Tuhan, jika Engkau mendengar rintihan yang tak sempat terucap ini, aku hanya ingin bicara sejenak. Bukan untuk merengek, apalagi menuntut. Aku tahu, hidup ini bukan tentang segala yang harus berjalan mudah. Aku hanya ingin bersandar sejenak, bercerita, dari titik paling jujur yang kupunya.
Aku lelah. Tapi bukan karena menyerah.
Aku hanya ingin semuanya lancar. Aku ingin langkah ini tidak selalu terseok. Aku ingin ada ruang bernapas di tengah semua tuntutan yang memburu.
Karena sungguh, Tuhan… aku hidup bukan untuk diriku sendiri.
Setiap hari, aku bangun bukan hanya demi diriku. Demi orang-orang yang diam-diam menjadikanku alasan untuk terus kuat. Demi tawa-tawa kecil, demi doa-doa yang diselipkan dalam sunyi oleh orangtuaku yang bahkan tidak pernah memintaku untuk membalas, hanya agar aku bahagia.
Aku tak sedang berlari mengejar ego, Tuhan. Aku bahkan jarang memikirkan apa yang sungguh-sungguh aku inginkan. Banyak keinginan yang kutahan rapat-rapat, karena aku tahu ada tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar keinginanku sendiri.
Bahkan ketika aku menangis, aku menangis diam-diam. Bukan karena aku kuat, tapi karena aku tidak mau orang-orang yang aku cintai khawatir. Aku belajar untuk tersenyum sambil menelan getir. Aku belajar untuk berkata “baik-baik saja” meski hatiku hancur berkeping. Karena aku hidup bukan semata-mata untuk merasa nyaman, tapi juga untuk menjaga kenyamanan orang lain yang bergantung padaku.
Dan kadang, aku iri pada mereka yang bisa hidup hanya untuk dirinya sendiri. Mereka yang bebas mengambil jeda, pergi sebebas angin, memutuskan sesuatu hanya karena ingin, bukan karena harus. Aku tahu setiap orang diberi perannya masing-masing, dan ini adalah bagianku.
Tapi tetap saja, aku ingin memohon pada-Mu, Tuhan…
Jika tidak bisa Kau beri aku kemudahan, maka cukup kuatkan aku. Jika belum bisa Kau beri hasil yang baik, maka tuntun aku untuk tetap sabar. Dan jika harus terus berjalan dengan berat, maka jagalah agar aku tidak kehilangan arah.
Aku bukan pahlawan, bukan juga orang suci. Aku hanya manusia biasa yang ingin terus bertahan, sambil tetap menjaga semua yang kuanggap penting. Aku ingin semua ini tidak berakhir sia-sia. Aku ingin semua lelah ini membentuk sesuatu yang berarti.
Jadi, Tuhan… lancarkanlah. Lancarkan langkahku. Lancarkan hariku. Lancarkan apa pun yang Kau rasa pantas untuk kulalui. Karena aku tahu, Kau selalu melihat yang tidak terlihat, mendengar yang tak terucap, dan mengerti yang tak bisa kubahasakan.
Sebab hidupku bukan hanya tentang aku.
Tuhan, ke manakah aku harus melangkah?
Tuhan aku lelah pura-pura kuat