Youth Center Yogyakarta // Rabu-Ahad, 6-10 Agustus 2025
dari dauroh ke dauroh, katanya. rihlah 'ilmiyyah, sebutnya. perjalanan kemarin bukan sederhana. masing-masing kepala miliki cetak tangkapan perasaannya.
lima hari tidak dimulai dari hari pertama. lima hari dimulai dari jauh sebelumnya. pemberkasan, penugasan, pra-kegiatan.
mengejar sertifikasi indeks jati diri sebelum akhirnya pendaftaran diperpanjang. dua belas orang kompakan salah format surat pernyataan. sempat sebal karena harus direpotkan dengan menjawab pertanyaan dan menyesuaikan jadwal wawancara ditengah hp mati dan bawa laptop kemana-mana. sampai akhirnya berhasil wawancara tatap muka, tanpa harus sembunyikan segala rasa haha.
dua perempuan duduk bercengkrama, berawal dari topik-topik utama, beralih cepat ke topik menarik lainnya. dari pertanyaan yang paling sulit dijawab sampai rencana peran setelah naik jenjang dan perjalanan hidup setiap kita.
"kamu orangnya teguh pendirian, ya, wa?" tertegun sebentar dan tertawa. setelah sekian drama hidup datang silih berganti, aku diingatkan kembali. agak kaget karena pada obrolan pertama dengan orang baru saja, ternyata kesan ini cukup terasa. aku bahkan sudah lupa. dasar keras kepala. si kekeuh mempertahankan diri untuk jangan sampai segala kesibukan ini mengganggu tujuan utama merantau kesini. tadinya takut menyampaikan bahwa aku tak segan berhenti, tapi ya gimana ga bisa bohong akhirnya tetep keluar sendiri wkwk ampun senior mau beres-beres tas punggung dulu.
"apa aku mundur aja, yaa" tak terhitung puluhan kali berulang. memutuskan bertahan karena fomo dan yaa kapan lagi ramean. pun melihat teman-teman semangatnya mengherankan. kalau tak cukup alasan untuk maju ke depan, setidaknya buat-buatlah alasan untuk tak mundur ke belakang.
beli tiket kereta jauh-jauh hari, misal. meski hanya menjadi saksi tak ikut meramaikan. haha warga lokal. maka aku siasati dengan menjadikan ia sebagai salah satu alasan pulang. hei, ini rekayasa (sosial)!
masuk pada hari-hari dikejar penugasan. waktunya cukup panjang, hanya niatnya kurang pancang. aku dengan serpihan rasa yang berantakan. aku dengan idealisme tak bisa menulis kebohongan. kalau menulis dengan jujur, mungkin isinya kemarahan. hal-hal yang tidak diharapkan. berpikir seribu kali pun, tak aku temukan alasan.
berakhir selalu mengulur waktu untuk mengerjakan. huh, mana bentuknya microblog, harus tulis edit upload. yasudah, pilihan terbaik adalah mengungsi ke salah seorang teman. demi selesai penugasan meski harus ngomel bersama, setidaknya ga ngomel sendirian haha.
satu microblog refleksi selesai dengan penuh kelegaan. menumpahkan cerita pada takarir gambar menjadi pengingat akan langkah awal. satu microblog lagi masih tertahan menunggu balasan narasumber atas pertanyaan. jadi refleksi kedua yang lumayan menghidupkan.
bermalam dengan bedah buku. untungnya kita ramean. tak perlu luas publikasi pun kuorum peserta terpenuhi. yapping setengah sadar apa aja yang tadi dikeluarkan. malah bawa topik lain sebagai pendukung tapi kek jadi topik utama. yaudah gapapa untung cuma butuh satu dokumentasi dan forum berjalan tanpa hadir panitia juga penilaian.
selesai sudah masa penugasan. waktu yang cukup lenggang menunggu kelulusan dan teknis wawancara diumumkan.
