Waktu kita dapat perlakuan nggak adil, nggak enak, jangan dibalas. Tapi belajarlah untuk nggak menjadi orang yang seperti itu.
@lovepathie

❣ Chile in a Photography ❣

No title available
DEAR READER

Andulka
will byers stan first human second
styofa doing anything
Jules of Nature
Alisa U Zemlji Chuda
d e v o n
No title available
YOU ARE THE REASON
Mike Driver
Not today Justin

tannertan36
Peter Solarz
we're not kids anymore.
Today's Document
noise dept.
ojovivo
No title available
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Israel

seen from Canada

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from Italy

seen from Singapore

seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Ukraine

seen from Maldives
@lovepathie
Waktu kita dapat perlakuan nggak adil, nggak enak, jangan dibalas. Tapi belajarlah untuk nggak menjadi orang yang seperti itu.
@lovepathie
Seringkali
Seringkali kita berpikir “Apa yang Tuhan bisa lakukan buat kita?” dan bahkan kita sering memaksa Tuhan menuruti mau kita. Segala sesuatunya harus terjadi sesuai inginku, mauku, waktuku, kehendakku. Dan lupa bertanya, “Apa yang Tuhan ingin aku lakukan bagiMu?”, “Apakah ini menyenangkan hati Tuhan?” “Apa yang bisa kulakukan untuk menyenangkan hatiMu”. Seringkali bukan Tuhan tidak berbicara dan mengingatkan, tapi kitalah yang suka mengacuhkan dan menutup telinga.
Untuk berdoa dan berkata “Tuhan aku siap dibentuk, jadilah sesuai kehendakMu dan bukan kehendakku” itu mudah. Namun saat melakukannya? Saat segalanya berjalan tidak sesuai dengan rencana? Saat Tuhan memesankan hal yang jauh berbeda dengan mau kita, masihkah kita taat? Ini bicara tentang penyerahan diri tanpa ragu kepada Tuhan. Kamu seharusnya tahu kepada siapa kamu menyerahkannya. Kamu harusnya tahu, jika Dia yang mengemudikan hidupmu segalanya akan mendatangkan kebaikan.
Apa yang sedang kamu kuatirkan hari-hari ini? Jangan berpikir terlalu banyak, jangan bertindak sesuai dengan maumu, jangan meresponi dengan salah. Turuti kehendak Tuhan, agar Dia disenangkan. Bukankah itu tujuan hidup kita seharusnya? Pilihan ada di tanganmu. Segala yang terlihat baik pun belum tentu bisa membuat Tuhan tersenyum.
Akan lebih baik melihat Tuhan tersenyum, meskipun hati kita yang remuk daripada membuat hati Tuhan remuk saat kita tersenyum
Refleksi Waktu
Pikiranku baru saja berkelana ke tempat yang jauh. Ke tempat dimana air mata lebih sering turun daripada hujan. Ke tempat dimana jarak antara langit dan bumi lebih dekat dari dua pasang sorot mata yang tak bisa bertemu. Ke tempat dimana ketakutan-ketakutan itu ada, dan kuatir bisa saja tiba-tiba lahir. Ke tempat dimana skenario kita jadi begitu rahasia dan tak terprediksi. Ke tempat dimana kata pisah menjadi batas yang sangat menyakitkan. Ke tempat dimana kamu mungkin saja tidak tahu bahwa itu adalah hari terakhir.
Tiba-tiba saja, aku ingin tahu. Tiba-tiba saja aku penasaran. Tiba-tiba saja aku ingin mencicil rasa lebih dini. Hingga aku mengerti bahwa aku salah. Sekejap aku memejam, aku tahu waktu tidak pernah bisa diam. Waktu terus berjalan, pilihan-pilihan terus bergantungan dan kamu tak bisa menghindar dari hari esok.
Namun, bukankah kita bisa menggelar tikar, lalu piknik di atas tanah yang sempit? Karena langit kemana kita menadah akan tetap sama, luas.
