Suatu saat, mari kita bertemu lagi, dengan keresahan yang tak terlalu penuh padaku, setelah kutumpahkan di sini.
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Love Begins
RMH
d e v o n
Mike Driver
art blog(derogatory)
wallacepolsom
cherry valley forever
Peter Solarz
Stranger Things
TVSTRANGERTHINGS
Keni
trying on a metaphor
No title available
Jules of Nature

JBB: An Artblog!
DEAR READER
Lint Roller? I Barely Know Her
Acquired Stardust

No title available
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from Canada

seen from Netherlands
seen from Argentina

seen from United Kingdom

seen from China
seen from Netherlands

seen from China

seen from Singapore
seen from Argentina
seen from Germany
seen from Italy

seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Netherlands
@itnanikitser
Suatu saat, mari kita bertemu lagi, dengan keresahan yang tak terlalu penuh padaku, setelah kutumpahkan di sini.
Dulu aku fikir, untuk capai sesuatu yang tinggi, aku perlu berjinjit.
Perlu berusaha lebih kuat, lebih cepat, lebih dari orang lain. Tapi hidup mengajar aku satu perkara tidak semua yang tinggi boleh dicapai dengan kekuatan diri.
Ada saat, kita perlu berhenti berjinjit, berhenti memaksa, dan mula merendahkan hati. Kerana sesuatu yang tinggi tidak harus dicapai dengan berjinjit.
Terkadang cara mencapainya adalah dengan bersujud di atas sejadah, aku juga belajar satu rahsia…semakin aku merendah di hadapan Allah, semakin Dia mengangkat aku dengan cara yang tak pernah aku sangka.
Biarkan mereka melihat riaknya, tapi jangan biarkan mereka tahu seberapa dalam dasarnya.
Dunia mungkin melabelimu dingin, atau barangkali acuh tak acuh. Mereka tidak tahu bahwa di balik diam itu, isinya terlalu riuh untuk sekadar dibicarakan. Terkadang, kata-kata justru menyempitkan luasnya perasaan; ia seperti mencoba memindahkan samudera ke dalam sebuah gelas.
Dengan membiarkan orang lain menerka, kita sedang mengakui satu hal: ada bagian dari jiwa manusia yang memang tidak ditakdirkan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun.
biarkan mereka menerka. biarkan mereka tersesat dalam keheninganmu.
"sabr is a resistence."
sabar adalah resistensi. sabar adalah kata kerja. sabar bukan berarti diam gak melakukan apa-apa. sabar itu hidup, bergerak, powerful, penuh daya tahan. tetap jalan walaupun (tiba-tiba) harus kehujanan. tetap lanjutkan perjalanan dalam kondisi basah-basahan dan gak tahu reda kapan. :') terus berjalan baik dalam laju cepat maupun perlahan. sesekali berhenti tetapi bukan untuk berbalik. walau rasanya kuyup, gak enak, gak nyaman, & dikepung bermacam ketidakpastian. namun karena yakin pada tujuan — orang yang sabar — konsisten melanjutkan perjalanan.
beribadah, belajar, bekerja, berkarya, berkeluarga, menjadi hamba, menjadi dewasa, menjadi manusia, dan sebagainya; semua butuh sabar, sampai akhir. sebuah kegigihan yang tumbuh dari akar yang tidak terlihat. kekuatan yang lahir atas kemenangan melawan diri di medan perang. semoga secara sadar — kelak — sabar dan percabangannya itu tak tampil sebagai pilihan melainkan sikap atas sebuah keputusan.
sabar memang gak mudah tapi bukan berarti gak bisa diusahakan. 🌑🌒🌓🌔
terima kasih ya sudah berusaha—bersabar.
©colorious | 25.12.23
