Barangkali ia serupa nasib yang saling bertaut. Mirip sepasang kehendak yang saling menggelayut. Atau semacam akhir cerita yang mengumbar-umbar pasang surut.
T.A.P (16/10/17)
Phantogram Three

#extradirty
Today's Document

@theartofmadeline
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
I'd rather be in outer space 🛸
Lint Roller? I Barely Know Her
noise dept.
Fieri Frames

Product Placement

blake kathryn
Keni
Claire Keane

Kiana Khansmith

izzy's playlists!
$LAYYYTER
No title available
tumblr dot com
Show & Tell
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from Vietnam

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Austria
seen from India
seen from Argentina

seen from Italy
seen from Brazil
seen from Australia

seen from Malaysia
@laronterbang-blog
Barangkali ia serupa nasib yang saling bertaut. Mirip sepasang kehendak yang saling menggelayut. Atau semacam akhir cerita yang mengumbar-umbar pasang surut.
T.A.P (16/10/17)
Seusai Salah Satu Konser Silampukau di Jogja
Orang yang pertama kali mengenalkanku dengan mereka adalah seorang perempuan. Entah apakah “mengenalkan” adalah istilah yang pas. Kejadian sebenarnya adalah dia menulis tentang mereka di media sosial. Lalu aku membacanya “tanpa sengaja”. Lantas mulai mengandalkan paman Google untuk mengumpulkan seluruh tautan di dunia yang membahas tentang mereka.
Ujungnya adalah perjumpaanku dengan “Puan Kelana” (jika penasaran, ketiklah kata kunci itu di Google dan sempatkan menyerap informasinya). Nuansa lagu itu memikat. “Puan Kelana” segera membuatku jatuh cinta. Dari “Puan Kelana” aku beranjak ke “Malam Jatuh di Surabaya”, lalu ke nomor-nomor lainnya. Sejak itu waktu berlalu dengan bertambahnya wawasanku tentang seberapa lekat dan jauh sebuah lagu bisa menyajikan nuansa (dan cerita). Aku kekurangan stok kata- kata untuk menguraikan apa yang ku maksud dengan “nuansa”. Mungkin lain kali bisa kuceritakan.
Tapi begitulah, tahun berlalu. Dan malam ini adalah kali pertamaku berjumpa dengan mereka secara langsung. Entah apakah “berjumpa” adalah istilah yang pas. Kejadian sesungguhnya adalah mereka di panggung, dan aku duduk menyaksikan mereka di barisan penonton. Pertunjukan usai menjelang tengah malam.
Beberapa menit kemudian nasib membawaku ke sebuah warung. Duduk menghadap secangkir kopi instant sambil menuang sekelebat kata-kata yang muncul seusai konser lewat layar gawaiku. Aku menulis tulisan yang sedang kamu baca ini. Sayangnya aku tak tahu poin utama apa yang hendak ku sampaikan. Jika aku tahu, mungkin salah satunya adalah tentang betapa nasib bisa berhembus ke arah yang berbeda melalui kejadian kecil yang dilakukan seorang perempuan. Entahlah, haha jangan menganggap serius tulisan ini. Tapi kopi instant-ku baru saja habis. Sudah lewat tengah malam dan aku tak punya alasan yang bisa menahanku tetap di tempat ini. Mungkin cukup dulu. Jika kamu termasuk orang yang tak sengaja membaca tulisan ini sampai akhir, aku mohon maaf, hehe. Dan mohon do'anya semoga tulisan-tulisanku kelak bisa lebih berfaedah dari ini. Aamiin. (Tidak ada paksaan untuk ikut mengetikkan Aamin dalam tulisan ini)
(16/10/17)
(15/10/17)
Selintas Sepintas #1
T : Bagaimana ya rasanya menghirup kenangan?
Y : Maksudmu?
T : Ya menghirup. Seperti menghirup oksigen. Aku penasaran rasanya memenuhi paru-paruku dengan kenangan yang menguar di udara..
Y : Haha ada-ada saja. Aku hampir tak pernah bisa mengertimu
