Ada lintasan di langit - Dilalui bintang jatuh, komet, dan planet. Ada pertemuan di antara mereka - Pergesekan, tabrakan, dan dentuman. Tak terhindarkan. Tak dapat terabaikan.
Aku astronot yang melayang di lautan bintang bertanda tanya, berusaha memberi jawab atas nyawa yang tak pernah ku tahu ujungnya. Terempas dari kapal luar angkasa, terombang-ambing menemui harap yang hampir tak tersisa. Tidak bisakah ada satu orang saja membawaku kembali ke bumi? Sebab aku takut remuk redam. Oleh lubang hitam. Oleh semesta kelam. Oleh komet di sepanjang malam.
Aku memanggil di radio, menunggu suara balasan untuk segera memastikan takdir. Aku menikmati semua ini, di tepi sepi dan di garis nadir. Aku di ruang hampa, dengan ruang hati yang penuh kata ‘tanpa’. Aku yang menunggu bantuan, hanya ditemani konstelasi yang berada jauh di luar jangkauan.
Satu-satunya yang membuatku hidup hanyalah keinginanku untuk selalu kembali ke toko kopi kesukaanku yang begitu paripurna membunuh sepi, bicara dengan pemiliknya yang bekerja dengan rapi, dan menikmati bekerja paruh waktu untuk memupuk diri.
Aku di ruang hampa. Hampir kehilangan nyawa dan rupa.