Ternyata, semua sikap dan perbuatan orang tua yang membuat kita menyandang trauma—hingga belasan bahkan puluhan tahun, itu bukan agar kita mengutuk mereka. Melainkan agar kita senantiasa memohonkan ampunan dan keridhaan Allah untuk mereka.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَك Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, hamba itu kemudian berkata; ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini aku dapatkan? maka Allah berfirman, “Dari istighfar anakmu untukmu” HR. Ahmad Referensi : https://almanhaj.or.id/91887-istighfar.html
Karena ketika Allah mengampuni orang tua kita, Insya Allah, akibat buruk dari perbuatan mereka (trauma kita) pun akan dihilangkan‐Nya, dan diganti-Nya dengan sesuatu yang lebih baik.
agar Allah menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Az-Zumar: 35)
lapis-lapis penerimaan
ya Allah. engkau adalah Allah yang maha merencanakan. engkau adalah Allah yang maha menetapkan. engkau adalah Allah yang maha memiliki seluruh pengetahuan. ya Allah, aku beriman kepada-Mu dan kepada takdir-Mu. maka, bantu aku ya Allah.
bantu aku untuk tidak menentang takdir-Mu, ya Allah. bantu aku untuk tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak mendendam kepada siapa-siapa, tidak membenci siapa-siapa. bantu aku untuk tidak berandai-andai tentang hal yang tidak bisa aku ubah. bantu aku untuk tidak mengungkit-ungkit hal yang hanya akan menambah luka. bantu aku ya Allah.
bantu aku untuk menerima takdir-Mu ya Allah. bantu aku untuk memahami bahwa setiap orang beriman pasti diuji. bantu aku menyadari bahwa ada takdir-takdir yang adalah karena ulahku sendiri. bantu aku mengerti bahwa yang terjadi pasti adalah yang terbaik menurut-Mu. bantu aku untuk memeluk setiap perasaan yang hadir bersama dengan ujian ini. bantu aku untuk memaafkan segalanya.
bantu aku untuk mensyukuri takdir-Mu ya Allah. bantu aku menemukan ibroh dan hikmah dari takdir-Mu. bantu aku sampai kepada khidr moment-ku. bantu aku tidak hanya untuk melihat pelangi setelah badai, tetapi juga memahami mengapa badai ini turun ke bumi, kepadaku.
bantu aku untuk mencintai takdir-Mu ya Allah. bantu aku untuk bertaubat. bantu aku untuk menjadikan ujian ini titik balikku, titik kebangkitanku, titik kembaliku. bantu aku untuk keluar dari badai ini sebagai seseorang yang baru, seseorang yang lebih tebal imannya, lebih bertakwa. bantu aku terus bergerak.
ya Allah, kata-Mu, tidak ada ujian yang melampaui kesanggupan penerimanya. dengan imanku yang aku upayakan ini ya Allah, aku yakin bahwa aku akan sanggup——jika engkau membantuku. maka, bantu aku ya Allah. bantu aku tidak menentang takdir-Mu. bantu aku menerima takdir-Mu. bantu aku mensyukuri takdir-Mu. bantu aku mencintai takdir-Mu, mencintai-Mu.
Sebab pada akhirnya kita akan dilupakan seolah-olah kita tak pernah ada di dunia. Maka hiduplah untuk Allah semata, Dzat yang tidak pernah lupa.
MilikNya segala yang ada di hadapan kita, di belakang kita, dan di antara keduanya. Tuhanmu sekali-kali bukan pelupa. (QS. Maryam: 64)
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Wakafa billahi syahida; Cukuplah Allah sebagai saksiku, ridhaNya menjadi tujuanku dan aku sama sekali tidak membutuhkan validasi manusia.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Pelajaran yang kudapat setelah menjadi orang tua (dan of course aku juga pengalaman menjadi seorang anak), adalah:
Jangan pernah menuntut bakti dari anak-anak kita!
Biarkan anak-anak kita berbakti pada Tuhannya. Maka mereka akan berbakti pada orang tua dengan caranya —yang mungkin tidak kita mengerti.