Lalu, kenapa kita lebih banyak menguatirkan tentang perpisahan dan lupa menghargai sebuah pertemuan? Kenapa kita lebih banyak menguatirkan hari terakhir dan lupa menikmati hari-hari yang sedang hadir? Kenapa kita lebih banyak menyesali yang terjadi dan tak mencoba memperbaiki yang ada? Karena pada akhirnya bukan perpisahan yang seharusnya kita kuatirkan, tapi mengabaikan skenario yang sudah Tuhan rancangkan.
Buat apa kamu takut dengan waktu yg terbatas, kalau kamu bisa jatuh hati di setiap hembusan nafas? Kekuatiran hari ini cukup jadi porsi hari ini, karena esok ada bagiannya sendiri. Tenanglah, segala sesuatunya akan baik-baik saja. Karena kamu tidak perlu menguatirkan apa yang sudah dikendalikan Tuhan.
Tetaplah Percaya
Ada begitu banyak pasang mata yang lelah berteman dengan realita. Ada begitu banyak hati yang mulai berhenti berharap. Ada begitu banyak jemari yang enggan lagi berdoa. Ada begitu banyak telinga yang terlalu kenyang dengan suara-suara dari dalam ruang pikirannya sendiri, bahkan dengan janji. Ada begitu banyak kaki yang kelelahan karena mereka hanya lari di tempat, tidak menuju kemanapun. Ada begitu banyak tangan yang tak lagi mau mengulurkan bantuan, karena mereka tak mendapat 'balasan' yang setimpal. Ada begitu banyak air mata yang bosan jatuh dan memilih untuk jadi hati yang angkuh. Ada begitu banyak yang jenuh dengan sebuah 'kebenaran' . Ada begitu banyak ruang dalam hatimu yang tak lagi memiliki pintu maaf. Ada begitu banyak yang tak ingin sampai ke garis akhir, memilih pergi dan berhenti. Ada, dan mungkin kamu termasuk salah satu diantara mereka. Sudah terlalu lama matamu tak kunjung melihat perubahan, lalu mulai menyalahkan keadaan, lalu mulai mengecilkan iman, lalu mulai meragukan Tuhan. Sudah terlalu panjang jalan yang kamu tempuh, tak ada pun kamu temui dasar untuk berharap. Hingga akhirnya hatimu mulai rapuh, kakimu pun lumpuh, tak ada lagi harapan yang masih utuh. Sudah terlalu banyak doa-doa yang kamu naikkan, namun tak sepatah katapun keluar dari mulut Tuhan sebagai jawaban. Sudah terlalu banyak yang kamu ketahui, bahkan tak jarang kamu terlihat ahli. Tapi sekedar tahu tak cukup jika kamu enggan melakukannya. Sudah terlalu lama kamu ikut dalam setiap adegan putaran waktu, namun kamu tak bisa menikmatinya. Ada hati yang tak pernah merasa cukup, ada bibir yang terlalu mudah mengeluh, ada topeng yang senantiasa kamu pakai agar tidak ada satu orangpun yang tahu isi hatimu. Namun Tuhan tahu. Dia mengetahui sampai ke hatimu yang paling terdalam, sampai ke ruang pikirmu yang paling terpencil dan sorot matamu yang terjauh. Perjalanan ini memang berat. Banyak yang telah kamu lalui, banyak yang telah kamu tangisi. Karena itulah kamu terlalu lelah, terlalu rapuh, terlalu mudah untuk jatuh. Banyak yang tak sesuai dengan kehendakmu, banyak tanya yang mengudara kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak sekarang, kenapa harus sekarang, kenapa harus aku, kenapa bukan yang lain? Lalu hati menjadi kuatir saat skenarionya tidak berjalan seperti yang kamu pikir. Lalu kamu mulai mempertanyakan Tuhan? Kamu memang sudah melewati banyak, kamu memang lelah, kamu memang lemah. Tapi bukan berarti kamu harus putar balik dan menetap disana, bukan berarti kamu harus lari di tempat, bukan berarti kamu harus mengakhiri dan cari jalur yang lebih terlihat mudah, bukan berarti kamu harus berhenti. Tak sadarkah bahwa Tuhan telah membawamu sejauh ini bukan untuk hal yang sia-sia? Tak sadarkah bahwa di sebuah perjalanan