kopi,coklat, dan love bay (2)
selama perjalanan menuju pantai payangan, teman kami tanti, -yang belum sarapan- sudah sangat kelaparan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di ambulu. Setelah melihat-lihat kami memutuskan untuk berhenti di salah satu warung mie-bakso di dekat masjid ambulu. Kami makan dengan lahap haha. Setelah selesai mengisi perut kami langsung menuju pantai payangan.
Setibanya di sana, gantian teman-teman saya yang dikejutkan. Mereka bilang pantai payangan ramai sekali (belum sampai sih, tapi jalan menuju pantai sudah begitu ramai). Mungkin kurang lebih 1 km dari tempat wisata, banyak sekali orang-orang yang sudah menawarkan lahan parkir di rumah-rumah penduduk. Saya yang baru pertama kali sih santai-santai saja, tapi giliran teman-teman saya yang terheran-heran. “mbiyen iki ga ngene rek, dulu lho sepi” celetukan salah seorang teman. Beruntungnya teman-teman saya sudah banyak yang pernah ke sana, jadinya kami lurus melenggang saja meninggalkan parkiran-parkiran yang sudah banyak ditawarkan. Akhirnya kami memutuskan untuk parkir di dekat pantai –dan bersyukur, saya tidak membayangkan berjalan bermeter-meter apabila parkir di rumah-rumah penduduk tadi-. Ternyata selain parkir, sudah ada warga yang sigap untuk mengarahkan mobil kami. Dan dia menarik Rp 15,000 untuk mobil kami. Hmmmm sepertinya ini sudah menjadi ladang penghasilan bagi penduduk sekitar.
Turun dari mobil, saya sudah bisa merasakan pasir pantai. Warnanya hitam (yap bukan putih lho) dan panas (karena hari itu sungguh terik). Kami berjalan, menyusuri pasir pantai yang panas, untungnya saya masih pakai kaos kaki hehe. Sembari berjalan, kami disuguhkan dua bukit, satu dikanan dan satu dikiri. Kata teman saya, bukit yang di kanan akan menunjukkan view pantai payangan. Sedangkan bukit di sebelah kiri akan menyuguhkan view teluk love (teluk yang membentuk garis pantai berbentuk hati (love)). Karena mayoritas teman-teman saya sudah pernah melihat view pantai payangan, maka kami memutuskan untuk beralih ke bukit yang sebelah kiri. Saya mah ngikut aja hehe.
Oiya, untuk masuk ke area bukit teluk love, ada tiket masuk seharga Rp 5000,- per orang. Ada cerita lucu sesaat kita mau masuk ke area teluk love, karena bukitnya memang terlihat menantang dan menanjak, teman-teman saya bercanda apakah saya akan kuat untuk naik sampai puncak. Petugas yang berjaga di sana pun mendengar, dan sepertinya khawatir dan mencoba meyakinkan saya –dengan serius- bahwa saya pasti kuat. Teman-teman saya yang mendengar petugas itu tetap saja melanjutkan guyonan kepada saya. Akhrnya petugas bertanya, “usia berapa memang?”. Saya menjawab sekenanya “16 tahun”. Beliau menimpali lagi “jangan kahawatir nanti klo ga kuat ada petugas yang siap menggendong,” dan dengan bahasa tubuhya menyalakan HT (handy talkie) untuk memberitahukan bahwa untuk bersiap-siap ada pengunjung yang sepertinya tidak kuat. Teman-teman saya yang melihat antara kaget dan geli. Kaget karena petugas itu menyiarkan lewat HT bahwa –kemungkinan- ada pengunjung yang tidak kuat sampe puncak dan geli karena saya mengaku umur 16 tahun.
Mari kita tinggalkan bapak petugas tadi haha.
Setelah kami meyakinkan diri untuk naik –karena memang kebetulan sedang terik-teriknya dan bukitnya benar-benar mengintimidasi- disana ternyata juga disediakan tongkat untuk membantu pengunjung dalam menaiki bukit tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil tongkat tersebut –siapa tahu dibutuhkan-. Tangga demi tangga kami lalui. Oiya bicara soal tangga, saya dan teman-teman saya sempat membahas tentang ini. Jangan bayangkan bukit yang terjal bebatuan, sebab bukit ini sudah sedemikian rupa di setting untuk memudahkan pengunjung agar bisa naik dengan nyaman. Telah disediakan tangga yang dibuat dari semen dan di beberapa titik yang terjal juga disediakan pegangan dari bambu, jadi tidak perlu takut terperosok. Saya rasa ini cukup bagus, karena kadang tempat wisata tidak disediakan fasilitas –sederhana namun bermanfaat- seperti ini. Jadilah kami tidak keberatan untuk sekedar membayar Rp 5000 per orang. Anggap saja apresiasi bagi pengelola tempat ini.
