I wanna mute my overthinking.
YOU ARE THE REASON
ojovivo
Jules of Nature

titsay

★
RMH
occasionally subtle
Three Goblin Art
Cosmic Funnies
AnasAbdin

Product Placement
will byers stan first human second

@theartofmadeline

shark vs the universe
Show & Tell

izzy's playlists!
Monterey Bay Aquarium

blake kathryn

JBB: An Artblog!

❣ Chile in a Photography ❣
seen from United States
seen from Greece
seen from Canada

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Liechtenstein
seen from United States
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Philippines
seen from Spain
seen from United States

seen from Hungary
seen from Gibraltar
seen from United States

seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from Canada
@leafletofmind
I wanna mute my overthinking.
Aku ingin menulis banyak hal hari ini. Namun, aku sendiri merasa gelisah kalau melihat akunku yang satu ini, hanya berisi kesedihan.
Seolah nestapa tak membuat ujung yang pasti.
Aku memikirkan banyak hal, bahkan mungkin menganggap kalau semuanya itu perlu dikeluarkan.
Menyesakkan.
Aku memastikan bahwa semua itu bukan masalah validasi. Namun, bisa saja itu hanya ilusi karena kebuntuanku terhadap labirin kehidupan.
Pada akhirnya, aku harus kembali ke sini. Entah mau atau tidak, aku menginjakkan kaki kembali di sini.
Aku juga mengalami banyak kebahagiaan. Hanya saja, dengan rasa yang berat, membuatku sering kesulitan merasakan hal itu dengan utuh.
Hidup ini seharusnya tak dihabiskan untuk menilai hukuman orang lain.
Ini menyakitkan. Kadang, keadilan memang bukan urusan makhluk dengan pemikiran sekecil ini.
Suatu hari seseorang berkata padaku, "Semoga berkah, ya."
Doa yang manis, doa yang baik. Namun, apakah dia tahu bagaimana keberkahan itu didistribusikan? Apakah mereka paham apa saja yang layak dipertaruhkan?
Padahal, kau hanya ingin membela diri
Tapi bagi mereka, itu adalah penyerangan bertubi-tubi
Butuh sekian tahun hingga menyadari
Bahwa ternyata kesendirian adalah kepastian
Bahwa darah yang mengalir tak menjamin keselamatan
Dari kehormatan hingga keadilan
Rasa aman di setiap hati diusahakan secara perseorangan
Lalu, bagaimana jika aku mengambil langkah mundur
Meski ikatan darah kita tak mengendur,
Semua tak lagi sama?
Tidak apa-apa, selama lukaku tak bertambah kita tak perlu bicarw
Tidak apa-apa, meski kedurhakaan lebih mudah tersemat dan aku masih bisa selamat
Aku sangat berharap kita tak perlu bertemu
Meski Tuhan menciptakan kehidupan lain setelah ini
Namun, aku juga tahu
Kita mungkin akan bertemu dengan cara yang lebih menyedihkan
Di fase itu, mungkin kita hanya mampu meyakinkan siapa yang sesat dan sengsara
Padahal sebelumnya, pembicaraan itu semua, perbaikan yang selalu ditawarkan, sudah pernah ada dan nyata.
Aku harap, kita benar-benar tidak berjumpa.
Aku sudah tak memandangmu dengan penuh cinta
Aku tak lagi merasakan sebagai diri yang bisa mengasihi
Karena semua itu pernah kuusahakan, tapi selalu berbalik menjadi anak panah yang mematikan
Aku.. mungkin sudah mati
Dan, kita tak perlu berjumpa lagi
Semoga kepura-puraanmu menjadi tak bisa apa-apa membawamu pada ketidakberdayaan yang nyata.
Semoga kedustaanmu akan realita beralih ke adegan nestapa
Semoga, kita benar-benar tak lagi bertatap mata
