Aku baru aja beres baca novel dengan judul Satu Hari Bersamamu karyanya Mitch Albom. Righttt, aku nemu novel ini dari rekomendasi orang twitter yang mengatakan kalau this novel is a sad story.
Oke, novel keluarga emang punya tempat tersendiri di hati, kan? Tapi, di aku pribadi, enggak sampe ngerasa sedih yang sedih banget. Cuma, kayak, apa ya, ngerasa terharu aja gitu terus jadi inget mama sendiri. Ada kalanya aku gak belain Mama, tapi di setiap waktu Mama selalu belain aku.
Baca novel ini jadi reminder juga kalau segala sesuatu itu gak ada yang permanen, jadi plis banget, harus ngemanfaatin waktu yang dipunya sama orang tersayang itu dengan sebaik-baiknya.
Novel Satu Hari Bersamamu ini nyeritain tentang Chick, yang secara misterius bisa kembali menghabiskan waktu bersama ibunya yang sudah tiada. Nah, Chick ini salah satu orang yang emang kurang atau bahkan gak begitu menghargai keberadaan ibunya. Menganggap ibunya akan hidup selamanya. Di hari ibunya pergi dari dunia, Chick ini belum bisa jadi anak berbakti yang sepenuhnya. Malah, dia sempet ngebentak ibunya dan kala itu juga dia berbohong ke ibunya. Jadi, tau kan, perasaan menyesal yang Chick rasakan segede apa?
Habis ibunya meninggal, Chick hidupnya jadi kayak, hancur. Iya, dia jadi suka minum-minum. Kerjanya gak bener. Sampe-sampe istri dan anaknya pergi ninggalin dia. Bahkan, pas anaknya menikah pun, Chick cuma dikasih tau lewat surat, dan itu pun udah lewat beberapa hari dari hari-H. Putus asa banget, lah, dia. Ngerasa jadi ayah paling gagal sedunia. Dia pun memutuskan buat bunuh diri karena, toh, dia gak punya alasan buat lanjut hidup lagi.
Dia pergi ke kampung halamannya dulu, tempat dia menghabiskan masa kecilnya bersama sang Ibu. Nah, pas dia mau bunuh diri, dimulailah kisah satu hari yang bisa ia nikmati lagi bersama sang ibu.
Keren, sih, menurut aku. Cuma, gimana ya, balik lagi, aku gak ngerasa sedih yang sedih banget. Mungkin karena bahasanya juga yang baku banget karena ini novel terjemahan. Aku bahkan butuh waktu seminggu buat namatin novelnya. Yaaa, gitu, deh. Coba kalian baca aja, mungkin bakal punya perspektif yang berbeda? Who knows, right?
Best Regards,
malinotkundang















