an-Najm ayat 28 :
”Persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”
”Janganlah sekali-kali berprasangka karena persangkaan itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari dan Muslim).
todays bird
Jules of Nature
One Nice Bug Per Day
$LAYYYTER
Cosimo Galluzzi
cherry valley forever
Sweet Seals For You, Always
KIROKAZE
occasionally subtle
Show & Tell
Three Goblin Art
No title available
Not today Justin
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor

⁂

No title available
AnasAbdin

izzy's playlists!
No title available
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from France

seen from Italy

seen from Germany
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from United States

seen from Italy
seen from France

seen from Australia
seen from Türkiye

seen from Portugal

seen from Japan

seen from United States
@kinghadieral
an-Najm ayat 28 :
”Persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”
”Janganlah sekali-kali berprasangka karena persangkaan itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berbeda Tapi Tak Lagi Satu
Ngga banyak paham juga sih soal sejarah, tapi setau saya salah satu yang bikin negara kita dulunya sangat solid karena rakyatnya ngga bikin perbedaan jadi pembeda diantara mereka.
Padahal sejak dulu keanekaragaman itu tetap aja sama dengan yang sekarang, beda agama, beda, suku, beda budaya, beda bahasa, beda warna kulit, dan selusin perbedaan-perbedaan lainnya.
Sekarang malah kalo dipikir mayoritas masyarakat Indonesia sudah lebih tinggi tingkat pendidikannya dibanding jaman dahulu, tapi entahlah kenapa malah kearifan masyarakat kita jaman dahulu semakin susah ditemukan saat ini, termasuk untuk urusan beda berbeda yang tadi.
Kalo bangsa kita dahulu percaya bahwa kebhinekaan diantara mereka adalah pemersatu untuk bangga dan mencintai Indonesia, yang sekarang malah menjadikan perbedaan itu sebagai pembeda dan alat untuk saling bertentangan satu dengan yang lainnya.
Yang paling sedih ya di dunia politik, saat kepentingan pribadi dan golongan memicu egoisme dan tak lagi mengacuhkan persatuan bangsa, semua yang salah diubah menjadi sebuah kebenaran dan kebenaranpun akhirnya menjadi ambigu, kemana kita akhirnya akan berpegang?
Ah.... beruntunglah orang yg masih berpegang pada tali Allah, biarpun akhirnya agamapun dijadikan pembeda untuk kepentingan politik, tapi bagi yang memiliki Allah dalam hatinya, pasti tetap akan mencintai sesamanya seberbeda apapun yang ada diantara mereka.
Media adalah perpanjangan diri kita
Saya pernah mendengarkan salah satu podcast berbahasa inggris di iTunes milik David Kadavy yg membahas tentang isi buku Marshall McLuhan "Understanding Media - Extensions of Men". Ada beberapa isinya yg 'ngena' di hati saya, terutama pernyataan McLuhan tentang media yang merupakan perpanjangan diri kita.
Podcastnya cukup menarik, walaupun ada banyak istilah-istilah yg cukup berat untuk bahasa inggris pasif saya yg pas-pasan...hahaha 😅
So, sepanjang yg bisa saya pahami, dikatakan bahwa media sebagai pesan yang isinya dapat kita pahami dengan melihat karakteristik media tersebut bukan jenis kontennya.
Buku karangan McLuhan ini sendiri berdasarkan hasil goglingan saya, ternyata sudah cukup lama diterbitkan yaitu sekitar tahun 1964, berpuluh tahun sebelum era internet berkembang dan merampas serta merubah kehidupan sosial kita.
