“Aku percaya kamu tak ke mana-mana. Hanya saja, sekarang kau jauh lebih bahagia bersama orang baru ketimbang memperbaiki yang lama. Tak apa. Tak apa.”
—
styofa doing anything
🪼
No title available

pixel skylines

Product Placement

if i look back, i am lost
tumblr dot com
i don't do bad sauce passes

#extradirty
Stranger Things

Janaina Medeiros
Cosimo Galluzzi
wallacepolsom
dirt enthusiast
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

ellievsbear
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
sheepfilms

Kaledo Art
will byers stan first human second

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from China

seen from Brazil
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Italy
seen from United States

seen from Australia
@kevinrambu
“Aku percaya kamu tak ke mana-mana. Hanya saja, sekarang kau jauh lebih bahagia bersama orang baru ketimbang memperbaiki yang lama. Tak apa. Tak apa.”
—
“Ada yang rasa masih sama meski sudah tidak bersama. Di satu sisi ingin rasanya bisa kembali bersama, namun di sisi lain aku ragu kau masih mempunyai rasa yang sama. Lantas siapa aku di sini bagimu? Apakah aku sekadar masa lalu yang kau gunakan untuk membunuh waktu?”
—
Aku bukan tidak rindu, apalagi tidak memikirkanmu. Hanya, di hatiku sudah ada semacam aturan baru: takboleh lagi buang waktu untuk apa pun yang berujung tanpa rencana.
Aku iri pada Bumi; hujan takpernah bosan untuk jatuh berkali-kali. Sedang, aku dan kebodohan masih terus bertanya, mungkinkah kamu bisa jatuh padaku seteguh derainya?!
Sesaat setelah kamu tahu leganya melepaskan seseorang, leganya berhenti menunggu dan berharap, kamu akan ada di tingkatan yang baru dalam hal merelakan. Secara ajaib, semua akan terasa lebih mudah diterima; mana yang menjadi bagianmu dan mana yang bukan.
“Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, sedangkan benci adalah sebuah pilihan. Lantas, mengapa kita lebih memilih membenci atas setiap perbedaan?”
— semangkukasle
“People change, no use getting sentimental about it. Move on, find someone else.”
— David Nicholls, One Day (via books-n-quotes)
Diam ku berarti
1. Ada seseorang yang tidak ku sukai
2. Gak perduli apa yang terjadi
3. Tidak mau ikut campur
4. Ada yang salah
Ibarat kata pepatah “patah tumbuh, hilang berganti”
Beberapa orang ditakdirkan untuk hadir dalam hidup kita entah untuk menetap atau hanya singgah
Namun banyak dari mereka hanya sekedar singgah lalu menghilang
Jalanmu mungkin memang sudah digariskan takdir, kami hanyalah perantara
Bahagia rasanya melihat seseorang yang dahulu sedekat nadi namun kini menghilang bagai ditelan pekatnya kabut, menemukan kebahagiaannya
Selesai sudah tugas kami, semoga kau selalu bahagia
Selamat tinggal….
~sepertiisyarat
Pada akhirnya, yang pergi telah kembali dan yang tak pernah berkabar kini kembali datang
Tidak
Kata tidak yang kuucapkan bermakna tidak.
Bukan bermakna mengajakmu bermain-main agar kau lebih peka, hingga akhirnya aku mengubah jawaban dan berkata iya;
bukan bermakna menginginkan usaha yang lebih keras darimu, sampai aku meyakini hatimu dan setuju bersamamu;
bukan bermakna merendahkan kedirian dan niatanmu terhadapku, hingga kau merasa perlu marah, menghina, dan membenciku.
Kata tidak yang kuucapkan bermakna tidak.
Terimalah kata tidakku sebagai kata yang baik.
Sebab, aku selalu mencoba untuk sampaikan kata tidak itu dengan cara yang paling baik;
