yang boleh dan nggak boleh
inget nggak, waktu kecil, kita mungkin sering dimarahi kalau menangis? kalau marah? kalau sedih? seakan-akan semua perasaan itu salah. seakan-akan kita hanya boleh menjadi anak manis yang penurut, yang harus selalu senang dan ceria.
nggak hanya itu, kita juga nggak boleh takut. “nggak usah takut. harus berani. berani dong.” begitu kata orang tua kita.
tapi, kerasa nggak, kalau pada saat-saat menuju dewasa, kita sering kebingungan bagaimana mengekspresikan perasaan sedih, kecewa, takut, dan marah kita? kita merasa bersalah untuk memiliki perasaan itu. yang membuat kita semakin menghindar dan lari dari masalah yang sebenarnya. yang justru membuat masalah semakin menjadi-jadi.
iya, kita nggak terbiasa menerima perasaan. padahal, menerima perasaan itu penting supaya kita tau harus ngapain untuk mengganti perasaan itu. termasuk saat marah.
di tengah fase quarter life crisis saya, saya belajar bahwa menerima perasaan adalah kecakapan dasar hidup yang harus diajarkan sejak kecil. maka, sekarang, saya mencoba menerapkan ini kepada mbak yuna.
beberapa bulan lalu ketika mbak yuna mulai memasuki usia rentan tantrum, saya masih sering mengikuti eyang-eyang dan mbah-mbah yang akan bilang, “nggak boleh marah. marah itu jelek. nanti kalau marah, ini itu.” sebenarnya, yang ingin saya sampaikan tentulah, “nggak boleh lempar-lempar. nggak boleh ganggu orang lain.” nah, saya salah karena menyederhanakan itu semua menjadi nggak boleh marah.
nggak ada jalan pintas. itu salah satu prinsip yang selalu saya percaya, termasuk dalam membuat anak menjadi tenang. anak-anak nggak boleh diajarkan lari dari perasaan, lari dari masalah.
tapi, mereka butuh panduan praktis. apa yang harus dilakukan kalau sedih. tentang ini, saya mengajarkan mbak yuna untuk tarik napas dalam. biasanya, lumayan dalam meredakan tangisan.
lalu, apa yang harus dilakukan kalau marah. tentang ini, saya mengajarkan mbak yuna untuk menyilangkan tangan. sambil manyun juga boleh. lebih baik lagi kalau sambil istighfar. dengan saya tanya, “kalau marah mbak yuna gimana?” itu saja membuatnya merasa dipahami. marahnya bisa reda meskipun tidak langsung.
lalu, apa yang harus dilakukan kalau takut. tentang ini, saya mengajarkan mbak yuna untuk diam. diam dan lihat, perhatikan. lama-lama, dia akan menyadari bahwa sesuatu itu nggak perlu ditakutkan. tak jarang, saya juga bilang kalau saya sendiri takut. “ih, ibu takut. ngeri. geli. tapi nggak apa-apa ya? kan kecil binatangnya.”
yang kemudian saya ajarkan kepada mbak yuna adalah apa yang nggak boleh–kita semua tahu bahwa yang nggak boleh inilah yang ingin kita hindari. sedih boleh, nangis boleh, yang nggak boleh ada berteriak sampai mengganggu orang-orang. itu namanya berisik. itu mengganggu orang lain. kalau merasa terganggu, orang lain bisa sebal dengan kita.
kecewa boleh, marah boleh, yang nggak boleh adalah melempar-lempar, menendang-nendang, memukul, merusak, atau menyakiti diri sendiri/orang lain. itu kan yang ingin kita hindari? maka, itu pula yang disampaikan. “nak, kalau memukul, bisa sakit tangannya dan sakit yang dipukul. kalau melempar-lempar, bisa rusak yang dilempar.”
oh ya, tentang perasaan-perasaan ini, perlu sekali diobrolin tidak hanya ketika perasaannya muncul dan terjadi. sebab, saat sedang sedih atau marah, lebih kecil kemungkinannya anak akan mendengarkan kita. sebaiknya, diobrolin juga di waktu sedang senang. “mbak yuna kalau marah gimana? oh tangannya disilang gitu ya. oh, ibu jadi tau deh, kalau mbak yuna silang tangan artinya mbak yuna sedang marah ya?”
saya sungguh berharap, berdoa, dan berusaha. semoga kelak ketika mbak yuna mengalami fase-fase bertumbuh di qlc, dia tak perlu kebingungan atas perasaannya. semua perasaan itu ada untuk diakui, diterima, mungkin juga dimaafkan.
oh ya, tentu saja saya pun belajar bagaimana mengelola marah saya. salah satu praktisnya, jauh-jauh dulu deh dari media sosial. keep your tantrum offline, kata orang.