaku. ©kurniawanguandi
Sesuatu yang luar biasa menenangkan datang saat aku tidak mengkhawatirkan siapa pun dan apa pun, termasuk diri sendiri. Tidak juga menunggu dan menebak-nebak apa pun. Hanya terus jalan, sesekali berlari, kemudian hitung banyaknya nikmat yang diterima.
Tak selamanya yang terlihat membahagiakan pada orang lain, akan membahagiakan pula ketika menjadi milik kita.
Kita tak pernah tahu, seberapa besar perjuangan yang telah ia lalui untuk sampai di titik ini. Berapa kali kesalahan yang telah ia perbuat. Sekalipun ia jatuh, ia terus bangun dan tidak menyerah. Seberapa tangguh badannya menerjang kejamnya dunia yang terus menerus merendahkannya.
Hingga di titik sekarang, di mana ia dapat menuai segala proses yang dulunya mungkin ia sesali.
Jangan membandingkan buku ceritamu di halaman ke 5 dengan buku cerita orang lain di halaman ke 20.
Bila hari ini kamu melakukan kesalahan, bila hari ini kamu menyesal dan bersedih, tenanglah. Nikmati apa yang membuatmu resah hari ini, ingatlah suatu saat kamu akan mensyukuri hari ini.
Kamu sedang berada di titik permulaan dari sesuatu yang besar, jangan biarkan komentar orang lain mengecilkan hatimu.
Setiap hari yang kita lalui ini, adalah lembar-lembar yang akan menyusun sebuah buku sejarah kehidupan dari diri kita yang tak pernah ternilai harganya. Setiap helai kesalahan adalah pelajaran yang begitu berharga dan sangat berarti.
Syukurilah hari ini, tanpa kutukan yang berarti. ____ Dalam sebait kesedihan; 1 Oktober 2019. @shafiranoorlatifah
Jangan mudah silau pada sesuatu yang bukan tujuanmu. Dan jangan tutup mata dari apa yang sebenarnya harus kautuju. Karena silau dan gelap, intinya sama-sama tak bisa melihat.
This loving husband spent two years planting thousands of flowers for his blind wife to smell. After going blind, Mrs. Kuroki become depressed and withdrawn, secluding herself in their home. Her husband decided to plant a flower garden where she could enjoy their smell, enticing her to go outside.
Photographs by Yoshiyuki Matsumoto
Kita ga tahu takdir kita gimana. Kita ga tahu yang baik di mata kita apakah akan tetap baik ke depannya. Yang terlihat buruk apakah akan tetap buruk.
Karena ga tahu, maka dalam proses menuju pernikahan. Kita cuma bisa menggantungkan urusan kita sama Allah. Mengubah konsep berpikir kita. Bahwa siap menikah bukan siap menikahi siapa, karakter unggul apa yang dipunya orang lain itu, punya apa aja dia, melainkan siap kalaupun Allah jodohkan dengan orang yang ternyata buruk kita akan siap mejalani takdirNya sebagai bagian dari cara Allah menguji kita. Sebagai bagian dari ibadah sambil terus meminta diberikan jalan keluar.
Tapi kemudian tak lantas serampangan memilihnya, Allah sudah berikan petunjuknya dalam memilih seperti yang dikatakan rasulullah “yang-baik-agamanya” kebaikan agama dan akhlak pada diri seseorang telah menghimpun semua kebaikan dibandingkan harta, paras, ataupun anak siapa dia. Maka sebaliknya pula, bila agamanya baik namun kitanya yang tak sebanding dengan harta, paras, dan orang tuanya. Maka jangan pula memandang rendah diri kita. Sebab status manusia di mata Allah dibedakan hanya dengan takwa nya. Bila ada anak gadis seorang bapak yang hendak kau lamar tapi kau minder, perbaiki keyakinanmu dan perbaiki tekadmu. Bagaimana pula seorang bapak mau menikahkan anaknya pada laki laki yang sama harta bapaknya saja minder. Bila ada anak bujang yang melamarmu lalu kau minder, bagaimana bisa ibunya menghormatimu bila menghormati dan memuliakan dirimu sendiri dengan takwa dan bergantung pada Allah saja tidak kau lakukan.
Tak ada yang perlu diperbaiki kecuali diri kita untuk layak mendapatkan yang bagaimana sebagai pendamping. Karena rumus umumnya jelas, laki laki baik untuk perempuan baik. Perempuan baik untuk laki laki baik. Laki laki keji untuk perempuan keji, perempuan keji untuk laki laki keji. Kita boleh punya segudang kriteria, tapi jodoh tetap ditangan Allah. Allah akan pasangkan yang sesuai dengan diri kita. Perkenalan sehari bisa jadi cukup untuk orang baik mendapatkan orang baik lainnya. Perkenalan menahun sering kali tak cukup untuk yang menempuh jalan yang tak disukai olehNya.
Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya. (Imam Syafi’i)
Tulisan ini semoga secara umum menjawab pertanyaan pertanyaan teman teman di message dan fitur ask seputar pernikahan ya :)
Alizeti, Jakarta
Pinned it.
Jembatan Takdir
@edgarhamas
Setiap orang, termasuk kamu dan aku, sedang berjalan di jalanan panjang menuju impian masing-masing, menuju takdir masing-masing.
Jalan itu ada yang terjal meninggi lalu curam turun, ada yang awalnya mulus namun di tengahnya berlubang. Ingat saja kaidah ini: tidak ada manusia yang jalan takdirnya mulus selalu, dan di saat yang sama: tak ada manusia yang diberi jalan rusak selalu.
Namun di jalan yang beruas-ruas itu, Allah menganugerahkan jembatan untuk berakselerasi lebih cepat menuju kejayaan. Jembatan itu berlaku untuk siapa saja, muslim maupun kafir. Namun ia punya tiket khusus bagi siapa yang ingin menitinya: kerja keras dan keyakinan.
Itulah sunnatullah, berlaku untuk siapa saja. Yang bekerja keras demi dunianya memang akan mendapatkan dunia, tapi hanya itu yang ia dapat. Yang bekerja keras untuk akhirat dan tak melupakan dunianya, maka akan menuai apa yang ia titi. Jembatan itu mengakselerasi siapa saja untuk mendapatkan apa yang diimpikannya.
Jika saja Salman Al Farisi tak mau berlelah-lelah mencari Nabi Muhammad dari Persia sampai Madinah, ia barangkali akan tetap menyembah api di biara Majusi. Jika Bilal langsung menyerah ketika ditindih batu besar oleh Umayah, barangkali namanya tak akan kita kenang sebagai muazin pertama.
Dalam meraih dunia saja ada jembatan akselarasi bernama kerja keras dan keyakinan, apalagi untuk meraih surga-Nya. Allah sudah menjamin rizki bagi hamba-hamba-Nya, namun manusia malah banting tulang mencarinya. Berkebalikan dengan akhirat, tak ada jaminan masuk surga, tapi kita begitu mudah menggampangkan.
“Al waajibaat aktsaru minal Auqaat”, kewajiban-kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Sediakan masa mudamu sebelum tua, lapangmu sebelum sempit untuk menginvestasikannya dalam akselarasi cepat mengumpulkan pundi-pundi pahala melewati jembatan takdir itu. Sebab tak ada yang menjamin waktu kita cukup untuk melakukan hal yang terbaik jika terus menunda-nunda.
Bila engkau ingin berdoa, sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do'a mu berupa permohonan maaf kepada Allaah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.“
- Ibnul Qoyyim rahimahullah ta'ala -
“Jangan pernah merasa ‘kok aku di sini-sini aja, ya? kok gak berkembang ya?’. Berhentio sebentar. Lihat ke belakang. Ingat prosesmu yang sudah kamu lakukan hingga sampai saat ini. Gimana? Sudah jauh kan ternyata?”
— @dimazfakhr
Siapa Bilang Enggak Boleh Sedih?
“Duh Noooov, what’s wrong with you? Kok lebay amat sih dikit-dikit sedih terus?”
Kalimat itu berkali-kali saya tanyakan kepada diri saya sendiri beberapa hari ke belakang. Pasalnya, saya sedang sangat sangat sangat sensitif: mudah sedih dan tercolek hatinya bahkan hanya kerena hal-hal kecil. Seperti tadi siang, ketika saya sedang membaca-baca jurnal tentang kekerasan pada anak. Namanya juga jurnal, isinya ya jelaslah fakta dan data hasil penelitian. Tapi, entah bagaimana, saya malah lebih fokus untuk memikirkan betapa sedih dan kacaunya perasaan anak-anak itu yang di usia kecilnya harus mengalami kekerasan, yang tentu saja tidak pernah mereka harapkan. Hmm, untuk membaca satu jurnal saja rasanya jadi lama sekali! Saya terjebak pada perasaan (sedih) saya sendiri. Meski memang, setelah dipiki-pikir, it seems like normal because I’m on my periode, syudududu~
Tapi, ngomong-ngomong soal sedih, sebenarnya sedih itu boleh enggak, sih?