Tangga demi tangga kami lalui, ada beberapa titik yang disediakan gazebo, agar pengunjung yang mungkin lelalh bisa istirahat sebentar di sana. Dan tentunya kami juga memanfaatkan gazebo tersebut dengan disuguhkan pemandangan laut lepas yang sungguh indah dengan birunya awan, dan perahu-perahu nelayan yang tampak kecil dari tempat kami berdiri.
view dari bukit (belum puncaknya aja uda keren)
saya dan teman-teman ketika menaiki tangga menuju puncak. bisa dilihat perbedaan muka saya yang mulai -pucat- kelelahan haha
Ternyata perjalanan kami ke puncak lumayan melelahkan. Tidak heran petugas di bawah tadi sudah mengingatkan kami untuk tidak lupa membawa air minum. Yap, kami benar-benar butuh minum untuk sekedar membasahi tenggorokan yang mulai kering. Singkat cerita kita sampai pada puncaknya. Karena saya melihat bendera merah putih, teman saya memberitahu apabila ada bendera berarti kita sudah sampai di puncak. Sebentar ssaya menghela napas dulu. Hhaaahhhhh
Saya harus katakan pemandangan di sini indah sekali. Kita bisa puas sekali foto-foto di puncak ini. Karena datarannya luas jadi kita bisa eksplor apapun di sini. Tiduran? Juga bisa banget. Bisa langsung di rerumputannya atau di gazebo yang disediakan.
Dan kami memilih ngelesoh di rumputnya sajaaa hehe
abaikan lah payungnya, (tapi sungguh sangat membantu mengurangi sengatan matahari)
jepretan saya dari puncak bukit (hmmm saya memang tidak berbakat dalam membidik pemandangan)
setelah puas istirahat dan foto-foto, kami memutuskan untuk turun. Dan saya lupa ternyata ini bukan view intinya, si teluk love yang terkenal itu belum keliahatan. Dan dari puncak tertulis 7 meter lagi ke teluk love.. hmmm rasanya saya sudah tidak sanggup lagi untuk jalan haha karena saya kira puncak bukit inilah yang menjadi goals saya.
Sembari turun, tak lupa kami juga terus foto-foto untuk menghilangkan lelah kami hehe. Dan tiba-tiba teluk lovenya sudah kelihatan. Seperti ini penampakannya:
main view dari perjalanan ini sebenarnya haha
Hmmm ya memang membentuk love sih. Tapi saya pribadi lebih suka spot di puncak tadi, karena kita bisa melakukan berbagai aktifitas di sana (bahkan saya dengar bisa juga untuk camping). Tapi ya sudahlah toh saya tetap foto-foto juga hehe..
Sore itu sudah menunjukkan pukul 17.00, dan perjalanan pulang ternyata lumayan curam. Ternyata ini alasannya kenapa pengunjung di arahkan untuk jalan memutar. Iya flash back sedikit, ketika akan naik bukit ini, ada track ke kanan dan ke kiri. Petugas mengarahkan kami untuk start dari kanan, sebab kalau kita mulai dari kiri dulu tanjakannya akan terasa lebih curam –dan capeknya lebih berasa- daripada kita mulai dari yang track sebelah kanan. Petugas juga bilang view disebelah kanan juga lebih bagus –dan saya setuju-.
Setelah menuruni tangga yang lumayan tinggi akhirnya kami sampai di bawah, karena sudah sore sekali, kami langsung mengarah ke masjid untuk sholat ashar. Yup, jangan kahawatir di area bukitnya disediakan masjid untuk sholat. Dan ketika air wudlu dibasuhkan rasanya segarrr –yah meskipun sedikit asin- tapi lumayan untuk menyegarkan diri yang sudah lama tersengat teriknya matahari tadi.
saya sempat mengabadikan sunset di pantai payangan
Kira-kira pukul 18.00 kita melanjutkan perjalan pulang..
tanti –dan mobilnya- yang ngrelain untuk main sama kita meskipun bws-jbr-bws
ilma –dan alfathmartnya yang sudah mensponsori perut kami haha
alif-dan skill drivernya yang sudah tidak diragukan lagi
resi-dan kerempongannya dengan payung wkwk
desy-dan skill fotografi yang sangat luar biasa –kebanyakan foto yang saya upload disini hasil jeperetannya *dan sisanya jeperetan saya
kapan-kapan main lagi yukkkkkkkk :*