Hari-hari yang dilewati tanpa mendahulukan asupan ruh, hanya menghadirkan bertumpuk peluh dan keluh.
Seperti ada yang salah. Nyatanya telah kehilangan arah.
28/11/21
we're not kids anymore.
YOU ARE THE REASON
🩵 avery cochrane 🩵

Discoholic 🪩
Monterey Bay Aquarium
Lint Roller? I Barely Know Her

Andulka
art blog(derogatory)
Today's Document
d e v o n
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

shark vs the universe
cherry valley forever
tumblr dot com

izzy's playlists!

Love Begins

oozey mess

if i look back, i am lost

tannertan36
Sweet Seals For You, Always
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Saudi Arabia
seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from Tunisia
seen from Paraguay
seen from Brazil
seen from Russia

seen from Germany
seen from Tunisia
seen from India
seen from Spain
@langitmasihbiru
Hari-hari yang dilewati tanpa mendahulukan asupan ruh, hanya menghadirkan bertumpuk peluh dan keluh.
Seperti ada yang salah. Nyatanya telah kehilangan arah.
28/11/21
Mungkin Tidak
Mungkin tidak sekarang, tapi nanti saat yang tepat. Mungkin tidak hari ini karena belum saatnya. Tapi pasti akan. Hanya mungkin tidak sekarang. Tapi yakin pasti akan.
Hai! Bukankah itu kalimat yang terus digaungkan kepada anak-anak setiap pagi? Siapa yang mengucapkannya? Bukankah itu dirimu?
Lalu, kenapa stress? Kenapa gundah gelisah?
Yakin saja. Sudah ya sakit kepala dan breakoutnya☀🌱
19/06/26
Jaman masuk tumblr harus pakai vpn, pernah pindahan sementara ke wordpress. Kalau nggak salah waktu itu ada oknum yang buat postingan tidak baik di green forest ini. Haha
Tapi nggak lama setelahnya normal lagi, akhirnya balik lagi ke tumblr. Dan, bersih-bersih sore ini menghapus akun wordpress yang sudah bersawang selama 7 tahun. Lihat bio-nya, wah kok sampai Korea😂🙏
Aduduh, sebuah cita-cita yang semoga kesampaian. Kalau dari alur tulisan di bio, ke Makkah dulu. Oke mari kita sambut masa-masa umroh dan haji, in syaa Allah siap Ya Allah😭
Sebagai kenangan, si langittigatiga sudah nggak ada lagi di laman biru tetangga.🌧
Ujung
Malam 29/30 Ramadhan 1447
Ujung harap itu ada padaNya. Ujung ikhtiar ada pada diri kita. Pun, doa adalah sebagian dari ikhtiar, ia terus membersamai sejak awal, semasa perjalanan, hingga sampai di ujungnya.
Maka yang tepat dan terbaik menurutNya bukan kita yang menentukan. Semua mengikuti perhitunganNya, tidak ada yang meleset, tidak ada yang tertukar, tidak ada yang terlewat. Hanya diminta untuk terus menengadah harap hanya kepadaNya.
Jika belum, mungkin besok. Jika tidak mudah, ya memang tugas kita untuk tidak menyerah. Jika terasa sangat panjang perjalanan, mintalah untuk diberikan kekuatan dan ketaatan.
Dia tidak mungkin ingkar janji. Dia tidak mungkin membiarkan ikhtiar berlalu tanpa arti.
Teruslah berharap, karena ujung harap itu ada pada RidhoNya.
Allāhumma innaka 'afuwwun karīmun tuhibbul 'afwa, fa'fu 'annī Rabbanâ taqabbal minnâ, innaka antas-samî‘ul-‘alîm Rabbanâ wa taqabbal du‘â'
18/03/26 | Lintasan Ramadhan
Yang Terucap dari Yang Tersisa
Malam 28/29 Ramadhan 1447
Di majelis tamannaw, majelis harapan, majelis cita-cita, empat pemuda berucap tulus dan jujur saat duduk bersama di Hijr Ismail. Semua permintaan mereka tidak ada yang kecil. Disebutkan bahwa kesemua doa dari empat pemuda tersebut di kemudian hari benar-benar Allah kabulkan. Termasuk, yang paling menyentuh hati adalah doa Abdullah bin Umar, harapan yang pasti diinginkan setiap manusia.
aku ingin Allah mengampuniku, ucapnya jujur dan tulus
Lalu,
Tentang satu dari Assabiqunal Awwalun, saat Rasul yang doanya mustajab menawarkan kepadanya untuk mendoakan dirinya. Ia dengan cerdas dan tepat, meminta didoakan agar doa-doanya dikabulkan.