Sebagai apapun, apalagi keluarga
Bagaimana cara yang paling masuk akal untuk memaafkan seseorang?
Aku mempertanyakan ini sepanjang hidupku. Selama dua dekade, aku masih belum tahu bagaimana kondisi seseorang ketika ia sudah memaafkan.
Kalau membicarakan 'maaf', rasanya ingatanku tertarik kembali ke masa lalu yang menyakitkan. Di sana, banyak tangisan dan keputusasaan yang meraung dan melukai. Apalagi jika itu masalah dengan orang yang memilih untuk tidak merasa bersalah.
Rasanya, maaf adalah sesuatu yang sifatnya hanya formalitas. Orang-orang tidak benar-benar butuh untuk maaf ketika melakukan kesalahan, meskipun bahkan menghancurkan hidup orang lain.
Lalu, aku juga melihat pola, kalau yang sudah berlalu sebenarnya tak perlu diungkit lagi. Meski itu sudah terjadi, meski itu tetap membawa dampak yang sangat nyata.
Lalu, bagaimana seseorang itu memberi maaf? Saat seringkali orang-orang di luar sana tidak membutuhkan maaf dari orang yang dilukainya?
Karma adalah plot twist yang tidak perlu ditunggu. Karena terkadang, tidak semua cerita memilikinya. Namun bukan berarti balasan yang setimpal tak kan pernah ada, hanya seringnya tidak diceritakan.
Banyak cerita yang hadir untuk dinikmati. Bagaimanapun akhirnya, semua itu hanya tentang bagaimana perasaan ini lega dan mungkin berharap.
Cerita-cerita itu memang lebih baik hanya menjadi referensi untuk hidup, tapi bukan sepenuhnya bagaimana menjalankannya. Karena sifatnya yang subjektif, seringkali kehidupan seseorang dijadikan contoh sebab-akibat yang prosesnya sendiri lebih sering terjebak dalam kerumitan.
Manusia memang lebih mudah menganggap bahwa setiap sebab adalah garis lurus yang pasti dengan akibat. Padahal untuk sampai di titik tertentu, manusia menjalanib banyak belokan takdir yang akhirnya, bisa saja, tidak sesuai dengan rencana pengakhiran terbaik.
Aku membayangkan, bagaimana jika semua karma buruk ternyata justru tampak baik di depan semua orang? Padahal, Sang Penulis Kisah tak pernah memberikan semacam kepastian bahwa setiap duka yang terlampir di kisah hidup seseorang adalah bentuk hukuman.
Bahkan Ia selalu menyebutkan bahwa nafas selalu membawa kita pada ujian hingga pembelajaran yang tak bertepi dari Sang Pencipta. Di sini, aku menganggap, bahwa terkadang kita hanya melihat satu sisi yang ingin terlihat. Namun yang tak tampak, memang terkadang, lebih baik, tidak kita ketahui.
Fokus
Ternyata, menulis adalah kegiatan yang membuatku fokus. Bahkan, aku nggak suka nyambi kalau lagi nulis. Ini mengesankan, karena aku baru menyadarinya. Selama ini aku berpikir kalau aku sangat sanggup multitasking.
Aku jadi flashback, apa yang membuatku berpikir kalau aku multitasking?
Perjalanan kembali ternyata membawaku pada langkah-langkah yang menyakitkan. Aku merasa ada yang menusuk, tapi lambat laun justru merasa kalau mungkin ada luka yang belum kujamah atau identifikasi.
Lingkungan yang membuatku harus siap siaga adalah hal yang aku simpulkan. Aku nggak pernah bisa fokus, khususnya di rumah. Aku merasa perlu ambil bagian waspada agar jika terjadi sesuatu aku masih bisa melakukan yang aku perlukan.
Ternyata sampai aku dewasa, mode itu masih berlaku. Sisi yang tak kusadari juga bahwa aku nggak layak fokus.
