āDeath is the true inspiring genius, or the muse of philosophy⦠Indeed without death men would scarcely philosophize.ā
ā Arthur Schopenhauer, The World as Will and Representation

izzy's playlists!
noise dept.
Keni
Cosimo Galluzzi

Game Changer & Make Some Noise

No title available
Sade Olutola
No title available
I'd rather be in outer space šø

if i look back, i am lost

Discoholic šŖ©

pixel skylines
art blog(derogatory)
Show & Tell
Phantogram Three
Game of Thrones Daily
h

Origami Around
Not today Justin

⣠Chile in a Photography ā£

seen from Türkiye

seen from Syria

seen from Denmark
seen from Indonesia

seen from China
seen from United States

seen from Sweden

seen from Italy
seen from United States
seen from Australia
seen from Lebanon
seen from Netherlands

seen from Indonesia
seen from Bangladesh

seen from Pakistan
seen from Poland
seen from Ukraine
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@jantungrahasia
āDeath is the true inspiring genius, or the muse of philosophy⦠Indeed without death men would scarcely philosophize.ā
ā Arthur Schopenhauer, The World as Will and Representation
āWe accustom ourselves and our children to hypocrisy, to the practice of a double-faced morality. And since the brain is ill at ease among lies, we cheat ourselves with sophistry. Hypocrisy and sophistry become the second nature of the civilized man. But a society cannot live thus; it must return to truth or cease to exist.ā
ā Peter Kropotkin, The Conquest of Bread
Sajak Masuk Angin
Terima kasih kepada hujan di satu hari di Februari - Kau membuatku menggigil untuk sekali lagi sejak pagi. Memaksaku meneguk obat cina pat poles and segelas air panas. Entah mengapa, suhu tubuh jadi ganas dan seluruh tubuh melemas.
Aku pun pergi ke dokter langganan dan ia menggiringku ke ranjang pemeriksaan. Katanya, aku demam dan masuk angin. Ia memberiku empat macam obat.
Aku terpaksa kuliah dengan tenaga seadanya. Di kelas, mataku berfluktuasi dan otak sulit membangun koneksi dengan materi kuliah yang terlalu berisi.
Dan aku baru sadar - Masuk angin itu tidak pernah ada.
Jantung Rahasia, 29 Februari 2019
Merayakan Tahun Baru
Aku melihat kembang api di malam selepas hujan (Yang menyisakan kekosongan). Ada riuh ramai konser di atas panggung (Yang meninggalkan kesunyian).
Aku tak mengalami apa-apa.
Tahun baru tak pernah ada. Kenangan akan tiada. Kita hanya makhluk-makhluk biasa yang mencoba melawan arus masa dan berujung tak bersisa. Kita yang tak pernah memahami konsep waktu niscaya akan membatu. Waktu adalah satu garis tak terbatas - yang justru kita pecah secara sekuensial dengan memberinya label numerikal.
Lepas. Lepaskan waktu dari angka. Jangan beri nama pada masa. Menolak peristiwa.
Dan sayangnya, kita hanya akan terus mengenang.
Ada Anak Kecil dalam Tubuhku
Ada anak kecil dalam tubuhku. Ia berdiam diri dan tak mau keluar dariku.
Anak kecil itu berteriak-teriak kegirangan sewaktu menendang bola di jalanan perumahan, berlari kencang saat bermain bentengan, dan bersepeda sambil bergaya di lapangan. Saat gelap merebak, seorang wanita memanggilnya pulang dan ia mulai berontak.
Anak kecil itu senang jatuh cinta dengan kawannya yang wangi dan cantik. Ia tak bisa berhenti melirik dan terus tertarik. Perasaan itu tampak dari gerak-gerik dan kata-kata yang lincah dan enerjik. Mencari perhatian agar bisa tampak menarik.
Anak itu keras kepala - ia ingin kebebasan dan petualangan. Seorang wanita sesekali melarangnya, sementara seorang lelaki akan mengamati dan menasihatinya. Si anak merasa keduanya begitu kontras, tetapi ia merasa benar karena lelaki itu memberinya jalan.
Aku meminta anak itu keluar dari tubuhku, tetapi aku sampai pada satu kesadaran : Ia akan selamanya ada di dalamku.
Sajak Seseorang yang Menunggu
Hujan yang tertahan. Angin berhembus perlahan. Gelap yang belum pergi. Malam panjang menuju pagi. Air mata masih deras. Kepala yang keras.
Rasa yang mencoba tertambat. Orang yang belum tepat. Pintu yang masih rapat. Kisah yang tak tahu kapan harus dimulai. Cerita lalu lama terurai. Tangan yang jauh untuk membelai.
Pohon belum berbuah. Langit tak bicara. Waktu masih dalam perjalanan. Aku masih menjaga penantian.
- JantungRahasia -
Jumat, 27 September 2019
3.078
