Kita cuma berpapasan, tidak berteman. Apalagi saling peduli. Tenang, tak ada rahasiamu padaku. Sebab yang kutau cuma namamu.
Monterey Bay Aquarium

Discoholic 🪩

pixel skylines
we're not kids anymore.
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
sheepfilms
cherry valley forever
Mike Driver

Love Begins
taylor price
he wasn't even looking at me and he found me
wallacepolsom
🪼
Fai_Ryy

Janaina Medeiros
Claire Keane
Misplaced Lens Cap
official daine visual archive
art blog(derogatory)
macklin celebrini has autism
seen from Mexico

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from South Africa
seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from South Africa
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
@ledmerah
Kita cuma berpapasan, tidak berteman. Apalagi saling peduli. Tenang, tak ada rahasiamu padaku. Sebab yang kutau cuma namamu.
Gadisku sayang, jika kelak kamu besar dan bisa baca, maafkan ibumu yang pernah begini dan begitu di sosial media ya
I love you, sarah.
Membaca tulisan lama, aku hanya ingin tertawa. Perih.
Pernah ya aku jadi seperti itu? Hahaha
Semoga anakku tak tau, aamiin
Dengerin lagu-lagunya kuntoaji di mantra-mantra seperti menggali luka-luka yang pura-pura sudah termaafkan dan pura-pura sudah tak apa. Untuk berdamai dengan diri sendiri dan berpikir, "Tidak apa apa pernah terluka, tidak apa apa pernah di khianati. Kita cuma manusia, semua orang pernah merasakannya".
Bukan cuma perkara cinta, mungkin matamu bosan mencari mataku yang tak bisa kamu tatap. Mungkin tanganmu bosan menggenggam tangan yang tak bisa kamu genggam. Aku cuma figuran, bahkan dalam kisah kita yang dulu hanya berdua saja.
Jujur aku melihat, berpapasan, dan tau. Tapi aku masih lari, lari dari apa yang ingin aku lupa padahal masih saja luka.
Ya, sejauh apapun aku rasa sudah beranjak. Nyatanya masih disitu-situ saja. Di kebencian yang sama, didalam luka hati yang lama sekali aku pikir sudah sembuh sendiri. Baru tersadar setelah ada yang mengoreknya~
Suami bilang, "kamu kok masih inget sih sama mantan?!". Trus aku jawab, "aku kan cuma udah ga cinta sama mantan, bukan amnesia". Salah gak? :))
24th.4
Gimana kak? Happy didalem? Mbok ya kalo aku abis makan tuh jangan kebanyakan naik-naik biar asam lambungku ga kena mulu :(
Bahagia ya kak, abahmu lagi baik banget nih. Lagi manis banget.
Bilangnya ga bakal pulang tiba-tiba udah dirumah, udah potong rambut pulak.
Kami masih pdkt kak, maaf kalo kamu sering kita ganggu ya. Begadang nunggu abahmu pulang kerja siang, tidur nemenin abahmu yang pulang kerja malem. Apapun itu, sabar-sabar ya kak. Kita kan sayang abah.
Yakinlah bahwa apa yang kami lakuin itu buat menyenangkan kamu.
Kalo kamu udah gede, baca tulisan ini, jangan cengengesan ya. Kami malu, hehe.
Aku sama abahmu baru pacaran sejak sebulan sebelum kamu ada. Jadi masih anget-anget tai kucing. Maklumin kami ya kak.
Yaudah kak, yuk bobo temenin aku. Udah malem, zumbanya besok lagi ya. Aku engap.
Sabar-sabar didalam sana ya. Aku mau melihat kamu, tapi belum siap denger suaramu ditiap tidur malamku yang (mestinya) nyenyak.
10th.O
Aku masih bingung kenapa sampe sekarang ngerasa belum siap jadi orangtua. Sebab sejak awal padahal udah merencanakan untuk promil malahan. Bulan kedua pernikahan, kami berdua sepakat mau promil. Baru sepakat, belum bergerak. Belum menghitung hari ovulasi, belum minum vitamin pra kehamilan, belum menjaga makan, belum jaga kondisi secara penuh, dll. Baru inginnya aja wkwk
