Salam mbak
Saya suka tulisan mbak, dan kini saya mau bertanya
Kebenaran, salah dan benar; kebaikan, baik dan buruk. Kebenaran kadang bisa di dirasakan buruk walau sebenarnya kebenaran pastilah mengandung kebaikan
Lantas kesadaran individu acapkali bersebrangan dengan kesadaran kolektif
Menurut mbak, Kesiapan semacam apa yang semestinya terus diupayakan jika kebenaran kadang masih dianggap sebagai suatu hal yang buruk di dalam kesadaran kolektif masyarakat?!
Dan jika pada akhirnya kesiapa itu tidak pernah tercapai oleh kita, lantas apa yang sebaiknya kita lakukan?
Thank you
Oke, sebelumnya sorry baru dijawab setelah sebulan lebih. First impression saat baca ini, aku blank. Karena ketakutan seperti itu kayak nggak terlalu sering ada di kepalaku.
Brave vs Fearless
Pertama dan yang utama, aku pakai jawaban prinsip dulu ya. Untuk standar kebenaran, sebagai muslim aku yakin bahwa kebenaran datangnya dari Allah (2 : 147).
Kedua, kesadaran individu dan kesadaran kolektif. Kata Al-Maududi dalam Dasar-Dasar Islam halaman satu, setidaknya ada tiga sebab orang menjadi sesat.
Menjadi hamba diri sendiri.
Menjadi hamba adat kebiasaan nenek moyang, tradisi keluarga, dan suku bangsa.
Menjadi hamba manusia pada umumnya (mayoritas), orang-orang kaya, pemerintah yang berkuasa, ulama-ulama dan kiyai-kiyai palsu, bangsa-bangsa yang sesat, dan unsur-unsur lain yang seperti itu.
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (6 : 116)
Ayat ini berarti bahwa manusia hanya bisa tetap berada di jalan yang benar jika ia hanya percaya pada satu Tuhan. Bagaimana manusia bisa bertemu jalan yang benar kalau ia percaya kepada ribuan tuhan, dan sebagai akibatnya, sekali waktu ia harus mematuhi tuhan ini dan sekali waktu tuhan yang lain?
Itulah berhala-berhala besar yang selalu menjadi sembahan-sembahan manusia. Maka barangsiapa yang mau menjadi seorang muslim yang benar, mestilah ia menghancurkan ketiga jenis berhala itu terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia boleh menyebut dirinya seorang muslim sejati. Kalau tidak, sulit baginya untuk disebut sebagai hamba Allah sementara dia mengelabui Allah. (Dasar-Dasar Islam, Al-Maududi)
Ketiga, itu sebabnya perintah pertama kepada Rasulullah adalah, "Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan."
Untuk bisa iqra, sebelumnya kita harus iqra. Maksudnya, untuk bisa menentukan bacaan mana yang kita gunakan dalam solving the problem, ya harus tahu dulu the problem-nya alias konteks itu sendiri.
Tentang proses membaca, bisa rujuk ke sini
Tentang kegagalan memahami konteks, bisa rujuk ke sini
Aku pribadi, sekarang jadinya ada di kesadaran seperti ini:
Kalau kamu punya concern, maka spreading awareness itu udah bakal berjalan otomatis, unstoppable (orang bilang apapun ga peduli).
Begitulah para nabi, unstoppable. Hinaan sampai pembunuhan tidak lebih penting dari concern-nya untuk menyelamatkan umat dari kerusakan. Merekalah perpanjangan rahmat Allah alias rahmatan lil ā'lamin.
Hipotesisku: Nabi Muhammad, sebelum diangkat menjadi nabi, mungkin hanya baru bisa membaca konteks permasalahan di Mekkah alias iqra (1) dan kayanya belum sampai pada iqra (2) atau problem solving, apalagi dengan nama Allah. As Muhammad bin Abdullah pun, concern-nya mungkin sebatas beberapa hal. Tapi setelah mitsaq, setelah perintah iqra atas nama Allah, wah, jadi rasul nih. Concern-nya seorang rasul mah udah sistemik, seluruh aspek kehidupan. Setara jabatan presiden yang harus solving all the problem.
Tapi concern/kegelisahan tidak akan dimiliki kalau kamu tidak membaca (1), tidak membaca (2), dan tidak atas nama Allah.
Kalau kamu selama ini masih diam, nggak spreading awareness di tengah kerusakan sistemik ini, mungkin kamu belum membaca (1). Atau belum membaca (2). Atau belum membaca (1 & 2) atas nama Allah. Ini bukan tuduhan, tapi cuma silogisme sederhana (ya emang sih jatuhnya kayak ngejudge). Tapi coba pikir baik-baik, nanti bakal nemu, ada benernya juga.
Mungkin sebagian besar orang masih diterkam ketakutan pikiran sendiri akan anggapan khalayak, atau masih ngerasa nggak perlu spreading awareness karena udah ada orang lain yang mengerjakannya. Padahal dakwah itu fardu ain, bukan fardu kifayah. Pekerjaan orang lain nggak serta merta menggugurkan kewajiban kita.
(Memang pandangan siapa sih yang lagi kamu anggap penting? Siapa sih yang sedang kamu takutkan penilaiannya? Adakah sesuatu yang belum selesai dalam dirimu?)
Padahal satu orang tuh nggak bisa menanggung berbagai concern, meanwhile kerusakan di dunia ini terjadi di semua konteks. Makanya, pekerjaan buat membereskan "fasad sistemik" ini harus bareng-bareng dan sistemik juga, sesuai concern masing-masing. Keinginan selamat untuk diri kita dan umat manusia harus lebih besar dari ketakutan kita pada selain Allah.
Saranku, milikilah concern, your core value, yang kamu benar-benar pentingkan tapi "dirusak" oleh orang-orang yang berbuat kerusakan. Tebalkan, tajamkan, dan pelihara concern itu sampai lahir langkah yang unstoppable.
Level orang yang unstoppable itu bukan sekedar berani. Melainkan udah fearless. Nggak ada yang ditakuti selain takut celaka dan takut Allah nggak ridha dengan diamnya kita. Fearless ini yang juga merupakan kunci kemenangan.
Kalau belum punya concern, belum bisa jadi mata air, maka jadilah keran. Bantu sebarkan nilai-nilai baik atau kerusakan yang orang lain khawatirkan, mana tau ketularan bisa jadi concern sendiri.
Penutup untuk jawabannya, selanjutnya bisa nyambung ke pembahasan amal jama'i tapi bakal kepanjangan kalau dibahas di sini.
— Giza, suka banget sama pertanyaannya, fresh.














