Gadis yang Tak Lagi Bersuara
Dia berbicara dengan mata berbinar, penuh antusiasme yang begitu hidup, tentang mimpi-mimpi yang terperangkap di kepalanya, tentang dentingan gitar yang mengalun di jemarinya, tentang bintang-bintang yang seolah berbisik padanya saat malam terlalu sunyi untuk dimengerti.
Namun, di tengah percakapan yang hampir menyerupai tarian cahaya, dia terhenti. Seperti gelombang yang mendadak mereda sebelum sempat menyentuh bibir pantai. Wajahnya berubah, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang seharusnya dilupakan. Lalu, dengan suara yang lebih kecil dari embusan angin, dia meminta maaf.
Meminta maaf karena berbicara terlalu banyak. Meminta maaf karena suaranya telah memenuhi ruang, seolah-olah keberadaannya adalah gangguan. Meminta maaf atas semangat yang tadi berpendar, karena dia takut itu terlalu terang untuk mata orang lain yang hanya ingin redup.
Aku tahu. Aku bisa membaca luka itu dalam cara dia menarik napas sebelum mengulang permintaan maafnya. Itu bukan kebiasaan yang muncul begitu saja. Itu adalah bekas luka lama, jejak dari seseorang yang pernah dia cintai tapi malah mematahkan sayapnya. Seseorang yang tidak cukup sabar untuk mendengar. Seseorang yang menepis suaranya seperti angin lalu, seolah semua yang dia katakan tak lebih dari omong kosong yang membuang waktu.
“Menyebalkan,” mungkin kata itu pernah dilemparkan padanya. “Tidak penting,” mungkin dia pernah mendengar itu di sela-sela percakapannya yang begitu tulus.
Begitulah dunia bekerja. Orang-orang tidak lahir dalam kesedihan. Tidak ada bayi yang lahir ke dunia dengan takut untuk bersuara. Tidak ada anak kecil yang diam sejak lahir karena takut membuat orang lain tidak nyaman. Mereka belajar diam karena dunia mengajarkan bahwa suara mereka tidak diinginkan. Mereka belajar menelan kata-kata mereka sendiri karena terlalu sering mendengar, “Sudah, diam saja.”
Jadi, hari ini dia tidak lagi bicara tanpa berpikir. Dia menimbang setiap kata, menakar setiap intonasi. Dia berbicara dengan ketakutan yang samar, dengan bayangan seseorang dari masa lalunya yang masih berbisik di kepalanya bahwa suaranya tidak penting.
Dan aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti, dia kembali percaya bahwa suaranya layak didengar. Bahwa dia boleh menjadi—sepenuhnya, tanpa takut, tanpa minta maaf. Bahwa bintang-bintang yang dia cintai juga bersinar untuknya. Bahwa dunia ini luas, dan seharusnya ada ruang untuknya berbicara tanpa merasa bersalah karena keberadaannya.












