Kalau nanti ambisi jadi nomor satu, semoga bukan karena nyaman melihat yang lain dari atas, tapi karena mau mengajak yang lain ke atas.
—dari buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini", Marchella FP
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Jules of Nature
Acquired Stardust

Product Placement

No title available

blake kathryn
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
I'd rather be in outer space 🛸
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
he wasn't even looking at me and he found me
Cosimo Galluzzi

Origami Around

JVL

❣ Chile in a Photography ❣
noise dept.
tumblr dot com
Peter Solarz
No title available

Kaledo Art

seen from Italy

seen from Netherlands
seen from United States
seen from South Africa

seen from Mexico

seen from United States

seen from Switzerland

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Brazil
seen from Russia
seen from Sweden

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Germany
seen from United States

seen from Russia
seen from Türkiye
seen from United States
@mang-ius
Kalau nanti ambisi jadi nomor satu, semoga bukan karena nyaman melihat yang lain dari atas, tapi karena mau mengajak yang lain ke atas.
—dari buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini", Marchella FP
Manusia sering mengira ia membutuhkan kepastian untuk bisa hidup. Padahal sering kali ia hanya membutuhkan keberanian untuk tetap berjalan di tengah ketidakpastian.
Continue Adalah Kata Kerja
Dulu waktu kecil, saya sering main dingdong di pojokan pasar kota.
Karakter saya kalah. Layar gelap.
Lalu muncul tulisan:
Continue?
Yang menarik, hidup ternyata juga begitu.
Bukan soal berapa kali kita kalah. Bukan pula soal berapa kali kita jatuh.
Tapi soal apakah, ketika layar kehidupan menampilkan pertanyaan "Continue?", kita masih mau menekan tombol itu.
Kadang dengan tangan gemetar. Kadang sambil mengumpat. Kadang sambil menangis.
Tapi tetap menekan tombolnya.
Karena selama tombol itu masih ditekan, kita belum kalah.
someday..
Mumpung lagi long week-end, kita ke Anfield..
•
Misalnya.. ini mah. 😁
seperempat abad yang lalu, seorang perempuan menulis beberapa baris puisi di buku diary:
jaga kesehatanmu, hiduplah lebih lama aku belum selesai mencintaimu diam-diam jangan terlalu akrab dengan kopi, asap rokok, dan malam aku ingin ada seseorang yang kelak memeluk rambut putihmu dengan bahagia inginku, orang itu adalah aku kalaupun bukan, tak apa asal kamu tetap hidup. itu sudah cukup
tji leng shi, 2805-2026
Aku rasa, langitpun sering bertepuk sebelah tangan. Kita sibuk berlarian di bumi, tanpa sesekali menengadah ke langit ~
@anwarrosyidin
Mau Nyalip Kontainer, Mikir Dua Kali
Dulu waktu masih muda, kami sering merasa jalan raya itu milik sendiri. Motor dipacu kencang. Nyalip truk kontainer cuma soal reflek dan keberanian.
Waktu itu hidup terasa ringan karena tidak ada yang menunggu di rumah.
Sampai suatu sore, sepulang kerja, aku boncengan dengan seorang kawan lama. RX-King-nya, yang biasanya meraung liar, kali ini melaju pelan. Santai sekali.
Lalu di tengah suara angin dan knalpot kendaraan lain, dia ngomong gini:
"Pas bujangan, kalau mau nyalip kontainer aku nggak pake mikir. Tapi pas udah nikah, aku mikirin istriku. Udah punya anak, aku mikir dua kali. Mikirin anak dan istriku. Mungkin nanti kalau si kecil punya adik, aku akan mikir tiga kali.”
