Aku cemburu. Tapi, memangnya aku ini siapa? 😅
Sade Olutola
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
🪼
Lint Roller? I Barely Know Her
Mike Driver
Monterey Bay Aquarium
NASA
Game of Thrones Daily

@theartofmadeline
h

pixel skylines

tannertan36
No title available
hello vonnie
we're not kids anymore.

PR's Tumblrdome

Kaledo Art
trying on a metaphor
Keni

Discoholic 🪩

seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Spain
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Singapore
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@kucingtonystark
Aku cemburu. Tapi, memangnya aku ini siapa? 😅
9:15 am thoughts
"Nisa, udah makan?" Kata Ayahku di seberang sana.
"ICAA SEMANGAT!!" Teriak Kakakku dari kejauhan.
Sial, rasanya aku ingin menangis. Aku ingin menelepon Ayahku. Aku rindu bercengkerama langsung dengan Ayah, Ibu, dan Kakakku di sana.
Aku ingin bercerita pada mereka; entah mengapa hari-hariku terasa berat, semangat belajarku sedikit kendur, badanku pegal, aku sedang sedih, aku malas bersosialisasi, aku ini itu blablablabla.
Tetapi, aku tak enak hati membuat Ayahku bersedih karena cerita-cerita sedihku. Jadi, biarlah semua kelelahan ini kusimpan sendiri.
Tetapi, aku tidak boleh mengeluh. Jadi, biarlah keluhan ini tak keluar dari mulutku.
Tetapi... Entahlah. Aku harus istirahat.
Rindu Ibu (2)
Bu, aku rindu. Mungkin teman-temanku bosan dengan kalimat tersebut. Aku terlalu sering menuliskannya di akun sosial mediaku. Tetapi, anggap saja itu risiko yang harus mereka rasakan karena mereka selalu mengucapkan kalimat yang seringkali membuatku terdiam, seperti.
"Ya udah, telepon nyokap lu aja"
"Emak lu gitu ya?"
"Ibu kamu ngajar di mana?"
"Coba izin Mama lu dulu"
Bu, mereka curang. Ketika ditanyai keberadaan Ibunya, mereka bisa menjawab dengan mudah. Sedangkan, aku hanya bisa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan jika ditanyai hal yang sama.
Bukan, bukannya aku tak suka membahasmu, tetapi hal-hal pribadi itu hanya kubahas dengan teman terdekatku.
Bu, mereka sering mengeluh karena malas menghabiskan bekal yang disiapkan Ibunya. Ah, mereka lupa, keluhan mereka membuatku semakin merindukan Ibu, aku begitu ingin mencicipi masakan Ibu yang luar biasa lezat itu.
Bu, aku bosan dengan masakan warung yang mau tak mau harus kusantap setiap hari. Aku terlalu malas memasak untuk diriku sendiri karena rasanya sama saja. Tidak seperti masakan Ibu atau Ayah atau Kakakku.
Bu, sebentar lagi masa SMA-ku selesai. Anak bungsumu ini sebentar lagi akan kuliah, anak bungsumu ini ingin menjadi dokter mata dan penulis. Cita-cita yang kuucapkan dulu jika ditanyai siapa pun. Oh, iya, anak bungsumu ini juga ingin menjadi dosen statistika Bu, persis seperti Ayah.
Bu, terlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan pada Ibu. Aku bingung harus bagaimana menceritakannya ke Ibu. Kita tak kunjung bertemu di mimpi. Sesekali berkunjunglah ke mimpiku, Bu. Akan kuceritakan padamu siapa teman lelaki yang ingin kujadikan pendamping hidup kelak.
Bu, aku rindu. Doakan aku bisa menjadi dokter sekaligus penulis dan dosen statistika yang sholehah ya. Aku tahu, tidak mudah mewujudkannya, tetapi aku yakin aku bisa. Karena aku punya Ibu, Ayah, Kakak, dan Abang yang luar biasa menyayangiku.
Dan karena aku punya Allah.
7:46 pm thoughts
"Never lose hope, because it is the key to achieve all your dreams."
—Unknown
I feel so alone, I feel so broken, I feel so empty, and sad.
"Everyone has a chapter they don't read out loud."
—Unknown
Life isn't about waiting for the storm to pass, it's learning to dance in the rain. -idk_
Rindu Rumah
Kepada rumah yang selalu ada di kepalaku. Tunggu, aku sedang menabung rindu.
