Kereta Uap Freshwater Fish dan Mitos Modernisme
Seniman adalah manusia dengan privileges yang mesra. Bagaimana tidak, seorang seniman dapat menciptakan dunia sendiri. Seperti Stanislas Fumet ungkapkan bahwa “ Dengan penuh rasa bersalah seni mencoba bersaing dengan Tuhan”. Atau dapat diartikan ¾meminjam kalimat Goenawan Mohammad¾ mampu menjangkau dunia yang selalu menjauh, dapat langsung hadir di dalam dan bersama kita. Dengan radikal pula, seniman tidak dapat menerima kenyataan dunia karena tidak sesuai dengan harapannya. Untuk itu Albert Camus dalam essay Seni dan Pemberontakan menasehati :
“Kreasi seni adalah kehendak kesatuan dengan, dan suatu penolakan terhadap dunia. Ia menolak dunia karena hal-hal yang tidak ada padanya, dan atas nama hal-hal yang, kadang-kadang, ada padanya.”
Oleh karenanya, seniman hadir untuk membuat dunia dan kehidupan ini lebih baik pada hakikatnya. Dan penerjemahan secara konteks sebuah karya seni menjadi antropologis karena harus merangkul realitas ruang dan waktu karya itu dilahirkan. Saat mengetahui hal ini, saya pun tergoda untuk mendadarkan gagasan kontekstual kelompok musik dari kota Malang, Freshwater Fish dengan nilai-nilai pergerakan Postmodernisme. Meski rilisan terakhirnya (Mini album yang akan saya bahas) Animal Simbolikum telah lama rilis, namun saya pikir belum ada yang menulis topik di atas. Padahal, FWF beserta Animal Simbolikum (dan seluruh karya sebelumnya) adalah kereta yang memuat gerbong-gerbong teks penuh gagasan-gagasan yang menarik, mengkritisi, kadang juga menggugat atau sekedar berdoa untuk sampai pada stasiun yang lebih baik.
Sekilas, Postmodernisme
Descartes menyeruakkan mantra cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), saat gamang dengan eksistensinya di dunia. Disaat itu pula, Dia ikut membidani lahirnya Eropa menuju jaman pencerahaan (enlightments /aufklaurung ) yang kini fasih disebut modernisme. Sebuah perayaan kebebasan terhadap kekuasaan puritan, namun dalam aspek tertentu kemajuan ini tidak selalu membawa dampak yang baik. Atau istilahnya, membawa permasalahan modernitas.
Keburukan modernitas berupa isu busuknya kapitalisme, demoralitas, depresi, alienasi, memberi jalan lega untuk munculnya gerakan Postmodernisme. Tema postmodernisme sendiri sering dianak-tirikan karena dianggap sebagai “mode intelektual yang kosong” atau gaya-gayaan biar gaul. Hal itu disebabkan karena payung Postmodernisme meneduhi cendekiawan dekonstruksionis (Derrida, Lyotard, Foucault, Baudrillard) yang gemar membongkar segala nilai dan konvensi menjadi nihil. Dalam ranah seni, pemikiran ini menjungkirbalikan kesepakatan yang sangat sakral bagi seniman, yaitu orisinalitas sebagai tanda kejeniusan. Seniman Postmodern lebih senang mencampur karya seni yang sudah ada kemudian dikembangkan untuk nilai konteks yang baru. Untuk mengaktualisasikan ide tersebut, Andy Warhol mereproduksi foto Monroe dan logo Coke menjadi ikon budaya populer sepanjang sejarah seraya menambahkan “Segala sesuatu adalah seni”. Sejak itu pula seniman bukanlah bagian dari masyarakat elit, hari ini seniman adalah masyarakat biasa (terlebih untuk band independen), mereka kebanyakan membaur dengan peran masyarakat biasa, seperti pelajar, pekerja, dan pengangguran. Kini postmodernisme dipahami sebagai usaha untuk mengungkapkan kebusukan dari yang modern dan mendaur ulangnya.
Kereta uap Freshwater Fish dalam Animal Simbolikum
Dan, FWF yang lahir pada realitas tersebut, ikut menawarkan pemberontakan terhadap tendensi modernisme. Dalam lagu Hati Hitam. Repitisi lirik menolong imaji mengenai keyakinan, Tuhan dan diri, seperti dalam penggalan
“//Ku dekap erat// hati yang hitam//Dalam dekapan cinta//Kuterluka/ tersayat dosa/ Berbicara tentang kebenaran.”
Seperti ini lah wajah manusia yang tersesat dalam mencari kebenaran mutlak dan pembebasan karma menuju nirwana. Seperti kita tahu, dunia modern didominasi oleh sains dan logika empiris positivis yang menjadi standar kebenaran. Hal tersebut membuat ide tentang Tuhan, moral dan nilai spiritual kehilangan arti. Konsekuensi dari kemenangan modern nyatanya hanyalah degradasi moral, keterasingan diri dan anomie. Dari situlah kita tersayat oleh dosa, seolah-olah merasa telah menemukan kebenaran.
Kenyataan modernisme yang memuja oposisi biner, seperti positif-negatif, baik-buruk, hitam-putih, fakta-nilai. Pandangan dualistik seperti membuat suatu pemaknaan objektifikasi, terlebih saat dihadapkan pada manusia-dunia. Bahwa ada kebutuhan kemanusiaan di satu sisi dan alam di lain sisi. Yang mana kini hanya alam yang menjadi objek, manusia merasa telah bisa menjinakan alam. ini berarti eksploitasi alam secara membabi buta. Dan inilah dunia yang dirasakan oleh FWF dalam Cinta Segitiga, dibuka dengan :
“Memejam dalam cekam// Dihadapakan seribu persimpangan// Menuju makam// Dengan geram menggenggam// Peta alam yang buram// Tinggal seracau doa yang mampu kusisihkan kepada alam….”
kita semua sadar akan kehilangan kebaikan alam, yang dulu pada jaman pra modern begitu memuja alam. berdoa untuk kebaikan alam pun bukan hal utama, karena berdoa sebagai afirmasi pada ketakutan untuk hidup telah mendominasi pikiran, raga dan logika. Maka gambaran dunia (world view) yang dikonstruksi oleh modernisme, dikritisi oleh postmodern dengan duduk dalam posisi anti gambaran dunia, tidak lain karena yang kita lihat hanya “peta alam yang buram”. FWF ingin menunjukan bahwa alam sesungguhnya adalah media untuk mengenalkan manusia dengan sang pencipta. Dan manusia dapat berhubungan dengan alam melalui sebuah rasa atau intuisi. Lalu bagaimana jika rasa itu telah terkikis oleh logika empiris? Pertanyaan ini lah yang dirasakan pada bait Ketika sadar akan kepergian rasa//Cinta pertama yang dikhianati raga// Ketika sadar akan kepergian rasa// Kumohon kembalilah yang telah tiada.
Keep reading




