Ya Allah, kabulkan doa Sa'ad jika dia berdoa, ucap Rasulullah saat mendoakannya
Allah pun mengabulkan doa Rasul-Nya, Allah mengabulkan setiap doa-doa Sa'ad bin Abi Waqash.
Dua penggal kisah tadi hampir sama, tentang harapan mulia, prioritas utama, cita-cita semua hamba. Ketepatan mengambil momentum.
Dan hari ini,
Ramadhan sebentar lagi pergi.
Allāhumma innaka 'afuwwun karīmun tuhibbul 'afwa, fa'fu 'annī Rabbana taqabbal du'a
17/03/26 | Lintasan Ramadhan
Malam
24 Ramadhan 1447
Jika ada sesuatu yang mahal dan langka hari ini, maka bisa jadi itu adalah ketenangan.
Jika itu ada di dalam hati kita hari ini, Alhamdulillah, segala puji milik Allah yang telah mengaruniakan rasa tenang di dalam hati.
Di Al-Quran, ada empat ayat tentang rasa tenang. Tiga ayat membahas tentang malam, selebihnya membahas tentang kita, perempuan.
Malam, identik dengan tenang. Cahayanya yang temaram, memadamkan kebisingan.
Betapa beruntungnya malam, hingga Allah turunkan Al-Quran di salah satu malam yang mulia. Malam yang tenang, angin berhembus lembut, tetap bercahaya tanpa menyilaukan.
Menjadi sebuah pengingat,
Jika hari ini belum bisa setenang malam, maka semoga, tidak menjadi malam yang terik.
13/03/26 | Lintasan Ramadhan
Bertutur
20 Ramadhan 1447
Dari tujuh bab di buku Sentuhan Parenting, ada satu hal dasar yang kukira bisa menjadi kesimpulan dari buku ini. Tentang kemampuan bertutur. (Semoga kesimpulan ini tidak jauh dari POV Ust Budi Ashari saat menuliskan buku tadi.)
Beliau menyampaikan tentang visi besar yang harus dicapai dengan ilmu dan iman, karena kebesaran generasi ini tidak bisa lepas dari dua hal tersebut. Generasi dimulai dari keluarga, keluarga dimulai dari dua orang manusia yang bervisi sama lalu berkolaborasi dengan izin-Nya.
Ada banyak dialog antara ayah dan anak di Al-Quran, dan jumlahnya lebih banyak dari dialog antara ibu dan anak. Jadi bisa ditebak, Quran mengajak para ayah untuk banyak berdialog dengan anaknya, bukan hanya bicara.
Lalu bukan berarti ibu hanya diam, mungkin kenapa di Al-Quran lebih banyak dialog antara ayah dan anak, karena fitrah seorang ibu memang banyak kosakata. Dan ibu lebih banyak waktu bersama anak, maka tentu porsi komunikasi jauh lebih banyak.
Tentu bukan sembarang bicara.
Kalimat yang baik, yang sesuai dengan fitrah anak. Kalimat yang diucapkan dari hati dan mengena sampai ke hati. Kalimat yang intonasinya pas, bukan sebatas menggerakkan bibir. Kalimat yang penuh hikmah.
Mungkin bisa dimulai dari Al-Quran yang kita baca setiap hari. Karena darinya kita belajar, panjang pendeknya bacaan menentukan arti. Jika salah ucap maka bisa berubah makna. Jika seorang ayah/ibu salah berbicara pada anaknya, bisa jadi salah paham berulang dari generasi ke generasi.
Dan...
Al-Quran mengajak ayah untuk lebih banyak bertutur daripada ibu.
untuk para calon ayah peradaban, jangan lelah belajar. untuk para calon ibu peradaban, jangan lelah bersabar.