Karena tidak semua bakti anak hadir dalam wujud memberikan segala kesenangan dunia pada orang tua.
Bisa jadi bentuk bakti itu hadir dalam wujud seorang anak yang berusaha untuk memaafkan dan memintakan ampunan atas segala kedzaliman yang pernah dilakukan orang tua padanya.
Bisa jadi bentuk bakti itu hadir dalam wujud seorang anak yang berusaha menutupi aib dan kesalahan orang tuanya.
Maka, jika kelak anak-anakmu sudah besar, jangan sekali-kali menuntut bakti pada mereka. Ajarkanlah mereka untuk berbakti pada Tuhannya, dan izinkan mereka berbakti padamu dengan caranya sendiri.
Wahai Rabb, bolehkah diri yang penuh kealfaan dan ketidaksempurnaan ini meminta sesosok laki-laki yang bukan hanya sekedar membimbing melainkan menenangkan kala gundah bahkan tatkala marah? Lelaki yang tanpa malu mengalah demi menjaga tangis di mata istrinya?
Bolehkah diri yang berusaha shalihah ini; bahkan masih jauh menginginkan sesosok laki-laki yang memiliki sebenar-benar takwa, yang begitu besar iman di dadanya, yang begitu takut menggoreskan luka di hati istrinya, yang takut akan siksa-Nya jika sampai tidak memuliakan istri.
Wahai Rabb, diri hanya ingin sesosok lelaki dengan ketulusan dan benar-benar penyayang terhadap diri ini. Mengajari dengan sabar, membimbing dengan benar, menegur tanpa membentak. Ia yang pandai mengerti dan memahami sifat dan sikap diri.
Wahai Rabb apakah ini egois? Hanya saja diri benar-benar lelah. Wahai Rabb, jangan jodohkan hamba kecuali dengan lelaki mukmin yang sebenar-benar mukmin. Jika cinta ia memuliakan, jika sudah tak cinta/sedang marah, ia tidah sampai menyakiti. آمين
Percuma buang waktu berdebat dengan orang yang lebih peduli menang daripada paham.
Kita sering merasa perlu menjelaskan diri, membela posisi, atau memastikan orang lain mengerti. Padahal, beberapa hal lebih baik dibiarkan berlalu. Tidak semua hal butuh respons. Tidak semua orang layak mendapat jawaban. Dan diam, juga adalah bentuk keberanian untuk tidak ikut bermain dalam dinamika yang melelahkan. Pilah mana yang penting, mana yang hanya sekadar bising.
"Nak, memang tidak semuanya harus berbalas..."
Tak semua senandung harus menemui gema, tak semua seruan akan dibalas oleh gaung yang merdu. Ada doa yang terbang tinggi, memecah langit dengan rindu, namun layu sebelum sempat mencapai singgasana-Nya. Ada pinta yang mengalir, lembut seperti sungai, namun tenggelam di pusaran sunyi yang tak berbatas. Tidakkah kau mengerti? Tidak semua yang kita titipkan pada malam, akan sampai pada bintang.
Kita ini, makhluk yang menabur harap seperti petani menebar benih di ladang yang asing. Tapi apakah setiap bibit mesti tumbuh? Tidak semua tanah ramah, tidak semua musim bersahabat. Ada yang jatuh di tanah tandus, diserap oleh hampa, lalu menguap menjadi angin tanpa arah.
Dan bukankah hujan pun tak selalu menjadi berkah? Di tempat yang kering, ia adalah nyawa. Namun, di bumi yang telah basah, ia bisa menjadi beban. Begitu pula doa, ia tak selalu menjelma jawaban. Kadang, ia hanya menjadi riak kecil di lautan takdir, tak cukup kuat untuk mengubah arus.
Tuhan, yang Maha Mendengar, kadang memilih diam, bukan karena lupa, tapi karena tahu. Ia tahu kapan kita perlu dilimpahi, kapan kita mesti belajar kekurangan. Sebab, tidak semua kehilangan adalah celah, dan tidak semua penolakan adalah luka.