Sejak seseorang anak terlahir ke dunia, kita memahami bahwa tangis (dan kesedihan) adalah sebentuk bahasa. Tangis itulah yang membahasakan kepada dunia dan orang-orang di sekitar bahwa ada sesuatu yang dibutuhkan atau dirasakan olehnya. Semua tampaknya normal-normal saja, sampai ketika kita mendewasa, lalu entah bagaimana tangisan itu menjadi seperti sesuatu yang, kalau bisa tidak keluar ya seharusnya ditahan saja; dan sedih itu adalah sesuatu yang, kalau bisa tidak dirasakan ya lebih baik tidak dirasakan saja. Padahal,
“There is sacredness in tears. They are not the mark of weakness, but of power. They speak more eloquently than ten thousand tongues. They are messengers of overwhelming grief, of deep contrition, and of unspeakable love.” - Washington Irving
Ya, sedih tentu saja bukan pertanda bahwa seseorang yang merasakannya adalah seseorang yang lemah. Sebab, sedih adalah bahasa perasaan, yang boleh jadi memang sedang ingin “dibahasakan” pada saat tertentu, terlebih ketika kita mengalami sesuatu.
Bagaimana dengan Rasulullah, apakah beliau pernah bersedih?
Kisah itu terjadi di kota Thaif saat beliau pergi bersama Zaid bin Haritsah. Setiap melewati suatu kabilah, beliau mengajak mereka untuk memeluk Islam namun tidak satu kabilah pun yang memberikan responnya. Para pemuka kabilah malah membiarkan beliau menjadi bulan-bulanan orang-orang sehingga beliau dicaci, dimaki, diteriaki dan dilempari batu-batu ke tumitnya sehingga sandal yang beliau pakai bersimbah darah, seraya diucapkan kepada beliau kalimat-kalimat yang tidak senonoh. Kejadian ini membuat beliau berdoa kepada Allah dengan hati yang dipenuhi rasa getir dan sedih terhadap sikap keras yang dialaminya,
“Ya Allah! Sesungguhnya kepada-Mulah aku mengadukan kelemahan diriku, sedikitnya upayaku serta hina dinanya diriku di hadapan manusia, wahai Yang Maha Pengasih diantara para pengasih. Engkau adalah Rabb orang-orang yang tertindas, Engkaulah Rabbku, kepada siapa lagi Engkau menyerahkan diriku? (Apakah) kepada orang lain yang selalu bermuka masam kepadaku? Atau kepada musuh yang telah menguasai urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli, akan tetapi ampunan yang Engkau anugerahkan adalah lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan perantaraan nur wajah-Mu yang menyinari segenap kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik agar Engkau tidak turunkan murka-Mu kepadaku atau kebencian-Mu melanda diriku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau menjadi ridha. Tiada daya serta upaya melainkan karena-Mu.”
Doa yang indah. Maa syaa Allah.
Kisah ini pun diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. Suatu hari, Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau pernah menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada perang Uhud?” Kemudian, beliau menjawab, “Aku pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kaumku, tetapi perlakuan mereka yang paling berat yang aku rasakan adalah pada waktu di Aqabah ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abd Yala'il bin Abd Kallal tetapi dia tidak menanggapi apa yang aku inginkan sehingga aku beranjak dari sisinya dalam keadaan sedih. Aku tidak lagi menyadari apa yang terjadi kecuali setelah dekat tempat yang bernama Qarn ats-Tsa'alib. Waktu aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba datang segumpal awan menaungiku lalu aku melihat ke arahnya dan ternyata di sana ada Jibril yang memanggilku. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka terhadapmu …”
Lalu apa yang Rasulullah lakukan? Rasulullah berdoa,
“Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
See? Bahkan dalam getir dan pilunya Rasulullah bersikap dengan sikap yang indah: merasa cukup akan pertolongan Allah dan mendoakan kaum yang mendzaliminya.
Pelajaran apa yang bisa kita petik?
Ternyata, sedih itu boleh. It’s human things after all. Tapi, yang perlu kita perhatikan adalah, apa kiranya yang membuat kita sedih? Apakah sesuatu yang esensial dan memang layak kita sedihkan ataukah ternyata kita hanya sedang membesar-besarkan perasaan kita terhadap hal kecil yang seharusnya reaksi kita terhadapnya pun tidak meletup-letup sedemikian rupa? Lalu, bagaimana sikap kita ketika sedih? Apakah terlarut dan meratapi atau mendidik diri untuk kembali dan mengembalikan segala perasaan kepada-Nya saja? Semisal kita sedih karena disakiti, apa kiranya yang menjadi respon terbaik kita?