Aku diam.
Karena tiba-tiba kalimat itu terasa lebih dalam daripada semua nasihat motivasi tentang kedewasaan.
Ternyata menjadi dewasa bukan soal umur, jabatan, atau soal gaji bulanan.
Kadang kedewasaan lahir saat seseorang mulai sadar: nyawanya bukan lagi cuma miliknya sendiri.
Ada istri yang menunggu suara motor di depan rumah. Ada anak kecil yang belum mengerti apa itu kehilangan. Ada masa depan keluarga kecil yang ikut bergantung pada seseorang yang sedang memegang setang motor di jalan raya.
Dan sejak itu aku sadar kenapa banyak lelaki berubah pelan setelah punya keluarga.
Cara nyetirnya berubah. Cara marahnya berubah. Cara mengambil risiko juga berubah.
Bukan berarti mereka jadi penakut.
Tapi karena akhirnya mereka menyadari ada orang-orang yang lebih penting daripada ego mereka sendiri.
Ternyata selain membuat manusia jadi puitis, cinta juga bisa membuat seseorang mengurangi kecepatan motornya sepulang kerja.
—ditulis ketika tiba-tiba keinget omongan seorang sobat lama, hampir dua dekade yang lalu.
Jika tangan kita pendek untuk membalas kebaikan seseorang, maka panjangkan lisan kita untuk mendoakannya.
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan dimudahkan untuk bersyukur.
Selamat hari raya Idul Adha.
Lelaki Tua di Musholla Kecil
Di musholla kecil itu, lelaki tua yang sehari-hari menjual rokok eceran menangis diam-diam selepas shalat.
Tak ada yang tahu kenapa.
Mungkin ia sedang mengingat hidupnya. Mungkin ia merasa jauh dari Tuhan.
Mungkin juga karena untuk pertama kali setelah sekian lama, ia sempat mendengar suara hatinya sendiri.
Dunia memang terlalu ramai.
Kadang manusia perlu lapar sedikit, agar batinnya kembali hidup.
°°°°°
Senja di hari arafah ini, aku sadar, mungkin aku iri pada lelaki tua itu..
dan dunia
seperti biasa,
tetap menawarkan dirinya
dengan sangat cantik:
angka rekening,
pujian manusia,
serta kesibukan yang membuat seseorang lupa
bahwa ruhnya sedang kehausan
maka puasa itu menyapa
bukan untuk melemahkan tubuh,
tetapi untuk membangunkan sesuatu
yang terlalu lama tertidur di dalam dada
sesuatu yang dulu sering menangis saat sujud,
lalu perlahan mengeras
karena terlalu sering bersentuhan dengan dunia
barangkali itulah mengapa
di padang arafah orang-orang memakai pakaian serupa kematian..
agar manusia ingat,
bahwa yang paling mahal dari hidup
bukanlah umur yang panjang,
melainkan hati yang berhasil pulang sebelum dipanggil pulang
Sudah ku cumbu luka luka semalam
Walau besok pagi bernanah lagi
Bangun dengan gundah gulana
Tidur dengan pikiran tinggal landas
Yang tersisa hanya kelam semata
bahkan lelah pun harus menarik
masyarakat modern punya cara halus untuk menghukum manusia lelah, yaitu dengan membuatmu merasa bersalah karena tidak produktif.
kalau kamu lambat, kamu kalah. kalau kamu berhenti, kamu tertinggal. kalau kamu terlalu sedih, algoritma.hidup akan menenggelamkanmu di bawah orang-orang yang tampak lebih bahagia.
dan perlahan manusia belajar menyensor dirinya sendiri.
mereka menyembunyikan depresinya. menyamarkan kecemasannya menjadi humor. mengubah kelelahan menjadi kalimat: “hari ini agenda lagi padet banget nih.”
