Lyn - Miss you.. crying.. I miss you.. I miss you so much..
styofa doing anything
Today's Document

JVL
Game of Thrones Daily
Misplaced Lens Cap
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available

#extradirty

Andulka

if i look back, i am lost
Lint Roller? I Barely Know Her
One Nice Bug Per Day
wallacepolsom
No title available
Peter Solarz

pixel skylines

Kiana Khansmith

⁂

祝日 / Permanent Vacation
Not today Justin

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from India
seen from Netherlands

seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Iraq
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@lyaemha
Lyn - Miss you.. crying.. I miss you.. I miss you so much..
Love Letter For You - 3 Salahmu
"Apa kamu sudah tahu tiga salahmu? Kau buat aku tak mau lagi berpaling darimu.. Semoga nanti, kamu kan memahamiku..”
Adalah tiga salahmu yang tidak bisa membuatku marah. Malah, membuatku tersenyum geli saat mengingatnya. Benar, “Aku tak mau lagi berpaling darimu.” Alasannya sangat sederhana. Karena aku terlalu sering mendengar cerita tentangmu; Lalu, aku bertemu denganmu; Saling bertegur sapa—meski singkat; Dan, aku melihatmu tersenyum. -
"Satu, kamu yang paling buatku.. Dua, kamu curi hatiku.. Dan ketiga, kamu lucu..”
Tiga hal yang membuatku tersenyum ketika mengingatmu. Aku merasa kehilangan hak atas hatiku, karena kamu memilikinya. Aku menganggap senyummu sangat polos sampai membuatku turut tersenyum saat melihatnya; Aku selalu mengingatnya, tidak pernah melupakannya. -
"Aku tak pernah dengar kabarmu.. Sampai kamu kembali.. I want you..here, in my heart..”
Sialnya, aku tidak bisa leluasa menanyakan keadaanmu. Masalahnya, jarak yang membentang jauh. Tidak ada cara untukku agar tahu keadaanmu. Tidak mungkin saat ini aku berdiri di hadapanmu dan bertanya, “Bagaimana kabarmu?” Lagi-lagi, alasannya adalah jarak; Jarak; Dan jarak. Hanya ada satu hal yang mungkin bisa membuatku tahu keadaanmu. Adalah, ketika kamu kembali dan Tuhan mengizinkanku bertemu denganmu (lagi). -
"Tolong aku, bantu aku.. Aku suka kamu.. Semoga nanti, kamu kan memahamiku..”
Ketidak-beruntungan mengikatku. Seharusnya, aku tidak menyukaimu karena aku sudah tahu ini pasti akan sulit untukku. Sekalipun, aku selalu berharap suatu saat kamu akan memahami. Mustahil. Bagaimana mungkin? Bahkan, aku tidak bernyali untuk bilang, “Hei, aku suka kamu!” Lagi-lagi, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan meminta, “Tuhan, pertemukan aku dengannya (lagi), (lagi), (dan lagi).” -
Love letter for you, The one who won my heart..
3 Salahmu - Bunga Citra Lestari
Tidak masalah, meski malamku tidak indah seperti kemarin. Yang penting, pagiku tetap cerah; tidak berselimut awan mendung seperti yang menyembunyikan kerlip bintang di langit semalam.
Berjanjilah untuk setia seperti matahari kepada bumi. Kurahasiakan alasannya. Temukanlah jawabannya. Maka, saat itu aku akan menjadi perempuan paling bahagia.
Lya Emha
Tuli
Telepon; sekali berdering, tidak diindahkan. Dua kali, tiga kali, empat kali; barulah tersadar, itu ketukan yang terdengar di pintu hati yang sekian lama terkunci rapat.
Ruang Kecil