T : Sungguh? Padahal itu sepotong kalimat yang sederhana
Y : Jika kau di posisiku, dan seseorang seperti "kamu yang sekarang" tiba-tiba muncul mengusik hidupmu, apa yang akan kau lakukan?
(13/10/17)
Laron Terbang Di Sekitar Lampu
Laron terbang di sekitar lampu. Sementara di jendela sana udara berwarna abu-abu. Ragu.
(11/10/17)
Seekor Kunang-Kunang Laut
Seekor ikan kecil naik ke daratan. Karena jenuh dengan air dan segala remah-remah kepekatan lautan, ia menyamar menjadi kunang-kunang. Ia girang sekali ketika merasakan rasanya terbang dan meniup-niupkan nyala dari tubuh kecilnya. Saking senangnya, ia melajukan dirinya dengan cepat ke segala tempat yang dulu hanya sempat melintas di angan-angannya. Ke beranda rumah-rumah, ke meja-meja bundar yang berserak di bawah bintang-bintang di tepi pantai. Tapi sementara waktu berlalu, segera ia dihinggapi kebosanan baru. Maka di pantai itu ia membuang pandangannya ke ujung tiap ombak. Rindu ia pada segala kabar di dalam sana. (04/10/17)
(02/10/17)
Hari Pertama di Bulan Kesepuluh
Hari pertama di bulan kesepuluh, rasa malas itu menjangkit. Sebentar pikirannya jernih, sebentar kemudian lirih. Hatinya begitu mudah tergoda gelisahnya sendiri. (01/10/17)
Si Muram dan Si Penyeduh Kopi
Ada yang pergi dan menunggu langit jadi muram lagi. Ada pula yang bersemangat sekali menyambut rintik, lalu pergi menyeduh kopi. Suatu saat keduanya bertemu di beranda. Entah bagaimana mulanya, mereka kemudian bersepakat untuk saling memaklumi melalui cerita. (25/09/17)
Kita Sebagai Bocah Kecil
Siapakah kita sebagai bocah kecil ? Yang pening. Dan khawatir atas nasib harapan yang terlanjur kita pilih.
(20/05/17)
Yang Terjerat Akar
Ada yang bergumam. Dulu ia pernah menyerahkan seluruh hidupnya kepada sungai yang mengalir. Sementara tubuh dan pikirannya terjerat akar-akar pohon yang ditanamnya sendiri. Sehingga sungai tetap mengalir. Namun ia belum bisa pergi.
(10/05/17)
(26/04/17) Seberang Masjid Siswa Grha, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Sejumlah kendaraan melintas di jalanan yang digenangi riak air : berusaha menjangkau tujuan masing-masing.
Kota Itu
Kota itu dihuni beraneka makhluk. Dari yang tampak hingga yang tidak. Yang berwujud hingga yang masih mencari bentuk. Namun nyaris seluruhnya punya kebiasaan yang sama : mereka suka bernyanyi dan menyendiri.
Maka kota itu minim interaksi. Minim basa basi, tetapi ramai oleh dengung nyanyian dari ruang-ruang pribadi. Dengan demikian penduduk kota itu konon menyimpan rasa sepi. Tapi secara diam-diam pula saling peduli.
(23/04/17)
Senja dan Serigala
Selepas serigala pergi, senja menjadi sepi kembali. Karena serigala berjanji akan mencari pagi. Dan pulang kepada senja lain kali.
(18/04/17)
Hari Hidup Si Gajah
Siang itu si Gajah berdiri sendirian di bibir pantai. Ia menghadapkan wajahnya ke laut. Tubuhnya bersiap memeluk kabar apapun yang dihantarkan angin. Telinganya menyimak debur ombak.
(14/04/17)
Ikan Kecil Menjumpai Lautan
Seekor ikan kecil bertanya, “Kapan waktu yang tepat untuk mendewasa?” . Kata lautan, “Nanti pada waktunya”
(11/04/17)
Suatu Ketika, Seekor Beruang Amnesia
Ada seekor beruang yang tinggal di bawah tanah. Ia hanya naik ke permukaan ketika butuh memasok makanan dan mengunjungi teman-temannya. Atau ketika ia bosan dan ingin menyaksikan matahari terbenam.
Suatu hari, sepulang dari melihat matahari terbenam, tiba-tiba saja ia lupa jalan pulang.
(06/04/17)