Kangen.
Xuebing Du
Claire Keane
Keni
đȘŒ

Kaledo Art

ç„æ„ / Permanent Vacation

@theartofmadeline

No title available
d e v o n
trying on a metaphor

pixel skylines
RMH
Show & Tell

â
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available

Love Begins

tannertan36
Misplaced Lens Cap
tumblr dot com

seen from Canada
seen from United States
seen from Singapore
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Pakistan
seen from United Kingdom

seen from Japan
@lampuredup
Kangen.
Sampai di titik ini karena..
Keputusan-keputusan yang kuambil dengan ragu, beberapa kuambil dengan yakin, meski hasilnya tidak berjalan seperti yang ku bayangkan.
Sampai di titik ini karena waktu mengajarkan hal yang tidak ku temukan dibuku manapun, bahwa hidup tidak selalu tentang naik, tapi juga tentang bertahan tanpa kehilangan diri sendiri.
Pernah ada di fase aku ingin menjadi segalanya sekaligus. Ingin berhasil, ingin berguna, ingin hadir untuk orang-orang di sekeliling ku.
Sampai aku sadar manusia tidak bisa menjadi semuanya. Manusia juga bisa lelah dan butuh jeda.
Sekarang aku di titik ini, belum sampai, tapi juga tidak tersesat. Hanya saja jalanku lebih pelan.
Belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dikejar. Bahwa apa yang memang ditakdirkan untuk ku pasti akan datang.
Pada akhirnya aku hanya ingin hidup dengan hati yang tenang.
Sebelum 2026
Proses kita membentuk diri di tahun 2025 ini mungkin melewati beberapa kejadian tak menyenangkan. Hal-hal yang membuat emosi kita berkecamuk, belum sempat kita memvalidasinya, muncul masalah baru yang akhirnya bertumpang tindih.
Sebelum beranjak ke tujuan-tujuan besar yang kita buat di masa datang. Nggak apa-apa banget kalau kita ambil jeda untuk mengelola semua rasa itu.
Pelan-pelan membentuk penerimaan terhadap kegagalan dan kesalahan, kemudian menyimpannya sebagai pelajaran berharga dalam laci pikiran. Kita mungkin akan kesulitan untuk mengejar semua tujuan, jika energi kita masih terus menerus bertaut dengan emosi di masa lalu. Kejadian-kejadian yang membuat kita marah, sedih, kecewa, dan merasa kecil.
Di hari-hari berikutnya, kita membutuhkan diri kita yang telah beranjak dari semua itu. Membangun karakter baru yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Tujuan kita, membutuhkan diri kita yang berbeda. Orang-orang yang tak menghargai dan menganggap peranmu, biarkanlah berlalu.
Kita membutuhkan diri kita yang berbeda, bersediakah kita berubah?
K.G
Sudah hampir 3 tahun, tapi peran baru ini rasanya masih membuat kehilangan diri.
Ada satu topik besar yang jarang dibicarakan di awal pernikahan, atau saat seseorang memutuskan untuk menikah.
Masalah ini muncul perlahan, di sela kebutuhan harian, lalu diam-diam menjadi hal yang paling sering dipikirkan.
Iya, soal uang.
Bukan hanya tentang cukup atau kurang. Ternyata saat lebih pun, tetap bisa menjadi masalah.
Saat kurang, yang hadir adalah cemas. Saat berlebih, kadang berubah menjadi kuasa. Dan di antara keduanya, rumah diuji dalam sunyi.
Katanya uang bisa mengubah seseorang. Bukan karena uang itu jahat, melainkan karena ia memperbesar apa yang sudah ada di dalam diri.
Membuat seseorang pelit pada empati, merasa paling berhak bicara, atau perlahan mengecilkan dirinya sendiri.
Yang melelahkan seringkali bukan fisik yang capek, melainkan kepala yang terasa selalu penuh angka.