"Ini adalah perjalanan, Bukan hanya menapaki bumi, tapi juga menyelam ke dalam diri."
setelah wawancara akhirnya tiba juga hari-hari penantian keberangkatan. beberapa teman mulai serius menyiapkan 'bekal' mantuba dan diskusi. sedang aku hanya sibuk mengoreksi diri.
sampai sebelum hari pembukaan, teman-teman sudah memulai perjalanan dan menginap semalam. aku bahkan belum menyiapkan segala keperluan. esok harus mengejar commuter line siang agar sampai lokasi tak payah kedandapan.
satu teman kami, berangkat dari kota hujan. qadarullah ia terkena dampak insiden krl anjlok di stasiun jakarta kota. hingga tertinggal kereta bengawan yang sudah dipesan jauh hari. lalu cepat-cepat membeli tiket keberangkatan terdekat yang masih memungkinkan.
sampai juga pada tenang jogja. mengumpulkan berkas, menata barang, sembari menata hati. siapa sangka rombongan dua belas orang berhasil melalui satu demi satu tantangan. aku benar-benar mengira akan ada satu dua orang menunda langkah , ternyata salah. kalau terjadi pun, tak apa normal saja.
pembukaan acara meresmikan mulainya pencarian cahaya. oleh jiwa-jiwa yang semalam ada pada genggaman-Nya. kita bangun dan masih bernyawa. Allah kembalikan lagi agar kita selesaikan misi turun ke dunia, menjadi khalifah di bumi-Nya. artinya selalu ada kesempatan bertaubat bagi manusia, entah aib apa yang terlaku pada harinya. ketika nafas itu masih Allah berikan, maka keputusasaan bukanlah pilihan.
peran-peran penting tak selalu menjadi tokoh utama. mungkin ia hadir sebagai pembasuh luka. mungkin ia berwujud tanpa riak suara. mengatur permainan sedemikian rupa. bersiap menuju waktu kemenangan tiba.
harapnya, pulang tidak sia-sia. pulang membawa senjata. tidak dalam kapasitas yang sama. punya pisau tajam siap guna. misykat academia, tempat kalian mengasahnya.
orientasi, mulai berkenalan seluruh peserta. menyepakati perjanjian pada papan lembaran. menuliskan momen berkesan sebelum datang acara. cerita terbaru dari setiap manusia. sayang, tidak ada waktu saling berbagi cerita.
penjelasan singkat terkait agenda empat hari ke depan. tugas-tugas yang harus kami selesaikan. amal yaumi dan hafalan. setelahnya mulai pada melingkar. menentukan super hero panutan. kamilah papa zola! musuh kebathilan, kekasih kebenaran.
apel pagi. petugas dadakan, teks susunan berantakan, dan suara tertahan saat menyanyikan hymne gerakan. malamnya jadi wajib dihafalkan.
sesi demi sesi materi saling berkesinambungan. biasanya dibuka dengan materi keislaman. konsep ummah dan iqāmatud-dīn. Ustadz Deden A. Herdiansyah menuliskan dalam bukunya, "Revolusi Sosial Muhammad" tentang 5 langkah Rasulullah dalam membangun peradaban.
langkah pertama, pendidikan. demi menyiapkan pribadi-pribadi muslim yang tangguh. kebangkitan selalu diawali dengan bangkitnya keilmuan. Rasulullah menempa diri dengan berbagai ilmu pada masa pra-kenabian. mengikuti kafilah dagang, menjadi amir safar, memunguti anak panah musuh yang tidak kena sasaran, menjadi qawwam dalam rumah tangga. empat puluh tahun lamanya.
masa persiapan ini bahkan lebih lama dari masa bertugas Rasulullah. hanya dua puluh tiga tahun, sepuluh tahun di makkah dan tiga belas tahun di madinah.
pendidikan ini pun terbagi menjadi dua langkah; menyiapkan Rasulullah dan menyiapkan para sahabat. tak sembarangan pendidikan yang diberikan untuk sahabat. pendidikan terbaik untuk membentuk generasi terbaik.
maka tetapkanlah diri kita, dalam usaha menghidupkan ilmu. ihyā' 'ulūmuddīn. pada diri sendiri, pada orang lain yang kita peduli.
langkah ketiga, membangun kedaulatan. langkah ini mungkin dilakukan apabila sudah terpenuhi pilar pertama, keilmuan. sebagaimana saat Rasulullah hijrah ke madinah. mempersaudarakan kaum ansar dan muhajirin, membangun masjid, menyusun piagam madinah, dan membangun pasar —pusat perekonomian.
Abdurrahman bin Auf saat hijrah ke madinah, ia meminta ditunjukkan letak pasar dan memulai perdagangan. memang ia pandai berdagang. sampai menjadi salah satu sahabat Nabi paling kaya.
maka kenalilah maziyah kita. kelebihan yang Allah ciptakan untuk diri kita. sehingga merasa mudah dan senang saat melakukannya. pun umat islam musti leading di berbagai bidang.