09/03/26 | Lintasan Ramadhan
menuju malam 21
Ayah
11 Ramadhan 1447
Membaca tulisan Ust Budi Ashari di buku Sentuhan Parenting, menjadi refleksi, perlu kelapangan dan penerimaan, pun akselerasi daya juang yang gigih. Karena, kondisi hari ini, mungkin dan bisa jadi belum seideal dan masih jauh dari cita-cita setiap keluarga muslim. (meski tidak semua)
Bab 1 bicara tentang visi besar. Bab 2 bicara tentang contoh nyata aplikasi visi besar. Bab 3 bicara tentang realita peran seorang ayah, dan 4 bab lainnya.
Bicara tentang sosok ayah, maka bicara tentang kebersyukuran dan kesabaran. Setiap manusia, pasti punya kekurangan. Dan ayah, dengan segala kekurangannya selalu berusaha menghadirkan yang terbaik yang ia mampu untuk anak-anaknya. Ia selalu berusaha mendidik dengan sebaik-baiknya, meski mungkin belum seideal teori parenting yang bisa kita baca dan pelajari hari ini.
Seperti kata sebuah judul buku anak, menjadi ayah memang tidak mudah. Kita memang tidak bisa memilih mau menjadi anak dari ayah yang begini dan begitu, tapi kita masih bisa berupaya menjadi anak yang baik untuk ayah kita. Dan bisa, memilih ayah yang terbaik untuk anak-anak kita kelak.
Alhamdulillah, untuk ayah yang hadir utuh dan penuh dalam kehidupan anaknya. Semoga Allah berikan penjagaan dan balasan terbaik di dunia dan di surga.
Dan, untuk setiap yang sedang menanti,
Yakinlah,
Allah sedang menyiapkan calon ayah yang tepat dan terbaik. Jadi, terus bersiap dan bersabarlah dengan kesabaran yang baik.
28/02/26 | Lintasan Ramadhan
Nanti Kita Ceritakan
7 Ramadhan 1447
Nanti kita ceritakan, segala kelelahan kita di dunia, di atas dipan-dipan permata, berhadap-hadapan, tanpa ada kelelahan lagi, hanya nikmat dan bahagia yang tersisa. Nanti kita ceritakan semua kelelahan hari ini di surga.
وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ
And they will advance to one another, asking (about each other’s welfare). ~Ath-Thur : 25
24/02/2026 | Lintasan Ramadhan
Ramadhan jalan sepekan, semoga Allah kuatkan kita untuk terus menambal dan menambah iman...
Mudah dan Memudahkan
6 Ramadhan 1447
Sekitar jam delapan lebih seperempat, di riuh ramainya anak-anak mengambil meja untuk menggambar, tangis tiba-tiba pecah. Seorang anak berpeci hitam (H) terduduk di depan meja yang hendak diambilnya. Tepat setelah tangisan itu makin keras, seorang teman (U) mengulurkan tangan, meminta maaf. Katanya tidak sengaja menyenggol, hingga si anak yang menangis tadi mengenai meja.
Tidak berselang lama, U mengambil minyak untuk dibalurkan ke luka H. Rupanya ada goresan, kecil, keberud orang Banyumas menyebutnya.
Pelan-pelan, dengan raut wajah yang masih kaget, U membalurkan minyak, tangis H mereda. Kembali tersenyum, keduanya saling berjabat tangan, meminta maaf dan memaafkan.
Kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Keduanya duduk berhadapan, saling bertukar cerita tentang gambar yang mereka buat, saling menyimak bacaan, bahkan U dengan sabar mengajari H bagaimana cara membaca yang benar sebelum H setoran. Dan berlanjut main bersama saat jeda hingga kepulangan. Tanpa ada rasa dendam.
Ah, anak-anak itu, Ma syaa Allah, mudah sekali mereka meminta maaf, mudah sekali mereka memaafkan. Betapa dekat mereka dengan kebaikan, betapa dekat mereka dengan fitrahnya.
Teringat tentang pintu-pintu surga, salah satunya pintu untuk mereka yang mudah memaafkan. Baru saja mereka simak di pembukaan majlis pagi tadi, dan mereka langsung mengamalkannya.
Semoga terus terjaga, Nak. Sampai nanti saatnya Allah amanahkan bumi ini untuk kalian.
23/02/26 | Lintasan Ramadhan
Hembusan Angin
5 Ramadhan 1447
Selalu menarik saat belajar siroh. Betul guru kami sampaikan, siroh adalah panduan, siroh adalah inspirasi, solusi, motivasi, dan prediksi.
Hari ini saat membahas Perang Badar hingga Ahzab, Ust Ja'far menyampaikan tadabur yang mematahkan sekaligus menjadi kabar gembira.