yang panjang ini ada begitu banyak pelajaran yang sedang Dia berikan? Tak sadarkah bahwa apa yang kamu alami bukanlah suatu hal yang kebetulan? Mungkin belum bisa kamu mengerti, tapi nanti pasti. Tak sadarkah bahwa Dia penulis skenarionya? Jangan berhenti, jangan menyerah, jangan putus asa. Setelah apa yang kamu alami, hanya Tuhan yang begitu peduli dan selalu di sisi. Saat kamu mempertanyakan keberadaan Tuhan, Dia pun ada disana, tak pernah pergi. Hanya kamu saja yang kurang percaya. Saat kamu merasa lelah, tinggal tenanglah dan beristirahatlah di dalam Dia. Maka sekalipun segalanya tidak baik, kamu akan baik-baik saja karena kamu percaya Tuhan akan membuat segalanya menjadi yang terbaik, bukan yang terbalik. Saat kamu merasa lemah, tetaplah kuat karena ada Tuhan yang menguatkan. Saat kamu merasa lemah, berhentilah mengandalkan dirimu sendiri. Andalkanlah Tuhan yang tak pernah mengecewakan. Percayalah kepada Tuhan sekalipun seisi dunia tak bisa dipercaya. Berharaplah sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Teruslah berdoa, sekalipun matamu tak menemukan jawaban. Lakukanlah apa yang benar di mata Tuhan, bukan yang disenangi dunia. Sekalipun hatimu terasa remuk, percayalah bahwa kamu sedang Tuhan bentuk. Sekalipun banyak perkara yang sukar, kamu diminta untuk tetap tegar. Segalanya akan baik-baik saja. Percayalah kepada Tuhan.
Berterima kasihlah kepada Tuhan jika hari ini kamu masih diproses. Berarti tandanya, Tuhan masih belum selesai membentukmu. Saat kita menghadapi proses, kita sering merasa tidak kuat karena kita pakai cara manusia, bukan cara Tuhan. Ada berapa banyak proses yang dulu kamu rasa terlalu sulit dan mustahil untuk kamu lewati? Sekarang lewat juga kan?
Proses itu pasti lewat, namun yang terpenting adalah kita belajar dari proses itu. Melewati proses itu mudah, namun pakai respon yang manakah kamu? Yang benar atau yang salah? Untuk lari dari proses pun bisa-bisa saja. Tapi lari tidak menyelesaikan apa-apa. Lari hanya menunda. Mungkin dengan lari, kamu menjumpai jalan yang jauh lebih gampang untuk dilewati. Tapi kamu tidak akan pernah sampai garis akhir. Kamu rasa lelah berlari, tapi kamu tidak pernah bisa sampai ke garis akhir yang Tuhan mau.
Di dalam proses, kuncinya adalah percaya, taat dan tinggal tenang. Percaya bahwa Tuhan pasti pegang kendali. Jadi, jangan coba-coba mengendalikan dengan cara kita sendiri. Tinggal tenang bicara lakukan porsimu, baru sisanya bagian Tuhan. Tenanglah, jangan kuatir. Karena segalanya akan baik-baik saja. Bahkan saat segalanya terasa tidak baik, Tuhan selalu melakukan yang terbaik. Kita tidak akan pernah bisa taat saat kita tidak mengenal Dia. kalau kamu Tuhan tidak pernah ingkar janji, kamu pasti taat.
Banyak orang berhenti taat, karena cara Tuhan terasa lebih lama, lebih rumit, lebih susah dan diluar logika. Padahal Tuhan sedang menguji iman kita. Ketahuilah bahwa sekalipun menurut matamu situasi rasanya tidak berubah, namun Tuhan tdak pernah berhenti bekerja. Dia selalu bersama kita. Saat matamu tidak melihat adanya perubahan, janganlah cemas. Perkuat imanmu. Iman itu bukti dari segala hal yang tidak kelihatan kan? Jadi, jangan menyerah, tapi berserah
Tuhan tidak minta kamu menyerah, tapi berserah
@lovepathie
Ada banyak hal yang bisa kamu syukuri dari sebuah detak dan detik
@lovepathie
Berdoalah bagi mereka yang kamu cinta. Telinga Tuhan tak pernah sibuk untuk mendengarkannya
@lovepathie
Jangan bilang kamu telah mengalah kalau akhirnya kamu tetap mengeluh.