< اعملوا فكل ميسر لما خلق له >
langkah keempat, fase konfrontasi. setelah menempuh pendidikan dan memiliki kedaulatan, sudah siap merespon kekuatan eksternal. kewaspadaan harus ditingkatkan.
pada kisah kafilah dagang Abu Sufyan yang lolos dari sergapan, kewaspadaan dan kejelian menangkap informasi sangat berperan penting. informasi bisa kita dapatkan bahkan dari 'kotoran' hewan.
langkah kelima, perluasan wilayah. fathu makkah.
setiap materi ditutup dengan post test pada sesi MCR. materi selanjutnya mulai beragam. beberapa sengaja dibolak-balikkan. studi gerakan islam, lalu diselingi analisis sosial dan rekayasa sosial, barulah diskusi panel menghadirkan narasumber ketiga gerakan.
mulai lebih hidup pada sesi analisis sosial. pengantar yang cukup panjang memahamkan goals dari setiap materi pada dauroh. pada materi problematika ummat di dauroh marhalah satu, kita hanya dikenalkan. sadar akan masalah. bisa memetakan, ini adalah masalah atau bukan masalah. DM 1 membentuk cara berpikir, jiwa individual kolektif, dan progresif. bahwa tugas kita membangun perubahan dengan amal-amal jama'i.
kita tau korupsi adalah masalah, tapi gatau akarnya. maka materi analisis sosial ngajarin kita mengindentifikasi akar permasalahan. apakah ini masalah pribadi atau sosial? apakah historis atau struktural? siapa penyebabnya? siapa yang diuntungkan? siapa yang dirugikan? bagaimana penyelesaiannya?
bersambung dengan materi setelahnya, rekayasa sosial. setelah mengetahui kondisi sosial maka perlu adanya penyelesaian masalah sosial. mengolah, mengubah, membawa masalah tersebut pada idealisme kita. membuat perubahan sosial dengan merancang sebuah rekayasa sosial. riset data, kenali hambatan, kenali peluang, dan susun solusi berdasarkan langkah sebelumnya.
begitulah hari kedua berjalan lima materi tersampaikan.
esoknya olahraga jalan keliling lokasi. dibebaskan silakan atur sendiri rute dan waktunya. kalian sudah mau jadi 'abeduwa'. konseptor, bukan lagi eksekutor yang butuh arahan dan arahan. sebelum bersiap kelas kami berfoto dulu di pelataran api unggun. satu, dua, dan ... tiga.
lalu apel pagi lagi. pakaian batik berpadu kain hitam berbaris rapi. mendengarkan amanat pembina apel sembari datang satu persatu pemateri sesi pagi.
diskusi panel studi komparasi gerakan mengundang tiga narasumber perwakilan dari NU, Muhammadiyah, dan Wahdah Islamiyah. membahas tentang strategi dakwah dan peran gerakan dalam membangun Indonesia Madani.
materi setelahnya sudah masuk ke-KAMMI-an. siang hari jeda lebih lama menunggu pemateri yang belum tiba. sudah tak sabar membahas materi TFGK, Tafsir Filosofi Gerakan AMMI.
daurah terbaik adalah daurah yang membuat peserta mendaurahi diri sendiri.
sesi sore berlangsung lama jauh melebihi waktu asar tiba. sayang sekali masih banyak filosofi yang belum dibedah. sepanjang sesi hanya cukup untuk memaparkan prinsip dan paradigma gerakan saja.
saking lama ditambah telat mulainya, bedah buku jadi tiada.
malamnya, sesi yang sering diceritakan senior sebagai sesi paling seru. salah satu sesi yang membuat mereka berpesan, siapkan masalah komisariat untuk dibawa ke forum. sesi curhat antar komisariat.
bermula dari apa yang terlintas saat mendengar kata KAMMI. berlanjut pada hal-hal yang kalian dapatkan di KAMMI. dan hal-hal yang mengecewakan dari KAMMI.
