ibu dan makanan sisa
mbak yuna mulai makan. seringkali, makanannya bersisa. karena sayang, kadang-kadang saya habiskan juga. hambar, tidak ada rasa, tetapi kalau dibuang begitu eman. setiap mbak yuna makan, saya menjadi teringat akan bagaimana ibu saya makan.
biasanya, di rumah kami, nasi ditanak sesaat sebelum waktu makan tiba. “ayo makan, nasinya baru matang,” begitu kata ibu. kami semua akan langsung mengerubungi meja makan, menyantap nasi yang enak sekali.
tetapi ibu tidak makan nasi yang sama. ibu akan mengambil nasi sisa sesi makan sebelumnya–yang sudah kering, kadang-kadang juga keras. bahkan, ibu pun mengambil lauk sisa, sisa setelah kami, anak-anaknya, semuanya makan. harus selalu ada yang memakan makanan sisa–kalau tidak mau makanannya terbuang-buang. di rumah kami, orang itu adalah ibu.
tiba-tiba, saya salut kepada para ibu yang selalu mau menghabiskan makanan (sisa). ada banyak sekali ibu yang seperti ini, sampai tak peduli pada timbangan sendiri. habiskan makanan, Rasul tidak suka yang membuang-buang makanan.
soal makanan, seorang ibu adalah pemimpin dan pengelola yang luar biasa. ibu makan terakhir, memastikan bahwa semuanya cukup makan. ibu memakan makanan sisa, memastikan bahwa tidak ada makanan yang terbuang sia-sia, menyelamatkan makanan yang tak habis.
setelah menjadi ibu, saya baru bisa memahami pengorbanan ibu demi kenyamanan kami semua. ada banyak sekali bentuk pengorbanan lain yang tak saya lihat, ketahui. tentang makanan, saya belajar mencontohkan mbak yuna. “mbak yuna sudah kenyang? alhamdulillah. makanannya ibu yang habiskan ya.” lalu di hadapannya, makanan sisa itu saya masukkan ke mulut saya.
semoga ini tidak menjadi contoh bahwa “yasudah nak kalau nggak mau makan, ibu saja yang makan” tetapi menjadi contoh bahwa “nak, kita nggak boleh buang-buang makanan” sebagaimana ibu telah mencontohkan selama ini.