@lovepathie
halo :) pertama saya tahu kamu dari soundcloud yang judulnya pemerhati dan itu keren banget. sukaa! eh, ketemu tumblrnya dari reblog2an temen haha langsung nge-message. Saya suka sama tulisan2mu. Salam kenal ya, semoga saya jadi tambah semangat buat nulis :D
Hai kamu! terima kasih ya :') Praise God! semangat nulis dan terima kasih sudah membaca sekaligus mendengarkan.
Untuk Setiap Hati
Samar yang setipis kertas, di antaranya ada sebuah batas. Tidak ada peraturan yang begitu kuat untuk memisahkan antara cinta dan sebuah penyangkalan. Ketakutan punya sejuta kekuatan yang melebih-lebihi segala rasa saat ia mulai beraksi. Nyawa hati belum kembali pulih seusai ia habis-habisan disakiti oleh yang begitu ia cintai. Jika kini ia ditawari rasa yang serupa dengan apa yang dulu ada, hati hanya terlalu takut ia terburu-buru. Terlalu takut lagi-lagi ia tak berhati-hati. Caplah aku pengecut atau penakut, tapi ini upaya melindungi hati yang terlalu sering mencintai tanpa setengah-setengah. Hingga akhirnya, ia benar-benar patah. Dulu, cinta dan bahagia begitu sederhana untuk dimiliki. Namun sejak berkali airmata menjadi pertanda tibanya si peretak hati, percayaku mulai berkurang. Kukira sosok itu ditakdirkan untuk menemukanku, tapi nyatanya meremukkan. Bukannya aku mengasingkan diri tak mau lagi dicintai, pintu itu masih akan terbuka, tapi aku perlu menyeleksi pemilik kuncinya. Cinta masih mengental, tapi luka pun terasa mengekal. Aku hanya tak ingin salah langkah. Karena pernah, cinta membuatku begitu patah. Untuk sembuh, perlu waktu yang sangat lama. Aku butuh merangkak seorang diri, meminum pil kenyataan yang begitu pahit dan menyadarkan bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menerima. Memang, tadinya aku tak ingin terburu-buru mendefinisikanmu sebagai calon penghuni hati. Karena ada ruangan yang pernah diobrak-abrik oleh beberapa objek masa laluku, kini perlu dirapihkan terlebih dahulu. Terlalu jahat jika ruangan tempatmu menghuni nanti masih dipenuhi sisa-sisa luka. Penyambutan yang baik adalah sebenar-benarnya mencintai dengan tanpa membawa masa lalu ikut serta. Memang, ingatan tentang beberapa peristiwa patahnya hati takkan pernah bisa terusir pergi. Tapi setidaknya aku perlu memastikan bahwa sekalipun bahagia mulai mengudara, ini bukanlah penyangkalan atau pesta sandiwara. Ini bukan perasaan sisa-sisa masa lalu. Harus ada hati yang benar-benar bahagia, atas maaf yang sepenuhnya terlaksana. Jika belum diberikan berarti kita masih dipersiapkan dan jika kita dipersiapkan, pasti akan dipercayakan. Jadi bukan berarti saat menunggu yang terbaik, lalu kita berhenti berusaha menjadi yang terbaik. Kita tidak akan pernah sampai ke rumah yang tepat, kalau kita hanya diam di tempat. Percayalah kepada Sang Pemegang Hari Esok, karena Dia takkan membuat kita jatuh terperosok. Jangan takut, jangan khawatir, jangan cemas akan segala hal yang masih tak terprediksi, karena Tuhan sudah pegang kendali. Porsi untukmu, tidak akan pernah berlebihan dan berkekurangan. Rencana Tuhan tidak akan pernah terlambat atau terlalu awal. Sebarkanlah percaya dalam ruang hatimu, berhentilah menerka-nerka segalanya dengan pikiranmu sendiri. Cinta masih sama. Beberapa harus menunggu sedikit lebih lama. Beberapa masih harus setia mencintai tanpa menimbang sebanyak apa yang akan diterima. Karena cinta adalah memberi, bukan sepenuhnya memiliki. Cinta masih sama. Takkan terasa tiba jika kita masih menyangkalnya. Terimalah, percayalah, bahwa segalanya akan baik-baik saja. Jika ujungnya bukan dengan dia, berarti masih ada sosok yang terbaik yang sedang dipersiapkan. Cinta masih sama. Kitalah yang harus pintar-pintar berhati-hati menjaga hati dan menikmati bahagia yang mengedar bebas di setiap arena. Cinta masih sama. Masih berteman baik dengan percaya. Karena mungkin, disaat kamu tidak lagi mencari, tidak lagi mengharapkan terlalu banyak, disaat kamu seutuhnya utuh, Tuhan akan mengirimkan penghuni istimewa itu. Bersiaplah. Kamu tidak akan bisa menelusuri jalan pikiran Tuhan kan? Selamat menunggu saat itu tiba dan berbahagialah