Saat berlebih, tanpa sadar cinta ikut dihitung. siapa memberi apa, siapa paling berjasa. Saat kurang, yang hadir adalah rasa gagal dan diam yang panjang.
Padahal yang penting bukan berapa jumlahnya, melainkan bagaimana tetap saling memanusiakan di tengah keadaan yang terus berubah.
Karena rumah tidak dibangun dari angka semata, melainkan dari sabar bahkan ketika hidup terasa sangat berat.
Dia sering kali datang. Mungkin bukan karena rindu, hanya karena sedang tidak baik-baik saja.
Saling bercerita bukan berarti saling mencari simpati. Bukan pula keinginan untuk mengulang apa yang sudah berlalu.
Kadang hanya ingin bertukar kabar. Kadang hanya ingin didengar, saat orang-orang di sekitarnya tak punya ruang atau waktu untuk mendengar.
Hidup kadang bisa terasa sempit. Dan membuka pintu ke belakang, sekadar mencari udara, rasanya bukan sebuah kesalahan.
Bercerita, mendengar cerita, tidak selalu berarti terlibat. Tidak juga berarti mengambil peran apa pun. Ada batas yang jelas antara empati dan ikut campur.
Tidak semua cerita membutuhkan solusi. Sebagian hanya ingin diterima, lalu dilepaskan kembali ke tempat asalnya.
Karena masa lalu yang datang tidak selalu ingin tinggal. Kadang, ia hanya ingin pulang dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Buk, hari ini aku mampir.
Aku udah bolak balik di jalan itu berkali-kali, bundarannya masih sama. Aku ingat bentuk rumah-rumah lain.
Tapi sedihnya aku ga bisa menemukan rumah ibuk. Mungkin karena sudah terlalu lama ya Buk aku ga mampir. Jadi rumah ibuk sudah berubah.
Ga ada lagi tempat kita duduk-duduk diteras sambil ngobrol saat sore.
Dah cantik rumah ibu. Teras itu sekarang cuma ada di memori ku Buk.
Buk, semoga ibuk selalu bahagia ya. Sehat selalu dan hiduplah lebih lama Buk.
Mungkin ga ya Buk kalau suatu saat kita akan ketemu lagi. Tapi kayaknya aku belum sanggup Buk. Pasti aku udah lari, mau peluk ibuk.
kalau kita bukan seseorang itu
hanya ada satu nama yang bisa menyentuh inti hati setiap manusia. hanya ada satu nama yang bisa menjadi yang teristimewa. terima kenyataan itu.
seperti adit untuk kica. seperti kica untuk adit. seperti banyu untuk rasya. seperti adit untuk faza. hanya ada satu namaâyang meskipun kadang hanya dipertemukan tanpa dipersatukanâyang bisa memiliki tempat itu.
nama itu punya daya pikat luar biasa. nama itu, mendengarnya saja bisa membuat air mata menguap tiba-tiba. seseorang itu begitu menarik, sehingga segala hal kecil yang disukainya juga mencuri perhatian kita. seseorang itu cita-citanya, mimpinya, ingin kita perjuangkan juga.
tapi terima kenyataannya. hanya sedikit sekali yang dipilihkan bersama dengan seseorang itu. kebanyakan tidak. kebanyakan, pilihan terbaik menurut Tuhan bukan yang terbaik menurut kita.
ada yang lebih susah daripada bersama dengan seseorang yang bukan seseorang itu, daripada ikhlas melepaskan seseorang ituâyaitu menjadi seseorang yang bukan seseorang itu, ikhlas diterima sebagai bukan seseorang itu. sebab selamanya, kita tidak pernah menyentuh inti hatinya.
tetap bersyukurlahâpun kalau kita bukan seseorang itu. sebab kita adalah seseorang itu, kata Tuhan. kita mungkin tidak bisa menyentuh inti hatinya. siapa tau, kita justru bisa menyentuh dan mendiami surga-Nya.
