Will you be my future tense?
All of these dreams, especially the path to Jannah. In syaa’ Allah. :)
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available

oozey mess
No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Sweet Seals For You, Always
One Nice Bug Per Day
taylor price

titsay
TVSTRANGERTHINGS
No title available
Keni

Origami Around

Andulka

#extradirty
Peter Solarz
AnasAbdin
Sade Olutola

if i look back, i am lost
Cosimo Galluzzi
seen from Chile

seen from Kuwait

seen from Sri Lanka

seen from United States
seen from Kenya
seen from Chile

seen from United States
seen from Poland

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Spain
seen from Bangladesh

seen from Bangladesh

seen from Belgium
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Uganda
@marifmaulana
Will you be my future tense?
All of these dreams, especially the path to Jannah. In syaa’ Allah. :)
A day without repentance is a day we indirectly claim perfection.
Bagaimana aku bisa tidak jatuh cinta.
Rencana-Mu ternyata berjalan begitu indahnya.
Bagaimana aku bisa tidak jatuh cinta.
Engkau menarikku terbangun dengan begitu lembutnya.
Sesungguhnya segala puji-pujian yang terbaik hanyalah pantas diberikan kepada-Mu, hanya dengan nikmat-Mu, sempurnalah seluruh kebaikan.
Exactly what we need.
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesembilan Belas: Pengawasan Allah dan Penjagaannya
Dari Abul Abbas bin Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma dia berkata,
“Suatu hari (ketika) saya (dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di belakang (hewan tunggangan) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda kepadaku:
‘Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu. Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu). Jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah (hanya) kepada Allah. Dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah. Dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu. Dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu. Pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.’ ”
HR. At-Tirmidzi (7/228-229 -Tuhfatul Ahwadzi), hadits no. 2516. Disahihkan oleh Syaikh Al Albani, dan dia berkata: (hadits ini adalah) hadits hasan sahih.
Syarh dari hadits tersebut:
Perkataan Ibnu Abbas, “Aku pernah berada di belakang Nabi.” Mengandung kemungkinan bahwa Ibnu Abbas dibonceng oleh Nabi, bisa jadi dia berjalan di belakang Nabi. Bagaimana pun keadaannya, yang penting bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan wasiat dengan beberapa wasiat yang agung ini.
Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat.” Beliau mengatakan pengantar seperti ini agar Ibnu Abbas memasang perhatiannya terhadap apa yang akan beliau sampaikan. "Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu". Perkataan ini (jagalah Allah), maksudnya adalah jagalah batasan dan syari’atNya, yakni dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-laranganNya, niscaya Dia akan menjaga agama, keluarga, harta, dan dirimu. Karena Allah akan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan berbuat baik kepada mereka. Dari hal ini dapat diketahui barangsiapa yang tidak menjaga Allah, maka dia tidak berhak mendapat penjagaan Allah. Hadits ini terkandung pula padanya dorongan untuk menjaga batas-batas Allah.
Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu).
Kalimat kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu.” Kami katakan, pada sabdanya (Jagalah Allah), sebagaimana perkataan kami pada kalimat yang pertama di atas. Sedangkan makna (maka engkau dapati Dia di hadapanmu), yakni engkau dapati Dia di hadapanmu, memberikan petunjuk kepadamu untuk (melakukan) segala kebaikan, mendekatkan, dan menuntunmu kepadanya.
Jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah (hanya) kepada Allah.
Kalimat yang ketiga: ”Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah.” Maksudnya, jika engkau meminta suatu keperluan, maka janganlah engkau memintanya kecuali kepada Allah dan janganlah engkau meminta apapun juga kepada makhluk. Jika ditakdirkan engkau meminta kepada makhluk hal-hal yang mampu mereka lakukan, maka ketahuilah bahwa itu hanyalah salah satu jalannya saja. Sedangkan yang memberikannya adalah Allah. Oleh karena itu, bersandarlah kepada Allah semata.
Dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah.
Kalimat keempat: “Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” Maksudnya, jika engkau menghendaki pertolongan dan mencari pertolongan dari seseorang, maka janganlah engkau memintanya kecuali kepada Allah, karena Dialah Dzat yang di tanganNya kerajaan langit dan bumi. Dia akan memberikan pertolongan jika Dia menghendaki. Jika engkau dengan tulus meminta pertolongan kepada Allah dan bertawakal kepadaNya, maka Dia akan menolongmu. Oleh karena itu, jika engkau meminta pertolongan kepada makhluk dalam hal-hal yang mampu ia lakukan, maka yakinilah bahwa itu adalah sebagai sebab(jalan) semata. Dan hanya Allahlah yang menundukkan hal itu untukmu.
Dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu.
Kalimat kelima: “Dan ketahuilah, sesungguhnya seandainya umat ini bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberinya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.” Yakni, seandainya seluruh umat dari awal hingga akhirnya bersatu padu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan memberikannya kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Atas dasar ini, maka manfaat yang datangdari seseorang kepada orang lain, pada hakikatnya berasal dari Allah karena Dialah yang telah menetapkan baginya, dan ini adalah dorongan bagi kita agar bersandar kepada Allah, dan kita pun mengetahui bahwa umat ini tidak dapat mendatangkan kebaikan bagi kita, kecuali dengan seizin Allah subhanahu wata’ala.
Dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu.
Kalimat keenam: “Dan seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat mendatangkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.” Oleh karena itu, jika engkau mendapatkan kemudharatan dari seseorang, maka ketahuilah bahwa Allah telah menetapkan hal itu untukmu, maka merasa ridhalah dengan ketetapan Allah dan takdirNya. Akan tetapi, tidak mengapa engkau menangkal kemudharatan tersebut darimu, karena Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (Asy Syuura: 40).
Pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.
Kalimat ketujuh: “Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” Yakni, bahwa apa-apa yang Allah tetapkan telah selesai, pena telah diangkat dan lembaran telah mengering, dan tidak ada lagi perubahan pada ketetapanNya. Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi. Dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih.
(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, penerjemah Abu Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan.
Silakan dicopy dengan mencantumkan URL http: //ulamasunnah.wordpress.com)
Bukanlah yang dimaksud dengan kata takdir dalam frasa “takdir buruk” pada judul di atas adalah perbuatan Allah menakdirkan suatu peristiwa. Karena Allah Maha Indah, baik dzat, nama, sifat, maupun perbuatan-Nya. Allah Maha Indah ditinjau dari segala sisi. Tidak ada satupun keburukan yang terdapat pada diri Allah. Tidak boleh satupun keburukan disandarkan kepada dzat, nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Di dalam kitab Al-Fawaid, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur, jika sebuah takdir yang buruk menimpa seorang hamba, maka ia memiliki enam sikap dan sisi pandang:
1. Kacamata Tauhid
Bahwa Allahlah yang menakdirkan, menghendaki dan menciptakan kejadian tersebut. Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.
Seorang mukmin yang di dalam hatinya mengakar kuat keimanan terhadap Rabbnya akan memandang segala sesuatu dengan kaca mata iman dan tauhid, terlepas apapun yang dihadapi dan dialaminya. Hatinya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, pastilah Allah yang menghendakinya terjadi dan Dialah yang menakdirkannya, baik peristiwa tersebut sebuah kebaikan ataupun keburukan. Namun setiap yang Allah takdirkan terjadi, pastilah ada hikmahnya, baik kita ketahui atau tidak.
Oleh karena itu, ketika mendapatkan musibah, Anda dizalimi orang lain atau difitnah misalnya, maka pandanglah peristiwa itu dengan kacamata iman, Allahlah yang menakdirkan musibah ini menimpa diri saya, Allahlah yang memilih saya untuk menjadi orang yang tertimpa musibah ini ,