Aku nggak perlu fokus.
Kamu nggak sepenting itu untuk fokus.
Ini sangat membuatku merasa bersalah ketika aku memilih fokus. Hidup dalam kewaspadaan tinggi ternyata membuat realita yang aslinya aman-aman saja berubah jadi medan kecemasan tiada henti.
Aku seperti harus berjuang memberikan fakta agar tak ada kekhawatiran yang muncul ke permukaan.
Aku sangat lelah, dan merana. Aku jadi merasa tak berhak dengan kedamaianku sendiri. Mungkin ini adalah pertanda kalau selama ini aku lelah bukan karena mimpiku yang tinggi, tapi kecemasan yang menggerogoti dengan pasti.
Mungkin, aku perlu memberikan waktu pada diri ini dengan cermat. Ternyata, fokus pada diri sendiri bukan berarti egois. Bahkan untuk beberapa momen, egois itu sangat diperlukan.
Kita Bukan Asing
Kadang aku ingin membicarakan tentang kita secara baik. Sebuah penutup mungkin diperlukan, mengingat tak ada harapan untuk kita. Yang terjadi di antara kita memang manis, tapi mungkin tak ada yang bisa diperjuangkan lagi.
Aku sering berpikir bahwa akulah penyebab semuanya. Entah dimulai dari mana, atau aku yang terbiasa untuk menjadikan diriku sebagai pusat kesalahan yang patut disudutkan. Jujur, aku lelah. Di dunia yang selalu ingin benar, aku bahkan takut untuk menginginkan hal itu.
Aku ingat bagaimana percakapan terakhir kita. Apakah ada rasa yang terselip di balik kalimat-kalimat tersebut? Apakah ada ketidakterimaan yang muncul? Seandainya sanggup, aku ingin menunjukkannya. Aku terlalu takut. Aku merasa bahwa semua halangan itu dimulai dari diriku.
Apakah aku boleh untuk tidak merasa bersalah? apakah pertemuan kembali kita bisa terasa biasa saja?
Aku meragukan itu. Andai tak ada pertemuan kedua. Namun, apa yang bisa kulakukan jika sepasang mata ini masih menangkapmu dari kejauhan? Dan, bukankah kau pun demikian? Bagaimana rasanya, di dadamu, ketika melihatmu dengan cara seperti ini?
Meski berlalu, kau tahu, kita bukan orang asing. Kita pernah menjadi satu sama lain. Namun, aku hanya tak bisa menerima bahwa ternyata pengkhianatan lebih mudah kaulakukan daripada menjelaskan apa yang terjadi.
Dendam, Sampaikanlah Aku Padamu
Aku sendiri tidak ingin mengingkari rasa buruk yang sudah menggerogoti selama ini. Mungkin, aku memang sekuat itu. Dalam rasa sakit yang sangat tak masuk akal, aku masih menggenggam dendam dengan baik.
Aku membiarkan dia hidup, bersama mimpiku yang terbakar menjadi abu. Meski dia telah berterbangan bersama realita, aku masih menyangkal semuanya sudah tidak ada.
Aku yakin masih ada sisa, dan itu adalah dendam yang kutiup bersama amarah dan kebencian.
Aku membairkannya menjadi bara lalu membakar semua yang tersisa. Setidaknya perlu waktu, tapi sangat pasti hingga itu sampai kepadamu.
Aku sudah tidak peduli akan rasa yang pernah ada di antara kita. Semuanya seperti ilusi, walaupun aku pernah mencicipi kebahagiaan dalam kebersamaan yang terjalin.
Sekali lagi, kita tak lagi bersama. Semua itu lebih mungkin menyakitkan daripada menjadi kenangan. Karena apa yang sudah terjadi, aku mendalami hanya sebagai cerita. Namun setiap cerita perlu rasa sakit untuk bergerak menuju akhir bab.
Sayangnya, kau bukanlah akhir bab itu. Dendam yang sampai padamu mungkin hanya gemericik dari puncak yang kuharapkan.
