Semua yang 'ada' tujuannya adalah untuk 'hilang'.
Three Goblin Art

if i look back, i am lost
hello vonnie
🪼
One Nice Bug Per Day

@theartofmadeline
TVSTRANGERTHINGS
Today's Document

No title available
wallacepolsom

izzy's playlists!
tumblr dot com
d e v o n

PR's Tumblrdome
sheepfilms
dirt enthusiast
Show & Tell
h
Lint Roller? I Barely Know Her
todays bird
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from India

seen from Russia
seen from Bangladesh

seen from Jordan
seen from Argentina

seen from United States
seen from Iraq

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Canada
seen from Malaysia
@jihanekamuf
Semua yang 'ada' tujuannya adalah untuk 'hilang'.
Berapa banyak dari kita yang memaafkan hanya karena takut kehilangan? Memperpanjang luka demi bahagia yang sesekali ada.
(via mbeeer)
Jika wanita sudah mencintaimu; lelaki seharusnya sudah tidak usah khawatir dengan semua lelaki yang ingin mendekatinya.
Seharusnya. (via mbeeer)
Dilema adalah aku tau bahwa mencintaimu itu salah, tapi aku juga mengerti pergi jauh darimu aku masih tak bisa.
(via mbeeer)
Aku mencintainya, ia juga mencintaiku. Namun sekeras apapun kami mencoba, entah kenapa semuanya terasa sulit sekali.
(via mbeeer)
Ketika cinta sudah mulai menunggu. Ketika cinta sudah mulai memohon. Ketika cinta sudah mulai mengemis. Masih tuluskah?
J
Don’t push someone away and expect them to still be there when you’re ready.
(via picsandquotes)
Jika pada akhirnya bukan aku yang mendampingimu, tolong temui aku sebagai seseorang yang dulu pernah berusaha begitu keras mendapatkanmu meski harus dikhianati waktu.
(via mbeeer)
Secepat itukah kau lupa bahwa kau pernah menangis karena meminta aku untuk tetap tinggal? Secepat itukah kau lupa kau pernah begitu terluka dan di sampingmu aku selalu ada? Sekarang, di tiap tangis dan lukaku, kau di mana?
(via mbeeer)
Kelak aku pasti melupakanmu. Kelak yang entah kapan itu.
Sabdaliar (via mbeeer)
Kadang di saat kamu berpikir kamu sudah menemukan orang yang bisa bikin kamu bahagia. Tuhan becanda dengan membuatnya pergi jauh. Sangat jauh. Hal yang bisa kamu lakukan saat orang yang kamu cintai ingin pergi mencari kebahagiaannya sendiri, adalah mendoakan ia selalu dalam kebaikan. Apakah kamu akan meminta orang yang kamu sayang untuk tinggal, sementara kamu tahu, pergi akan membuat dia bahagia dan jadi lebih baik? Semoga tuhan melapangkan setiap hati yang ditinggalkan. Semoga tuhan menguatkan setiap hati yang merelakan. Deo Gratias.
Arman Dhani (via mbeeer)
Kesalahan terbesarmu adalah pergi meninggalkan seseorang yang padahal tak pernah berpikir untuk beranjak seujung kuku pun darimu.
(via mbeeer)
Ada masa nya aku akan berlari kencang utk mengejarmu. Ada masa nya aku akan berjalan berdampingan denganmu. Dan ada masanya aku memilih utk tidak berjalan dan berlari. Aku lelah, aku ingin istirahat.-
J
I want to be the person you’re scared to lose.
(via picsandquotes)
Selamat datang bulan-ku. Semoga tak ada lagi sakit hati, semoga tak ada lagi patah hati.
J
Selamat Tinggal.