Mungkin kita menjadi seseorang itu, untuk dia yang sekarang bersama kita, dia yang Allah persatukan dengan kita.
Lama tidak berpapasan
Lama tidak bertukar cerita
How's your days?
Aku, Timeline Hidup, dan Jalan yang Ga Sama
Hari ini aku lihat update teman lama.
Dia baru sidang S2. Yang lain posting foto ruang kerja baru. Ada juga yang pindah ke luar negeri bareng suaminya, sambil nulis caption: âFinally, our dream come true.â
Aku ikut senang. Tapi jujur, aku juga merasa sedikit sesak.
Karena pencapaian ku hari ini aku hanya berhasil bikin anak tidur siang, balas beberapa chat order, ga marah saat rumah berantakan, dan berhasil melewati hari dengan ga tantrum saat Aisha maunya digendong terus.
Kadang aku mikir,
"Aku ke mana aja selama 2 tahun ini?"
Tapi lalu aku ingat, aku juga sedang berjalan.
Bukan di timeline yang sama, bukan di rute yang mudah dilihat orang. Tapi aku tetap bergerak ko.
Aku mungkin ga punya gelar baru, tapi aku punya keterampilan baru:
Sabar, bertahan, memulai dari nol, membangun dari awal lagi, mencintai dari rutinitas.
Jalan hidupku mungkin ga lurus ke atas, ga semulus jalan tol (bahkan jalan tol aja kadang ga mulus kalo di Indonesia). Tapi ya juga bukan jalan buntu.
Ini jalan yang aku pilih ulang, dengan sadar, dengan lelah, tapi juga dengan harapan.
Karena hidup bukan lomba siapa yang paling cepat. Tapi soal siapa yang tetap jalan, meski jalurnya sunyi.
Dan hari ini, aku bangga, karena aku masih di sini.
Melangkah.
Pelan.
Tapi tetap.
Sampai sekarang, saya masih bisa melihat kamu di mana-mana. Tiap ada baju lucu, saya masih merasa kalau baju itu akan lebih cantik jika kamu yg pakai. Tiap ada tempat baru, saya ingin sekali mengajak kamu ke sana. Kamu masih ada di sudut paling rahasia kepala saya..
Seperti aku saat ada tempat makan atau tempat baru yang ingin dicoba atau dikunjungi.
Ada rasa "wah kalo sama kamu pasti di-iya-in"
Pertanyaan sederhana. Aku baca sambil senyum, lalu jadi mikir. Iya yah aku nih lagi sibuk apa sih sebenernya sekarang ? Harus jawab apa ?
Sejak jadi ibu rumah tangga, aku jadi jarang menghitung kesibukan. Hari-hari ku ya berjalan aja gitu, mengalir, melelahkan sih, tapi ya harus dijalanin.
Masih bangun pagi sebelum matahari terbit, masih memulai hari dengan masak. Bedanya sekarang masak untuk jualan juga.
Lanjut dengan rumah yang harus dibereskan, mainan yang ga ada habisnya harus dibereskan, belum lagi cucian.
Tambah pesanan yang harus dipacking, konten yang harus dibuat, chat yang harus dibalas.
Kadang juga mandi sambil mikir: âTadi udah makan belum ya?â
Sore hari?
Belum sempet tidur siang anak-anak udah bangun lagi aja, akhirnya temani mereka bermain, lagi.
menyiapkan makan malam, menenangkan tangis, membacakan cerita, dan akhirnya menidurkan mereka, lagi.
Malamnya, kalau belum tumbang, aku baru merasa menjadi diriku, karena baru bisa melakukan apa yang aku suka dan aku inginkan.
Kadang nonton drama, kadang ngedit video, kadang nulis, kadang hanya diam.
Kalau dipikir-pikir, ternyata aku sibuk juga ya dirumah setelah aku nulis ini.
Cuma ya aku ga pakai seragam kantor. Ga punya deadline kerjaan, atau KPI bulanan.
Tapi aku bekerja.
Selalu.
Jadi, waktu aku ditanya âSibuk apa Ca?â,
awalnya aku ingin jawab dengan bercanda:
"biasa aja, di rumah aja kok.â
Tapi ternyata nggak sesederhana itu.
Aku sedang jadi banyak hal.
