Sabun batang umumnya lebih murah di awal, tetapi sabun cair bisa menjadi lebih hemat dan tahan lama dalam jangka panjang jika kita menggunakan shower puff atau dispenser takar. Sabun cair lebih mudah dikontrol pemakaiannya, sementara sabun batang rawan terbuang percuma jika dibiarkan basah dan mudah larut.
Judging righteously and being judgmental are two very different concepts. One you should do and one you should not. Judging righteously in Christian teachings is a Biblical command and it contains the ability to draw sensible, wise conclusions based on facts that are measured against Gods truths. Meanwhile, being judgmental is a mindset built upon a critical spirit that hypocritically judges everyone and everything! When you compromise to evil and do not judge righteously, it destroys souls.
Aku berkesimpulan kalau umrah sebaiknya dilaksanakan di musim semi dan panas. Di musim gugur, cuaca berubahnya sangat drastis. Bisa jadi super duper dingin dan mendadak.
Komentar orang-orang soal lagu anthem FIFA: "Lagunya gak ada vibe bolanya". Let me tell you, it doesn't always have to sing about football and winning. It can always be about confidence, friends, solidarity, unity, strength, dream, and any other positivity that can cheer you up. Gak juga mesti yang harus sekaku itu lah sampai semua lagunya harus banget soal bola dan men's strength. Bisa bosan orang dengarnya. Bayangin rilis lagu tema 10 biji, semuanya bahas kemenangan atau gak bahas laki main bola. Apa gak bosan, bedanya cuma di melodi dan genre doang. I mean, many women love football as well as men do. Toh kan temanya bermuara jadi soal kemenangan, siapa yang jadi pemenang, percaya diri, mengejar mimpi, dan be good on our own shoes.
Lights radiate heat as I feel closer tonight to the depression and its coldness. I can feel it. When I don't know how the lamp might change how I feel, aku memilih untuk gelap-gelapan dulu sampai aku merasa nyaman dalam gelap, karena lagi pula selama yang kutahu, aku sering merasakan hangat di dalam remang-remangnya suasana kamarku. Meski kadang lucunya aku tersadar bahwa ternyata kondisi kamar yang lebih terang lebih menyamankan daripada gelap atau remang-remang. Berbicara soal remang-remang, ketika aku lebih nyaman dengan terang, hingga pagi di mana bahkan di saat matahari sudah bersinar, lampu yang masih menyala itu masih membuatku merasa aman.
Rio, penghuni kamar 1, aku pikir sudah pindah dari kos sini. Dia adalah salah satu penghuni tua dan lama di kos ini. Dia anak kuliahan angkatan 2020. Sebelumya ada Nathanael (2015), Yoshua (2017), Jerry (2017), dan lain-lain, aku lupa siapa saja.
Ada unggahan viral di Instagram, ceramah ustaz Khalid soal puasa setengah hari, katanya itu tradisi yang salah, gak ada rujukan teologisnya. LAH KAN EMANG TRADISI, BUKAN TEOLOGI. Tujuannya emang mengenalkan anak dengan ibadah puasa, hanya untuk simulasi, bukan untuk mereduksi nilai puasa buat anak kecil. 😂😭 That's a fucked up sermon though coming from a Salafist like him. Kenapa dia repot-repot mikir sendiri sulap hap hip hup bilang itu salah dan tradisi yang harus dihilangkan. Instead dia bilang, anak tetap diajarkan puasa, tapi kalau udah gak tahan, dibilang aja batalkan puasa. Lah ya sama ajaaa. Tradisinya gak bahaya buat teologi, gak bahaya juga buat siapa-siapa, gak merugikan gak menguntungkan gak ada apa-apanya pokoknya. Kayaknya sih kalau kayak gini tuh balik regresif ke notion "tradisi kalau gak ada eksis di teologi dan sejarahnya Islam orthodox, gak usah diklaim dan dilakuin." Objectively, itu petty aja. Bukan praktik yang jadi bid'ah juga, tapi dari awal puasa setengah hari ya emang buat ajarkan anak puasa, bukan mengajarkan nilai puasa terus karena setengah hari dia jadi reduced. Kayaknya dia nangkapnya gitu. Padahal dia juga tahu anak kecil gak wajib berpuasa. Pointless aja semua koar-koar Salafist ni makin ke sini. Salah satu wajah agama umat buih lautan. Betul-betul lah ya akar entitlement dari puritanisme ini. Sakit. Sick in the head.