Aku akhirnya berhasil menghilang. Mungkin seperti yang kamu harapkan, atau tidak sama sekali. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin mengungkapkan semuanya sekarang. Hal yang seharusnya aku ungkapkan beberapa bulan yang lalu. Memang semuanya sudah terlambat. Kita sudah berada di jalan yang berbeda. Aku harap kamu mengerti. Teruntuk kamu, yang pernah berada disampingku. Aku menyayangimu. Dulu. Ketika kita masih memiliki jalan yang sama dan titik kebahagiaan yang sama. Aku menghargaimu, amat sangat menghargai kamu. Mungkin, kita memang tidak membawa kesan baik ketika di awal perkenalan. Aku sadar, aku salah akan hal itu. Mataku terlalu tertutup akan hal yang samar. Aku amat sangat meminta maaf padamu. Tapi sekali lagi, aku sangat menghargai kamu. Atas usaha kamu yang tak kunjung berhenti ketika aku benar benar menjauh darimu bahkan sempat menyuruhmu untuk enyah. Aku tidak tahu perasaan apa yang kamu antarkan padaku saat itu. Yang aku tahu, aku akan tersenyum dalam beberapa waktu meskipun aku sesekali akan melupakannya lagi. Hanya sebuah bingkisan yang kau sengaja membelinya untukku saat kau pergi berlibur. Bingkisan pertamaku dari seseorang. Hanya ini yang membuat aku teringat padamu. Beberapa waktu kemudian, kamu akhirnya menyerah atas aku lalu kau menjauhiku. Aku bahagia, akhirnya kau menyerah atas aku. Aku menantikan hal ini sebelumnya, sampai akhirnya aku tahu. Bukan hal ini yang aku inginkan. Aku masih belum mengerti apa yang aku inginkan sebenarnya. Kau pergi atau tetap berada disini? Walaupun, hatiku belum berada disana, bersamamu. Tapi aku merasakan rasanya kehilangan. Perasaan kehilangan itu ternyata tak berlangsung lama, aku melupakannya untuk beberapa waktu. Sampai akhirnya aku menerima sebuah kabar tentangmu lagi. Tentang kamu yang sudah melupakanku . Aku tidak peduli. Masa bodoh kau mau melakukan apa, aku tidak ingin tahu. Otakku berbicara begitu. Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku hanya bisa terdiam lalu bertanya ‘apakah semuanya benar?’ Kau datang kembali, entah mengapa aku begitu saja mau membukakan pintu yang lebar untukmu. Berbeda dari sebelumnya. Aku masih tidak tahu perasaan apa yang aku bawakan untukku, aku tidak peduli. Yang penting aku masih bisa bahagia. Sama hal nya, bahagia yang kau ungkapkan padaku ketika pertama kalinya aku melambaikan tangan padamu. Kau terlihat begitu bahagia, meskipun aku tidak tahu perasaanmu padaku sebenarnya. Tapi aku dapat merasakan hal itu. Aku nyaman bersamamu, sungguh. Kita semakin dekat. Aku akhirnya peduli padamu. Aku ingin tahu kapan hari ulang tahunmu. Dan ternyata hanya sisa satu minggu untuk aku mempersiapkan sebuah bingkisan kecil untukmu. Aku masih anak SMA yang uang jajannya terbatas. Dalam seminggu, aku tak bisa memberikan kado mewah untukmu. Butuh perjuangan untuk menemukan hal yang aku ingin berikan padamu, tapi tak mengapa. Aku senang melakukannya. Lalu, perasaan apa yang aku rasakan sekarang padamu? Tiba di hari ulang tahunmu. Aku masih mengingatnya. Tepat hari jumat saat pembagian rapot hasil belajar kita di sekolah. Aku sangat takut memberikannya padamu. Meskipun kado kecil itu telah aku bungkus sedemikian pantasnya. Aku gugup. Pertama kalinya aku memberikan sebuah bingkisan kecil pada seorang anak laki laki. Mungkin tidak akan setegang ini bagi orang lain. Tapi tidak untuk aku. Meskipun pada akhirnya aku berusaha memberanikan diri untuk memberikannya, setelah itu berlari. Apakah aku seperti anak kecil? Aku pikir begitu. Kau tersenyum. Dan aku bahagia. Aku tau perasaan apa yang kau bawa sekarang. Aku mengerti akhirnya. Seharian aku menunggu kabarmu, hanya untuk tahu bagaimana kesanmu pada bingkisan yang aku berikan padamu? Apakah kau suka? Atau tidak sama