Jadi ibu, jadi istri, jadi pengusaha, jadi konten kreator kecil-kecilan, jadi pendongeng, jadi engineer (mainan rusak pokoknya mommy bisa benerin), jadi planner tanpa gaji. Eh digaji Deng, langsung Allah yang gaji dengan pahala. Daaaaan jadi perempuan yang tetap berusaha menemukan makna dalam semua ini.
Ternyata, aku nggak âcumaâ di rumah. Aku sedang tumbuh di dalamnya.
Dan kurasa, itu lebih dari cukup.
Waktu yang Hilang, Waktu yang Kutemukan
Dulu, waktu adalah musuh.
Setiap jam berlomba dengan deadline, laporan audit, angka-angka, atau masalah lain di lab yang datang silih berganti.
Aku belajar mengatur waktu, bukan menikmatinya.
Setiap pagi aku berangkat terburu-buru, mengejar absen, menumpuk checklist QC, dan di sore hari aku pulang dengan kepala penuh target yang belum selesai.
Katanya itu produktif. Tapi kadang rasanya cuma, habis.
Lalu, hidup membelokkan jalanku.
Satu hari, satu surat, satu keputusan yang tidak kuminta, membuatku berhenti.
Resign, katanya. Tapi buatku itu seperti kehilangan arah.
Waktu yang dulu sibuk, kini kosong.
Sunyi.
Berisik hanya oleh tangisan anak, panci mendidih, dan suara hatiku yang bingung:
âAku siapa, kalau aku bukan pekerja kantoran itu lagi?â
Tapi perlahan, waktu mulai bersuara lain.
Waktu jadi teman.
Ia memberiku kesempatan mengenal tawa anakku tanpa terburu-buru.
Ia memaksaku menengok lagi mimpi lama yang pernah kupendam: punya usaha sendiri.
Dan di situlah aku menemukan waktu yang tak pernah sempat kujamah dulu.
Waktu untuk belajar ulang, dari dapur kecil, ikut banyak kelas masakan.
Waktu untuk gagal, mencoba resep baru.
Waktu untuk mencatat satu-satu pesanan yang datang pelan-pelan.
Dulu aku pikir aku kehilangan waktu produktif.
Ternyata aku diberi waktu yang lebih utuh:
waktu untuk tumbuh, dengan caraku sendiri.
Katanya Butuh yang Berpengalaman, Tapi Kok Nggak Mau Nerima yang Pernah Capek?
Dua tahun lalu, aku resign.
Bukan karena siap, tapi karena sudah terlalu berat untuk bertahan.
SP3. Tanpa SP1, tanpa SP2.
Kayak langsung dikick dari grup WhatsApp tanpa sempat dibacain aturan mainnya.
Alasannya? Masih debatable sampai hari ini. Bukti nggak kuat, tapi suratnya nyata.
Dan rasanya? Jelas.
Sakit. Bingung. Campur aduk kayak hasil uji kimia yang ngaco karena alat yang bermasalah bukan orangnya.
Waktu itu aku pasrah. Kupikir mungkin ini waktunya istirahat.
Fokus ke rumah, ke anak-anak, ke hidup yang seringkali kulewatkan karena sibuk lembur dan nyiapin audit.
Tapi lama-lama, aku kangen.
Kangen rasa âberguna dan berdayaâ di luar rumah.
Bukan hanya soal rumah rapi atau anak-anak terurus, namun juga ngerasa dihargai sebagai individu. bukan hanya sebagai ibu, istri, tukang cuci, koki dadakan, dan bendahara rumah tangga.
Lalu aku mulai apply kerja lagi.
Dan...
âMohon maaf, kami memutuskan untuk melanjutkan proses dengan kandidat lain.â
Repeat. Repeat. Repeat.
Katanya cari yang pengalaman.
Lah, aku punya! Pernah jadi Quality Coordinator yang handle sistem mutu dari A sampai Z.
Pernah kerja di bawah tekanan. Pernah lembur demi beresin dokumen audit yang berceceran kayak perasaan waktu itu.
Tapi begitu lihat ada âcareer breakâ dua tahun buat jadi ibu rumah tangga, langsung skip.
Padahal dua tahun ini aku nggak vakum. Aku belajar ulang tentang sabar. Tentang manajemen waktu. Tentang QC rasa masakan anak yang nggak bisa ditulis di form manapun.