Aku selalu mendoakanmu baik-baik saja. Agar saat dendamku sampai padamu, kau dalam kondisi paling prima.
A Closure
Kita tak lagi bertemu, hentikan langkahmu sekarang juga.
Ada banyak waktu, saat itu, untuk menjelaskan apa yang terjadi. Meski dalam hatiku masih meraung pertanyaan, mengapa kau tak meninggalkan satu kata pun tentang kita.
Ya, tentang kita. Dan, ya, aku masih mempertanyakan hingga sekarang.
Namun, pertanyaan itu sudah tak lagi menjadi bagian dalam hidupku. Nilai diri yang tersemat saat kebersamaan kita sudah tidak menjadi acuanku dalam memahami bagaimana kepalaku bekerja.
aku masih ingat tentang rasa sakit, keheningan yang semakin menusuk, hingga kepantasan akan sesuatu yang tetap. Mungkin, aku tak layak akan komitmen yang utuh. Mungkin, semuanya memang menjadi takdir yang tidak bisa kuusahakan.
Dan, ya, mungkin kita memang tidak berada di takdir yang sama. Perasaanmu mungkin masih bertanya, meski fakta sudah berada di depan mata.
Kita tak lagi bisa bersama.
Kita saling menjadi tokoh, tapi mungkin aku tidak bersamamu di akhir cerita. Maka, hentikan semua tujuanmu terhadapku. Kau mungkin tahu aku ada di sini. Namun, keberadaanku yang menetap di tempat yang sama, tak lagi tentangmu.
Aku masih mengagumimu seperti dulu. Aku beberapa kali membayangkan bagaimana bersinarnya kita berdua kala itu. Namun, kau tahu, langkah yang kita ambil sudah tepat. Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Bukankah kau pun demikian?
Jadi, mari bersama-sama mengambil jarak dalam kepastian. Tak pernah lagi ada harapan. Mari kita sama-sama mendengarkan hidup kita yang tak lagi sejalan.
Berbahagialah. Kebersamaan memang tak menggariskan kita untuk berada di wilayahnya.
Tak Ada Cara Lain
Mari kita menyerah dengan proses yang menyebalkan ini. Dalam keputusasaan yang menyeramkan, terkadang diam dan hanyut bisa menjadi cara paling ampuh untuk bertahan hidup.
Kita mungkin sudah mengusahakan segala kemungkinan yang ada. Memecahkan cara menjadi yang paling nyata, melakukan dengan seksama, hingga berakhir bahwa semua hanya khayalan semata.
Seolah, semesta tak bersama kita.
Ada kalanya, hidup seperti aliran air di malam yang gelap. Kecuali merasakan, semua tampak buram dan menggelisahkan. Bulan di langit juga belum benar-benar ada, atau mungkin sedang mengalami purnama? Sehingga tak dapat ditangkap oleh mata yang tenggelam dengan air mata?
Cahaya yang kecil seringkali menambah napas yang sudah menginginkan pengakhiran. Di sisi lain, ada jalan yang memang perlu diselesaikan bersama ranting-ranting sisa pelayaran di masa lalu. Mungkin, tak ada cara yang lain untuk tetap bersemangat. Namun, tetaplah memegang kehidupan, saat semua rasa memilih bersembunyi untuk berdamai.
Andai semua kemungkinan bisa disegerakan tanpa rasa sakit yang dalam, hidup bisa jadi tak ada kegelisahan. Setiap rasa menyimpan tokoh untuk dikenal, setiap tokoh menyimpan cerita kehidupan yang ingin diambil pesan abadinya.
Bagaimana Kau Menemukan Dirimu?
Sebelum menikah, aku merasa bahwa aku telah menemukan diriku. Aku juga merasa bahwa apa yang ada di dalam kepalaku, definisi hidup, kesukaan, adalah ciri dan ya.. itulah aku.