Uniknya adalah, buku ini seakan-akan berasal dari masa depan, kata David Kadavy. Dan biarpun saya belum pernah membaca isi buku tersebut secara keseluruhan, dan isi pemahaman saya tentang isi buku tersebut hanya 'dijembatani' oleh Kadavy melalui acara podcastnya, tapi saya bisa langsung mengamini pernyataan Kadavy, karena saya juga selama ini cukup banyak membuat konten-konten baik tulisan, gambar maupun video yang juga sedikit banyaknya merupakan perpanjangan dari ide, pikiran, perasaan diri saya pribadi. Dan saya baru 'ngeh' setelah mendengarkan podcast Kadavy tersebut. Saya baru menyadari bahwa kalo saya membuat konten-konten tersebut untuk disebarkan di dunia maya, maka sama halnya kalo saya berbicara langsung di hadapan banyak orang dan mengungkapkan ide-ide dalam pikiran saya, sehingga sayapun akan menghadapi konsekuensi yang sama baik secara sosial maupun secara moral dari agama yang saya anut.
Jika saya membuat konten yg negatif, tentu saya akan dihadapkan pada konsekuensi-konsekuensi tersebut. Karena menurut McLuhan, apapun jenis kontennya, apapun genre konten yang kita lihat atau kita baca, akan dapat dengan mudah kita pahami pesan yang dikandungnya dengan melihat karakteristik medianya.
Jika anda sendiri membuat sebuah konten, terlepas dari jenis dan genre media yang and pilih, maka pesan yang anda ingin ungkapkan lewat media tersebut akan tersampaikan dari karakteristik yg anda pilih sebagai perpanjangan diri, akal dan perasaan anda sendiri.
Jika karakteristik anda berikan cukup kuat, maka pesan tersebut akan lebih mudah untuk dipahami oleh orang lain. Dengan kata lain, sebaliknya orang juga akan bisa dengan mudah melihat karakter pribadi kita sendiri sebagai perpanjangan dari media yang kita tampilkan.
Jadi apa manfaat positif dari yang bisa saya petik dari hasil pemikiran McLuhan dalam bukunya tersebut, adalah mudah-mudahan berikutnya, saat akan mengambil/membuat/menampilkan konten apapun juga, baik di media sosial maupun di media-media yang lain yang mungkin bisa dibaca, didengarkan, disaksikan atau ditonton oleh banyak orang di dunia maya, maka tampilkanlah konten yang positif yang mudah-mudahan bisa mengajak, dan mengubah orang lain untuk juga berpikiran dan berperilaku positif dalam kehidupannya di alam nyata.
Atau jika memang hanya sekedar ingin mengekspresikan jiwa entertainer anda, buatlah konten yang bisa menghibur orang lain dengan cara yang positif dalam artian positif dalam norma sosial maupun agama.
Sebaiknya menghindari mengambil/membuat/menampilkan konten-konten yang negatif, tidak jelas dan berada di wilayah abu-abu hanya demi mengharap like dan komentar dari sosial media.
Mungkin kita memang tidak bisa mengubah dunia menjadi lebih baik, tapi setidaknya kita berusaha membuat diri kita sendiri lebih baik dari yang kemarin.
Karena ingatlah bahwa suatu saat KITA AKAN MENERIMA KONSEKUENSI dari apapun yang telah kita buat.
Bacalah karena kita pasti akan mati
Kebiasaan tiap kali kalo ketemu buku yang menarik, tangan jadi gatel pengen buka dan ngelahap isinya. Penyakit ini udah muncul sejak tamat TK, walaupun sekarang udah ngga se-greget dulu-dulu tapi tetep aja buku masih jadi salah satu benda yang menarik bagi saya.
Kalo ngebolang ke mall yg ada Gramedia-nya, ngga lengkap kalo ngga ngiderin buku-buku di setiap raknya Gramedia, biar kata cuma manjain mata doang, soalnya kalo ke mall dompet seringnya masih setipis kulit kacang, sementara harga buku-buku yang menarik, setara harga sekardus indomie yg bisa mengganjal perut anak kost sebulan.
Tempo doeloe, yang hidup sebagai remaja di era tahun 80-90-an, lapak kaki lima yg jualan buku seharga seribu hingga lima ribu rupiah di jaman itu udah paling te o pe-lah buat kaum kutu buku yg hingga saat ini masih tetap sebagai kaum minoritas. Sebagian lapak malah menyewakan buku-bukunya dengan biaya sewa Rp.2500 perbulan, dan jadi surga pemuas fantasi penggemar novel stensilan macam Enny Arrow ataupun Nick Carter. Hehehe.... yang ngeh ama kedua nama ini pasti bakal senyum-senyum ingat jaman jauh sebelum ada JAV dan PornHub 🤭. Yang penasaran dengan kedua nama itu, silahkan tanya om gugel deh, biar jadi tau referensi bacaan wajib remaja gaul jaman itu.
