Managing Expectation in Marriage
Saat aku kecil, orangtua merupakan role modelku.
Apa yang mereka lakukan dan katakan, aku anggap PASTI benar.
Apa yang boleh, apa yang tidak boleh, aku ikuti standard mereka.
Semakin dewasa, perlahan aku menyadari, orangtuaku tidak selalu benar.
Ada pendapat-pendapat yang mungkin kurang tepat
Ada perkataan atau perbuatan yang mungkin kurang benar
Dan, ya, aku belajar bahwa tidak ada manusia yang sempurna
Bahwa kita harus menerima bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan
Walaupun pada awalnya aku merasa aneh jika aku tidak berpikir atau bertindak selaras dengan orangtuaku
Ketika aku menikah, pada awalnya (mungkin secara bawah sadar juga) aku menempatkan suami sama seperti sosok Ayah, yang melindungi, mengayomi, mencintai tanpa syarat, tindakannya harus selalu benar karena aku akan menjadikan dia role model dalam kehidupan menggantikan Ayah
Tapi ternyata tidak seperti itu
Ya, suami adalah pempimpin bagi keluarganya
DI sisi lain suami juga pakaian bagi istri, dan sebaliknya
Bukan berarti sebagai pemimpin dia tak boleh tanpa cela
Mungkin karena umurnya sama dengan kita, pengalaman hidup di mana ia mengambil pelajaran juga tidak banyak berbeda dengan kita, beda dengan orangtua kita yang lebih lama menenggak asam garam kehidupan
Kita di sisinya memiliki peran untuk berjalan bersama, membantu mengingatkan jika suatu saat salah arah
Dan ya, mungkin cintanya tidak "secinta tanpa syarat" seperti Ayah, yang menyadarkanku cinta orang tua kepada anak memang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun
Ada kisah ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang ayah menggendong dan mencium anaknya. Beliau bersabda:
“Apakah kamu mengherankan cintanya kepada anak ini? Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya daripada kasih sayang ayah ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Meski begitu, seorang suami pasti mencintai istri dan anaknya, dengan caranya sendiri.
Yang perlahan harus aku sadari, dan tidak bisa kubanding-bandingkan bagaimana cara Ayahku mencintaiku, dengan bagaimana suami mencintaiku
Manajemen ekspektasi adalah kunci kebahagiaan. Karena jika kita terlalu banyak berekspektasi, yang terjadi adalah terlalu banyak berandai-andai, dan tidak mensyukuri dan menikmati apa yang terjadi saat ini. Just live in the present and be happy.