Goethe bilang, if you’ve never eaten while crying you don’t know what life tastes like. Ya, bagaimana pun hidup ini memang banyak dinamika perasaannya, dan sedih adalah salah satunya. Sedih itu (dalam proporsi yang tepat dan sesuai) baik dan menangis itu boleh, asalkan kita tahu bahwa kita melakukannya untuk kebaikan, bukan untuk meratapi dan menyakiti diri kita sendiri. Namanya juga perasaan, silahkan dialirkan, tapi pastikan caranya benar.
Dan hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang.
__
Cerita tentang kisah Rasulullah di atas dikutip dari buku Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri pada bagian kisah tentang dakwah Rasulullah di luar kota Makkah.
Picture source: Pinterest
Mencintai Diri Sendiri
NARSIS!
Kemungkinan besar, itulah kata yang langsung muncul di kepala setiap kita mendengar frase ‘mencintai diri sendiri’. Ada kesan sombong, kekaguman yang berlebihan, dan tentu saja, keegoisan yang menyebalkan. Bisa dipastikan, tak ada satu pun dari kita yang bersimpati kepada orang yang sejak bangun tidur hingga tidur lagi terus menerus memuji diri dan memamerkan aneka kelebihan yang dimilikinya.
Orang yang seperti itu, memang baiknya tak ada di lingkaran pertemanan. Juga, tak muncul di lini masa media sosial kita. Kalau terpaksa menemukan mereka di daftar video trending Youtube, ya sudah, abaikan saja.
Jadi, tidak bolehkah kita mencintai diri sendiri?
Menurut saya, HARUS.
Lho, bagaimana sih?!
Begini. Saya kira, tiap-tiap kita harus mencintai diri sendiri, dengan makna cinta yang dewasa. Cinta yang tak sekadar rasa kagum yang penuh puja-puji.
Kalau kamu mengaku mencintai seseorang, tetapi yang kamu lakukan sepanjang hari hanyalah mengagumi keindahannya, memuji keelokan parasnya, masihkah itu bisa disebut cinta? Kalau kamu mengaku mencintai seseorang, tetapi yang kamu pikirkan setiap hari hanyalah keinginan untuk memiliki dan menguasainya, untuk dipamerkan kepada dunia sehingga semua orang di muka planet ini tahu betapa hebatnya dirimu, masihkah itu disebut cinta?
Bukankah sesungguhnya di dalam kata 'aku mencintaimu’ terkandung satu komitmen untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkan?
Jadi, mari kita cintai diri kita sendiri, dengan pengertian yang dewasa itu. Mari kita cintai diri sendiri, tidak dalam pengertian narsistik.
Ini soal membangun hubungan mendalam dengan diri kita sendiri, termasuk memaafkan segala kelemahan yang dimilikinya. Ini soal mendengarkan suara-suara yang ia bisikkan, bahkan ketika suara itu terdengar begitu pelan. Ini soal komitmen untuk terus menjaga, merawat, dan menumbuhkannya agar ia terus bertransformasi menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Inilah kiranya, pandangan saya soal mencintai diri sendiri. Semoga, di tahun 2019 yang sudah tak sabar memeluk kita dengan kehangatannya, kita bisa lebih sungguh-sungguh melakukannya.
ㅤㅤ
Depok, 31 Desember 2018 Laki-laki yang sedang belajar mencintai, Azhar Nurun Ala
di muka panggung
“rasanya sulit untuk melupakan bagaimana kamu. kamu adalah dia yang duduk di muka panggung, pada barisan paling depan, saat belum ada penonton selain kamu di dalam ruangan. kamu jugalah yang berdiri, memberi tepuk tangan dan melempar bunga ketika yang lain hanya menumpang lewat dan tak memerhatikan.
sekarang teater ini ramai. para penonton mengantre tiket dan rela membayar mahal. setiap aku menari, mereka semua bersorai senang. tapi rasanya toh tetap sepi juga. kehadiranmu dulu malahan jauh lebih berarti dari seluruh orang di ruangan ini sekaligus. kamu tidak pernah lagi ada di sana.
aku kira, tidak mungkin rasanya aku menari tanpa kamu. tidak bisa. kamu alasanku menari dan semangatku menari. saat kamu menghilang, rasanya gerakanku pun ikut pergi.
hingga suatu hari sepucuk surat datang. kamu bilang, aku harus tetap menari untuk diriku sendiri. gara-gara surat itu, dengan lugunya aku mengira bahwa kamu sebenarnya tidak pernah pergi, kamu hanya ada di muka pintu. kamulah sebab ruangan ini ramai dan padat pengunjungnya. meskipun ternyata tidak juga. kamu pergi.
kadang-kadang, setiap aku keluar dari bilik panggung, aku berharap masih menemukanmu di mukanya. kamu duduk di barisan paling depan, di bangku itu. bahkan, setiap aku silam panggung, aku berharap menemukanmu di biliknya, mengatakan kepadaku bahwa yang barusan itu keren–seperti dulu.
terima kasih pernah ada di sana. aku kira, aku tidak akan mungkin bisa menari tanpa kamu. ternyata memang iya. percayalah bahwa di setiap gerakan dan hentakan, ada kamu yang menjadi semangatnya.”
