Dalam sebuah obrolan dengan teman saya yang berjenis perempuan, ada celetukannya yang menurutku menarik :
“Sekarang tuh ya, laki-laki kalau mau cari perempuan cantik itu gampang, berlebih jumlahnya”
Dari poin itu, saya jadi teringat dengan salah satu tanda-tanda kiamat adalah ketika perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan sudah tidak seimbang (1:50 kalau tidak salah). Saat ini pun kita merasa sepertinya jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Dalam sudut pandang yang lain, saya mengamati pada diri perempuan sendiri timbul persaingan.
Secara naluri, persaingan itu ada. Sama halnya seperti hewan (dalam sebuah buku tasawufnya, Hamka menyebut manusia adalah hewan yang berakal). Ada persaingan untuk mencari pasangan. Naluri mempertahankan keturunan.
Dan ada persaingan yang mungkin saat ini sangat kentara diantara perempuan adalah persaingan kecantikan. Didukung oleh iklan produk kecantikan dengan segala iming-imingnya. Maka dijamin, bisnis produk kecantikan sampe mau kiamat kemungkinan suksesnya besar. Dalam persaingan tidak sehat ini, perempuan ingin selalu tampil “lebih cantik” dari yang lain. Di beberapa negara, mereka (perempuan) rela membuang uang lebih besar untuk operasi wajah atau bagian tubuh yang lain, demi : tampil cantik.
Kecantikan memang senjata yang sangat ampuh untuk menaklukan lawan jenis. Bahwa secara alami didukung oleh riset ‘nyleneh’ dari referensi yang saya baca. Laki-laki akan tertarik pada apa yang dia lihat pertama kali; wajah - dada - paha. Itulah sebabnya 3 bagian tubuh dari wanita ini sering diributkan oleh wanita itu sendiri. Dan operasi yang sering diadakan juga sekitar-sekitar operasi plastik, implan payudara, sedot lemak.
Persaingan kecantikan ini saya rasa akan terus berlangsung selama diri perempuan itu percaya dan memiliki nilai-nilai yang dia yakini, bahwa kecantikan (fisik) adalah modal utamanya untuk menarik perhatian lawan jenis. Secara umum, masyarakat sosial pun mendukung gagasan ini. Iklan di televisi yang menyatakan bahwa cantik adalah putih, rambut lurus bebas ketombe dan tidak bercabang, tidak ada komedo, bulu mata lentik, kuku mulus, langsing, pakaian terbuka, bibir merah mekar seperti tangkringan kodok. Itulah definisi cantik yang diyakini oleh masyarakat dan di aamiin kan oleh banyak perempuan.
Persaingan kecantikan, meski alasan klisenya adalah untuk merawat diri, saya sebagai laki-laki yang suka mengamati (astaghfirullah), maksudnya adalah menganalisa gejala sosial yang terjadi dan pola masyarakat. Ada alasan mendasar dibalik alasan yang keluar dari tulisan-tulisan atau perkataan mereka. Dalam sudut pandang saya pun, saya rasa,“merawat” (mensyukuri pemberian Tuhan) tidak dengan cara seperti itu.
Dalam pernyataan teman saya tersebut, saya membenarkan meski agak kejam dan akan dinilai kejam oleh perempuan. Bahwa sesungguhnya laki-laki memang terkondisikan saat ini dimudahkan untuk mencari perempuan yang cantik (bila dia mau). Sadar atau tidak sadar, perang dingin antara perempuan ini yang sangat halus di dengungkan melalui media iklan, ikon pop (seleb-penyanyi,dll)dan sebagainya, membuat kondisinya menjadi seperti sekarang. Perempuan “cantik” sangat mudah ditemui dimana-mana. Sarang paling gampangnya ya cari di Mall, apalagi Mall yang berkelas.
Wabah perang dingin ini pun, saya amati menjalar ke pelosok desa-desa. Ketika saya pulang kampung ke desa nun jauh disana, atau ketika saya naik motor naik gunung menelusuri pemukiman-pemukiman desa yang sangat jauh dari kota dan akses yang sulit. Kadang mereka memaksakan diri berdandan (seperti yang dicontohkan oleh ikon pop) dan sayangnya menjadi terlihat aneh.
Ada satu hal yang sebenarnya sangat penting untuk disadarkan, dari bacaan yang saya baca (lupa judul dan sumbernya). Jika perempuan memikat laki-laki karena kecantikannya, maka jangan salahkan jika suatu ketika laki-lakinya akan tertarik pada perempuan yang lebih cantik. Bahkan ketika kalian sudah menikah. Ketika laki-laki kalian tertarik pada perempuan yang lebih cantik (karena kamu sudah tua dan jelek).
Musuh terbesar untuk perempuan adalah waktu. Kecantikan tidak berbanding lurus dengan waktu, tapi berbanding terbalik. Untuk melawannya, maka para ahli menciptakan cream anti-aging. Yang konon mampu melawan penuaan. Perang ini makin aneh, senjatanya pun makin aneh-aneh. Dari yang diminum sampe dioles, dari yang ditusuk-tusuk sampai disedot-sedot. Terlihat sangat menyiksa, namun banyak sekali yang rela melakukannya bukan?
Jagalah keluarga kalian kelak dimasa yang akan datang, dengan melindungi diri kalian hari ini. Melindungi diri dari tatapan (binal-tajam-menelanjangi) laki-laki agar laki-laki kalian kelak juga terlindungi. Bantulah keluarga-keluarga harmonis saat ini agar tidak berantakan hanya karena kecantikan yang disebar dijalan-jalan. Bantulah perempuan yang lain untuk menjaga keluarganya tetap utuh dari orang ketiga (yang biasanya juga perempuan), karena saya yakin setiap perempuan menginginkannya keluarga yang baik.
Laki-laki, mau sesoleh apapun. Dia tetap laki-laki dengan segala sifat dasarnya sebagai laki-laki. Jika laki-laki soleh sampai tergoda. Apakabar laki-laki yang tidak baik? Sepertinya tulisan ini seolah-oleh berkata bahwa perempuan yang salah, karena hal-hal diatas yang diungkapkan. Mari sadari, bahwa saya tidak sedang menyalahkan siapapun. Tidak juga menyalahkan keadaan. Bahwa yang perlu kita sama-sama bangun adalah kesadaran. Bahwa pola masyarakat saat ini tidak baik, nilai-nilai yang dianut tentang kecantikan perempuan telah membuat dampak yang jauh lebih buruk.
Ada hal yang perlu diperbaiki, yaitu pola pikir. Bahwa kecantikan itu bukanlah sesuatu yang tampak secara lahiriah. Jasad itu seperti casing HP. Tampak luarnya bisa bagus bahkan dipoles sebaik mungkin. Tapi mengubah isinya (hardware-software) itu sangat sulit. Bagi yang dianugerahi fisik yang cantik, bersyukurlah dengan menjaganya (menutupnya) agar tidak sembarang laki-laki menyaksikannya. Bagi yang merasa tidak cantik, bersyukurlah karena Allah melindungimu dari tatapan laki-laki nakal, biarkan laki-laki yang baik memandang ke jauh ke dalam hatimu.
Cantik dan tidak cantik itu ada di dalam pola pikir. Seseorang yang cantik pun bisa merasa dirinya tidak cantik. Ingat, bahwa tulisan ini ingin memperbaiki pola pikir :)