Tapi ya, lucunya dan ajaibnya. Allah mengabulkan doa bahkan sebelum sempat terucap. Nggak lama ternyata telat dateng bulan dan positif setelah tes urin. Akhirnya dengan degdegan kita berdua yang sangat amatiran ini pergi ke dokter spog untuk usg. Dan hasilnya, ada kantong janin dalam rahimku. Udah 4 minggu usianya kuranglebih. Dan entah, aku malah kaget, tapi belum senang. Padahal sebelumnya udah rencanain mau promil, kan ngaco. Pas dikasih malah bingung. Dalam pikirku, "ini baru kantong janin, aku masih belum tau ini ada janinnya atau engga". Jadi aku memutuskan untuk ini aku dan suami dulu aja yang tau. Ga usah gembar-gembor dan kabarin oranglain dulu. Krna ini baru kantung, belum ada terdeteksi janin. Aku yang lemah hatinya ini takut. Takut kalo ada apa apa sama si jabang bayi, tapi aku udah gembar gembor ke orang-orang, lalu ketika aku mau move on dari trauma, mereka yang nggak tau masih akan nanyakan si jabang bayi yang kenapa napa itu, aku nggak sekuat itu untuk nahan hal semacam itu. Tapi sayang oranglain kebanyakan minim pengertian dan kebanyakan hanya ingin tau tapi nggak peduli. Which I hate the most. Mereka nggak cukup ngerti, ada mental dan hati orang yang terlibat dalam hal ini. Mungkin pertanyaan mereka yang menyakitkan itu bakalan mereka lupakan sambil lalu, tapi yang ngerasain traumanya? Jangan pikir bisa move on segampang putus dari pacar. Move on dari mantan aja susah 😂 padahal ga hidup sebadan, ga seatap, makan bareng tapi masing-masing piring. Lah ini, mesti move on dari hal yang hidup ditubuh aku, makan apa yang aku makan, ngerasain apa yang aku rasa, ikutan stress kalo aku stress, move on dari kuret, u pikir aja sendiri gimana sulitnya. Krna prinsip aku, I should prepare for the worst supaya ga berlebih sedih dan berlebih seneng.
Tapi mostly people yang kepo selalu maksa ingin jawaban. Dalam sikap aku dan suami yang sepakat ga gembar gembor masalah kehamilan ini adalah untuk melindungi perasaan orang banyak. Banyak diluar sana yang sudah lama menikah tapi masih belum dikasih amanah, banyak diluar sana yang nikah duluan dari kita tapi masih belum positif, bahkan banyak yang sudah lebih berumur tapi menikah pun belum, belum lagi banyak juga orangtua yang anaknya sudah menikah tapi belum juga punya cucu. Kadang mereka nggak ngerti kita juga berusaha melindungi perasaan mereka. Selain itu, aku pengen banget ini jadi kehamilan dengan mental yang sehat. Sangat menghindari bad vibes yang tersebar. Mulai menghindari pemandangan toxic di social media, menyembunyikan ini dengan maksud nggak mau mendengar kata "jangan" selain dari dokter dan suami. Aku tuh sangat sensitif selama hamil ini. Nggak bisa denger kata "jangan" langsung sewot. Oke aku tau mungkin buibuk ini lebih senior dan pengalaman dari aku. Tapi fisik setiap orang itu berbeda. Jujur, dengan denger kata "jangan" aku jadi terlalu banyak khawatir, takut dan parnoan. Padahal menurut dokter spog nya sendiri itu nggak apa-apa. Dear buibuk sayang, please daripada "nakut-nakutin" aku tentang betapa "bahayanya" ini dan itu. Tolong doain aja ya aku dan baby biar bisa sama-sama sehat dan bahagia. Karna hanya karna suatu kasus banyak terjadi bukan berarti bakalan terjadi ke aku juga. Parno sih iya. Aku sendiri aja masih ngerasa parno dengan diri aku sendiri yang Allah amanahkan untuk ngerasain jadi calon ibu. Sering merasa belum pantas. Tolong jangan ditambah dengan segala larangan dengan dalih, "ini kan buat kebaikan kamu juga". I knew if you really care and love me and my baby. So please just pray us for the best.
Btw, kemarin aku dan suami udah bisa denger detak jantungnya baby!!! Alhamdulillah dia sehat. Tapi akunya yang nggak fit. Dokter suruh bedrest seminggu lebih 😂 tolong doakan baby akan selalu kuat dan baik-baik aja sampai keluar nanti.
Sekarang sudah lega rasanya udah curhat panjang lebar 😂. Alhamdulillah
Doakan keluarga kecil kami yaaa, terimakasih <3
Semoga kita semua senantiasa dilimpahi rasa cukup dan syukur. Aamiin
Menghina, Padahal Terluka.
Beberapa hari ini lihat seliweran video-video di twitter dan instagram tentang orang-orang yang semangat sekali menghina hukum-hukum agama Islam. Padahal dia (dan mereka) juga tercap di KTP (mungkin) beragama Islam.
