Sebuah percakapan serius oleh @nonaabuabu dan @kkiakia
Aku pikir dahulu dewasa adalah tentang angka usia yang terus bertambah dan masalah hidup yang mengikuti arus air. Mengalir apa adanya. Seiring waktu, aku sadar menjadi dewasa tidaklah mudah. Bukan soal perkara angka, bukan soal tubuh yang terus menua, tapi soal hati yang semestinya pandai berlapang dada, menerima, memaafkan, memaklumi dan menghargai segalanya. Nyatanya, aku tidak pernah benar-benar dewasa.
Aku pernah ada di titik memaknai dewasa soal cara menyikapi semua hal dengan bijaksana, dimana orang orang dewasa tahu benar menempatkan semua hal pada tempatnya. Namun setelah aku berada di usia ini, bertemu dengan semua dewasa lainnya, dewasa tak ubahnya hanya kosakata. Faktanya kita tak bisa menyikapi semua hal dengan sama bijaksananya.
Y : Kok ya aku jadi bingung dewasa itu gimana, aku merasa nggak dewasa Ki. Aku sebenarnya orang yang merasa punya fase bolak balik dalam bertumbuh. Kadang aku keki dengan sikap kekanakan orang di sekitarku, kadang lain aku merasakan perasaan kekanakan. Sebenarnya dewasa itu apa menurutmu Ki?
K : Menurutku ya mba, dewasa itu sesuatu hal yang abstrak dan tiap detik kita selalu belajar buat dewasa dan gak akan pernah selesai gitu. Kadang juga aku ngerasa kekanakan, tapi pada beberapa masalah yg kuhadapi aku merasa aku dewasa. Dewasa itu kalau secara pikiran dan perasaan menurutku adalah kita mampu menurunkan ego mba. Ga kalap sendiri kalo berambisi dan kalau emosi masih bisa kontrol amarah kita.
Y : Orang bilang aku dewasa, tapi kalau dewasa kayak aku, aku merasa dewasa itu bukan sesuatu yang bagus buat jiwa. Maksudnya gini, kayak menurunkan ego yg kamu bilang, aku emang cenderung gitu tapi cenderungnya kadang keterlaluan, akunya malah jadi nggak berambisi. Aku sering berpikir, yaudah gapapa selama yg lain senang aku ngikut, tapi belakangan jadi sadar, enggak gitu aku juga harus senang.
K : Iya sih mba, aku juga ngerasa. Sisi ego kita tuh kadang mau diberi makan juga, kayak pengen menang. Jadi menurut mba, apakah setiap orang yg sudah tua itu adalah orang dewasa?
Y : Iya Ki, tapi mungkin usia tua yang dimaksud disini bukan kita yang dewasa muda ya, setidaknya 30+, diluar yang memang istimewa aku anggap mereka dewasa bukan cuma soal usia tapi pasti ada satu dua aspek dalam diri mereka yang mereka dewasa menyikapinya. Karena kalau dewasa itu harus dinilai dengan bisa menyikapi banyak hal dalam semua aspek, aku rasa kita nggak ada yang dewasa. Kalau menurut kamu gimana? Apa kalau nggak dilihat dari usia, anak anak memungkinkan untuk disebut dewasa?
K : Setuju sih mba, karena kadang setua-tuanya orang masih ada sisi anak-anaknya. Prespektifku masih sempit sih soal dewasa pada orang tua. Aku lebih memandang dewasa itu mampu memaklumi, luas hatinya bersabar dan tidak egois gitu. Kayak ortu ke anaknya. Aku bingung juga sih, kadang kan ada anak-anak yang hidupnya keras mbak. Misal hidup di jalanan gitu. Punya banyak sodara dan jadi tulang punggung bantu keluarga. Kayak dia kehilangan masa anak-anaknya karena cari uang. Itu dewasa ga ya?
Y : Mungkin dewasa dalam bersikap di setiap fase usia beda beda kali ya. Misal di usia 20 dengan masalah a dengan penyelesaian b itu bisa disebut dewasa. Tapi diusia 25 dengan masalah a penyelesaian b itu masih kekanakan, udah seharusnya penyelesaiannya c. Jadi kayak anak-anak yg masih kecil dan menurunkan egonya buat bantu orang tua, itu dewasa untuk seorang anak anak diusianya. Tapi di usia kita membantu orang tua adalah peran yang memang harus kita ambil, kita butuh lebih dari itu biar bisa disebut dewasa.
K : Iya mba, kadang kan cara menyelesaikan masalah gitu. Pas kita pake plan B di usia 20. Pas usia 30 ada problem yang serupa. Nah pengalaman usia 20 dengan problem dan plan itu akan jadi intropeksi tersendiri kayak untuk lihat kemarin-kemarin aku kurangnya dimana, gitu menurutku. Soal anak kecil yang jadi tulang punggung tadi mbak, maksudnya kayak emang keadaan hidup dia berbeda dan porsi yang dia ambil emang harus segitu biar tetap hidup gitu kan?
Y : Dan dengan dia mengerti dia itu berbeda jadi harus menjalani sesuatu yang nggak umum kayak orang lain tapi dia terima dan paham bisa kita sebut dewasa kan Ki. Tapi coba ya kita lihat sisi lain, dia kehilangan momen masa kanak-kanaknya kayak yang lain, and one day saat dia udah selesai dengan masalah ini bukan nggak memungkinkan sisi kekanakannya baru muncul tapi di aspek yang berbeda, padahal dia udah memasuki usia yang dewasa. Itu kenapa menurut aku, kalau dewasa itu harus bisa menempatkan segala hal pada tempatnya, maka kita nggak ada yang dewasa, akan terus ada salah dan akan ada yang terus kita perbaiki.
K : Iya betul setujuuu, karena dewasa berkolerasi sama sifat kita yang ga sempurna yah mba. Selalu ada salah, selalu ingin memperbaiki. Dan ada yang selalu kita ajak berdamai dengan kesalahan, yaitu diri kita sendiri.
Dipisah Khatulistiwa, 04 Januari 2021.