Kalau nanti ambisi jadi nomor satu, semoga bukan karena nyaman melihat yang lain dari atas, tapi karena mau mengajak yang lain ke atas.
—dari buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini", Marchella FP
noise dept.

ellievsbear
h
The Stonewall Inn
No title available

Product Placement
Sweet Seals For You, Always

gracie abrams
d e v o n
𓃗
Monterey Bay Aquarium
Lint Roller? I Barely Know Her
Sade Olutola
EXPECTATIONS

No title available
Game of Thrones Daily
he wasn't even looking at me and he found me
art blog(derogatory)

izzy's playlists!

PR's Tumblrdome
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from South Korea

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Belgium
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Vietnam
seen from Peru
seen from United States

seen from United States
@mang-ius
Kalau nanti ambisi jadi nomor satu, semoga bukan karena nyaman melihat yang lain dari atas, tapi karena mau mengajak yang lain ke atas.
—dari buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini", Marchella FP
Lelaki itu pulang dengan langkah pelan. Hari itu ia gagal lagi. Di rumah hanya ada nasi dingin dan sepotong tempe goreng. Istrinya berkata, "Makan dulu." Anaknya menyambut dengan senyum. Malam itu ia menyadari satu hal, barangkali keberuntungan memang tidak datang lewat pekerjaan. Kadang ia datang lewat orang-orang yang memilih untuk tidak meninggalkan kita.
NASIB ORANG YANG TERLALU SABAR
Aku menanam tabah
di halaman rumah.
Tetangga bilang,
“wah, pohonnya bagus.”
Mereka tidak tahu,
akar-akarnya tumbuh
memeluk kuburan luka.
2026
Aku datang kepada-Mu
bukan membawa bunga-bunga indah.
Aku membawa keranjang tua
berisi takut, malu, dan kesalahan.
Beberapa isinya hampir busuk,
beberapa ingin kusembunyikan.
Tapi aku tahu,
tidak ada tempat yang lebih aman
untuk membawa semuanya
selain kepada-Mu.
Jangan terlalu sedih karena dunia belum memberimu banyak. Lihatlah tanganmu. Mungkin kosong dari banyak hal, tetapi masih bisa mengangkat doa.
Masih bisa memberi salam. Masih bisa mengusap air mata sendiri. Dan yang paling besar: masih diberi kesempatan untuk mengenal Allah lebih dekat.
Bukankah itu nikmat yang tidak bisa dibeli dengan seluruh isi bumi?
Di pelosok kampung, ada orang miskin yang hanya punya kendi. Setiap sore ia mengisinya dengan air, lalu menaruhnya di beranda rumah. Barangkali ada pejalan yang sedang kehausan.
Di ujung kota, ada orang kaya dengan lemari penuh gelas kristal.
Aneh sekali.
Yang satu bahagia karena airnya. Yang lain gelisah menjaga gelasnya.
“..Hati yang bersih tidak menikmati jatuhnya orang lain, karena ia tahu dirinya pun masih membutuhkan rahmat Allah..”
Keras dalam ucapan belum tentu keras dalam perbuatan
Manis dalam ucapan belum tentu manis dalam tindakan
Kami tidak bisa menilai seseorang dari penampilan dan cara bicaranya saja
ingat...
Gudang garam isinya rokok bukan garam
Dunia memang tidak pernah menjanjikan kenyang.
Ia hanya mahir menyajikan sesuatu yang tampak cukup untuk membuat kita terus mengejarnya. Hari ini mengejar nama, esok mengejar pujian, lusa mengejar rasa aman. Begitu seterusnya. Anehnya, setiap selesai menggenggam satu hal, hati kembali mengulurkan tangan kepada hal yang lain.
Barangkali bukan karena nikmatnya kurang.