Ratusan Hari Sudah Kita Lewati
Ratusan hari sudah kita lewati. Tidak ada yang terlalu lama, atau pun terburu-buru. Seharusnya seperti itu kan? Seimbang. Ratusan hari sudah kita jalani. Tepat di detik pertama kamu menemukanku, skenario Tuhan mulai bekerja dengan luar biasa. Tepat di detik pertama kamu mengetahui namaku, seolah-olah ada sebuah ijin yang kukantongi untuk mengenalmu lebih jauh. Tepat di detik pertama percakapan kita tercipta, ada alur lincah yang menari untuk membuat kita tetap terjaga dalam kata. Tepat di detik pertama, kamu memulai segalanya. Tepat di detik pertama, ada rahasia manis milik semesta yang tak pernah bisa diterka oleh kepala. Ratusan hari sudah berlalu dari pandangan, namun doa-doa masih terus dipanjatkan untuk sebuah kebahagiaan di masa depan. Ratusan hari sudah pergi dari lintasan, hingga akhirnya aku bersyukur kalau kita telah dipertemukan. Ratusan hari pernah kita cicipi. Dan kini, dengan mudah kamu menciptakan rona pada pipi, dengan mudah kita melupa tentang hal-hal pahit yang sempat meretakkan hati, yang pernah hadir lewat spion masa lalu. Ratusan hari sudah kita tapaki, namun masih ada ketidakpastian tentang isi hati. Tentang bagaimana perasaan kita sebenar-benarnya. Satu yang aku tahu, kita adalah racikan sederhana yang telah Tuhan rencanakan. Racikan bernama kebahagiaan. Racikan yang mampu menarik lekuk-lekuk senyum siapapun yang beredar di sekeliling kita. Permulaan itu kugarisbawahi dengan tebal. Pertemuan itu kucatat berulang-ulang. Ada sesuatu yang belum kumiliki, sudah kusyukuri, namun enggan kulepaskan. Entah kapan, sejarah kita bisa dideklarasikan di depan seisi semesta. Entah kapan, aku bisa dengan lantang mengutarakan bahwa kamulah satu-satunya. Bahwa kamulah yang aku cinta. Bahwa segala sesuatunya terasa luar biasa, sesederhana ketika kamu ada. Namun, sejak bertemu denganmu pemikiranku berubah seratus delapan puluh derajat. Ada hati yang semakin dewasa, semakin mengerti, semakin paham untuk mengolah cinta. Ada hati yang lebih tegar, lebih mempercayai bahwa Tuhan lebih ahli merencanakan segala sesuatunya. Ada hati yang libur panjang untuk bersedih dan ada hati yang sudah tak pernah ingin khawatir terhadap apapun. Karena ia percaya, segalanya akan baik-baik saja. Aku bermimpi memiliki satu hari yang tak pernah habis kunikmati bersamamu. Satu hari yang tak pernah selesai. Satu hari yang mengandeng hari-hari lain untuk mengikat kita dalam doa. Menjaga kita dari kecewa. Menghindarkan kita dari luka. Satu hari yang membebaskan segala rasa takut. Karena bersamamu, itulah inginku. Mulailah terus mengirimkan bahagia, ciptakanlah hal-hal manis agar kepalaku tak bosan mengingatnya. Mulailah jadi yang pertama melakukan segalanya untukku dan yang terakhir yang takkan melepaskanku. Mulailah segalanya tanpa sebuah akhir. Mulailah di waktu yang tepat, di detik yang Tuhan ijinkan. Aku akan menunggu, jikalau kamu memperbolehkannya. Aku memelukmu dalam doa
Sebuah Paket