Mematahkan? Ya, di saat ramai negara-negara berkoalisi dengan dalih membentuk badan perdamaian, jika kita membaca track record siroh nenek moyang mereka, itu hanya kamuflase belaka. Singkatnya, tidak ada yang gratis di dunia ini.
Yahudi punya tabiat suka berbohong, suka adu domba, suka ingkar janji, suka menghasut, suka cari perhatian, suka bersembunyi. Yap, surah al-Hasyr sudah cukup jelas menjelaskan itu kepada kita.
Jadi? ya endingnya sudah bisa ditebak.
Bagaimana dengan kabar gembiranya?
Di surah al-Hasyr Allah sudah sampaikan dengan jelas, salah satunya di ayat kedua, dan Allah minta kita untuk mengambil pelajaran. Belajar dari peristiwa pengusiran Yahudi Bani Nadhir.
Pertama, mereka bersembunyi di dalam benteng. Mereka memang nggak akan berani head to head. Kedua, muslimin bersatu mengepung benteng. Ini bentuk usaha yang dikerjakan manusia. Ketiga, Allah tanamkan ketakutan ke dalam hati mereka. Dan Allah hancurkan mereka.
Mereka akan hancur dengan ketakutan yang Allah tanamkan di hati mereka. Lalu tugas kita apa? Memunculkan sebab-sebab ketakutan itu. Dengan apa? Terus mendekat padaNya, jangan jauh dariNya.
Kabar gembiranya, Allah hadirkan Ramadhan untuk kita. Allah berikan kita kesempatan untuk terus mendekat, mereka akan takut saat muslimin kuat keimanannya, lalu bersatu.
Jadi, yuk terus munculkan sebab-sebab ketakutan itu.
Lanjutkan tilawah kita, lanjutkan tadabur kita, lanjutkan amal-amal terbaik yang makin membuat kita dekat dengan Rabb kita. Terus doakan saudara-saudara kita di Tanah Para Nabi. Jangan lelah kirimkan bantuan untuk mereka lewat lembaga yang kredibel. Jangan lelah kisahkan perjuangan dan keutamaan penduduk Bumi Syam pada generasi penerus. Jangan lelah mengabarkan kondisi saudara-saudara di Gaza pada dunia.
Siang selepas perkuliahan Akademi Siroh, angin berhembus cukup kencang, mengoyak ranting dan dedaunan, berguguran.
Semoga Allah segera hembuskan ketakutan ke dalam hati zionis dan antek-anteknya, hingga mereka pun berguguran bak dedaunan.
فَاعۡتَبِـرُوۡا يٰۤاُولِى الۡاَبۡصَارِ
22/02/26 | Lintasan Ramadhan
Ramadhan dan Rindu
3-4 Ramadhan 1447
Ada rasa bahagia yang tidak bisa disembunyikan ketika kemarin bertemu kembali dengan teman-teman Kuttab. Setelah hampir satu pekan libur, perkara tidak sengaja bertemu di jalan saja bisa jadi pengobat rindu. nyess rasanya.
Atmosfer rindu di Ramadhan ini memang begitu kental dan tebal. Terlebih pada orang-orang yang pernah hadir di perjalanan hidup kita. Orang-orang yang pernah kita jumpai, pernah duduk saling berdiskusi dari hal receh sampai urusan peradaban. Bahkan tentang orang-orang yang belum pernah kita lihat langsung, tapi punya pengaruh begitu besar dalam hidup kita.
Dan memang, kerinduan paling besar justru pada mereka yang belum pernah kita temui dengan mata tapi sudah terlebih dahulu menyapa dengan cinta, memberi cahaya untuk jiwa.
Rindu pada mereka, semoga makin menguat di dawamnya do'a-do'a. Rindu pada mereka, semoga makin meluruskan niat dalam meneruskan bakti dan cita-cita. Terlebih rindu pada satu-satunya yang terbaik, yang paling memikirkan kita bahkan di masa-masa akhirnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Rindu padanya, semoga makin menuntun kita untuk kokoh menapaki kembali jalan juang yang pernah ditapakinya.
Benar adanya Gurunda Ust Budi Ashari menyampaikan, Ramadhan adalah puncak rindu dan mesra seorang hamba pada Penciptanya. Sebuah nikmat mahal saat bisa merasakan kerinduan di hati.