Dalam kehidupanku, aku memiliki sebuah tempat di mana hanya aku yang bisa memasukinya. Hanya aku yang memiliki kunci untuk membuka pintu. Hanya aku yang bisa merasakan ketenangan di sana. Tidak ada yang lain yang bisa memasukinya, kecuali; bayangan diriku. Dari semua tempat terindah dan ternyaman yang pernah kutemukan, hanya ruang kecil itulah yang mengenal bagaimana diriku yang sesungguhnya. Aku tidak perlu menjadi berbeda hanya karena aku ingin orang lain menerimaku. Aku tidak perlu menjadi orang lain, hanya karena aku ingin diakui. Di ruang kecil itu, aku bebas menjadi diriku. Bebas menjadi apa yang kuinginkan. Meski tak pernah ada satu orang pun di sana yang menemaniku, namun aku tidak pernah merasa kesepian. Kesunyian menjadi lantunan musik yang menenangkan. Di dalam sana, aku bercengkerama dengan sahabat-sahabatku yang kupanggil dengan sebutan ilusi. Di dalam ruang kecil yang penuh kebebasan itu, aku menemukan pasangan jiwaku yang muncul dari ketenangan. Aku memberikan mereka nama. Memberikan mereka perasaan, dan menciptakan alur kehidupan untuk mereka. Aku menuliskan kisah hidup mereka pada lembaran-lembaran halam kosong. Aku menciptakan kebahagiaan untuk mereka. Namun, terkadang, aku pun menumbuhkan kesedihan hingga berbuah air mata. Sejujurnya, aku pun akan menangis saat menuliskan kisah sedih dalam kehidupan pasangan jiwaku. Aku juga tersenyum saat merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Ingin rasanya aku hanya ingin menciptakan kebahagiaan untuk mereka. Namun, sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi. Karena kisah mereka akan mati, tidak akan hidup, jika aku hanya menuliskan keindahan tanpa ada hujan kepedihan yang mengikisnya. Rindu rasanya aku ingin menjamah ruang kecilku yang penuh kebebasan. Lama aku tidak pergi ke sana, membuka pintu dengan kunci yang kumiliki, lalu melihat bagaimana keadaan di sana. Mungkin, beberapa ide telah usang dan berdebu. Beberapa pasangan jiwa mungkin telah terlewat dari imajinasiku dan pergi entah ke mana. Karena beberapa sebab, aku menjadi orang yang tak peduli. Begitu sering ilusi mendesakku untuk segera masuk ke ruangan itu. Namun, egoku yang merasa lelah tidak pernah gagal menghasutku untuk tetap bergeming. Barangkali, ilusi-ilusi yang terpenjara sekian lama itu telah merasa terlantar. Mungkin, mereka merasa kecewa karena aku membiarkan ruang kecil itu terkunci rapat terlalu lama dan usang. Andai saja mereka semua tahu, aku tidak berniat mencampakkan mereka. Kalau saja mereka tahu, bahwa sejujurnya aku merindukan mereka; ingin bercengkerama bersama mereka sepanjang malam, seperti biasanya. @lyaemha
Aku hanya merasa penasaran; bagaimana jadinya jika takdir setiap orang ditulis oleh dirinya sendiri?
Lya Emha
Jika Tuhan berkehendak; dia yang telah pergi dan meninggalkan jejak di hidupmu, suatu saat pasti akan kembali menyusuri jejak itu. Seperti air laut yang kembali lagi untuk meminang bibir pantai, usai mengecup pesona tengah samudra.
Lya Emha
Jika Tuhan berkehendak, maka, percayalah; ia yang telah pergi, pasti akan kembali. Seperti air laut yang kembali untuk meminang bibir pantai, usai mengecup pesona tengah samudra.
Lya Emha
Aku dan kamu; ibarat sebatang pohon dan hujan. Aku selalu menantimu di tempat yang sama--kecuali aku telah mati-- sementara, kehadiranmu tidak bisa dipastikan.
Lya Emha
Seringnya, aku terlalu banyak menuntut kepada Tuhan; meminta agar Dia memberikan apa yang kuinginkan. Seolah, tidak tahu diri; jariku bisa menghitung, berapa banyak Tuhan menerima rasa syukurku; atas apa yang telah Dia berikan yang merupakan kebutuhanku; termasuk hidupku, juga napasku.
Lya Emha
Dia tidak ingat kepadaku; sebatang pohon yang disapanya lewat tetes-tetes air hujan malam itu.
Lya Emha
Garis tangan; seseorang menelusurinya. Seolah, ia memahami masa laluku dan tahu masa depanku.
Lya Emha
Secangkir kopi; kebahagiaan. Rasa manis; tambahkan gula secukupnya sebelum menikmatinya. Rasa pahit; tak perlu tambahkan apa-apa dan sekadar meminumnya. Kau berhak menentukan rasa kopimu. Kau pilih mana?
Lya Emha