Untuk yang telah mengirimkannya, Sebuah paket kuterima pagi ini. Paket yang terlalu dini. Sesuatu yang tak pernah kuminta, tapi Si Pengirim lebih mengerti waktu yang paling tepat untuk memberikannya. Mungkin Dia tahu aku sudah siap menerimanya, mungkin Dia tahu kalau aku membutuhkannya. Mungkin Dia tahu kalau dua lebih baik daripada satu. Sepaket yang jauh dari sempurna. Bingkisannya hanya dibalut oleh kesederhanaan. Diisi oleh hati yang utuh, senyuman yang mampu membuatku luluh, tawa yang membuat awan kelabu dalam hari-hariku lumpuh dan perjalanan pikirannya yang begitu ingin kutelusuri. Kabut asing yang menyelimutinya kini luput oleh sebuah perkenalan. Lewat peristiwa-peristiwa buatan Dia yang begitu magis, sekaligus manis. Ikatan-ikatan lain pun mendekatkan lewat berulang kali pertemuan. Aku hanya belum tahu kalau paket itu akan benar-benar sampai ke rumah yang tepat; hatiku. Diatas paket itu tertulis sebuah nama yang tak asing, nama yang selalu membuat telingaku jeli saat semesta membicarakannya, nama yang begitu mudah mengirimkan kebahagiaan, nama yang membuat kekagumanku begitu pekat. Sepaket yang begitu manis sudah tiba di depanku. Satu hal yang terlintas dalam kepala saat menemukannya, "Aku ingin menjaganya". Terima kasih sudah mengirimkan pria ini untuk kujaga hatinya. Terima kasih sudah memilihku untuk jadi perempuannya. Terima kasih telah mempersatukan kami, Tuhan. Terima kasih karena Kau selalu mengerti, jauh lebih mengerti dari apa yang biasa kepala ini terka-terka. Terima kasih untuk paket-paket masa lalu yang pernah kau pindahkan haluan, karena kini aku sudah benar-benar menemukan yang terbaik. Terima kasih untuk cinta yang masih tersedia untuk kami berdua. Tuhan, tetaplah menjadi perantara. Yang sedang berbahagia.
Kalau Kita Bertengkar
Untuk kamu di suatu hari yang tak terprediksi, Cinta adalah teka-teki. Dan perjalanan hati, tidak ada yang pernah bisa memprediksi. Tidak ada yang ahli, karena cinta bisa membuat siapapun jatuh berulang kali. Esok hari, masih terlalu rahasia untuk dicicipi. Janji seolah ikatan yang tak abadi, karena siapapun bisa lupa, bisa lalai tak menjaga, pun tak mampu lagi untuk menepati. Janji seolah ketakutan bagi mereka yang tak berani mempertahankan sampai akhir. Hanya ada hati yang perlu dilatih lebih kuat, lebih berhati-hati, lebih menjaga yang dicintainya. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Bahkan hatiku lebih dulu memilihmu, sebelum kamu mengutarakan rasa. Mungkin sebelum perjumpaan kita, Tuhan sudah merencanakan agar kita saling mencinta. Itu adalah salah satu rahasiaNya, yang tak pernah bisa diukur dengan logika. Mungkin aku tak sering mengucapkan kalimat ini. Tapi kali ini ingin kubisikan lewat seracik aksara dalam surat yang entah kapan akan kau baca. Aku mencintaimu dan semoga akan selalu begitu. Karena sungguh aku tak bisa mengintip hari esok. Ada batas yang terlalu jauh, yang tak bisa kita tempuh. Ketahuilah hal itu. Karena jika suatu hari lahir sebuah pertengkaran diantara kita, aku tak ingin ada rasa yang tersapu. Karena jika suatu hari kamu memalingkan wajahmu dariku, tolong jangan sangkal hatimu. Utarakan saja, keluarkan saja sesak yang menyangga hatimu, tapi jangan pergi. Jika suatu hari ada kekecewaan yang tiba-tiba mendatangi, janganlah malu untuk mengirimkan maaf terlebih dahulu. Dan jika suatu hari ada salah satu dari kita yang tak mampu mencegah luka, janganlah memilih untuk berpisah jalan. Ingatlah perjumpaan kita, perjalanan cinta dan rasa yang masih ada. Kamu butuh menyendiri, tapi tidak dengan melepasku pergi. Kamu butuh menyembuhkan hati, tapi ijinkanlah aku yang mengobati. Jangan ijinkan gengsi untuk menghuni hati, karena aku takut ia yang akan mengusirku dari kediamanmu. Aku mencintaimu, jangan terlalu lama membisu. Cepat peluk aku.
