Malam temaram oleh sang rembulan,
Suatu masa dimana sang tamu tiba,
Membawa sesak dan penat yang semakin akrab,
Mengungkit sosok yang selalu sama tiap kedatangannya,
Abhati menerangi akal, sehingga mampu mengenali,
Tapi abhati tidak masuk ke dalam hati, sehingga tak mampu mengakui,
Kedewasaan yang menyakitkan, ego berbunga tersiram gengsi,
Tamu selalu menasehati akan pentingnya menyambut nurani,
Tamu yang sabar mengetuk pintu sanubari, selalu berhasil mendapati imaji.
Sesosok pemuda emas yang berhasil terefleksi disetiap repetisi,
Bayang semangat sekaligus penghadir sambat,
Apakah kau kedatangan tamu yang sama tiap malamnya?
Aku harap jua, harapan dari sang klandestin,
Paling tidak, terdapat resonansi yang berhasil menggetarkan jantungmu.
Sang tamu mengajak harap sekaligus memperkenalkan ratap,
Ia juga menghadirkan asa sekaligus rasa kecewa,
Membawa candramawa dalam keheningan langit berbintang,
Beruntungnya ia sekedar mampir meskipun sering bersapar hingga fajar,
Memelukku di kedinginan malam, menghangatkanku dengan rasa sesaknya,
Beruntungnya tamu bukan debt collector yang membawa peringatan akan harta,
Karena aku tidak akan mampu memenuhi tiap tagihan dari refleksimu.
Wahai kamu bayangan yang ada di dalam imaji,
Akankah terwujud sebuah janji? Atau sekedar halusinasi?
Setidaknya tidak menimbulkan retisalya dalam hati saya,
Nyatanya tamu tidak menuntut temu, karena hati merupakan grha rindu,
Kini hanya senandika yang dapat aku lakukan,
Nyanyian penghantar tidur bersama sang tamu,
Pelupuk mata tertutup, karsa menghanyut, bayangmu pun meredup.