Katanya, cinta itu sederhana. Coba saja temukan kesederhanaannya. Saat kau berusaha mencari kesederhanaan yang dimaksudkan, akan ada hal lain yang kelak kautemukan; otakmu terasa seperti benang kusut.
Kebahagiaanmu; bukan aku. Kau bilang, kau melihat kebahagiaan di ujung sana. Sementara, aku duduk di sampingmu.
Lya Emha
Sebuah Pesan #1
Saya adalah anak kedua dari dua orang bersaudara--sebenarnya, dari tiga bersaudara. Saya punya seorang adik laki-laki. Namun, Tuhan sangat menyayangi adik saya, sehingga memutuskan untuk memanggil adik kecil saya itu untuk lebih cepat menghadap-Nya. Entah sejak kapan saya mulai menyadari hal ini. Namun, saya percaya bahwa rencana Tuhan--apapun itu--selalu menjadi yang terbaik. Hal itu tidak lantas menjadikan saya sebagai anak yang dimanjakan. Ya, hanya sesekali saya bersikap manja di hadapan Ibu, meski saya tidak mengerti apa alasannya saya bersikap seperti itu. Biasanya, sikap manja itu saya tunjukkan ketika saya pulang ke rumah dan berkumpul kembali dengan ibu saya--saya tinggal di perantauan, demi melanjutkan pendidikan. Tidak ada yang berlebihan. Saya hanya meminta Ibu untuk memasak ini dan itu, membuat kue ini dan itu, membelikan ini dan itu. Hanya sebatas itu. Dan, saya rasa, itu merupakan sesuatu yang wajar karena selama di perantauan saya hampir tidak pernah memakan makanan yang rasanya persis seperti masakan yang dibuat oleh Ibu. Selain itu, saya selalu menikmati waktu malam di rumah. Di mana, saat itu, saya selalu menghabiskan waktu untuk bercerita dengan Ibu. Sesekali, saya yang bercerita, sementara Ibu yang mendengarkan. Atau, saya yang menjadi pendengar bagi tiap kisah yang diceritakan oleh Ibu. Seringkali, saya meninggalkan kamar tidur saya dan memilih untuk tidur di kamar Ibu--bertiga, bersama Ibu dan kakak saya. Rasanya, lebih nyaman tidur di kamar Ibu, di samping Ibu, berbagi selimut. Di setiap kisah yang diceritakan Ibu, selalu terselip sebuah pesan. Pesan untuk anak-anaknya, yang semuanya adalah perempuan. Di usia kami--saya dan juga kakak saya--yang sudah bukan anak kecil lagi, Ibu selalu menyelipkan pesan "keperempuanan". Ibu selalu berkata, "Jadilah perempuan yang mandiri, jangan bergantung kepada orang lain, apalagi kepada laki-laki." Selain itu, Ibu juga pernah berkata kepada saya, "Seberat apapun bebanmu, sesulit apapun kamu berusaha menanggungnya, tetaplah berusaha terlihat tegar dan kuat. Jangan perlihatkan kepada orang lain, tetap tunjukkan kekuatan dan keanggunanmu sebagai seorang perempuan. Tidak berarti kamu lemah. Hanya saja, orang-orang yang mungkin bertanya kepadamu--tentang apa yang kaualami dan tentang bagaimana keadaanmu--mereka hanya merasa penasaran, bukan peduli. Kamu akan lebih tersakiti, jika menyadari bahwa mereka tidak peduli." Mendengar hal itu, saya nyaris meneteskan air mata karena terharu. Namun, saya memilih untuk memalingkan wajah dan menyembunyikan genangan air di sepasang mata yang saat itu tidak berani membalas tatapan Ibu. Mungkin, saya malu. Atau, saya tidak mau Ibu melihat saya menangis. Saya pun tidak berani bersuara, hanya mendengarkan setiap kata yang dikatakan oleh Ibu. "Sulit menemukan orang yang benar-benar peduli kepadamu. Mungkin, mereka hanya sekadar ingin tahu dan penasaran. Selanjutnya, mereka akan memilih untuk pergi setelah mendengarkan semua ceritamu. Barangkali, beberapa akan ada yang menertawakanmu. Lebih baik, biarkan hanya dirimu saja yang tahu. Rasa sakit yang membuatmu menderita, hanya kamu yang merasakan. Mereka tidak akan bisa menertawakanmu. Tersenyum bukan caramu untuk menyembunyikan luka, melainkan caramu untuk tidak mendapatkan tambahan luka yang mungkin lebih menyakitkan."