Allah lah yang memilih saya menjadi korban fitnah ini. Radhiitu billahi Rabbaa, saya ridha Allah menjadi Rabbku dan Sang Pengaturku. Saya tidak akan memprotes takdir-Nya. Karena setiap hari seorang hamba berpeluang tertimpa musibah, maka pantaslah prinsip hidup yang seperti ini dalam Islam disyari’atkan untuk diwujudkan dalam ucapan dzikir pagi dan sore, bahkan disyari’atkan untuk diucapkan 3 kali,
رضيت بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد صلى الله عليه و سلم نبيا
“Aku rela Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku dan Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiku” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi).
Dengan demikian, setiap kali seorang hamba tertimpa musibah, ia menghadapinya dengan lapang dada dan menggantungkan harapan hatinya semata-mata kepada Sang Pengaturnya agar ia mendapatkan jalan keluar dan mampu bersabar dalam menghadapinya dengan mengharapkan pahala dari-Nya.
2. Kacamata Keadilan
Bahwa dalam kejadian tersebut berlaku hukum-Nya dan adil ketentuan takdir-Nya.
Setiap peristiwa yang ditakdirkan terjadi pada diri seorang hamba pastilah Allah selalu adil dan tidak pernah zalim kepadanya, karena Allah menentukan takdir bagi seorang hamba selalu sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِᄉ
“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya” (Fushshilat:46).
Bukankah setiap musibah yang ditakdirkan menimpa kita karena akibat dosa kita?
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (Asy-Syuuraa: 30).
3. Kacamata Kasih Sayang
Bahwa rahmat-Nya dalam peristiwa pahit tersebut mengalahkan kemurkaan dan siksaan-Nya yang keras, serta rahmat-Nya memenuhinya.
Tidaklah Allah menakdirkan atas diri seorang mukmin sebuah peristiwa yang pahit, kecuali didasari kasih sayang-Nya kepada hamba tersebut. Dan kasih sayang-Nya mengalahkan murka-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Al-A’raaf:156).
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman,
إن رحمتي سبقت غضبي
“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Kacamata Hikmah
Hikmah-Nya Subhanahu menuntut menakdirkan kejadian itu, tidaklah Dia menakdirkan begitu saja tanpa tujuan dan tidaklah pula Dia memutuskan suatu ketentuan takdir dengan tanpa hikmah.
Hikmah pentakdiran pastilah ada. Namun hikmah tersebut terkadang kita tahu, namun terkadang pula kita tidak tahu. Namun, ketidaktahuan kita terhadap suatu hikmah dari kejadian tertentu , tidaklah menghalangi kita berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Bahwa dengan hikmah Allah, Allah memutuskan suatu takdir. Jadi, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Maha Bijaksana dalam menetapkan takdir-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminuun: 115).
Allah Ta’ala juga berfirman,
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Al-Qiyaamah: 36).
5. Kacamata Pujian
Bahwa Dia Subhanahu terpuji dengan pujian sempurna atas penakdiran kejadian tersebut, dari segala sisi.
Allah terpuji dari segala sisi, terpuji dzat, nama, sifat maupun perbuatan-Nya, termasuk terpuji saat menakdirkan suatu takdir yang pahit, karena semua itu berdasarkan ilmu dan tuntutan hikmah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Do’a mereka di dalamnya ialah subhanakallahumma dan salam penghormatan mereka ialah salam. Dan penutup doa mereka ialah segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.” (Yuunus: 10)
6. Kacamata Peribadatan
Bahwa orang yang menjalani takdir yang buruk itu adalah sekedar hamba semata dari segala sisi, maka berlaku atasnya hukum-hukum Sang Pemiliknya, dan berlaku pula takdir-Nya atasnya sebagai milik dan hamba-Nya, maka Dia mengaturnya di bawah hukum takdir-Nya sebagaimana mengaturnya pula di bawah hukum Syar’i-Nya. Jadi, orang tersebut merupakan hamba yang berlaku atasnya hukum-hukum ini semuanya.
Sebagai seorang mukmin yang meyakini bahwa ia hanyalah milik Allah dan hamba-Nya, maka ia sadar dan mengakui kepemilikan Allah atas dirinya sehingga Dia berhak mengaturnya dengan bentuk pengaturan bagaimanapun juga, semua terserah Dia, Sang Pemilik alam semesta, maka ia ridha dengan pengaturan Rabbnya tersebut dan benar-benar menghamba kepada-Nya saja.