Dan sekarang, aku mulai sadar.
Mungkin bukan dunia kerja yang nolak aku.
Tapi mungkin semesta mau bilang:
âCoba bikin panggungmu sendiri.â
Mungkin ini saatnya aku nggak cuma apply kerjaan.
Tapi juga apply ke diriku sendiri, untuk mulai percaya lagi.
Untuk mulai membesarkan usahaku sendiri.
Bisnis makanan yang aku rintis dari rumah, dari dapur, dari freezer.
Dengan sistem mutu yang dulu kupelajari di kantor, sekarang kupakai untuk memastikan rasa tetap konsisten dan aman buat anak-anak.
Siapa tahu, suatu hari nanti........
Bukan aku yang cari kerja, aku yang buka lowongan.
Untuk para perempuan hebat yang pernah âdianggap remehâ hanya karena memilih jeda.
Untuk mereka yang capek dicap âkurang updateâ padahal tiap hari belajar dari hidup yang nggak pernah ada SOP-nya.
Hari ke-739: Aku Mungkin Sudah Digantikan, Tapi Bagiku Sakitnya Masih Sama
Sudah 739 hari sejak aku pamit. Sudah ratusan hari sejak terakhir kali duduk di meja itu, menatap layar sambil mencuri waktu buka WhatsApp grup kantor. Sudah banyak waktu berlalu, cukup lama untuk membuat orang-orang lupa aku pernah ada di sana.
Dan memang sudah ada yang menggantikan aku. Meja itu tidak kosong. Email itu sudah tidak pakai namaku lagi. Teman kantor juga makin jauh rasanya, atau malah... mereka juga sudah lupa aku.
Tapi rasa perih itu, anehnya, masih tinggal. Bukan karena aku ingin kembali. Tapi karena sebagian dari diriku dulu tumbuh di sana. Karena aku pernah memberi segalanya: waktu, tenaga, kadang air mata. Karena aku pernah peduli.
Dan sekarang, kadang aku bertanya-tanya: "Apakah aku semudah itu digantikan?"
Tapi hari ini aku sadar satu hal: yang mungkin hilang dari mereka... belum tentu hilang dari aku. Aku masih ingat semua pelajaran yang kudapat. Semua teman yang pernah jadi rumah. Semua hal yang pernah bikin aku merasa berguna.
Aku tidak ingin kembali. Tapi aku juga tidak ingin menghapus perasaan ini. Karena luka itu mengingatkanku bahwa aku pernah punya makna di sana.
Dan sekarang, aku sedang membangun makna baru. Di tempat yang lebih sunyi, lebih kecil, tapi lebih jujur.
Setelah Resign, Aku Baru Tahu...
Dulu, aku pikir resign itu akhir dari satu babak. Ternyata, itu awal dari hidup yang benar-benar baruâversi yang tidak pernah aku siapkan di spreadsheet manapun.
Setelah resign, aku baru tahu:
Ternyata waktu itu relatif. 24 jam bisa terasa terlalu cepat atau justru terlalu panjangâtergantung siapa yang sedang rewel di rumah.
Deadline kantor digantikan oleh âdeadlineâ cuci piring, nyuapin anak, dan masak sebelum mereka lapar lagi 15 menit kemudian.
Ada rasa kehilangan yang aneh saat tak lagi dipanggil âBu Nesya, Ka Nesya, Mba Nesyaâ oleh kolega, digantikan dengan âMommy mana susu Adek?!â
Tapi aku juga baru tahu:
Bahwa pelukan anak saat aku sedang capek bisa menyaingi bonus akhir tahun.
Bahwa bekerja untuk keluargaâwalau nggak ada gaji tetapâbisa terasa lebih berarti dari apapun.
Bahwa aku bisa menulis ini hari ini karena akhirnya... aku punya waktu untuk mendengar isi kepala sendiri.
Resign bukan berarti berhenti berkembang. Mungkin aku tidak lagi duduk di balik meja kantor, tapi aku sedang membangun sesuatu: rumah, anak-anak, versi terbaik diriku.
Dan kalau ditanya, âApa kamu menyesal resign?â Jawabannya: Tidak. Aku hanya belajar hidup... lagi.
Hai