Memenangkan Diri : Bertakwa dan Berkarya
Pernah sekali aku iri dengan beberapa orang, yang mungkin tidak berkecimpung di agenda dakwah, tapi hidupnya begitu lancar-lancar saja. Mereka ini lulus kuliah tepat waktu, dapat tempat kerja mapan, menikah dengan mudah, dan bahkan sudah punya anak. Namanya juga manusia, iri itu wajar.
Sedangkan berada di jalan dakwah, masih harus mengurusi anak orang, membina, mengatur agenda yang begitu padat, belum juga urusan pribadi yang banyak terbengkalai. Pokoknya begitu. Namun, aku buru-buru tersadar, perasaan seperti ini adalah bentuk kesombongan.
Bukan berarti ketika kita berada di jalan dakwah--mengajak kepada kebenaran, mencegah kemungkaran, feed medsos yang bertabur nasihat itu kita otomatis lebih baik dari orang lain. Bukan seperti itu.
Mungkin aku saja yang memang salah mendefinisikan makna dakwah itu sendiri. Terlalu menyempitkan makna aktivitas dakwah hanya dengan bergabung di organisasinya, bukan aktivitasnya. Boleh jadi mereka yang tak terlihat aktif di agenda dakwah, justru memang diam-diam merahasiakan aktivitiasnya. Dan yang seperti ini banyak!
Soal rezeki yang tampak, kita harus mafhum bersama setiap orang memiliki masanya tersendiri dalam berproses. Dari bekerja, menikah, mendapat anak, dan hal-hal lain. Kita tak usah terlalu memikirkan itu. Semua sudah diatur. Tinggal bagaimana kita berikhtirar dan bertawakal. Tenang saja.
Dan soal urusan pribadi yang terbengkalai. Boleh jadi memang salah prioritas saja. Hahaha.
Aku turut berbahagia dengan beberapa kawan lama yang sudah banyak menemukan jalanya. Ada yang sudah menikah, ada yang proses lamaran, ada yang diterima PNS, ada yang sudah membahagiakan orang tuanya, dan kesuksesan lainya.
Beriring kabar gembira, tentu ada kisah-kisah kehidupan yang sarat akan pelajaran, dari mereka yang sedang mengikhtiarkan kehidupan yang lebih baik. Ya sekali lagi ini bagian proses.
Dari sekian banyak pertemuan, ada beberapa kawan yang berkata padaku, "Sekarang aba keren ya, jadi pembicara, terlihat sholeh, banyak nulis buku, dan menginspirasi banyak orang"
Memang pujian itu racun. Tapi dari perkataan itu, aku menyadari satu hal dari perasaan iriku yang ada di awal tulisan, boleh jadi kita merasa kalah pencapaian di bidang tertentu, tapi nyatanya, kita juga bertumbuh, menuju kesuksesan yang sedang di takdirkan. Hanya perlu fokus dan komitmen saja.
Terkhusus aktivitas di organisasi dakwah, memang sejak awal jalan ini tidak menjanjikan kesuksesan atau urusan dunia lainya. Ini harus dipahami sejak awal. Karena jalan ini adalah bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta yang telah memberikan nikmat tiada tara.
Tapi dapat apa di jalan dakwah ini?
Selain dapat pahala dan InsyaAllah masuk surga, mengutip perkataan Teh Rifa di podcast temani, kita harus bangga berada di jalan ini, karena secara tidak langsung membuat pribadi menjadi lebih bertakwa dan banyak berkarya. Sebuah kesuksesan tersendiri.
Ngawi, 05 Syawal 1446 H.
Sedang bekarya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.