Trus betewe, tulisan kali ini apa hubungannya ama buku Prison Notebook?. Jawabannya ngga ada, foto di atas cuman dipake buat pemanis doang, nemunya juga dapet di twitter lupa postingan siapa 😄. Yang jelas bahwa tulisan kali ini lebih punya kaitan ama judul di atas sih (hehehe ya iyalah, namanya juga judul 😅)
Jadi baiklah kita bahas judul ajalah dulu, biar ngga ngalor ngidul panjang lebar kemana-mana.
So..., bacalah, kata perintah ini ada di dalam Al Qur'an sebagai firman pertama Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Jadi buat yg merasa beragama Islam tapi sering nge-bully para kutu buku, harusnya setelah membaca tulisan ini jadi sadar bahwa perintah membaca adalah kewajiban bagi setiap muslim sebagai sarana agar lebih mengenal dan mencintai Allah sebagai tuhannya.
Jadi dengan banyak membaca (ngga usah kepikiran dulu dengan majalah playboy atau novel stensilan jaman doeloe) kita bisa memperbaiki pengetahuan moral kita, dan juga pengetahuan lainnya yang berguna untuk 'meluruskan' perjalanan hidup kita hingga saat nanti kembali kepada pencipta, dan mempertanggungjawabkan kehidupan yang pernah diberikan kepada kita.
Ilmu yang didapatkan dari membaca akan semakin berkembang seiring dengan kuantitas dan kualitas referensi bacaan-bacaan kita yg kita pilih. Kalo banyak membaca ilmu politik, pastinya jalan pikirannya untuk survive di dunia politik akan semakin berkembang juga. Seperti para politikus jaman sekarang yang semakin canggih memperdaya rakyat dan bangsa 🤭
Jadi kalo kita kembali kepada judul di atas, semua keputusan akhirnya kembali kepada kita sendiri, bacaan apakah yang harus kita pilih dan bisa menyelamatkan kehidupan kita di dunia dan kehidupan setelahnya di akhirat karena ujung perjalanan kita di dunia adalah kematian dan dilanjutkan dengan kehidupan yang kekal setelahnya. Dimana kesempatan kita untuk membaca hanya ada di dunia saja karena Allah hanya mengizinkan kita membawa buku amalan kita ke alam akhirat, dan bukan buku-buku karangan Karl Max atau buku Chen Wei tentang kesuksesan Jack Ma sebagai orang terkaya di dunia.
Dan akhirnya buku yang paling tepat untuk dibaca tentu saja buku yang direkomendasikan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu Al Qur'an dan Hadits Rasulullah saw. Jadi bagi yang ingin di dunia dan hingga matinya nanti aman, perbanyaklah membaca dan mengamalkan kedua buku tersebut. Insya Allah semoga Allah membalasnya dengan surga-Nya kelak.
Tentang bid'ah menurut pemahaman awam saya
Beribadah dalam beragama jangan pake dalil perasaan. Agama itu pake dalil dari Al Qur'an dan Hadits. Ada dalil kerjakan, tidak ada dalil jangan dikerjakan.
Jangan merasa karena perbuatan baik sehingga boleh dikerjakan dan jadi sarana memperoleh amal baik walau tanpa berdasar pada dalil yang sahih.
PEDOMAN ISLAM ADALAH AL QUR'AN DAN AS-SUNNAH BUKAN YANG PENTING BAIK
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
"Aku tinggalkan untuk kalian semua sesuatu, jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, Yaitu KITAB ALLAH [Al-QUR'AN] dan SUNNAHKU [AS-SUNNAH]." HR. Malik, Al Hakim, Al-Baihaqi.
Yang baik di mata, otak dan hati kita belum tentu adalah kebenaran. Apakah kita merasa lebih baik dari Nabi Muhammad sehingga membuat amalan-amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh beliau?.