Sampai di akhir usia 20-an, aku merasa ada yang aneh. Rasa hidup menjadi hambar dan tak bermakna. Aku tidak tahu apa yang terjadi, karena mungkin bisa saja semuanya merupakan fase yang harus dilewati.
Saat itu pula, yang katanya adalah fase saturn return, suatu pertanyaan kembali untuk memastikan hal yang paling dasar..
Siapa kamu?
Aku menemukan bahwa ternyata selama ini aku sudah kehilangan diriku. Kehilangan yang tak pernah kuakui kini datang dan meminta haknya untuk diselesaikan. Entah merelakan atau mengambilnya kembali, yang jelas proses memahami hal ini terasa lama dan berat.
Mungkin butuh hingga tiga tahun lebih ke mana 'diri' yang hilang itu. Banyak orang yang berpikir bahwa aku demikian karena baru saja melahirkan. Namun bagiku justru, saat melahirkan, adalah pemantik realita yang selama ini kabur dari penglihatanku.
Sejujurnya aku nggak tahu harus bagaimana saat menyadari hal itu. Mungkin marah adalah rasa pertama yang datang. Dengan rasa tidak terima, aku menyadari ada kesalahan besar yang itu bukan salahku sepenuhnya tapi menjadi terasa salahku.
Saat itu, aku masih kecil. Aku tidak tahu bahwa apa yang kuinginkan dan kucita-citakan adalah panggilan yang sudah bersuara, sebagai diri yang telah dirprogram oleh penciptanya. Ini menggelikan, karena tak akan ada orang yang mau disalahkan, untuk sebuah keputusan yang berdasar dari saran.
Mereka akan selalu bilang bahwa itu keputusanku.
Mereka akan mampu meyakinkan bahwa semua ini memang salahku.
Mereka akan dengan lihai membuat posisi bahwa akulah yang paling bermasalah.
Jujur saja, aku hampir hilang. Mungkin sudah di ujung kuku, karena rasanya semua yang kualami ada kontribusi dari orang lain tapi mereka enggan bahkan tidak akan mau menanggung semuanya.
One day aku berhasil mengumpulkan kepingan diriku lengkap, apakah mereka akan sanggup menghadapi pembalasanku?
Yang Paling Menyakitkan Adalah...
Aku belum benar-benar menentukannya.
Serius, menurutku ini sifatnya membingungkan, karena setiap luka perlu diidentifikasi dengan pikiran jernih.
Aku membayangkan jika luka-luka berhadapan langsung denganku, apa yang akan aku lakukan? Apakah mungkin membuat luka baru, atau menjadikan ngilu sebagai pertanda bahwa 'hei, ada aku, masih belum sadar juga?'
Beberapa waktu yang lalu, aku merasakan perih di telapak tanganku yang berdekatan dengan lipatan jari. Rasa itu muncul saat aku membasuh tangan. Sayangnya, tidak terlihat luka atau apapun yang mengindikasikan itu adalah sumber rasa perih. Kucoba basuh lagi, perih muncul kembali, tapi aku tidak tahu di mana dan apa sebabnya.
Mungkin, luka yang kita rasakan dalam hati mirip dengan hal itu. Namun manifestasinya adalah sikap ke orang lain, atau bahkan ke diri sendiri. Orang yang bingung dengan kemarahannya yang semakin besar, justru meluapkan amarahnya kepada orang yang tidak bersalah. Contoh yang lain, orang yang tiba-tiba terpantik melawan karena beberapa 'kata kunci' disebutkan.
Luka di bagian ini sangat misteri. Namun terkadang tidak menyadarinya justru lebih buruk. Ia bisa berinvestasi menjadi luka di orang lain yang sebenarnya tidak perlu merasakan hal itu. Di lain sisi, alasan melukai sering terdengar logis di saat penarikan situasi kembali justru hanya meromantisasi.
Sejujurnya ini menakutkan, rasa sakit orang lain jadi tak berharga ketika 'orang sakit' lainnya menganggap bahwa ia berhak bersikap demikian.
