Menjadi kewalahan bagiku ketika di saat bersamaan aku akui dua hal: kamu adalah sosok yang rasanya takmungkin aku temukan lagi pada diri siapa pun dan kewarasan bahwa aku memang takperlu mencari dirimu pada orang lain.
@dedesisi
I'd rather be in outer space 🛸
hello vonnie
almost home
Mike Driver
macklin celebrini has autism

JBB: An Artblog!
RMH
wallacepolsom

ellievsbear
todays bird
Cosmic Funnies

JVL
occasionally subtle
NASA
Game of Thrones Daily
Stranger Things
sheepfilms
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Love Begins
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from Switzerland

seen from United States
seen from Nicaragua

seen from Singapore
seen from United States
seen from Colombia
seen from Colombia
seen from Colombia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@loronggwaktu
Menjadi kewalahan bagiku ketika di saat bersamaan aku akui dua hal: kamu adalah sosok yang rasanya takmungkin aku temukan lagi pada diri siapa pun dan kewarasan bahwa aku memang takperlu mencari dirimu pada orang lain.
@dedesisi
0 dan 100
Ini adalah cerita tentang dua hati yang bermula dari tempat berbeda. Jika diibaratkan angka, kamu memulai semuanya dari angka “seratus”. Sementara aku beranjak dari angka “nol”.
Aku yang dingin, cuek, dan kerap menciptakan jarak darimu karena merasa ragu untuk bisa jatuh cinta lagi. Terlampau banyak kisah pada hubungan lalu yang membentukku begitu. Karena setiap kali hubungan itu berakhir, aku akan merasa sangat ‘bodoh’. Begitu banyak pertanyaan bermain di kepala, tentang; kenapa aku membiarkan diriku jatuh? Kenapa aku mengizinkan benteng di hatiku runtuh begitu saja hanya untuk melihat mereka pergi? Dan setiap cerita masa lalu itu berakhir, aku kembali membangun tembok itu semakin tinggi untuk melindungi diriku sendiri dari orang-orang yang berusaha membuatku percaya lagi.
Lalu, di hari yang entah, semesta mengirim kamu. Kamu datang dengan warna baru, dengan lelucon menghangatkan hati, dengan kalimat lucu nan garing pada setiap balasan chat whatsapp, tapi aku selalu tertawa. Kamu membawa kepercayaan diri itu, bukan hanya untuk meyakinkan aku agar bisa jatuh cinta lagi, tapi kamu juga menyisipkan potensi kalau kita bisa bersama. Itulah kamu, dengan angka “seratus”-mu.
Aku mulai merasakan perasaan bahagia semenjak kita dekat—namun, tetap menjaganya di angka 0. Aku memperingati diriku sendiri untuk tak terbuai padamu. Dan entah bagaimana, sekeras apapun aku berusaha mengabaikanmu, benteng di hatiku malah semakin lemah. Selihai itu kamu mau mendengar keluh kesahku, cerita burukku, rahasia terdalamku. Kamu meyakinkan bahwasanya; setelah semua hubungan yang gagal di masa lalu berakhir, itulah alasan kenapa kita bertemu—untuk saling menyembuhkan satu sama lain.
Kemudian, pada suatu hari…kamu berhasil membuatku percaya.
Tanpa aku sadari, angka 0 yang kupegang bergerak drastis menuju 10, 20, 30. Semakin bahagia, semakin angka itu terus-menerus naik. Ketergantunganku padamu mendalam. Aku membutuhkan responmu, aku senang melibatkanmu dalam keseharianku. Dan untuk beberapa waktu yang hebat itu, aku merasa kita sama-sama menikmati pergerakan itu. Namun, bolehkah aku sepercaya diri itu?
Lantas benar saja, sesuatu terjadi—sesuatu yang sering kualami di hubungan-hubunganku sebelumnya, kembali lagi. Kamu berubah. Dan bagian terburuknya adalah seiring dengan angka nol-ku yang semakin naik, angka seratus-mu malah semakin turun. Alih-alih aku resah dengan hal itu, aku hanya memendamnya saja sembari berharap itu hanya sementara. Karena, alurnya selalu begitu, kan?