Semoga segala rindu yang hari ini membuncah hebat, mengundang turunnya hujan Rahmat dari yang Maha Menerima Taubat.
20/02/26 | Lintasan Ramadhan
رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَـنَا وَلِاِخۡوَانِنَا الَّذِيۡنَ سَبَقُوۡنَا بِالۡاِيۡمَانِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِىۡ قُلُوۡبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا رَبَّنَاۤ اِنَّكَ رَءُوۡفٌ رَّحِيۡمٌ 59 : 10
Sebersit Rasa
2 Ramadhan 1447
Tadi malam saat menyimak dawuh salah dua guru kami, ada yang mengganjal hati.
Kata beliau, jangan bicara peradaban jika tidak mau membaca.
Dorr!
Malu, karena tentu masih sangat jauh dari progres. Menginginkan peradaban itu kembali bercahaya, tapi dengan persiapan seadanya. Relasinya kuat sekali dengan apa-apa yang sedang diupayakan saat ini, namun ya lagi-lagi rasanya belum sepenuhnya, belum seutuhnya menghadirkan upaya terbaik.
Namun, ada satu kalimat yang kembali menggugah untuk terus berupaya, kalimat itu juga ku temukan di episode 1 Series Ramadhan Yaqeen Institute yang tiba-tiba muncul selepas menyimak dawuh dua guru kami.
Tentang Rahman dan Rahim-Nya.
Lalu apa kaitannya?
Segala sesuatu kebaikan itu karena Rahman-Nya yang begitu melimpah dikucurkan untuk manusia di bumi. Lebih-lebih muslimin yang Allah berikan khusus tambahan wajib, Rahim-Nya.
Jadi, kalau hari ini Allah masih berikan kesempatan bernafas untuk kita, berarti masih ada kesempatan untuk jadi bagian dari kembali gemilangnya peradaban ini nanti. Masih ada kesempatan untuk berupaya semaksimal yang bisa kita lakukan.
Tentu dengan pertolonganNya, dengan kasih sayangNya, dengan Rahman dan Rahim-Nya. Manusia mana bisa jalan sendiri.
Tentu karena peradaban ini hal besar, tidak diupayakan dengan cara-cara yang kerdil.
Mulai dari mana? BACA.
Gimana? betapa baiknya Allah, tinggal kita mau atau tidak memperjuangkannya. *Oiya, ada serangkaian ayat yang sama dan diulang-ulang di dua kajian tadi, dan makin-makin meleleh karena saking baiknya Allah dibanding dengan upaya kita, aku tepatnya hiks
55 : 1-4
ntms
19/02/26 | Lintasan Ramadhan
Seberkas Cahaya
Kalau dipikir-pikir, kita dibanding Abu Thalib -tentang kontribusi untuk dakwah Nabi dan Islam pada umumnya- tentu jauh sekali.
Abu Thalib yang menjaga dan mengasuh beliau di masa-masa pertumbuhan beliau sampai beliau diangkat jadi Nabi dan Rasul. Abu Thalib yang berdiri kokoh saat banyak cacian, makian, datang kepada Nabi. Abu Thalib garda terdepan Nabi.
Siapa kita dibanding Abu Thalib, tapi Allah hadirkan cahaya itu di hati kita.
Di kelas Akademi Siroh bulan lalu, MC menutup sesi 1 dengan kalimat,
Siapa kita dibanding Abu Thalib, tapi Allah berikan hidayah itu kepada kita. Maka syukuri hidayah itu.
Ah iya, ujian kita tentu tak sebanding dengan perjuangan Abu Thalib. Betapa mahal.
Jaga terus nyalanya, ya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ Ali Imran : 8
18/02/26 | Lintasan Ramadhan
Resonansi
Beda frekuensi, maka akan beda caranya memandang kerja kehidupan.
Kalimat itu ada dalam buku Untukmu Generasi Shalahuddin yang ditulis Ustadz Edgar Hamas, pembukaan bab 2, halaman 109 dengan sub judul Menanam Harapan.
Apa yang terpikir kala membacanya?
Jika orangtua Shalahuddin berbeda frekuensi, maka mungkin tak akan ada Shalahuddin, tak akan ada pembebasan Baitul Maqdis, tak akan ada buku dengan judul tadi, dan tidak ada tulisan ini.
