Orang-Orang yang Menghafal Doa Keluar Rumah tetapi Lupa Cara Pulang
“… dan tidaklah mereka berjalan di bumi, lalu mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.”
orang-orang berangkat kerja sambil memutar murattal
namun klakson mereka tetap terdengar
seperti sumpah serapah yang kehilangan wudu.
Seorang lelaki membaca doa safar
di atas motor kredit lima tahun,
lalu menerobos lampu merah
di hidup yang bahkan tidak benar-benar ia sukai.
Betapa aneh kepala manusia.
Mereka hafal tata cara haji,
namun lupa bagaimana meminta maaf
berapa putaran thawaf mengelilingi Ka’bah,
sedang thawaf mengelilingi gengsi.
Di minimarket dekat musala itu
seorang kasir perempuan menyelipkan istigfar
di sela bunyi barcode dan mesin EDC,
oleh cicilan dan ayah yang masuk ICU.
Dan dunia tetap berjalan seperti biasa.
Pomo-promo tumbuh lebih cepat daripada pohon,
orang-orang berebut diskon
seakan umur bisa ditukar poin belanja,
sementara kematian lewat pelan-pelan
menjadi tukang parkir, pengantar galon,
atau lelaki tua yang batuknya tak kunjung tuntas.
Lalu azan magrib terdengar.
Sebagian buru-buru mematikan musik.
Sebagian lagi tetap menatap layar ponsel
seolah hidayah bisa ditunda.
Namun di sudut musala kecil itu,
ada seorang bocah yang sujud terlalu lama
dengan baju sekolah penuh debu jalanan.
Dan mendadak seluruh kota terasa begitu kecil.
yang paling sulit dari kehidupan bukan
melainkan berhenti sebentar
agar hati kita sempat mendengar-Nya.