Perjalanan Mundur Ke Masa Lalu #4
Teruntuk kedua orang tua saya, yang terus berupaya memahami dengan segala kekeraskepalaan dan hati saya. Terima kasih. Sungguh, saya tidak punya kata lain yang bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya saya.
Saya tahu betul bagaimana kecemasan Mamak terhadap anak lelakinya yang terus-menerus larut dalam ekspektasi. Ia cemas kalau-kalau harapan-harapan itu hanya menggantung di kepala, tanpa pernah beranjak, apalagi membumbung lebih tinggi.
Mamak bilang, banyak hal yang ia syukuri dari semua pencapaian saya hingga hari ini. Ia senang melihat saya tumbuh menjadi lelaki mandiri yang mampu menjaga diri. Ia bangga dengan cara saya di dunia kerja. Ia suka setiap kali saya meledakkan tawa saat bercanda dengannya. Ia selalu percaya pada setiap langkah dan pilihan saya.
Tapi sungguh, saya masih bisa membaca begitu banyak doa dan harapannya terhadap saya. Maafkan anakmu ini, Mak, yang masih sering lalai dan melakukan hal bodoh. Hehe.
Sementara Bapak, ia sosok yang berdiri di garda depan dalam hal kepercayaan terhadap mimpi dan ekspektasi anak laki-lakinya. Bapak yang terus berusaha merasuki Mamak dengan pola pikirnya, meyakinkan bahwa anak laki-laki satu-satunya ini tidak seperti anak lelaki para tetangga. Bahwa anak lelakinya ini mewarisi pola pikir dan caranya menjalani hidup. Tapi yang namanya warisan, tak selalu diterima utuh, kan? Ada yang 50% atau 90%. Terlihat sekali saya kurang mewarisinya dalam hal agama, hehe.
Bapak mengerti, bahwa anak lelakinya memang terlahir begini, dan ia membiarkan saya berpikir bebas. Bapak cuma berpesan, "Teruslah melaju. Boleh berhenti, tapi jangan menyerah, apalagi mundur. Jadilah apa saja, yang penting totalitas, profesional, dan tidak terpaksa, biar bisa bahagia." Dan itulah asal muasal dari nama blog ini, "KomaTanpaTitik"
-----------------------------
Kepada Bapak, saya berterima kasih atas percaya dan penerimaannya. Maafkan saya yang kerap mendebat, sebab jiwa dominan saya tentu tidak jauh dari pohonnya.
Untuk Mamak, terima kasih sudah bangga terhadap saya, yang bahkan belum memenuhi semua harapannya.
Untuk kedua orang tua saya, berjanjilah untuk terus bahagia. Biar langkah saya tidak terbata. Saya pun akan berupaya untuk bahagia dengan segala hal yang telah dan akan saya putuskan. Karena saya sudah diberi kepercayaan, maka saya akan menjaganya.