~Rasya, untuk Banyu
HUHU.
It will be no longer about me, me, and me.
Ada yang Memerhatikanmu
Ada yang memerhatikanmu dari kejauhan, ia begitu memahami apa yang menjadi kesukaanmu dan juga apa yang menjadi ketidaksukaanmu. Semua dilakukannya tanpa bertanya, tapi dengan mudahnya ia bisa mengetahui semuanya. Maka, diam-diam ia sedang menyusun rencana sedemikian rupa untuk memberi apa yang kamu suka, meski sesekali ingin mengetahui reaksimu dengan memberi apa yang tidak kamu suka.
Tanpa ada likes, comment, reblog, atau jejak lain pada setiap postinganmu di sosial media, ia diam-diam mengetahui setiap detailnya. Entahlah, mungkin ia memasang fitur ‘get notification’ untuk setiap postingmu, tapi rasanya ia tak perlu bersusah payah melakaukan itu. Bahkan, bisa saja jika ternyata ia bahkan tak memiliki akun di sosial media sama sekali. Selain itu, tak seperti orang lain yang mungkin lantang mengatakan kekagumannya terhadapmu, ia hanya diam saja. Tapi, tanpa kamu ketahui, ia sedang dan selalu mengupayakan kebaikan yang banyak untukmu, banyak sekali, hingga suatu ketika rasa syukur dan ucapan terima kasih pun rasanya tak cukup lagi untuk menjadi ganti atas semuanya.
Magis! Tanpa perlu membaca apa yang ditulis olehmu dalam buku-buku, tanpa perlu menghadiri setiap majelis ilmu yang kamu ada di dalamnya, tanpa perlu bertanya pada teman-temanmu tentang hidupmu, juga tanpa perlu selalu bertukar pesan denganmu, ia memahami seluruh dirimu, lengkap dengan bagaimana pola-polamu dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Setelah mengetahui semuanya itu, meski mungkin banyak salah dan kurang yang ada padamu, tak sedikit pun ia meninggalkanmu. Jangankan benar-benar meninggalkan, berniat meninggalkan pun tidak.
Saat kamu sedih, ia mengetahuinya. Saat kamu bahagia, ia mengetahuinya. Saar kamu berpura-pura, ia mengetahuinya. Saat kamu kecewa, marah, atau bahkan putus asa, ia mengetahuinya. Bahkan, saat apa-apa yang kamu lakukan dan katakan tak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatimu, ia juga mengetahuinya. Bagaimana bisa? Ah, bisa saja! Tanpa kamu menunjukkan, mengatakan, atau bahkan memamerkannya, dengan mudah ia tetap bisa mengetahui semuanya.
Sayangnya, kamu seringkali menganggapnya tidak ada dan kamu pun sibuk mencari-cari yang lain selainnya. Padahal, pada akhirnya, ia adalah tempatmu berpulang untuk selama-lamanya. Tunggu, masihkah kamu berpikir bahwa sosoknya adalah personifikasi seorang manusia? Tolonglah, jelas saja bukan! Otak dan hatimu itu nyata sekali terlalu banyak terisi roman picisan!
Aku takut ketinggian. Ini tentu bukan soal naik gunung, berdiri di lantai paling atas gedung bertingkat atau menaiki pesawat. Tapi, aku takut pada ketinggian yang justru kita tidak dapat menggunakan skala meter atau kaki untuk menghitungnya. Aku takut pada ketinggian yang sulit diukur.
Aku takut pada tinggi yang merendahkan. Aku takut menjadi orang berilmu yang menyepelekan orang lain. Aku takut menjadi orang kaya yang menyepelekan orang miskin. Aku takut menjadi berkecukupan tapi memandang sebelah mata pada sesama. Aku takut menjadi sejahtera tapi menggilas kesejahteraan orang lain. Aku takut menjadi bahagia tapi malah mengancam kebahagiaan orang lain. Aku takut menjadi hebat tapi malah membuat kecil hati orang-orang yang mendekat.
Sungguh, aku takut pada ketinggian yang demikian :”)
_____
Picture: Pinterest