Saya faham, orang-orang seperti itu, menggunakan hukum dan istilah agama Islam sebagai bahan olokan, sindiran, bahkan hujatan kepada orang-orang yang mereka anggap sok suci dan munafik.
Percaya atau tidak, sebenarnya mereka lah orang-orang yang terluka. Terluka hati dan jiwanya. Mereka membiarkan luka bathin itu menjadi tameng untuk membalas ketidak-mau-tahu-an tentang agama Islam ini.
Adalah Abdullah bin Salul. Salah satu pemuka Madinah sebelum kedatangan Rasulullaah. Ia dipuji bak raja karena kebijaksanaan nya memimpin beberapa suku di Madinah. Banyak orang yang menginginkan Abdullah bin Salul menjadi pemimpin Madinah, tentu saja ini membuatnya gembira. Namun satu hari sebelum diangkatnya dia menjadi pemimpin, Rasulullaah datang untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Abdullaah merasa terlupakan dan tersingkir dari kaumnya. Ia hanya merasakan seorang diri. Tak ada lagi yang membanggakannya di depan orang banyak. Orang-orang lupa tentang rencana pengangkatannya. Semua tertuju pada Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin Madinah dan kaum muslimin.
Ia terluka. Dan membiarkan luka itu terus ada. Menjadi orang yang dibanggakan lalu dilupakan memang tak mudah. Namun Rasulullaah tahu, dan menyapanya. Abdullaah bin Salul bersyahadat, namun palsu. Tiga hari setelah ikrar keislamannya ia membelot ke kamp musuh, menyebarkan strategi perang Rasulullaah yang didengarnya. Hasilnya, kaum muslimin banyak yang syahid di perang Ahzab. Rasulullaah terluka raga dan hatinya. Begitu berbahaya nya orang munafik.
Ia terus memendam luka. Ia lari dan menjauh dari kaum muslimin. Ia hanya ingin pengakuan, bukan pangkuan. Ia berakhir pada catatan orang yang harus dibunuh bersama 9 orang kafir lainnya.
Namun, pada saat Fathul Mekkah. Ia berdiri di belakang Utsman bin Affan, saudara sepersusuannya. Meminta ampunan dan perlindungan. Meminta nyawa nya diselamatkan atas nama ayah dan Ibu Utsman. Rasulullaah hanya diam. Lama. Keringat Utsman bercucuran, tak tega namun juga ada Rasulullaah dihadapan.
Ia termaafkan. Dan kembali menjadi muslim, yang sebenarnya muslim. Ia sadar, belas kasih Rasulullaah (yang tak sengaja itu) yang dia butuhkan untuk menyembuhkan hatinya dari ketidak akuan ummat.
Rasulullaah memang tak pernah marah pada mereka. Karena mereka orang yang terluka. Rasulullaah marah, ketika orang yang bersamanya di dakwah ini dilukai.
Orang-orang terluka hanya ingin disembuhkan. Hamya ingin meminta perhatian. Dari orang yang mereka harap dapat menyembuhkan.
Maka, hadapi orang-orang terluka itu dengan bijaksana. Tak perlu menghujat, tak perlu. Cukup dekati, lalu cari luka bathin mereka. Obati. Muslim itu satu tubuh. Tak hanya ketika teraniaya oleh orang lain lalu kita bela. Namun juga dengan orang yang tak sengaja memelihara luka.
Saya yakin, mereka memiliki luka sendiri terhadap pemeluk agama ini. Bukan terhadap agamanya.
Semoga Alllaah menguatkan diri kita untuk menjadi penyembuh.
Seperti Nabi yang kita cinta. seperti agama ini yang kita bela.
Bandung. 2018
Mungkin ilmu yang sibuk kau cari akhir-akhir ini baru sampai di bab "mencela orang yang pamrih", ya? Hingga isi tulisanmu masih sebatas tuduhan tentang sikap oranglain. Kuberi tahu, dan kudoakan, semoga lekas bertambah dan berpindah ilmumu ke bab "berprasangka baik", ya. Kepada, tuan dan nyonya yang terhormat.
Sayangi ia yang menyayangimu. Layaknya bumi, meski kamu injak dan malah buat onar padanya. Meski mampu, ia tak lantas membunuhmu tapi malah membuatmu lestari.
Bumi semakin tua. Tapi penghuninya malah semakin jumawa. Menggadangkan sayangi bumi, tapi masih saja membuang air mata pada kertas tisu.
“Its okay to be sad. But don’t lose your faith.”
— :)
Hanya keajaiban Tuhan yang bisa mengubah pikiran kita dalam hitungan detik. Namun sayang, pikiranku tentang kamu tak juga diubahNya. Hingga mau mati aku krna haus perhatianmu.