Aku mulai takut kehilanganmu. Aku takut, kamu yang dulunya tidak punya alasan untuk meninggalkanku, ke sininya malah mencari sejuta alasan agar kamu bisa pergi dariku. Sementara, aku yang dari awal tidak berniat menumbuhkan rasa, malah akan berakhir dengan tangisan penuh cinta untukmu.
Bagaimana bisa seseorang yang awalnya mengebu-gebu ingin bersama denganku saja berubah sedrastis itu? Kemana dan kapan perginya perasaan itu? Apakah kamu hanya ingin mengujimu diri sendiri, untuk memilikiku, lalu selesai begitu saja?
Ini semakin membuatku yakin, dua orang akan terus merasa istimewa karena mereka “baru”. Tapi, kalau sudah lama, magic itu perlahan-lahan menghilang, hingga salah satu atau keduanya berubah. Dan, kadang-kadang, di kesepian itu, bahkan saat bersamamu, aku kerap berpikir; kamu masih terus sama aku di sini hanya sampai kamu menemukan yang lebih baik dariku, kan?
Post satu dua sajak tema kenangan. Dua tiga mantan kegeeran.
– @cindyjoviand
Dulu kau pernah berjanji; tidak akan pernah membuatku menangis. Tapi kenyataannya, di antara semua lelaki yang pernah singgah kaulah yang paling sering membuatku meneteskan air mata.
Q: Kenapa kamu nggak pernah lagi like foto aku yang ngetag kamu di Instagram?
A: (Tertawa heran)
Q: Kenapa juga kamu nggak pernah lagi balas komentar aku di postingan Instagram orang yang ngetag kamu?
A: Apa sih nanya gituan, nggak penting banget
Q: Trus kenapa juga satu kali pun kamu nggak pernah upload foto aku minimal di story Instagram kamu?
A: Sayang, kita udah dewasa. Nggak perlu lagi yang namanya pamer kemesraan di sosial media.
Q: Habisnya aku ngerasa kamu kayak sengaja gitu biar kelihatan jomblo. Bebas jadinya mau nge-DM cewek mana pun.
A: Nggaklah, sayang.
Q: Atau jangan-jangan ada perasaan perempuan lain yang lagi kamu jaga, ya?
A: Nggak ada kok, serius. Mana berani aku. Jangan mikir yang aneh-aneh deh.
Akhirnya aku memilih diam, tersenyum tipis lalu pura-pura mengancam "Awas ya, aku rontokkin kumis kamu kalo berani!"
Padahal sejujurnya, di dalam hati, tidak ada kelegaan seperti yang aku harapkan jika pertanyaan sepele dan nggak penting kenapa-nggak-like-foto-aku-di-Instagram itu aku lontarkan.
Butuh waktu berminggu-minggu bagiku untuk akhirnya memutuskan bertanya, tapi lega dan tenang di dada tidak sebanding dengan perjuangan memuntahkan kembali pertanyaan yang sudah lama tertelan di bawah tenggorokan dan bahkan mungkin sudah tertimbun makanan yang kumakan.
Pertanyaanku memang kekanakan. Tapi asal kamu tahu saja, beberapa perpisahan yang kualami sebelumnya selalu diawali oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengilang.
Satu saja pintaku, unggah foto kita berdua yang berdampingan dengan wajah bahagia satu kali saja. Kamu punya di ponselmu. Kita nggak akan lantas dicap alay kok :(
“Punggungmu tanda seru yang getir. Punggungku tanda tanya paling gugup. Kita tumbuh sebagai kalimat-kalimat yang tak punya arah dan kesulitan menerjemahkan diri sendiri.”
— LIH
Pertolongan Allah selalu datang dari mana saja, dalam bentuk apa saja, dan dari siapa saja. Bahkan, bisa saja ia berasal dari percakapan tak sengajamu dengan seseorang asing yang duduk berdampingan di sebuah bus atau kereta. Maka, berbuat baiklah, senantiasa.
Teruntuk kamu yang sedang melawan sakit, berjuanglah.
Tuhan sedang membuat tubuhmu menjadi lebih kuat.
Teruntuk kamu yang sedang terbaring lemah, berjuanglah.
Tuhan sedang merencanakan harimu agar lebih menyenangkan.
Teruntuk kamu yang sedang tidak baik-baik saja, berjuanglah.
Tuhan sedang mengujimu agar kau naik kelas di kehidupanmu.
Teruntuk kamu yang sedang merasa tidak dipedulikan, tenanglah.
Tuhan mengirimmu malaikat-malaikat-Nya untuk menjagamu di sana.
Iya, teruntuk kamu yang sedang sakit di sana..
Pada Tuhan, doa ku menyertaimu ‘tuk kesembuhanmu.