Prescriptivism is a problem when it becomes inappropriately dogmatic and used to exclude certain social groups from particular opportunities: You must conjugate your verbs like me, or you are wrong, and if you are wrong, you cannot work/study/live/access here. A bit harsh, no? You understand what I mean, you just don't like it because it reminds you that I'm from a different (lower) class.
Hari Jumat sore 6 Februari 2026, aku keluar rumah berjalan kaki menyusuri jalan kos menuju tempat tujuanku: warung makan. Aku ingin beli makanan karena aku sudah merasa lapar banget saat itu. Ketika di jalan, aku berpapasan dengan rumah Bu Was yang anak-anaknya sedang tampak sibuk membereskan dan mempersiapkan sesuatu di teras rumah, dengan pintu rumah yang dibuka lebar. Lengkap pula dengan memakai peci mereka itu. Aku pikir ada pengajian. Saat sekembalinya dari membeli makanan, aku mendapati orang-orang makin ramai di halaman samping rumah Bu Was. Dan tak lama saat aku mendekati pintu kos, aku mendengar pengumuman yang dikumandangkan dari masjid di jalan belakang kos. Ternyata, Pak Syukri meninggal. Pak Syukri adalah suami dari Bu Was, beliau juga memegang jabatan ketua RT. Sejujurnya aku cukup kaget. Terakhir kali aku melihat Pak Syukri adalah ketika berpapasan mengantar sepeda motorku yang rusak dengan mendorong pulang ke kos pada Kamis malam 29 Januari 2026. Aku masih ingat suaranya menanyakan, "Motornya kenapa, Ki?" lengkap dengan kacamatanya yang menyeringai di hidungnya sebagai tanda penasaran. Hari Minggu keesokannya aku juga ingat kalau tidak salah beliau ada mampir ke kosku dan mengobrol dengan Kenny (seorang penjaga kos, usianya lebih muda dariku). Pantas saja saat aku pergi keluar membeli makanan di hari Senin atau Selasa, beliau tidak terlihat lagi duduk di teras rumahnya. Mungkin dalam 3-4 hari sebelum kepergiannya, adalah hari sakitnya beliau. Aku tak paham beliau sakit apa, aku belum berbincang dengan keluarga mereka saat tulisan ini dibuat. Aku belum tanya. Nanti aku akan coba cari tahu atau usahakan berbicara dengan Bu Was jika ada kesempatan berpapasan. Rest in peace, Pak Syukri. Akan lama terkenang sosok Bapak di ingatan, sebab Pak Syukri yang sering duduk di teras rumah melihat anak-anak kos di sekitar rumah lalu lalang, seperti menanyakan aku pergi ke mana setiap melihat aku berpakaian rapi atau berkostum jaket tebal berpapasan di depan rumah. You'll be missed.
Selasa malam, 3 Februari 2026, aku menonton beberapa video anime berdurasi panjang dari kanal Muse Indonesia. Aku menonton 300 Tahun Slime begitu, tiba-tiba itu mengingatkan aku pada bulan Oktober tahun 2023 saat aku mengalami sakit berhari-hari. Aku ingat, aku menggunakan masa-masa istirahatku untuk pulih dari sakit dengan menonton anime Rudy Mushoku Tensei. Time flies, ya.
I have to constantly remind myself that when every time you say things like you want to negate my assumption that is baseless yet harmless, I only need to respond to you saying "Oh" and that's all.
The vagueness of the song really just sums up the biggest issue Asha herself has a protagonist. They gave an "I Want" song to a character who "doesn't want anything". In most Disney movies, and most Hero's Journey narratives in general, the protagonist starts out with personal goals and ambitions that drive their actions to start with (for instances: Rapunzel wants freedom, Anna wants true love, Mirabel wants her family's acceptance, etc).
And by the end of the story, they either achieve their goal or they go on an arc where they gain something more meaningful instead, and realise what they "wanted" wasn't what they "needed". There's a good starting point at first with Asha initially wanting to be Magnifico's apprentice, but then not even 15 minutes in, that's immediately swept under the rug and has nothing to do with the rest of the story. They don't even have her making a wish of her own, despite the entire plot revolving around her conflict with a villain whose entire thing is hoarding people's wishes.