karena dunia hari ini seperti tidak menyukai penderitaan, kecuali penderitaan itu dikemas dengan vibes 'positif'.
Di atas langit masih ada langit..
Dihadapan Allah rendahkan dirimu,
Dihadapan manusia rendahkan hatimu..
Bibir penuh doa, kepala penuh kebencian
Banyak orang ingin terlihat suci. Mereka memutar doa di mobil, mengutip ayat di media sosial, tapi pulang ke rumah dengan kepala penuh kebencian. Kota ini dipenuhi orang-orang lelah yang pura-pura baik-baik saja. Kuli bangunan, pencopet, pegawai kantor, pengemudi ojol, lelaki mabuk yang duduk sendirian di trotoar, semuanya sedang mencoba bertahan. Dan agama? Kadang cuma dijadikan sebagai plester murah untuk luka yang terlalu dalam.
Orang-Orang yang Menghafal Doa Keluar Rumah tetapi Lupa Cara Pulang
“… dan tidaklah mereka berjalan di bumi, lalu mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.”
QS. Al-Hajj: 46
Di kota ini
orang-orang berangkat kerja sambil memutar murattal
namun klakson mereka tetap terdengar
seperti sumpah serapah yang kehilangan wudu.
Seorang lelaki membaca doa safar
di atas motor kredit lima tahun,
lalu menerobos lampu merah
demi tiba lebih cepat
di hidup yang bahkan tidak benar-benar ia sukai.
Betapa aneh kepala manusia.
Mereka hafal tata cara haji,
namun lupa bagaimana meminta maaf
kepada ibunya sendiri.
Mereka tahu persis
berapa putaran thawaf mengelilingi Ka’bah,
tetapi tak pernah sadar
bahwa hidupnya sendiri
sedang thawaf mengelilingi gengsi.
Di minimarket dekat musala itu
seorang kasir perempuan menyelipkan istigfar
di sela bunyi barcode dan mesin EDC,
sementara matanya sembap
oleh cicilan dan ayah yang masuk ICU.
Dan dunia tetap berjalan seperti biasa.
Pomo-promo tumbuh lebih cepat daripada pohon,
orang-orang berebut diskon
seakan umur bisa ditukar poin belanja,
sementara kematian lewat pelan-pelan
menjadi tukang parkir, pengantar galon,
atau lelaki tua yang batuknya tak kunjung tuntas.
Lalu azan magrib terdengar.
Sebagian buru-buru mematikan musik.
Sebagian lagi tetap menatap layar ponsel
seolah hidayah bisa ditunda.
Namun di sudut musala kecil itu,
ada seorang bocah yang sujud terlalu lama
dengan baju sekolah penuh debu jalanan.
Dan mendadak seluruh kota terasa begitu kecil.
Sebab mungkin benar,
yang paling sulit dari kehidupan bukan
mencari Allah,
melainkan berhenti sebentar
agar hati kita sempat mendengar-Nya.
Kakek nggak seru ahh..
Penyakit kita saya nih..
Pas hidup susah: “Ya Tuhan, kenapa hidup gua berat banget, ya?” Pas hidup rada enak: “Kayaknya ada yang kurang deh…”
Manusia tuh nggak bisa dikasih nyaman terlalu lama.
WiFi lemot dikit aja langsung keluar sumpah serapah.
Chat nggak dibales, langsung mikir kemana-mana.
Mungkin hidup sesekali emang sengaja dibikin susah, supaya manusia punya bahan cerita.
Coba bayangin kalau hidup lurus-lurus aja, nanti cerita ke cucu,
“Dulu hidup kakek flat aja. Tidur cukup dan mental stabil.”
Kurang seru, Njir. 😁
Sah-sah aja kok. Kamu kan manusia, bukan beton.
Kalau kamu lagi capek, ya capek aja dulu. Nggak usah sok kuat. Emang kamu semen tiga roda?
Kadang manusia itu butuh nenangin hati. Butuh ngedumel. Butuh bilang, “hirup teh naha kieu pisan.”
Dan orang yang baik itu bukan selalu yang paling banyak kasih nasihat.
Tapi yang mau nemenin kamu ngopi, sambil pura-pura nggak lihat kamu lagi nahan nangis.