Jika ingin mendulang pahala dan amal kebaikan, kerjakanlah saja yang sesuai petunjuk dan tuntunan Rasulullah, tak perlu menyibukkan diri dan menganggap kita telah melakukan sebuah kebaikan yang besar tapi tanpa dalil yang sahih, sementara kebaikan-kebaikan kecil yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadits belum mampu kita lakukan secara kontinyu....
seperti salah satu hadits Rasulullah s.a.w dibawah ini, apakah sudah bisa kita terapkan di keseharian kita?:
“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“
HR. At-Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dll, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “ash-Shahihah” (no. 572).
Aku tau banyak yang berbeda diantara kita. Banyak yang harus dipelajari dan disepakati bersama agar bisa se-alun se-ombak laksana air dan garam di lautan. Air dan garam keduanya berbeda, namun bisa menyatu dan berpadu, yang akhirnya bisa membuat ikan dan ribuan makhluk laut hidup bersamanya. Dalam kebersamaan itu, mereka bisa menempuh badai dan juga akhirnya tenang bersama
Aku tau banyak yang berbeda diantara kita, tapi konfrontasi bukanlah jalan untuk menyatukannya. Lebih banyak bersabar dan berdoa mungkin lebih baik, karena aku juga tak pernah berharap semuanya kan berakhir dengan membenci.
Aku tau banyak yang berbeda diantara kita, tapi kesyukuran terbesar karena kita sama-sama masih memiliki Allah dalam hati kita. Dan aku selalu berharap di setiap perbedaan yang menyakiti hati, kita bisa kembali ke persamaan itu.
Sorry kita tak sepaham (hari ini)
Banyak hal-hal yang menarik pemikiran kita dan menyentuh ketakjuban akar rasa kita sehingga kita menganggap hal tersebut cocok dengan ide yang ingin kita nikmati atau ingin kita sampaikan. Tapi bisa jadi kekaguman kita pada hal tersebut tidak dirasakan oleh teman kita atau orang lain. Bukan karena kepekaan mereka yg berbeda dengan kita, tapi banyak hal kompleks yang mendasari sesuatu untuk bisa masuk ke relung hati seseorang untuk menjadi sebuah hal yang harus dikagumi.
Masalahnya adalah ketika kekaguman kita yang berbeda pilihan dengan teman kita atau orang lain disusupi oleh fanatisme, kadang membuat kita menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk tidak saling support, bertentangan, dan bahkan bermusuhan pada akhirnya.
Karena perbedaan pendapat itu, membuat kita menjadi fanatik dan kita tidak lagi mengingat bahwa mungkin kita dulu adalah saudara, keluarga, sahabat, teman, tetangga, se-bangsa, se-negara, ataupun sesama manusia.... Karena saat fanatisme telah hadir maka ketika perbedaan itu tak bisa disatukan, berarti dia harus menjadi musuh kita.
Separah itu?, tak perlu bertanya karena hampir kita semua pernah merasakan dan mengalaminya. Mungkin bukan kita yang berada sisi kirinya tapi setidaknya pernah mencicipi sebagai sisi kanannya. Kita mungkin pernah merasakan keheranan karena perubahan tiba-tiba dari teman kita yang kemarin masih baik-baik saja tiba-tiba hari ini jadi berbeda dari biasanya.
Pernah merasa di posisi kiri?, anggaplah yang berada di posisi kiri itu adalah orang yg duluan mengambil keputusan untuk menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk bermusuhan. Jika iya, pernahkah kita menyadari jika hal seperti itu ternyata bukanlah cerminan sifat dari seorang muslim. Jadi jika anda seorang muslim dan masih menjadikan semua atau sebagian dari kata-kata yang ber-antonim dalam bahasa menjadi alasan untuk bermusuhan, maka itu bisa menjadi salah satu indikator agar kita lebih banyak belajar lagi ber-muamalah sesuai konteks yang diajarkan dalam islam.
Intinya berbedalah asal jangan fanatik, lagipula hari ini mungkin kita berbeda pendapat, selera, dan pemikiran, tapi mungkin besok kita sudah bisa jadi sepaham. Jadi biarlah beda pendapat tapi teman tetaplah teman.....
innalilahi wa innailaihi raajiuun
