"Qitmir" Anjing yang patuh d mulia
Anjing dalam bahasa arab كلب dibaca kalbun. Disini saya sedikit bercerita tentang seekor anjing yang diabadikan dalam Al-Quran.
“aku memberikan kesetianku seluruhnya,dan aku ridha dengan yang sedikit. Kalimat itu adalah perkataan seokor anjing yang diceritakan oleh Ahmad Bahjat dalam bukunya yang terkenal Qishashul Hayawan FilQur’an Ya,adalah sebuah wawasan umum bahwa anjing adalah hewan yang Allah karuniakan padanya kesetian dan kepatuhan. Walau hingga kini ,banyak manusia dari belahan banyak bangsa yang menjadikannya sebagai macam celaan dan cerca. Ialah seekor hewan yang dicipta memiliki najis dalam air liurnya,tetapi bukan berarti ia adalah keburukan bagi kita yang menyakini hak-haknya. Dan jalan-jalan Mesir,semakin malam semakin sepi dari manusia. Namun,makin riuh sahutan gonggongan anjing yang berkelompok,berjalan dan berlari disepanjang jalan sepi dan ramai, mencari makan atau sekedar tidur di atas mobil-mobil Hyundai dan Opel milik warga yang telah tidur tertelalap.Terlebih di Kairo, dan pasar-pasarnya kawanan anjing menggongong riuh hingga terbit mentari.Ketika adzan subuh berkumandang membelah angkasa,anjing-anjing terlihat kembali ke tanah-tanah kekuasaannya,mencari makan di tong-tong sampah kota.
Namun,sungguh kita belajar dari sebagian warga mesir yang menyayangi binatang. Sebab,anjing- anjing ini tahu betul kapan dan dimana mesti mereka melangkah untuk mencari makanan. Seorang Bapak kami temui di kos daging. Ketika kami melihat beliau membeli tulang belulang ayam ,kami bertanya mengapa membelinya.Jawaban sederhana,”Mencari ridho Allah dari ciptaan-Nya, kawanan anjing.”menjelang Ashar, kami juga kerap melihat ibu-ibu melempar potongan daging dari atas flat mereka,sedang para anjing menunggu berhamburan dibawahnya.siapa tahu anjing-anjing ini adalah alansku untuk masuk ke surga, mungkin itu gumumnya dalam hati.
Mahasuci Allah yang menciptkan segala sesuatu dengan hikmah dan nilai manfaat.Bukankah kita telah medengar kisah seorang pelacur yang masuk surge hanya karena ia mendahulukan seekor anjing untuk memminum air dari terompahnya, sedangkan dirinya kemudian wafat karena tak kuasa menahan dahaga?Ya,karena memberi minum seekor anjing yang najis secara syariat,berbalas surge yang tinggi nilainya.Mengapa demikian? Sebab, menyayangi hewan adalah ajaran Islam yang bernilai disisi Allah’Azza wa jalla.
Anjing-anjing di Mesir berlaku jinak.mereka meniyingkir ketika manusia lewat. Bahkan,ketika Adzan bersahutan,saya menjumpai para anjing seakan ikut menyimak seruan mulia, menghentikan gonggongan mereka sejenak. Tatkala adzan usai,mereka kembali denga sahutan-sahutan meraka.ketika anak-anak mendatangi mereka sekedar memberi makan,mereka duduk manis dan patuh . Ya, masyarakat Mesir sangat muda untuk memberi; jangankan manusia,hewan pun mereka penuhi hakny.
Jika meraka diberi kesempatan bicara didepan manusia, mungkin ungkapan Ahmad Bahjat—masih dalam buku Qishashul Hayawan Fil Qur’an—dalam merangkai kisah anjing dalam Ashabul Kahfi bisa mewakili mereka,”Aku berterima kasih pada Allah atas semua yang terjadi meski hampir saja aku kehilangan imanku ketika aku melihat ada ketidakadilan terjadi di bumi ini. Mengapa banyak manusia menganggapku sebagai hewan yang tak tau apa pun, selain makan dan mengonggong? Padahal, itu Cuma prasangka buruk mereka.”
“pula,”lanjutnya,”manusia sering kali menganggapku sebagai bahan celaan, sampai-sampai manusia – makhluk yang Allah memuliakan meraka—berkata pada kawannya,”Hai anak anjing”sebagai cara merendahkan antarsesama walaupun itu sama sekali bukan hinaan untuk kami karena memang kami anak anjing , dan menjadi seekor anjing bukan berarti menjadi kufur.”
Masya Allah sebenarnya saya juga tersenyum kagum melihat tangkai kalimat itu. Apalagi ketika anjing mencurahkan isi hatinya, “Sungguh,Allah memilihkan kami takdir sebagai seekor anjing, dan menakdirkan untuk menciptakan selain kami sebagai manusia. Dan jikalau Allah berkendak untuk menjadikan kami manusia, dan manusia menjadi anjing, niscaya Allah Maha Kuasa. Namun, kami ridha atas takdir itu. Lalu, mengapa manusia bersikap buruk kepada kami? Dan memakai nama kami untuk mencela yang lain?”
Sungguh,walau mereka binatang,mereka dimuliakan dengan nenek moyang mereka yang juga seekor anjing. Dengan indah terabadikan kesetiannya dalam baris-baris indah Al-Quran,di surah yang mulia yang disunnahkan membaca setiap hari Jumat untuk menjadikan pembacanya bercahaya sampai tiba jumat berikutnya. Ialah Qitmir,anjing penjaga pemuda beriman yang mempertahankan iman mereka di dalam gua, yang tidur selama 309 tahun dan bangun dari tidurnya seakan hanya tidur setengah hari. Dan surah mulia itu, Al-Kahfi namanya.
Dan kamu mengira meraka itu bagun,padahal mereka tidur dan kami bolik-balikkan meraka ke Kenan dan ke kiri,sedang anjing mereka mengunjurkan kedau kakinya di muka pintu gua.Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah(hati) kamu akan dipenuhi oleh katakuatan terhadap mereka . (Q.s.Al-Kahfi [18]:18)
Sungguh, Qitmir—yang kesetiaannya diabadikan dalam Al-Quran—adalah sebuah cerminan bagi kita. Ia, seekor hewan yang air liurnya dihukumi najis, tetapi takkala membersamai orang-orang beriman, tertuanglah setianya menjadi baris-baris ayat yag abadi hingga tiba Hari Penghakiman. Ialah Qitmir nenek moyang para anjing, yang perbuatannya hebat yang kita lakukan pun tak bias menjadi headline di sebuah surat berita, tetapi Allah memuliakan perbuatan Qitmir dalam Firman-Nya,”sedangkan anjing mereka mengunjurkan kedua kakinya di muka pintu gua”,dan menjadi headline di sebuah kitab suci.
sumber : Belajar Dari Negeri Para Nabi