Melainkan karena hati diciptakan untuk mencintai Yang Mahakekal, sementara yang terus kita suapkan kepadanya hanyalah yang fana.
Mungkin itulah sebabnya, semakin dunia dipenuhi, belum tentu dada ikut penuh.
Aku tidak takut miskin.
Aku hanya takut
ketika dunia datang terlalu banyak,
lalu Allah
tak lagi kurindukan.
Di Koridor Rumah Sakit
Di koridor rumah sakit, seorang lelaki tertidur sambil memeluk kantong plastik berisi pakaian.
Barangkali istrinya sedang dirawat.
Barangkali sisa uangnya hanya cukup untuk ongkos pulang.
Tak ada yang bertanya. Tak ada yang memperhatikan.
Pagi datang seperti biasa. Lelaki itu bangun, mencuci muka di tempat wudhu musolah pojok, lalu kembali tersenyum kepada perawat.
Ada orang-orang yang tidak sedang mencari kebahagiaan.
Mereka hanya berharap, hari ini cukup lewat tanpa ada kabar buruk
Ada
Ada yang datang membawa tawa, Ada yang pergi membawa luka, Dan ada yang tetap ada, Meski hadirnya tak banyak kata.
Ibu selalu menyuruhku makan.
Tidak pernah menyuruhku sukses.
Kini aku mengerti, ada orang-orang
yang mencintaimu lebih dulu daripada prestasimu.
Orang Pinggiran
Aku membaca buku ini di tengah hamparan hijau.
Sawah terlihat tenang. Angin berjalan pelan. Burung-burung tak peduli pada urusan manusia.
Namun di banyak tempat, orang-orang yang menanam padi justru kesulitan membeli beras.
Mereka tinggal di kampungnya sendiri, tetapi sering diperlakukan seperti orang yang datang terlambat ke pesta yang mereka siapkan.
Dan mungkin, itulah kesedihan paling sunyi, yakni menjadi asing di tanah yang sejak lahir memanggil nama mereka.
tji leng shi, minggu pagi, 2106-2026
When you loose your mom, the happiest moments are also the saddest, because every milestone comes with the pain that you can't share it with them 💔
Negeri yang Salah Menanam
Katanya negeri ini kekurangan orang baik, padahal di tiap sudut kota masih tumbuh cahaya. Ada yang mengobati luka tanpa sorotan, menjadi manfaat meski namanya tak pernah dibaca.
Katanya kita kehilangan kejujuran, padahal nurani belum benar-benar mati. Masih ada tangan-tangan yang memilih bersih, meski dunia berkali-kali mengajarkan kompromi.
Namun aneh, tanah yang katanya subur ini justru menumbuhkan akar yang meracuni sumur. Yang naik seringkali bukan mereka yang pantas berdiri, melainkan yang pandai menjual wajah untuk mengatur.
Lalu aku bertanya pada malam yang panjang, krisis macam apa yang sedang kita warisi? Jika benih baik begitu banyak tersemai, mengapa yang dipanen selalu busuk berulang kali?
Mungkin masalahnya bukan tak ada cahaya, mungkin terang itu sengaja dipadamkan. Sebab ada tangan yang merawat gelap diam-diam, agar negeri ini lupa bagaimana bentuk terang.
sebuah utopia piala dunia
Bayangkan Piala Dunia kali ini dimenangkan oleh Iran, Turki, Senegal, Jepang, atau negara "tak terduga" lainnya.
FIFA mungkin kecewa. Si tuan rumah dan para sponsor-nya mungkin ikut murung.
Tapi sebagian besar dunia bisa jadi justru bergembira.Karena sesekali, manusia ingin percaya bahwa kisah terbaik tidak selalu ditulis oleh yang paling kaya, paling berkuasa, atau paling diunggulkan.
Bayangkan Piala Dunia dimenangkan oleh mereka yang tidak dikehendaki oleh panitia pemyelenggara dan penyandang dana.
Bayangkan dunia, walau hanya sebulan, percaya bahwa keajaiban masih mungkin terjadi.
Dan Eduardo Galeano tersenyum dalam kuburnya.
Tji Leng Shi, 1906-2026