Mencintai bukan hanya soal degup jantung yang kencang di awal jumpa. Apalagi soal malam minggu yang harus wajib kudu jadi rutinitas mereka-mereka yang (katanya) saling cinta.
Mencintai itu serupa perjalanan. Awalnya suka karena kebaikan-kebaikan. Kemudian semakin kenal karena keburukan-keburukan. Dan akhirnya memilih bertahan karena ketulusan hati.
Mencintai adalah proses. Proses mengenali pola pikir. Proses menyeimbangkan naik turunnya rasa. Proses belajar meredam ego, demi sebuah mimpi untuk jadi bahagia bersama.
Mencintai itu memudahkan. Bukan menyusahkan.
Mencintai itu meluaskan. Bukan menyempitkan.
Mencintai itu membebaskan. Bukan memenjarakan.
Pernahkah melihat dua orang yang terpisah jauh namun tak sekali pun hatinya tenang. Selalu was-was, selalu cemas, galau tak berkesudahan, hingga lahir kecurigaan yang membunuhnya sendiri? Dan ia bilang itu cinta. Sayang, jelas itu bukan cinta. Sebab jika ia memang cinta, ia akan tetap tenang. Cinta itu meneduhkan, ia takkan mampu membuat panas hati.
Mencintai itu pemahaman.
Seperti kata Tasaro, “…mencintai itu, kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai, memakinya, merasa tak sanggup lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya, dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi tetap saja engkau tak sanggup benar-benar meninggalkannya.”
Iya, cinta memang begitu.
Lantas, bagaimana cintamu?
Melelahkan? Istirahat sebentar. Perjalanan masih panjang. Kamu takkan mungkin mampu terus berjalan tanpa mengambil jeda.
Bagaimana cintamu?
Menyakitkan? Berhentilah dulu. Berikan waktu untuk dirimu dulu. Selesaikan urusanmu dengan hatimu dulu.
Mencintailah dengan dewasa.
Mencintailah dengan sadar.
Bahwa yang kau cintai adalah manusia. Jangan gantung harapanmu pada manusia. Kau bisa patah.
Mencintailah dengan sadar.
Bahwa pundak yang kau minta selalu ada, juga adalah pundak yang sama yang sedang menanggung banyak tanggung jawab.
Mencintai adalah memberi.
Berhentilah menuntut.
Mencintai itu pencerminan.
“Apakah aku sudah cukup baik untuk seseorang yang aku tuntut baik?”
Maka, mencintailah, dengan indah……
(Entah mau kau sebut lantang, atau kau simpan dalam diam.)
_____________________________________________________
Fitriyani Syahrir,
dini hari tadi, 01.00 am,
di hadapan tumpukan draft laporan yang belum selesai, dengan mata yang terkantuk-kantuk,
menulis ini…