Tanpa dia kita pincang.
Tanpa ibu sih tepatnya. Ibu makna sebenarnya. Bukan ibu-ibu imitasi (sorry to say). Banyak yang jadi luput. Dan disadari ketika kita beranjak dewasa. Ada banyak hal dari pribadi kita-pun yang ikut pincang- dan jadinya tidak seimbang.
Meski dihadapkan labelling keberhasilan, mandiri, kuat, dewasa. Jadi terkukung di kotak itu, tidak bisa meluapkan mengungkapkan apa yang sebenarnya.
Di akhir, baru banyak yang -mungkin baru- terlihat dan disadari. Rapuh, meledak-ledak. Kita bisa tetap survive, selamat, berhasil. Dengan sisa yang sudah masuk dalam sanubari, dan sisanya pengembangan dari diri kita sendiri. Tapi hati hati, banyak kepura-puraan. Bisa jadi tipuan untuk diri sendiri. Tapi tidak masalah, kalau itu bisa jadi solusi untuk tetap berjalan dan menatap ke depan. Dengan tegak.
Jangan sedih, jangan kecewa, jangan mengutuk. Tiap kita punya skenarioNya masing-masing. Dan kita harus, meyakini. Setiap skenarioNya dilengkapi kemudahan dan solusi :) Hidup ini penuh senda gurau dan tawa, sebentar. Yang abadi nanti.
Jadi, untuk apa diperumit? Jalani apa yang ada. Mengutuk, mencerca, menuntut. Sampai lelah. Untuk kemudian memohon ampun padaNya atas khilaf. Dan segera beranjak, jalani kembali.










