Tadi malam, saya tergerak untuk membuka hp Ibuk, membuka aplikasi Whatsapp dan mengetikkan sebuah nama di aplikasi tersebut...
Saya gulirkan tangan saya untuk mendapatkan percakapan yang terdahulu, agustus tahun 2022
Adalah awal mula perjodohan saya dengan alm suami. Percakapan antara Ibuk, dengan dr. Umi (nama disamarkan) yang menjadi mak comblang antara kami berdua.. dr. Umi adalah dokter umum yang bekerja di salah satu puskesmas di gunungkidul, dokter langganan ibuk di tempat praktek mandirinya di rumah bantul, dan mengenal alm suami dari kegiatan-kegiatan dinas kesehatan gunungkidul.
Tanpa sadar, hangat terasa mengalir di pipi. Saat-saat taaruf adalah saat dimana saya belum berbunga-bunga, bahkan belum juga menanam bunga. Perasaan saya masih datar saat itu.. Tetapi, melihat percakapan dua perempuan (Ibuk dan dr. Umi) tersebut, bertambah rasa syukur saya pernah disandingkan dengan alm suami dalam ikatan pernikahan..
Saya tidak mempunyai bukti kenangan manis sebelum pernikahan, karena semua hal tercurahkan lewat perantara. Saya baru melihatnya sekarang, bagaimana beliau mengungkapkan kesungguhannya, mendiskusikan dengan keluarganya, mengungkapkan keinginannya menunggu apapun jawaban dari saya, berdoa diberikan hasil terbaik, dan bersujud syukur atas jawaban "ya" dari saya.. Semua ketikan alm suami itu terekam utuh diteruskan dari dr. Umi kepada Ibuk..
Sungguh, yang saya dapati sepeninggal beliau hanyalah kebaikan.. MasyaAllah.. Umma ridho dengan Abba, Umma pun ridho dengan ketetapan Allah Ta'ala..
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu..
Bertemu karena Allah dan berpisahpun juga karena Allah.. Umma dan Ardhan sayang Abba, karena Allah.. ❤️❤️❤️