sekali? Jika kau tidak suka, aku akan kecewa sekali. Usahaku sia sia. Hatiku gelisah. Perasaanku tidak karuan. Perasaanku hanya tertuju pada satu hal. Dan entah mengapa, aku merasa bahwa hal itu akan benar benar terjadi. Karena aku sudah sedikit demi sedikit merasakannya. Esoknya aku tahu, kau mendapat hadiah yang lebih spesial. Bukan bingkisan kecil dariku. Tapi darinya. Aku tidak tahu benar siapa dirinya. Yang aku tahu, ternyata selama ini aku memang benar benar belum mengenalmu. Bahkan sama sekali tidak mengenalmu. Aku kecewa. Pertama kalinya aku dibuat kecewa olehmu sedalam ini. Aku ingin pergi. Entah mengapa, perasaan itu semakin hari semakin membuatku merasa sedih. Perasaan apa lagi yang kau berikan padaku? Kau memang selalu penuh kejutan. Kau datang kembali meskipun kau sudah bersama dengan yang lain? Aku anggap semuanya hanya sebuah lelucon untuk diriku sendiri. Kenapa aku begitu bodoh? Rintik hujan mengantarkan ceritamu tentang keadaan yang sebenarnya. Kenapa aku masih mau kau ajak bicara? Aku bukan ingin membuka hati, aku sudah muak padamu saat itu. Aku benci padamu. Hanya saja aku ingin tahu lelucon apalagi yang akan kau berikan padaku. Angkutan umum pertama dan hujan pertama yang kita lewati. Aku tak tahu, apakah aku masih membencimu? Atau sudah mencintaimu? Hatiku ternyata berkata lain. Aku sebenarnya tidak membencimu, hanya saja kecewa atas perlakuanmu padaku. Aku benar benar terjatuh padamu. Malam itu mengantarku ke dalam mimpi indah, meskipun aku tahu aku akan melepaskanmu esok dan seterusnya. Tapi, apa aku sanggup untuk melepasmu setelah semuanya terjadi dengan begitu indah? Ternyata aku memang tak bisa melepaskanmu, atau malah kau yang tak mau melepaskanku? Entahlah. Aku senang berada disampingmu, meskipun aku tahu hal ini tak pantas. Tak pantas? Konyol. Anak remaja sepertiku mana tau hal yang pantas atau tidak pantas. Yang penting aku senang, dan akan aku jalani. Hujan mengguyur sangat lebat dan kita berada dalam satu atap. Lebih tepatnya aku berada di atapmu, bersamamu. Tawa dan canda silih berganti. Aku tak peduli apapun, yang aku rasakan hanya bahagia bisa berada disampingmu. Walaupun aku tak tahu, hubungan apa yang kita jalani sekarang. Tapi kau mengubahnya dalam waktu sekejap. Akhirnya, aku menjadi kekasihmu. Bulan pertama masih terasa manis. Kita tak pernah bosan untuk bertemu setiap hari. Walaupun kita berada di satu sekolah yang sama , kau selalu menyempatkan diri untuk bertemu aku lebih awal. Belum lagi sikap genitku setiap kali aku melewati kelasmu dengan sedikit mengintip lalu berlari sambil tersenyum. Lucu. Semuanya terasa menyenangkan. Aku sangat menyayangimu, begitu pula kau padaku. Benarkan? Bulan ketiga kita lebih sering bertengkar, meskipun kita selalu dapat menyelesaikan setiap masalah tapi bagiku ini sangat menakutkan. Aku melihat gelagat anehmu. Satu nama wanita berkeliaran di otakku. Siapa dia? Aku semakin bingung bertindak terhadapmu, aku mulai resah dan takut. Aku takut kehilanganmu sekarang. Aku harap itu tak terjadi. Bulan kelima, masih dengan pertengkaran yang sama. Aku lelah. Aku bingung harus berbuat apa lagi padamu. Aku selalu salah di matamu, entah dengan sikapku atau memang kita yang memang amat sangat berbeda. “Kamu ngebosenin”, katamu. Kata kata itu masih terngiang hingga saat ini. Aku mungkin memang membosankan untukmu. Iya, aku hanyalah mainan yang sebentar lagi