Jakarta, 14 Oktober 2018
22:22
Aamiin
Bagaimana jika sebenarnya aku adalah alien yang berpura-pura jadi manusia lalu denganmu, secara tak sengaja jatuh cinta. Masihkah kau mau menerima?
Jangan sekarang jika ingin melihat aku berjuang. Tetapi nanti seandainya berhari-hari kita hanya punya nasi dan garam untuk dimakan, namun aku tidak meninggalkan.
@dedesisi
Tahu, nggak? Kalau lagi kangen kamu tengah malam begini, ingin menghubungi tapi takut menggaggi tidur nyenyakmu, aku pasti mengganti pakaianku dengan kaos milikmu yang secara random bisa ada di lemari pakaianku atau minimal memeluk jaket kebesaranmu. Soalnya, nggak peduli sudah berapa kali aku cuci, aromanya tetap sama. Tetap bau kamu...
Seperti menulis nama dengan pisau di batang kemboja. Waktu mengeringkan getahnya, namun sayatnya selamanya tetap terbaca.
24 Februari 2019
Pertengkaran hebat pertama kita terjadi.
Kita tidak saling mencela seperti banyak pasangan lainnya
Kita tak saling memaki seperti pertengkaran hebat yang membuat kita kehilangan kontrol diri
Kita tak saling memojokkan atau mencari siapa yang paling salah siapa yang paling benar
Tapi yang membuatku bersedih sayangku, adalah ketika kamu meragukan penerimaanku atas dirimu
Ketika kamu berpikir aku mencintaimu dalam batasan-batasan tertentu
Apa katamu dulu; tak perlu berjanji sehidup semati, cukup berjanji sampai sesusah apapun nanti.
Aku tidak hendak menagih janji. Aku hanya akan menjadi perempuan paling bahagia jika ucapanmu itu mendatangkan bukti.
Berita Buruk
18 Februari 2019. Berita itu bagaikan bom yang meledak di atas kepala. Sepucuk surat pemberitahuan yang di detik ia terbuka dan terbaca, merontokkan tulang dan membuatku tak bertenaga.
Seperti orang gila, aku mencari tempat untuk bercerita. Tanpa berpikir panjang, kuketuk pintu ruang kerja salah satu dokter yang kukenal. Bersama debar di dada, kutunjukkan hasil pemeriksaan awal itu padanya, sembari memaksakan senyum yang tetap saja tak mampu memyembunyikan luka.
Sembari membaca hasil, memeriksa fisik sekilas, ia memintaku melakukan serangkaian tes kembali. Namun, hasilnya sama. Kesehatanku memang bermasalah.
Tangisku tumpah. Kutahan namun tak bisa. Berkelabat betapa mengerikannya ia, membayang wajah-wajah orang yang kucinta. Orangtua, adik satu-satunya, keluarga, teman, sahabat, dan juga... Kamu. Kamu yang kucinta.
Akan seperti apakah reaksi kalian jika mengetahuinya? Adakah bahu yang bersedia kalian tawarkan untukku bersandar? Ataukah justru kalian akan berbalik pergi lari dan menghindar? Masihkah kau ingin mencintaiku?
Rasanya seperti aku terjatuh ke dasar jurang paling dalam.
Berbagai macam pikiran buruk menghantui batok kepalaku. Ketakutan-ketakutan itu mengahantui setiap waktu, mengiringi langkah bagaikan bayangan kedua. Apa yang harus kulakukan?
Jerit tertahan di kala siang pun menjelma tangis di waktu malam. Di saat sendirian, aku merasa menjadi orang paling kesepian yang sedang pelan-pelan ditinggalkan oleh harapan.
Hanya Tuhan,
Doa,
Usaha dalam bentuk apa saja selagi bisa
Orangtua,
Keluarga,
Yang kini aku punya.
Sementara kamu, entah. Aku ingin kamu ada, tapi tak bisa semena-mena. Jika kamu tidak mau, aku bisa apa?
Sementara harap, bayangannya buram dalam gelap.
Semoga ada jalan...
Kuyakin kan ada jalan...
Kupercaya rencana Tuhan...
Semoga kamu tak meninggalkan
Aku mencintaimu di seluruh waktu, di hari paling sepi, di hujan tanpa jeda, bahkan di nadi yang kelak akan berhenti.
#Repost
Definisi Kamu
Kamu adalah seseorang yang hanya dengan melihatnya aku merasa bahagia
~Kumis Lele~
Dia, wanita itu, bercerita bahwa ia menerima pesan-pesan pendek darimu. Dan aku cemburu. Setahuku, kau masih kekasihku, begitu pun dia, terlebih kamu...