Bicara soal rumah membuat kenanganmu terbang pada sepetak bangunan sederhana. Tempatmu tumbuh dan menerima cinta yang hangat dari keluarga. Dialah yang menyimpan kenangan tentang cerita masa kecilmu. Tembok yang penuh coretan crayonmu hingga lantainya yang jadi saksi langkah kaki pertamamu.
...
Berat rasanya meninggalkan rumah dan segala kenangannya. Tapi atas nama mimpi dan cita-cita, langkah kakimu harus mantap dan penuh rasa percaya.
Hidup sendiri di perantauan membuatmu sadar. Hari buruk di rumah tetap terasa jauh lebih hangat dari kesendirianmu di tanah orang. Kamu rindu pulang. Berkelebat wajah keluargamu satu per satu. Ketika harus tinggal berjauhan, merekalah yang nyatanya paling kamu rindu. Makanan restoran perlahan terasa membosankan. Kamu cuma ingin tumis dan gorengan sederhana yang biasa ibumu siapkan di meja makan. Ketika banyak pikiran dan sakit flu, rasanya makin menjadi segala dengung rindu. Rumah dan usapan hangat ibu jadi satu-satunya tempat yang ingin kamu tuju. Kekasih dan teman memang bisa membuatmu merasa tak sendirian. Tapi hanya pada keluargalah akan kau temukan balasan cinta yang benar-benar sepadan.
...
Melihat mereka yang menungguimu di teras rumah adalah momen paling indah. Tak lagi bisa berkata-kata ketika pulangmu disambut pelukan hangat dan senyum yang merekah. Sejauh apapun kaki melangkah, rumah dan keluarga akan membuatmu tetap menjejak tanah.
Tunggu aku di rumah, tabungan rindu ini sudah makin membuncah.
Author: Nabila Inaya
Kinda miss being a kid. I miss the freedom, the fact that normally you would have very little to worry about. I miss feeling looked after by my parents and anyone older than me. I guess I miss relying on others, because now I'm only relying on myself and I kind of suck. I miss not having responsibilities. It sounds so pathetic but sometimes I think I would give anything to have zero responsibilities. It's not that I don't like helping out and doing things like I should, I just feel so pressured after awhile—like I have to do a million and one things or it's not good enough. There are so few expectations of you when you're little. You're expected to enjoy your youth and at the very least, stay out of trouble. But even a little trouble was acceptable because well, you're a kid.
Source: Google
Lalu, aku harus apa?
Hey, you. Don't give up, okay?
Rindu Ibu
Ibu, apa kabar? Aku rindu. Rindu hangatnya pelukmu, rindu lezatnya masakanmu, rindu merdunya bacaan Quranmu, rindu tawa lepasmu, rindu segala tentangmu. Di sini gelap, aku butuh tanganmu untuk menuntunku berjalan. Di sini dingin, aku butuh pelukmu untuk menghangatkanku. Di sini sakit, aku butuh bantuanmu untuk mengobatiku. Aku butuh wejanganmu di kala aku merasa tak seorang pun yang menerimaku apa adanya seperti dirimu. Aku takut, terlalu banyak hal sulit yang harus kuhadapi tanpa senyumanmu, tanpa kalimat penyemangatmu. Aku masih egois seperti dulu, Ibu. Selalu menginginkan semuanya, sampai membuatmu mengalah karenaku. Untuk saat ini, bolehkah Ibu mengalah lagi untukku? Mengalahlah untukku dan berkunjunglah ke mimpiku, Bu. Aku rindu. 21st of March, 7:20 pm
Saya di sini menunggumu dengan rindu yang berkecamuk di dada.
Source: KUMPULAN PUISI™
Yup!
Di sudut ruangan yang hampa ini, aku terdiam memandangi wajahmu yang tertera di layar gawai yang kugenggam Desingan kipas angin yang memenuhi ruangan ini, tak sekalipun mengusik lamunanku
Bagaimana kabarmu? Apakah di sana menyenangkan? Apakah notifikasi chat dariku mengganggu aktivitasmu di sana? Semoga saja tidak, bisikku dalam hati
Aku di sini baik-baik saja, hanya sedikit bosan menunggu kedatanganmu Tapi tenang, aku tidak akan beranjak pergi karena lelah menunggu Tapi tenang, aku tidak akan mencari laki-laki lain untuk menemaniku bercengkrama
Kamu juga tidak akan mencari perempuan lain untuk menemani bersenang-senang di sana, kan? Hehehe, jangan lupa pulang kepadaku ya Aku (sedikit) rindu
6:14 PM
It's 2:28 pm and I am thinking about; food.