Perjalanan Sekaligus Pelajaran
Selamat empat belas manis, Sebut saja cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. Setelah berulang kali jatuh cinta dan patah hati. Setelah berulang kali kamu menemukan, kemudian akhirnya melepaskan. Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan. Setelah berulang kali menemukan rumah, namun kamu hanya dianggap sebagai tempat singgah. Setelah kamu merasa dialah orang yang tepat, sampai kepadanyalah hatimu menutup pintu rapat-rapat. Setelah segalanya yang terjadi, masihkah kamu percaya dengan cinta? Namun seperti yang kukatakan, cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Aku tak pernah mendefinisikan perpisahan sebagai sebuah akhir. Dan buatku, melepaskan bukan perkara siapa yang tidak bisa bertahan. Tapi mungkin melepaskan adalah cara terbaik untuk kembali menemukan. Jika kamu belum benar-benar menemukan, berarti kamu masih ada di sebuah rel panjang. Hanya waktu yang bisa menentukan kapan kamu akan pulang. Ke sebuah rumah dan lalu menetap disana. Terlalu sering disakiti, jangan membuatmu jadi kehilangan stok persediaan 'maaf'. Berbesar hatilah, bebaskan hatimu dari benci. Karena benci adalah penjara paling mengerikan. Aku tidak pernah menyesal atas peristiwa-peristiwa yang membuatku terluka, karena disitulah aku belajar untuk mendewasa dan menerima. Aku tidak pernah merasa segalanya akan sia-sia, karena Tuhan selalu punya rencana. Selalu tempatkan cinta di hatimu, di ruang paling utama, tempat dimana kamu bisa menyambut calon penghunimu untuk menetap. Kamu bebas untuk merasakan cinta, menyebarkannya, membagikannya dan memilikinya. Jaga hatimu baik-baik, agar bisa suatu hari memberikan kepadanya yang terbaik. Jangan takut untuk merasakan cinta, jangan menyangkalinya dan jangan berjalan dengan spion masa lalu. Karena cinta akan selalu tiba dengan cara yang berbeda. Jangan takut untuk mengutarakannya. Bukan untuk sebuah perlombaan memenangkan hati, tapi mengapa disimpan jika memberitahu akan membuat seseorang merasa lebih bahagia? Aku sudah lama berada dalam sebuah perjalanan. Aku pun tidak benar-benar tahu, apakah aku sudah menemukan. Tapi aku tahu, aku tidak perlu terburu-buru. Karena orang yang tepat, orang yang terbaik, sudah disiapkan oleh Tuhan. Jika kamu yang nantinya Tuhan berikan untukku, aku berjanji untuk menjagamu, mencintaimu tanpa titik henti. Kita akan berjalan maju, tanpa melirik pada masa lalu. Kita akan bahagia dan tak kuatir akan apa-apa. Satuhal yang perlu kamu tahu, dimanapun kamu berada, meski tanpa sebuah nama, tapi kepada calon priaku, kamu selalu ada dalam doa. Semoga kita bertemu, secepatnya, setepatnya.