Bekerja di Indonesian Aerospace
"Bagi engineer sejati, tempat ini adalah surga". Perkataan itu masih melekat diotak saya sejak tercetus kemarin di kantor tempat saya bekerja. Sejak beberapa bulan yang lalu ada seorang senior di kantor yang ingin saya temui secara pribadi. Namun, karena beberapa hal terkait kesibukan dan ketakutan saya serta rasa malu bercampur segan yang berlebihan akhirnya saya menunda-nunda dan melupakannya.
Beruntunglah spontanitas saya kadang membangkitkan itu kembali dialam bawah sadar saya sampai suatu ketika saya nekat keruangannya sambil lalu berjalan ingin melihat apakah bapak itu sedang berada di ruangan. Tak kurang beruntung, pintu kantor bapak itu terbuat dari kaca meskipun agak gelap tapi tetap terlihat ruangan didalamnya juga keberadaan si bapak. Waktu itu ternyata berkata lain si bapak sedang tidak ada diruangan, anehnya saya justru lega. That’s the power of fear. Stupid.
Setelah beberapa waktu berlalu, ketika suasana hati saya sedang enak, alam bawah sadar saya kembali mengingatkan hal tersebut, spontan sekali ketika saya lewat di lantai tempat ruangan bapak itu, langsung saja saya melihat apakah si bapak sedang di tempat. Dan ternyata ada sedang memperhatikan HP dengan serius. Dengan sedikit keberanian akhirnya saya mengetuk pintu dan masuk.
Mungkin bapak itu sedikit kaget bercampur bingung, siapa anak ini (siapa tahu lupa kan). Namun mendadak rasa malu saya hilang. Tanpa basa basi saya langsung menanyakan tentang salah satu program yang saya sedang terlibat didalamnya (sebenarnya di program tersebut status saya juga masih belum jelas tapi karena penasaran dan jiwa pembelajar saya tergoda untuk melebur dalam pekerjaan tersebut akhirnya bertanyalah saya) yaitu pesawat flying test bed. Waktu saya membuka pembicaraan, bukan hal yang mudah karena saya sudah ceritakan diatas, jadi pertanyaan saya pun agak kacau dan nggak jelas sampai saya pun lupa. Untungnya bapak itu mengerti bahkan akhirnya memberikan pertanyaan pancingan yang menjawab kegundahan hati saya beberapa hari ini tanpa saya sadari. Ternyata kesibukan tidak selalu sinkron dengan keinginan hati. Pada dasarnya manusia sekarang bisa ditipu oleh kesibukan tidak berujung yang sebenarnya dia sendiri tidak nyaman atau tidak menikmatinya. Detik itu juga saya merasa tepat berbincang dengan bapak itu. Tanyanya, “Kamu butuh kerjaan?” Dalam hati saya berkata, ya suatu pekerjaan yang saya bisa kerjakan dengan hati juga.
Singkat cerita kami terlibat dalam suatu pembicaraan yang menarik bukan hanya pengalaman teknis tapi juga pengalaman hidup, mental, pekerjaan, pembelajaran yang dengan antusias saya menyerap semua ilmunya. Dasar aneh, ditengah2 perbincangan hal teknis saya bisa tiba2 bertanya “Menurut bapak, ambisi itu baik atau tidak?”. Lalu katanya, “Selama kita dapat menguasai diri terutama dalam ketiga aspek ini spiritual, emotional, dan intelligence, ambisi bisa kita arahkan dengan tepat, kadang bisa keukeuh, yang positif ya, kadang bisa juga jalan santai”. Gayung bersambut akhirnya saya menemukan mentor lagi yang setidaknya satu frekuensi dan saya nyaman berbincang dengan beliau.
Selanjutnya kami membicarakan tentang kantor tempat kami bekerja dengan kacamata yang hampir sama. Tentu saja jalan yang beliau lalui berkali-kali lipat lebih panjang dari jalan saya namun hal itu tidak membuat saya bingung. Terlebih waktu beliau dengan pengalaman mengabdi 30 tahun berteman dengan orang-orang besar yang akhirnya harus berpisah di persimpangan, menghasilkan orang-orang yang jadi direktur sekarang (walau ada diperusahaan lain juga), yang berpikir picik pasti berkata lalu kenapa bapak itu masih bertahan disini? You get your own answer, time will make you know what most important in the ‘life of somebody’, katanya seperti di awal cerita saya dan sayapun sepakat.
Beberapa yang mengerti akan mengetahui betapa berharganya waktu bekerja di kantor ini. Bagaimana pada akhirnya beberapa orang bisa diterima bekerja di kantor-kantor ternama di dunia, beberapa orang lainnya bekerja diluar negeri dan pada waktu senjanya kembali lagi ke sini. Beberapa anak muda yang bahkan belum mendapatkan ijazah bersemangat untuk mendaftarkan diri mencoba bekerja disini bahkan tak pernah sepi permintaan masuk. Beberapa mungkin juga seperti saya, bermodalkan ijazah baru dan keinginan yang kuat bermaksud melakukan suatu hal yang (siapa tahu) berguna bagi kehidupan umat manusia. Kenyataannya, kantor ini tetap berdiri sampai sekarang.