Tapi, Shalahuddin lahir dari kedua orangtua yang senantiasa teguh menjaga visi. Mereka dipertemukan karena visi yang sama, frekuensi yang sama. Hingga cara yang sama dalam memandang kehidupan.
Aku jadi ingat kembali tulisan MasGun di buku beliau, entah tepatnya di Hujan Matahari atau Lautan Langit.
Orang-orang dengan tujuan yang sama akan dipertemukan dalam perjalanan.
Lalu aku ingat kembali kalimat Ustadz Budi Ashari di Muqodimah Modul Kuttab, kalimat yang tidak sekedar tulisan, tapi ia punya ruh untuk menggerakkan.
Bermodal Keyakinan, Berharap Kebesaran.
Jika para penggagas Perang Salib nyatanya adalah mereka yang terus menjaga visi untuk menyatukan, meski dalam konteks yang salah, maka kita jauh lebih berhak dan pantas menggenggam dan menjaga visi itu. Apapun visi yang sedang kita perjuangkan.
Jadi, jaga terus nyalanya. Sampai suatu hari Allah izinkan ia menerangi lebih banyak cita-cita.
03/01/26
Yang Pertama Setelah Sekian Lama
Ada satu kalimat di baris-baris akhir halaman 195,
Menikahlah dengan cara-cara paling tentram yang dapat engkau lakukan.
Kalimat itu, aku termenung sejenak saat membacanya. Entah bagaimana kuat medan magnetnya, silakan tafsirkan sendiri.
Setelah waktu-waktu panjang tanpa buku-buku beraliran roman pernikahan, buku ini menjadi yang pertama. Setelah sekian lama.
Ada fase dimana keinginan untuk membaca atau membahasnya pun tidak ada, bukan karena takut, tapi rasanya seperti jalan di tempat. Segala narasi perjuangan sudah terasa diupayakan, namun nihil. Hingga tak ada lagi daya juang untuk meraihnya. Sampai muncul ujaran yang tak bertanggungjawab,
"Ya Rabb, aku sudah belajar, aku sudah tahu ilmunya, tapi kenapa tidak juga datang ruang untukku mengamalkannya?"
Terasa sombong sekali. Padahal bisa jadi karena memang bekalku masih sangat kurang hingga tak juga Allah hadirkan ruang amal itu.
Pernah di suatu titik, aku menyerah, muncul segala macam narasi dalam pikiran, mungkin memang bukan jalanku, mungkin tidak dengan amal itu. Mungkin terlalu jauh, mungkin terlalu muluk-muluk cita-citaku, mungkin, mungkin, mungkin.
Lemahnya manusia, aku menyadari itu. Dan, Allah sebaik-baik tempat kembali setelah segala asa dan rasa tumpah tak bertepi.
Jadi, jika hari ini ada yang merasakan hal yang sama, terima dulu lemah dan bodohnya diri. Di perjalanan yang seperti hitung mundur ini, memang tidak bisa dipungkiri bisikan dari segala arah muncul, bahkan dari hati kita sendiri, yang menggoyahkan cita-cita, menidurkan kembali himmah mulia.
Jangan lelah ya. Karena memang tak sebercanda itu.
Sebelum tulisan ini kututup, ada rangkaian kalimat di halaman 190 yang kali ini kusadurkan dengan harap membangunkan kembali himmah yang sempat menciut itu.
Wariskanlah cita-cita generasi kita kepada anak-anakmu. Sebab pernikahan adalah cara terbaik mewariskan cita-cita itu.
Barakallahufiik Ustadz Amar atas tulisan yang membuka kembali daya juang di lajur yang tepat.
01/01/26
Sebuah pencapaian di akhir tahun 2025, wkwkw
Setelah 9 tahun mengikuti di tumblr, baca karya-karyanya yang menemani bertumbuh masa-masa kuliah dan setelahnya, sempat daftar jadi admin usahanya Mbak Apik karena pengin belajar langsung ke Masgun dan Mbak Apik (tapi nggak jadi karena harus pulang sejenak kala itu🙃), akhirnya ikut CC karena kayaknya akan mudah akses menyerap ilmu dari beliau berdua, dan hari ini tumblrku difollow beliau🤣🎉🎊
Semoga Allah jaga selalu mas dan mbak sekeluarga Langitlangit✨
Terima kasih masgun dan mbak apik 😆 hihi
@kurniawangunadi @ajinurafifah
30/12/25