PD Cianjur menguasai panggung. cerita tentang pemilihan ketua dan sistem dibaliknya. PD Bogor mengundang air mata. keluhan tentang bagaimana seorang muslim berlaku seharusnya. PD Kuningan memanasi ruangan. sistem dan dukungan partai yang tak terelakkan. PD Soloraya melempar keresahan. kampus dan dinamika perpolitikan. PD Sleman mencari jawaban. ketegangan antar organisasi padahal satu tujuan. PD Jaksel ada apa?
kami sibuk mendengarkan. dua belas orang tumbuh di ruang komisariat yang sama, tanpa banyak campur tangan daerahnya. masalah yang tak sepelik mereka. jadi merasa tak ada apa-apanya. dan sedikit menyesal sebenarnya, tak ikut berbagi cerita.
sesi ini disebut topic, feeling, and respond. aku mencatat ilmu baru terkait cara kita merespon sesuatu. respond to topic and respond to feeling.
misalkan saat sedang menggoreng pisang. baunya menguar sampai luar. mengundang seorang teman bertandang. "waaah enakk banget nih kayaknyaa" 😋
kita bisa saja merespon topiknya, atau perasaan dibaliknya. ketika menjawab, "iyaa emang enak" 😌, artinya kita sedang merespon topik. bahwa memang pisang goreng ini enak. cukup. tanpa ada tendensi perasaan di dalamnya.
lain waktu kita akan memberi jawab, "kamu maau?" 😏, inilah saat kita merespon perasaan yang terkandung di kalimatnya. peka terhadap kode, bahwa ia aslinya hanya ingin mencicip pisang gorengnya.
pemahaman ini membekas pesan bahwa pada beberapa hal menyakitkan, kita hanya perlu iyakan topiknya, tak pedulikan perasaannya haha. jangan apa-apa diambil hati! sederhananya.
meski bisa saja kita gabungkan kedua responnya, "iyaa enak bgt, nih, kamu maau? 😄, ah betapa baiknya. (semua akan pret pada waktunya). begitulah bang Sulaiman Taher menjelaskan pada sesi analisis sosial sebelumnya.
esok paginya berkumpul di kelas pagi buta. demi mendengarkan mas mas muhasabah merangkai kata. teklak tekluk ngantuk jadi hiasan suasana.
setelah sarapan berkumpul lagi di titik utama. berbaris mengenakan pakaian olahraga. mengakui kesalahan dan melipatgandakan, hitungan push up di lapangan.
selanjutnya lari keliling area lokasi penginapan. 25 menit untuk jarak 2 km. tanpa terputus barisan. pergi bareng sampe bareng. aku meragukan aku. duh, jadi beban kelompok, pikirku. bisa ikut lari ga, ya? kalau ga bisa kan gapapa juga. ih tapi penasaran, kali aja aku bisa. jiwa nekatku membara. eh takut bgt kalo nanti gagal selalu tersambung karna aku ga kuat di tengah jalan. beneran kepikiran mau mundur aja. takutnya, kurangku mendzolimi pergerakannya.
pada akhirnya tetap ikut juga. ternyata tak seburuk bayangan. di tengah jalan, melihat yang sempurna berjalan, oh ternyata aku masih bisa mengimbangi langkahnya. ternyata barisan terputus tak hanya aku penyebabnya. ternyata yang tumbang di lintasan bukan aku orangnya.
sampai sebelum kembali ke lapangan, kami saling menunggu rombongan. agar masuk kawasan dengan lengkap barisan.
woahh, tepat waktu! aku betulan jadi tak menyesal. untung saja memutuskan tetap dalam barisan.
setelah menghabiskan tenaga berlari, masih lanjut ke tiga pos permainan. team building games. membentuk kelompok baru dengan nama partai. psi, partai sholat isya. psd, partai sholat dhuha. dua rakaat dapat ......
permainan pertama, melewati jaring laba-laba. tak masalah, aku bisa melewati lubang mana saja. hanya tak bisa menahan beban dengan satu tumpuan. akhirnya benar-benar dibuat melayang.
permainan kedua, pesan berantai tebak gaya. tak masalah, aku hanya meneruskan gerakan. ambil posisi tengah agar tak membuat ataupun menebak gerakan.
permainan ketiga, menyusun prinsip gerakan. duh, masalah. lagi-lagi karena aku tak bisa berlari. sedang semua pasti dapat giliran. aku jelas katakan, "eh tapi aku ga bisa lari yaa". katanya, "iya gapapa" tanpa bertanya, kenapa? waw. kurangku diterima tanpa mereka harus tau alasannya. padahal bisa saja mereka menuntut aku harus bisa. atau mereka membuatku yakin aku bisa. atau mereka terus bertanya kenapa. tidak. semua tidak.