Maka, jika pinta kita seperti embun yang terhapus mentari sebelum sempat menyentuh bumi, mungkin bukan karena ia sia-sia, melainkan karena Tuhan sedang menyusun hujan di waktu yang lebih tepat. Jika doa kita seperti burung yang terbang, hilang di cakrawala tanpa arah, mungkin ia sedang mencari sarang yang lebih baik untuk hinggap.
Tidak semua yang tak berbalas adalah penolakan. Kadang, ia adalah cara semesta mengajarkan ikhlas tanpa syarat, dan keyakinan tanpa perhitungan. Sebab, cinta yang tulus pun tak selalu harus diterima. Dan di situlah, manusia belajar bahwa berharap adalah seni mencintai, bahkan ketika jawaban tak pernah datang.
Kita ingin melawan kedzaliman yang terjadi di sekitar, tapi seringkali kita justru lupa terhadap kedzaliman yang kita perbuat sendiri; waktu yang terbuang sia-sia, nyaman dalam kebodohan, tidak menjaga kesehatan, bahkan dalam soal rasa, adakah cinta selain kepada Allah dan RasulNya lebih besar bersemayam dalam hati?
Seringkali kita lantang untuk melawan kebatilan yang menganggu kehidupan, namun justru kebatilan dekat sekali dengan jiwa kita; menyekutukan Allah, menolak kebenaran yang sudah termaktub dalam Quran dan Hadits, mencela para ulama
Ini bukan berarti kita bersikap pasif dan pesimis, menunggu datangnya kesatria berkuda yang bisa melenyapkan kedzaliman dan kebatilan
Ini sikap yang perlu kita refleksikan terus menerus, agar semangat ishlah (perbaikan) dibawa oleh insan-insan yang sholih (baik) sehingga dapat menjadi mushlih (insan yang memperbaiki)
Ikhtiar yang nampak adalah bentuk sunnatullah yang perlu kita hadirkan, namun jangan lupakan kuasa Allah Yang Maha Berkehendak
Ramadhan akan selesai, semoga kita bisa menjadi insan yang siap masuk bulan Syawaal! Karena syawwal adalah naik kelas, naik tingkat, naik kualitas!
...memori baik itu, satu persatu mulai menguap dari ingatan—sebab di kepung oleh banyak kenyataan hidup yang tidak menyenangkan, yang memaksaku harus melupakan beberapa bagian diriku, yang amat kucari dan rindukan...
Yaa, aku sangat merindukan masa itu, masa-masa kebebasan.
Kini aku merasa terkurung dalam cangkang realita manusia dewasa, dengan segudang tuntutan pekerjaan dan keriuhan dunia yang sesungguhnya.
Jika dini hari telah tiba, kudapati kepalaku berisik oleh banyak kemungkinan, kesibukan dan kekhawatiran. Sementara disisi lain tubuhku kelelahan mencari lelap yang tak kunjung datang.
....dan sekali lagi—masa kini menyadarakanku, bahwa kehidupan itu tidak seindah perkiraan masa remaja dahulu.
Di atas meja, 21 Februari 2025 21.21
"Doa itu ibadah,
maka dikabulkan atau tidak, ditunda atau disegerakan, tetap dapat pahala. Maka, jangan tergesa-gesa dalam berdoa dan berharap segera dikabulkan. Dikhawatirkan kita akan berhenti berdoa ketika doa kita tidak disegerakan."
(Faidah Ustadz Abu Muhammadain Mulyadi hafizhahullahu ta'ala | Kajian Kitab Riyadhus Shalihin)
Rasulullah ﷺ bersabda,
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
"Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kamu selama dia tidak terburu-buru; ia mengatakan 'Aku sudah berdoa, namun tidak dikabulkan bagiku'."
(HR. Bukhari dan Muslim)
kenyataannya hatiku tetap saja merasa terluka ketika melihat dan menyadari bahwa aku diabaikan, bahwa aku ditinggalkan. ya Allaah, penuhilah hatiku hanya kepadaMu saja, bahwa hanya Engkau yang akan tetap kekal, tinggal dan tak pernah akan meninggalkanku.