sebab, aku tak bermaksud membuat salah satu di antara kita menanggung perasaan paling buruk;
sebab, kita tak punya hati yang kacau dan kurang berarti, hanya karena cinta yang tak berakhir dengan saling memiliki.
- @elsasyefira
Aku sudah cukup banyak belajar, termasuk belajar membiarkan waktu menjalankan tugasnya sebagai penyembuh rasa duka dan kecewa. Sebab, memaksakan diri untuk pulih dengan tergesa-gesa, ternyata hanya memperparah lara yang sudah ada.
Sepenuhnya, kini aku tersadar. Bahwa, dari seluruh cinta yang aku punya, yang paling berhak pertama kali merasakan kehangatannya ialah, diriku sendiri. Yang paling layak diperjuangkan kebahagiaannya ialah, diriku sendiri. Bukan kau.
Jadi, selamat tinggal, wahai kau yang baik. Sama sepertimu, aku pun sudah harus bahagia.
- dalam Bias Rindu, buku kolaborasi saya dengan @biashujan; dengan nama pena Bias Mantra
Bila nanti, nyatanya kita saling menghindari dan tidak lagi saling mencari, ingatlah dengan baik; bahwa setidakmenyenangkan apapun akhir kisah ini, aku pasti akan mengingatmu sebagai seseorang yang pernah mengasihiku dengan baik dan bijak.
Bila nanti, kamu mendadak meragu, kamu sangat boleh percaya hal ini; bahwa jauh sebelum aku mengenali senyummu, jauh sebelum cerita-ceritamu mencanduku, jauh sebelum aku meletakkan kekagumanku pada kalimat-kalimat cerdas nan manismu, aku bersyukur seseorang sepertimu bersedia singgah di sini.
Bila nanti, kamu mengenang masa di saat aku masih ingin bersamamu–meski seberantakan apapun kamu, ketahuilah, itu hanya upaya sederhanaku untuk memastikan; bahwa perasaanmu padaku masih cukup banyak untuk membuatmu menyayangiku hingga besok dan besoknya lagi.
Bila nanti, seseorang yang kamu pilih di kemudian hari untuk menjadi penyebab bahagiamu bukan lagi aku, maka aku hanya ingin menyampaikan terima kasih;
• Terima kasih karena telah mengajariku cara untuk membaik dan terus membaik.
• Terima kasih karena sudah mau memahami semua duka dan luka yang kurasakan, yang ternyata, lebih baik dari siapa pun.
• Terima kasih karena pernah menolongku dari semua ide-ide burukku dan pemikiran yang salah.
• Terima kasih untuk waktu, kisah, argumen, dan diskusi menyenangkan yang pernah mau kamu bagi denganku. . . . . . Aku pernah bahagia saat itu. Sangat. Dan jikalau tidak lagi saat ini, tidak apa-apa,
aku telah cukup bahagia karena pernah bahagia di saat itu, dengan kamu.
Art: @misscyndiii
Ah, tapi, bila nanti kamu bertemu orang lain; aku belum tahu apakah aku bisa cukup kuat untuk tidak cemburu atau tidak.
“Katanya, semua akan indah pada waktunya. Tapi bagaimana jika, yang kau anggap indah sudah pernah terjadi pada waktunya?”
— (via kunamaibintangitunamamu)
Seperti Lagu
Pada suatu hari, aku menemukanmu. Seseorang yang membuat hatiku tenteram hanya berkat kehadiranmu saja. Seperti lagu, aku tak ingin berhenti mendengarmu. Betapa musik dalam dirimu menggugah sesuatu dalam diriku; seperti perasaan yang dulunya terkubur kini menjelma harapan yang bersinar cerah.
Kamu mungkin datang begitu saja atau memang sengaja sudah disiapkan untukku. Tanpa bisa aku duga. Tanpa bisa aku cegah. Seperti lagu, lagu yang aku dengar sebelum kamu ada menjadi tidak menarik lagi sama sekali. Betapa lirik yang dikatakanmu memberikan sebuah makna baru untuk melewati hari-hari yang tidak selalu menyenangkan ini. Tapi karenamu, aku selamat.