Seorang mukmin juga sadar bahwa dalam keadaan bagaimanapun juga, sebagai seorang hamba, ia tetap tertuntut untuk mempersembahkan peribadatan dan penghambaan kepada Sang Pemiliknya, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana dalam keadaan senang dan lapang, ada tuntutan peribadatan atasnya, maka begitu juga dalam keadaan susah dan tertimpa musibah, ada tuntutan peribadatan atasnya pula. Ia adalah hamba Allah, baik dalam keadaan sedih maupun senang.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا
“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (Maryam: 93).
Allah Ta’ala berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (Al-Furqaan: 63).
Referensi: 1. Fawaidul Fawaid , Imam Ibnul Qoyyim, ta’liq: Syaikh Ali Hasan. 2. Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qoyyim.
Penulis: Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.Or.Id
All that is gold does not glitter, Not all those who wander are lost; The old that is strong does not wither, Deep roots are not reached by the frost. From the ashes a fire shall be woken, A light from the shadows shall spring; Renewed shall be blade that was broken, The crownless again shall be king.
J. R. R. Tolkien
It's been rough. It's so painful. I was so scared. I was so sad. It hurt so much. I thought I'd die. I tried so hard. So hard! I was so desperate. So desperate to make everything right. Because I loved this place. Because it was so important to me. I was so desperate to get it back. I was scared. I was so scared. I never want to be looked at like that ever again. And I hated myself so much for feeling this way.
Natsuki Subaru, Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu
Exactly what we (or is it just me?) struggled for past these years. Finally can put an end to it...
Man, I'm really happy for IceFrog. He stuck to it, gave his life to improve a "free" community-driven game with no reward in sight, saw his predecessors make dollars, then BOOM! Gets hired by the biggest name in PC gaming to see his labor of love get overhauled into the modern age. Beautiful story.
Bubbachuck, in a reddit forum.
Just stumbled upon this when re-reading some articles about DotA history and the copyright issue. This is really, really inspiring epilogue to every dedicated, hard-working, free-devs out there. So proud of you, IceFrog. Your children now leading the world in the new e-sport era.
When you get a girlfriend that says she cheated on you, rather than start throwing your emotion at her, you have to say: "I did something even worse". There'll be a little moment when she will feel relieved, but at the same time confused, then she will ask you what you did. Without a further ado, answer with: "I trusted you". It will break her heart like Trump breaks US.
Actually this is very funny (and amazingly deep, though). Of course, it’s not based on my personal experience. Someone wrote this gold in comment section of some fun (meme) sharing web, and all I do is just edit it and post it here (for future references *wink*).
Allah jalla wa ‘ala berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125) Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Hendaklah menasihati Ikhwan akan tetapi dengan kelembutan, dengan ucapan yang baik, tidak dengan cara yang melampaui batas terhadap manusia, tidak dengan memukul, mencerca dan melaknat mereka, namun dengan ucapan yang baik dan metode yang bagus." (Majmu' Al-Fatawa, 8/376)
The Prophet (ﷺ) said, “No fatigue, nor disease, nor sorrow, nor sadness, nor hurt, nor distress befalls a Muslim, even if it were the prick he receives from a thorn, but that Allah expiates some of his sins for that.” Sahih al-Bukhari 5641, 5642
More islamic quotes HERE
No matter how small a wish is, if all you do is wait for it to come true, nothing will change. You need to take the first step toward making your wish come true. That is the key to someday achieving happiness. And if that's the case, then isn't it already within your reach?
Kodaira, Anne Happy
I don’t talk why I’m asking because it doesn’t mean and change anything to them. And their reaction had hurt me.
People often ask me: "Why you do this, why you do that? Why do you do this after all this time?" In fact at that time, they just realize how oblivious they are to anything until it comes and hit them hard.
They don't need an explanation. They don't deserve it.
I played my part, kept you in the dark.
Martin Max, Shape of My Heart