akan kamu buang. Tak sampai bulan ke enam, pertengkaran kita makin membuatku lelah. Aku tak ingin mengambil keputusan yang akan aku sesali nantinya. Akhirnya kamu yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan denganku. Aku tau ini akan terjadi. Kau bilang ingin berteman denganku? Lelucon kuno. Aku tak menerima semua hal itu. Kau mengecewakan. Kau Egois. Kau tak sebaik yang aku bayangkan. Aku benar benar tak ingin melihatmu sekarang. Kau benar benar mengecewakan, dua minggu lepas dariku kau sudah melupakanku. Sungguh hebat. Nama wanita itu terlintas kembali. Ternyata benar. Feelings ku tak pernah salah. Kau sudah menginginkan ini dari tiga bulan sebelumnya. Aku membencimu. Aku benar benar membencimu. Acara pelepasan disekolah memaksa kita untuk bertemu. Memang sesekali aku menyapu pandanganku untuk mencarimu. Hanya untuk tau, apa kabarmu. Sudah lama kita tak bertemu. Aku membencimu, tapi perasaan apa yang sekarang aku bawa padamu? Bukan cinta, ini hanya aku yang masih belum terbiasa. Kau memintaku untuk mengabadikan sebuah foto. Aku tak tahu, harus bahagia atau..... Acara puncak perpisahan kita ada di sebuah pesta malam. Hari itu aku pergi bersamamu, berada dalam mobilmu tapi bukan lagi di sebelahmu. Jujur, air mataku sudah tak tahan lagi ingin tumpah saat itu. Tapi aku menahannya. Bodohnya aku, kenapa aku sangat tidak tahu malu? Pesta malam itu aku mengeluarkan semua kepenatanku. Aku kalap. Bagaikan orang yang tak berjiwa lagi. Ragaku disana, namun hatiku ingin pergi secepatnya. Tapi tiba tiba ada satu tangan yang meraih tanganku. Tanganmu. Aku terkejut. Aku tak tahu apa yang kamu lakukan. Aku benci hal itu, tapi kenapa aku tak berusaha melepaskannya? Kau bertingkah seolah olah kau peduli padakku. Aku muak atas semua perlakuanmu. Kau tak lebih dari seorang bajingan yang hanya bisa memainkan perasan wanita. Kau bersikap seperti ini padaku dengan hadirnya dia bersamamu. Aku tak bisa menahan amarahku lagi. Aku benar benar muak padamu sekarang. Aku memang masih menyayangimu, tapi amarahku sudah melebihi segalanya. Aku sudah tak pernah mendengar kabarmu lagi. Bagaimana kehidupanmu, aku sudah tak peduli. Aku tak ingin tahu lagi. Aku hanya berharap kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang. Tapi kau malah menitipkan salam pada salah satu temanku, “dia ngebbm kamu tapi gak deliv” ujar temanku. Perlakuanmu yang memberikan aku pertanyaan lagi. Aku yang kau anggap membosankan. Aku yang sudah dibuat hancur hatinya olehmu. Aku yang sudah kecewa padamu. Tapi kau masih berani menannyakan kabarku? Tanpa ada rasa bersalahkah kamu? Aku benar benar akan pergi dan tak akan pernah melihatmu lagi. Sekarang, aku benar benar telah menghilang dari kehidupanmu. Aku anggap lembaran kita sudah selesai. Aku akan membuka lembaran baru, aku harap begitu juga denganmu. Memang terkadang aku merindukanmu, tapi apalah arti sebuah rindu itu. Memang sesekali aku memimpikanmu, tapi apalah arti sebuah mimpi itu. “Kau mimpiku, benar. Tapi sekarang aku tak ingin hidup terus menerus dalam mimpi. Aku akan mencari nyataku.” Bila nanti, aku bertemu kamu lagi. Jangan harap aku akan melihat ke arahmu. Jangan harap aku akan memprilakukanmu sebaik dulu. Aku tidak dendam padamu. Aku hanya ingin kamu tahu, pertemuan kita kelak adalah pertemuan pertama kita lagi dengan aku yang berbeda. Selamat Tinggal. (Jihan E. Mufidah, 7 September 2014)