Kamu membuatku kecanduan, karena kok waktu kamu tidak ada, aku rindu ya? Rasa-rasanya, ada yang tidak komplit. Seperti lagu, aku butuh untuk mendengarmu setiap saat, selama yang aku mau. Betapa nada suara yang dialunkanmu mengajarkanku suatu hal; bahwa bahagia itu bisa hanya sesederhana meletakkan percaya pada janji seseorang.
Namun, semua orang bisa jemu. Aku, kamu, kita tahu itu. Seperti lagu, muak bisa tiba-tiba menyerang. Pada suatu waktu, kegembiraan itu terisap. Aku berhenti mendengarmu dan kamu berhenti bersuara. Lantas, selebihnya sepi. Mungkin, aku hanya ingin menakar sehampa apa aku jika kamu tidak ada. Atau barangkali, bukan aku yang bosan, melainkan kamu yang butuh pendengar lain.
Pada akhirnya, kamu pun masuk ke dalam barisan lagu-lagu yang (pernah) aku favoritkan. Seperti lagu, orang-orang datang silih berganti ke dalam hidup. Ada yang berhasil menarik perhatian, ada yang sengaja dilewatkan saja, tapi ada beberapa juga yang disimpan, dan beberapa…dihapus. Dan di mana tepatnya letakmu, aku tidak ingin memberitahumu.
Aku selalu bilang; kamu seperti lagu. Tapi, kamu juga bukan seperti lagu. Karena ketika sebuah lagu berhenti, aku masih bisa memutarnya berulang-ulang kali. Namun, ketika kamu berhenti, aku tidak bisa memutar balik semua kenangan yang telah kita lalui. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuatmu melihatku seperti dulu lagi. Dan, aku tidak punya daya untuk mengembalikan euforia yang kita rasakan pada awalnya.
Satu yang aku ingin kamu ketahui adalah; walaupun musikmu telah lama berhenti, walaupun mungkin aku telah lama lupa beberapa bagian dari lirikmu, tapi aku tetap bisa merasa tenang ketika mengalunkannya, meski hati yang tergerus pelan-pelan akan menjadi taruhannya.
Lama aku duduk terdiam memandangi layar persegi panjang dengan kursor berkedip-kedip hampa itu. Berusaha mengidentifikasi sejenis perasaan apa yang tengah eksis saat ini karena sungguh semuanya sangat tidak jelas. Momen demi momen, kode demi kode, story demi story, tetap saja tak cukup. • Kamu tahu, ini hanya bagian dari rencana kepalaku untuk melindungi hati ketika kecewa. Aku tak membencimu, sungguh. Aku hanya agak marah ketika kamu tampak lebih bahagia tanpaku. Dan aku akan terus mempertahankan amarahku–karena kurasa itu adalah balasan paling tepat untukmu–kalau bisa hingga kedamaianmu terusik. • Pernah ada hari dimana aku merasa aku telah membuat kemajuan. Bergerak jauh darimu tanpa sedikitpun merasa terluka. Tapi, sebagian hati kecil ini tak pernah bisa tahan untuk tidak memikirkanmu. Ini terlalu penting, ya kan? Jadi, bagaimana bisa kamu pergi darinya? • Lalu, aku tersadar. Aku tak menginginkan apa-apa. Aku hanya ingin sebuah permintaan maaf darimu. Maaf karena telah membuatku harus merasakan kemalangan ini. Maaf karena telah membuatku menginginkan seseorang yang aku tahu akan menyakitiku setiap kali kuingat. Maaf karena telah membuatku mengeluarkan energi ekstra untuk menjauhkanmu dari hidupku. • Jika kamu menjadi salah satu yang membaca ini, sudah, abaikan. Aku hanya ingin kamu sebatas tahu saja. Jangan pernah pikirkan lagi kecewaku, jangan pernah manjakan kesedihanku, jangan pernah berusaha untuk menjelaskan dan meluruskan pemahamanku. . . . Karena aku tak mau terjebak lagi dalam siklus itu; diam-diam tersenyum, berharap lagi, merasa diinginkan lagi, namun hanya untuk kecewa kesekian kalinya. . . . #kunamaibintangitunamamu #cindyjoviand #sinjof