detik inilah, saat aku menyadari indahnya kita. pun menyadari salahnya aku mengira. kadang berpikir kekurangan kita akan menghambat kinerja, sibuk takut ga bisa maksimal salah satunya. ternyata masih bisa berjalan asal bersama.
tak apa tak sempurna. jadi kita apa adanya.
permainan terakhir, menjaga nyala. api lilin di tengah lingkaran dan air musuh di sekitar. seadanya sebisanya saja, sudah habis antusiasnya.
setelahnya beberes dan waktu singkat untuk diskusi dan latihan pentas seni. menutup kebersamaan dengan api unggun nanti malam. istirahat sebentar dari ketua ter-cheerful papa zola.
kumpul dan menentukan alur cerita. tembang dolanan usulan pertama. unik! pasti tak terpikirkan oleh lainnya. bumbu puisi agar masuk alur tema sepertinya menarik. duh, tapi mana puisinya?!
menyusun sekarang tanpa rasa rasanya hampa. menengok tulisan lama memangnya ada? oh! satukan saja potongannya. sepertinya bisa masuk ke alur tema menemukan cahaya. ga nyangka tulisan sambat pun berharga.
saatnya aktualisasi diri, dalam hati (semalem abis bahas ini). akhirnya buru-buru merapikan tulisan jadi satu. membagi tugas dan latihan berulang dari ular naga hingga cublak suweng. jujur seneng banget sambatanku bisa jadi alur cerita kalau disatukan dengan tulisan lainnya. seneng banget karyaku diakui keberadaannya.
dan malam api unggun pun tiba. kami berkumpul melingkari kobaran nyala. menikmati satu persatu pertunjukan pentas seni. menyantap hidangan dua bungkus nasi kucing. menutup acara dengan 'datang akan pergi' dan doa rabithah sebagai pengikatnya. salam-salaman tak lupa. malam terakhir bersama.
upacara penutupan pagi harinya. pembagian rapot, pembacaan ikrar, dan pesan-pesan dari ketua. ia sengaja menyendiri untuk meneliti berjalannya acara. lihat saja, hari-hari kalian disini lebih banyak dihabiskan untuk apa? merenung atau tertawa? saya tak tau kalian menertawakan apa. hal-hal yang memang pantas tertawa atau hal-hal receh tak berguna? (aw kamaa qaal)
banyak merenung lah untuk setiap laku kita. seperti pembukaan lalu, kita masih diberi napas untuk berperan sebagai manusia. semoga pulang dari sini sudah lumayan terasah pisaunya. peran-peran tak terlihat pun berharga.
langkah selanjutnya terserah kalian, tak ada pemaksaan. temukan. temukan sendiri alasannya. temukan sendiri jawabnya.
begitulah, penutup lima hari daurah marhalah 2 Sleman. tak menyangka pesan penutup mengingatkan perpisahan. bahwa hari kemarin begitu berharga, sebuah milestone dalam usaha memahami arah geraknya.
pun tak menyangka, hasil penugasan menjadi karya tulis terbaik dari lima puluh tujuh peserta. tulisan yang dikerjakan nanti-nanti dulu, nangis-nangis dulu, karena tak suka menulis kebohongan, karena lebih nyaman jujur dalam tulisan, karena sedang tidak baik-baik saja keadaan, dan hanya menghasilkan tulisan kemarahan, kekecewaan.
membiarkan diri sampai menemukan racikan kata penuh kelembutan. halah.
tamma bihamdillah, selesai sudah perjalanan. (udah ga kuat)
sepekan berlalu dan masih terjebak istimewa-mu. ah, jogja memang terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.
[ Galeri Foto DM 2 Sleman ]
[ 04.50 // Jakarta, 15 Oktober 2025 ]
butuh dua malem ga tidur dan tambahan waktu lain buat rampungin tulisan ini :) sakit kepala sekaligus lega kepala. ngerasa masih banyak banget kurangnya tapi udeh ga kuat mengejar sempurna wkwkw. makasih buat yang bertahan baca sampe akhir, aku aja cape bacanya :)
masih banyak draft tulisan lain di kepala tapi entah kapan nulisnya. aaaa kangen bgt nulis beginian haha.