Saat semua terbalik, mungkinkan para orang itu mampu melihat sudut pandang yang lain?
Lalu aku berpikir, apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Mungkin ketika semua tak bisa diubah. Saat ada kesempatan dulu, rasa enggan beranjak lebih kuat daripada yang lain.
Ruang Sedih
Aku yakin, sebagian orang bisa membaca apa yang terjadi dalam hati orang lain hanya dengan merasa.
Yap, merasa. Sesuatu yang tak terlihat tapi bisa mengganggu secara fisik. Tiba-tiba curiga, cemas, perut mulas, sampai ke pernyataan, "Something's off!"
Sebagian orang itu bisa memahami bahwa ada yang tidak beres, tapi sebagian lain memilih mengambil langkah untuk ada daripada inisiatif yang impulsif. Karena dengan seperti itu, ia juga mengamankan diri sendiri atas sesuatu yang sebenarnya memang bukan urusannya.
Meski demikian, pura-pura tidak tahu apa-apa adalah cara paling rahasia untuk menghargai perasaan yang tak ingin diketahui. Mungkin kita tahu, menebak badai apa yang mengguncang, tapi memilih diam dan menjadikan diri sebagai orang yang tak tahu apa-apa. Karena dengan begitu, ia memberikan orang tersebut waktu untuk menikmati ruang kesendirian yang tak tersentuh, ruang sedih yang tak ingin tersorot oleh tatapan orang lain.
Aku paham, sebagian orang itu mungkin ingin melakukan sesuatu. Namun apa yang paling bisa dilakukan terkadang adalah tidak melakukan apa-apa, sampai di titik tertentu pastinya.
Menjadi orang peka juga tidak mudah, mereka terkadang merasa bertanggung jawab atas apa yang dirasakan oleh orang lain. Namun, memberikan batas yang jelas mana yang bisa dilakukan dan tidak dapat melindungi kedua pihak. Khususnya utk si peka dan orang-orang yang berkhidmat di ruang sedihnya.
Better Than Yasterday
Entah ini renungan darimana, yang jelas ini membuatku lebih tidak mementingkan penilaian orang lain. Ya.. walaupun ada banyak faktor juga yang berpengaruh sampai aku berpikir, "Hmm, kayaknya penilaiannya nggak sepenting itu?"
Aku mempertimbangkan untuk tetap berpacu pada diriku, meski berat karena masa lalu dan luka-luka lama yang masih terhubung. Orang-orang, terlebih dari masa lalu, lebih senang aku berada selalu di bawah mereka. Tak ingin ada perubahan, sebagian dari mereka nyaman dengan memastikanku lebih tidak bersinar dari mereka.
Ini tampak subjektif, memang. Namun dalam beberapa kasus, aku menemukan bahwa pemahaman itu bisa divalidasi oleh mereka yang pernah memiliki koneksi denganku di masa lampau.
Walaupun demikian, aku jadi memahami bahwa ternyata seberat apapun hidup, hanya diri kita yang membersamai dengan pasti. Mau siapa lagi? Rumor dan kesimpulan yang diinginkan lebih mampu dipercaya daripada fakta yang terasa mengancam ego meski sedikit.
Bahkan di kalangan keluarga, rasa tidak aman untuk tersaing itu sangat mungkin. Terkadang sistem di keluarga, dinamika di dalamnya, memiliki sebuah posisi untuk orang yang perlu di bawah agar seluruh keluarga itu bisa 'berfungsi'.
Jadi, one day kamu ingin bergerak ke arah lebih baik, you should start now. There's no a perfect start. Buat progres secara mandiri, dan ya, kamu sudah berbeda dari kemarin.
Bisakah kau menggambarkan bagaimana kehilangan diri sendiri itu?