Ini adalah ceritera dimana aku berdiri di hadapmu, untuk persembahkan hati dan ragaku, hingga aku mulai berjalan kembali demi mencari seutuh diri di batas elegi.
Berilah kepadaku damai dan jauhkan aku dari seluruh yang ramai, sebab di pelukmu, seluruh nyawa ku semai. Sebab di tinggimu, semesta adalah niscaya dan jadi satu-satunya yang aku percaya.
Di antara angin dan Majakuning, kau bicara padaku tentang segala dalam hening āSemakin kita mencari kebenaran, semakin kita menjauh darinya. Sebab kehidupan bukan sekadar rasa, melainkan tentang mata dan kepalaā.
Ciremai, aku terima setiap kepunyaanmu : Hutanmu yang pandai merangkum tenang, kawahmu menganga luas terbentang. Puncakmu, tempat aku merenung pergi. Edelweiss dan cantigi, rinduku terus bertamu lagi, hingga megah rupamu terus membayang jelang pagi.
Sampai jumpa lain waktu. Aku ingin mengunjungi kawan-kawanmu dulu. Mencoba mengetahui rahasia segala. Meski aku bukan siapa-siapa.
- JantungRahasia -
11 Agustus 2019
Selepas Puisi
Selepas puisi ini, tidak ada aku. Kecuali bahasa yang kaku dan imaji yang tertunda di selip buku.
Selepas puisi ini, tidak ada kau. Kecuali suara dari surau dan aroma tembakau.
Selepas puisi ini, tidak ada lagi apa-apa. Kecuali teduh nestapa dan alam pikiran yang kehilangan rupa.
Selepas puisi ini, sudahlah berakhir begini.
- Jantung Rahasia -
John Wick : The Game
Just a pixel fan art tribute to John Wick: Chapter 3
Ruang Hampa
Ada lintasan di langit - Dilalui bintang jatuh, komet, dan planet. Ada pertemuan di antara mereka - Pergesekan, tabrakan, dan dentuman. Tak terhindarkan. Tak dapat terabaikan.
Aku astronot yang melayang di lautan bintang bertanda tanya, berusaha memberi jawab atas nyawa yang tak pernah ku tahu ujungnya. Terempas dari kapal luar angkasa, terombang-ambing menemui harap yang hampir tak tersisa. Tidak bisakah ada satu orang saja membawaku kembali ke bumi? Sebab aku takut remuk redam. Oleh lubang hitam. Oleh semesta kelam. Oleh komet di sepanjang malam.
Aku memanggil di radio, menunggu suara balasan untuk segera memastikan takdir. Aku menikmati semua ini, di tepi sepi dan di garis nadir. Aku di ruang hampa, dengan ruang hati yang penuh kata ātanpaā. Aku yang menunggu bantuan, hanya ditemani konstelasi yang berada jauh di luar jangkauan.
Satu-satunya yang membuatku hidup hanyalah keinginanku untuk selalu kembali ke toko kopi kesukaanku yang begitu paripurna membunuh sepi, bicara dengan pemiliknya yang bekerja dengan rapi, dan menikmati bekerja paruh waktu untuk memupuk diri.
Aku di ruang hampa. Hampir kehilangan nyawa dan rupa.
- Jantung Rahasia -
Lemons
Dublin Iced Coffee
INGREDIENTS
2 oz. strong cold-brew coffee
2 oz. stout (such as AleSmith Speedway or Guinness)
1½ oz. Irish whiskey
¾ oz. simple syrup
½ ounce heavy cream
Freshly grated cinnamon stick (for serving)
RECIPE PREPARATION
Mix coffee, stout, whiskey, and simple syrup in a highball glass. Add ice to fill. Gently pour in cream so it gradually sinks into coffee; sprinkle with cinnamon.
Enjoy!
Aku Ingin Mati di Atas Gunung
Gerbang besar terasa begitu dekat dan langkahku mulai terdiam. Napasku perlahan terhenti dalam kecupan perpisahan yang tajam dan detak hening malam. Kepalaku lengang oleh usaha mempertahankan kehidupan, karena hatiku lapang oleh kepergian. Di atas ketinggian, di bawah gelap kaki angkasa, dikelilingi puncak-puncak termegah Jawa, aku membebaskan raga kepada penyerahan.
Dan aku akan pergi. Melangkah tanpa menyentuh tanah. Berpasrah tanpa perlu menyerah. Melepas diri tanpa berbunyi. Hingga pada satu titik jiwaku berasimilasi dengan sunyi - untuk menyelami semesta dan menyudahi derita, hingga aku kembali lagi menjadi sosok yang buta dan tak tahu apa-apa.
Dan akan ku tinggalkan sesuatu bagimu : Sesuatu yang ku sebut cinta dan sebebasnya mau kau artikan apa, sebab itulah cinta, satu hal yang bebas kau beri arti yang segala.
Nanti, aku akan bergabung dengan mereka : tanah bebatuan, rintik hujan, hijau pepohonan, lampu perkotaan, dan cahaya rembulan. Sampai nanti tergenapkan sudah satu cita-cita.
Satu mimpi : aku ingin mati di atas gunung.
Barrancas House, Mexico City by Ezequiel Farca + Cristina Grappin | Photography by Roland Halbe & Jaime Navarro
ISAAC ASIMOV āA lifetime of learningā
THAT House, Melbourne, Australia by Austin Maynard Architects | š· Tess Kelly