hanya bisa diberikan
di dalam hubungan—apalagi di dalam pernikahan—ada hal-hal yang bisa diminta lalu diberikan, tetapi ada hal-hal yang hanya bisa diberikan. yang hanya bisa diberikan itu, tidak bisa diminta. sekeras apapun dipaksakan, tidak akan bisa keluar kalau hatinya memang tidak ada atau tidak di sana. tidak akan sampai.
uang/nafkah itu bisa diminta, tetapi kasih sayang yang tulus hanya bisa diberikan.
waktu itu bisa diminta, tetapi perhatian yang penuh, kehadiran yang utuh, hanya bisa diberikan.
bantuan itu bisa diminta, tetapi dukungan tanpa tapi-tapi itu hanya bisa diberikan.
hadiah itu bisa diminta, tetapi “selalu mengingat dan mempertimbangkan pihak lainnya” hanya bisa diberikan.
kabar itu bisa diminta, tetapi cerita, kejujuran, dan keterbukaan itu hanya bisa diberikan.
pemenuhan janji bisa diminta, tetapi kepercayaan hanya bisa diberikan.
kebersamaan itu bisa diminta, tetapi kesetiaan baik saat bersama maupun tidak hanya bisa diberikan.
maaf itu bisa diminta, tetapi keridhoan hanya bisa diberikan.
dalam pernikahan, yang hanya bisa diberikan itu seharusnya bukan kemewahan. itu bare minimum. menerimanya adalah hak bagi yang menikah.
lalu seharusnya, memberikannya juga adalah kewajiban bagi yang menikah. kalau yang punya kewajiban itu benar-benar menghayati perannya dalam pernikahan, benar-benar membekali diri dengan ilmu dan iman, kewajiban itu sama sekali bukan beban. melakukannya semudah bernapas di kala diri sehat dan udara sedang bersih-bersihnya. effortless, tanpa usaha.
ada satu lagi yang hanya bisa diberikan dalam pernikahan, tetapi ini Allah yang memberikan. namanya ketenangan. itulah tujuan pernikahan dan itulah yang kita minta kepada Allah dari sebuah pernikahan: pasangan yang menjadi rumah tempat kita selalu pulang.
selamat memberikan yang hanya bisa diberikan. selamat menerimanya. semoga Allah memberikan kalian ketenangan.