As a result, Asha has literally no personal desires or ambitions, and spends the rest of the movie as a passive non-entity who just goes and does whatever Star prompts her to do. She's such a bland and poorly-defined lead that the only thing she owns even remotely resembling a motivation is just for other people to get what they want. The story doesn't really tell story about Asha, then why bothers making her as a main character.
Instead of having an ulterior motive, Asha really does want the position of apprentice solely for her own ambition/aspiration, and she gets close to getting the job specifically because Magnifico appreciates that she's not just doing it because she wants "something" in return like everyone else does. When he shows her the wishes, Asha discovers her grandfather's wish just by chance, but rather than asking Magnifico to grant it, she's just curious to know more about what he actually wished for. When Magnifico explains the wish, he's completely unprompted when he casually dismisses it and says why he'll never grant it, and only then does Asha try to argue back.
You get the same outcome as the film, only now Magnifico actually feels genuinely petty and cruel instead of accidentally coming off as reasonable. And while it's still really early for Asha to go from "want" to "need", there's still an actual change for her as a character. Julia has written so many hits, but in this film they obviously didn't really collaborate with her, they just hired her to write songs with vague details and vaguely a pop song, vaguely musical song and thrown it in different parts of the film. Kind of sad that this is her official.
Since it's not hard to replace them. They gas you up and give you seven different reasons to hate me, but it's time that I had to let you go, and trust me when I say that, it actually pained me. It took me everything to not address the picture you pictured. But I got way too much respect for you and doubled my patience. You know that you're crazy and I still could take it.
Masalah yang mulai terendus di depan sana dalam memilih dan menata rumah: suamik dengan didikan clean minimalist berhadapan dengan istrik yang eclectic cottagecore maximalist
Tidak semua wanita yang mengejar pendidikan tinggi itu, ambisius. Ada banyak dari mereka yang hanya senang menuntut ilmu secara formal. Duduk di bangku kuliah, berhadapan dengan dosen, melakukan penelitian, membuat karya tulis dan semacamnya. Bejana jiwanya terasa full saat ia melewati fase demi fase itu.
Tidak semua wanita yang berdedikasi tinggi dalam karir itu, feminis. Ada banyak dari mereka yang hanya senang berkarya melalui pekerjaan yang ia lakukan. Menerima tantangan, mengerjakan proyek, bersosialisasi dengan banyak orang, presentasi ini dan itu. Bahagia saat ia melihat ada banyak orang yang terbantu melalui pekerjaanya. Bahagia saat satu persatu pekerjaannya menjadi sesuatu untuk banyak orang. Itulah cara dia mengisi bejana jiwanya agar tetap utuh.
Tidak semua wanita yang menyukai pekerjaan di dalam rumah itu, tidak kreatif. Ada banyak dari mereka yang mampu berinovasi dalam menata perabotan rumah, mengatur keuangan harian, memasak aneka macam menu, bercocok tanam di kebun rumah, dan sebagainya. Ia merasa bahagia saat ia bisa mempersembahkan yang terbaik melalui waktu dan tangannya di dalam rumah. Itulah cara ia dalam mengisi bejana jiwanya.
Untuk itu, coba tanyakan pada wanita yang kelak (atau sudah) engkau nikahi. Bagaimanakah cara ia biasanya mengisi bejana jiwanya? Karena tak semua wanita cocok diminta berjualan online di rumah. Tidak semua wanita bahagia saat diminta menjadi pekerja lepas dari rumah. Bukankah ada dari mereka yang bejana jiwanya akan terisi saat ia mampu berkontribusi langsung pada masyarakat? Bagaimana dengan itu?
Seorang wanita yang bahagia dan bejana jiwanya terisi penuh, akan mampu memperlakukan orang-orang tercintanya dengan sangat baik. Jadi, tidak perlu khawatir jika (kelak) wanita yang engkau nikahi adalah ia yang aktivitasnya sangat padat. Sebab seorang wanita, sesibuk apapun ia akan menjadikan keluarganya prioritas.
Begitu kurang lebih yang aku tahu. :)
April 2019 | Luluk Gusliyanah
Semua Punya Cerita @kikiadnankarim - Tumblr Blog | Tumgag