Berpulangnya beberapa orang sahabat-sahabat kita, teman seumuran kita, sebenarnya adalah signal bagi kita untuk lebih getol lagi mempersiapkan bekal karena itu berarti jatah umur kita mungkin sudah semakin dekat finishnya.
Saya tidak ingin banyak menulis tentang bagaimana cara kita prepare, karena takut saya yang menganjurkan namun tidak bisa saya kerjakan sendiri, saat ini saya lebih ingin mengungkapkan rasa was-was karena sisa umur yang mungkin tak lagi panjang dan lebih banyak saya sia-siakan dengan berbuat dosa.
Saya takut jika saat ini saya menyadari ujung nafas saya yang akan ditutup dengan kematian yang berarti akhir dari upaya mencari bekal untuk kehidupan berikutnya yang lebih kekal, namun saya tetap tidak mampu menyingkirkan kecintaan pada kefanaan dunia dan mengabaikan kekekalan akhirat. Ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu dan menghindari godaan setan. Sementara detik demi detik sisa umur merayap pasti ke titik nol.
Ya Allah, jika bukan dengan karunia-Mu, jika bukan dengan belas kasihan-Mu, apalah dayaku yang selalu lalai akan perintah-Mu. Harapanku hanya bersandar pada bisikan doa yang selalu kupanjatkan semoga Engkau tetap memberiku kekuatan untuk menjalankan perintah-Mu dan memberi ampunan atas segala dosa-dosaku.
Karena yang bijak berkata-kata belum tentu juga bisa bijak dalam bertindak, tapi jika kita menjumpai kebenaran dan bisa menyikapinya dengan baik maka tentulah pahala akan jadi milik kita, insya Allah
Untuk urusan dunia, yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain demikian juga yang buruk bagi kita belum tentu buruk bagi orang lain, belajar ber-empati dan melihat dari sudut pandang orang lain bisa membuat kita lebih bijak memandang setiap persoalan hidup kita dengan manusia lain.
Namun kebanyakan kita selalu merasa bahwa pemikiran kitalah yang paling benar, karena kita merasa telah mengetahui setiap pendapat yg kita putuskan telah didasarkan pada alasan-alasan yang tepat, sebaliknya setiap keputusan orang lain bagi kita mungkin kurang tepat (tentu saja karena hanya dilihat dari sudut pandang kita)
Jika setiap manusia selalu mengambil keputusan dengan cara demikian, maka hanyalah kekacauan yang akan timbul dari setiap benturan yang terjadi diantara kita.
Beruntunglah ada yang seiring berjalannya waktu dan pengalaman hidupnya telah menjadikannya lebih bijak dari yang lainnya, berusaha memahami pendapat orang lain walaupun bertolak belakang dengan pendapatnya sendiri, menghargai keputusan bersama walaupun berbeda dengan keinginan pribadinya, dan mencoba lebih ikhlas dan banyak memafkan hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan-harapan dalam hidupnya.
Dan tentu saja kita bisa melihat jika orang-orang yg seperti itu, mereka lebih bisa merasakan kebahagiaan hidupnya, dibanding dengan orang-orang yang selalu meletakkan egonya sendiri diatas segalanya, orang-orang yang lebih banyak menyimpan dendam dan sakit hati di dalam jiwanya, orang-orang yang selalu meremehkan dan menganggap rendah orang yang lain.
Jadi kebahagiaan itu sebenarnya bermula dari diri kita sendiri, apakah kita lebih senang berdamai dengan kehidupan atau lebih memilih ego kita yang memimpin jalan hidup kita....
Tetapi yang pastinya adalah, jika menjadikan agama sebagai pedoman hidup, dan berusaha menjadikan setiap aspek kehidupan kita berjalan berdasarkan aturan agama maka tentulah hidup kita akan lebih LURUS dan menghasilkan dampak yang lebih baik bagi diri kita dan juga untuk di sekeliling kita. Menjadi rahmat bagi semesta, rahmatan lil alaamiin....
jangan selalu mencari dan mengungkit-ungkit kesalahan, belajarlah ikhlas dan memaafkan, sesungguhnya jika kamu bisa, kamu bisa berdamai dengan setiap kesedihan dalam hidupmu