Maaf jika aku berbeda dan itu menyakitimu
Pernah aku kecewa pada beberapa orang kawan lama. Atau, pernah ada beberapa orang kawan lama kecewa padaku. Siapa yang mengecewakan dan dikecewakan, itu semua tentang perspektif. Namun, bukan hal itu yang akan aku bahas di sini.
Singkat cerita di suatu siang yang ceria. Aku tengah bercengkrama dengan materi tulisanku. Untuk diketahui, rutinitasku di hari selain Jum’at dan Sabtu adalah menulis berita. Mereka menyebutnya “story” agar ada beda antara versi daring dan cetak, tapi bagiku sama saja. Aku tetap butuh waktu dan tenaga untuk membuatnya, serta butuh membaca.
Menulis tanpa membaca bagai kopi tanpa gula. Pahit. Karena itu kuputuskan untuk sering-sering membaca. Tiada hari tanpa bacaan hingga terkadang aku jengah dengan rentetan kata, tapi apa daya hidupku bergantung pada membaca.
Di siang itu juga, seorang kawan lama mengirimku pesan dan bertanya bagaimana keadaanku. Mengintip namanya di layar telepon selularku, aku senang bukan kepalang. “Ah dia ingat padaku dan masih menyempatkan diri menanyakan kabar,” batinku. Aku, di waktu yag sama, juga merasa malu karena kesibukanku membuatku lupa untuk menanyakan kabarnya.
Begini kurang lebih jawabanku, “Hi. Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana?” Dia menjawab bahwa dia juga dalam keadaan baik. Tanpa berpanjang lebar dia bertanya, “Kamu kenapa? Apa ada yang ingin diceritakan padaku?”
Butuh beberapa saat bagiku untuk mencerna maksud dari pesan sahabat ini. Tiada angin tiada hujan, dia menganggap sesuatu (yang mungkin buruk) telah terjadi padaku dan dia, dengan segala kerendahan hati, menawarkan diri untuk mendengarkan cerita atau bahkan keluh kesahku.
Aku berfikir keras, mencoba memanggil kembali ingatan yang telah pudar. Mengingat apa yang telah terjadi pada diriku belakangan dan dengan sedikit ragu aku nyatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi. Lalu aku membalikkan pertanyaannya itu padanya, “Memangnya ada apa denganku?”
Dia bilang aku bertindak tidak biasa belakangan. Beberapa hari silam, katanya, aku mengunggah ucapan selamat natal disertai dengan foto salah satu gereja di tengah Pulau Jawa.
Aku terkesiap. Oh, ternyata ini masalahnya.
Benar memang aku mengunggah foto dan ucapan itu di salah satu akun media sosialku, dan dengan melakukan hal tersebut, beberapa teman silih berganti mengirimiku pesan ataupun komentar kurang lebih seperti, “Apa ini?”, “Kamu tidak salah?”.
Bahkan yang paling membuatku terusik adalah ketika seorang sahabat sangat dekat, yang sudah lama tidak mengontakku, sengaja mengirimiku pesan untuk memberi tahu apa yang seharusnya dan tidak seharusnya aku lakukan.
Pada intinya mereka merasa aku “berubah”, tidak lagi sekeyakinan dengan mereka, dan mereka merasa terpanggil untuk “menarikku kembali ke jalan yang benar”.
Tidak ada yang salah sebenarnya dengan itu kareka kondisinya, aku dan dua sahabatku di atas, memang sudah lama tidak intens berhubungan. Sekedar bertukar kabar pun kami jarang. Sementara hidup begitu dinamis. Setiap individu bertemu dengan individu baru, menemukan bacaan dan ideologi baru dan seterusnya.
Jadi, aku tidak menyalahkan jika mereka merasa aku berubah. Toh mereka juga aku rasai sudah berubah.
Namun, apa yang salah dengan perubahan? Itu adalah hal yang natural dan selayaknya kita rayakan karena perubahan, bisa dibilang, adalah pertanda kehidupan, bukan?
Yang terasa agak janggal bagiku adalah soal “tidak lagi sekeyakinan” dan upaya-upaya mereka agar aku meyakini apa yang mereka yakini (dan mereka anggap benar). Aku dengan sekuat tenaga telah berupaya mengatakan bahwa “apa yang kalian yakini memang benar, tapi bukan berarti apa yang aku lakukan salah.”
Faktanya, diskusi mengenai boleh atau tidaknya seorang muslim menyampaikan selamat hari natal kepada umat kristen (atau selamat hari besar keagamaan lain pada umat beragama lain) memang masih banyak dilakukan.
Ini berarti, ada setidaknya dua kubu saling berlawanan memegang satu “kunci” yang sama-sama kuat dan tak terbantahkan.
Dan apakah kita masih saja mau terperangkap dalam pusaran pembicaraan tersebut? Ayolah, kita move on.
Aku tahu dua orang temanku, dan teman teman lainnya, mungkin sedih dan kecewa mendapatiku punya pemikiran seperti ini. Tapi jujur saja, aku juga sedih menerima kenyataan bahwa ada orang di dalam lingkaran pertemananku yang ternyata tidak bisa menerima perbedaan. (Walau jika ditanya langsung pada teman-temanku itu, mereka akan bersikeras bahwa mereka menerima perbedaan dan sebenarnya yang mereka lakukan padaku semata-mata hanya untuk “membuatku kembali ke jalan yang lurus”).
Teman, pada akhirnya, aku katakan bahwa soal keimanan, biarlah Tuhan saja yang menentukan. Untuk menjustifikasi apakah seorang hamba bersalah atau tidak, “kafir” atau tidak, itu adalah hak prerogatif Tuhan.
Yuk kita perbaiki lagi hubungan kita sesama manusia, tanpa terlalu jauh mencampuri apa yang seharusnya diputuskan oleh Tuhan. Oh dan satu lagi, terimakasih karena masih peduli padaku. Aku sangat mengapresiasi itu.