Dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah bahwa, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu lebih utama dari memperbanyak amalan.”
Sebagaimana dalam QS. Al-Mulk: 2, “Untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
Allah Subhanahu Wata’ala tidak memfirmankan, “Yang paling banyak amalannya.” (Sifatush Shalah, 170)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa, “Jadilah orang-orang yang lebih semangat dan fokus pada diterimanya amalan.”
Sebagaimana dikisahkan dalam QS. Al-Ma’idah: 27 tentang kedua putra Nabi Adam ‘alaihis salam yang mempersembahkan kurban, namun hanya satu yang diterima (Habil) sedang (Qabil) tidak diterima. Qabil berkurban dengan hasil pertaniannya dan yang diberikan bermutu rendah, sedang Habil berkurban dengan kambing pilihannya yang baik.
“Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa’.”
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu pun mengatakan bahwa, “Andaikan aku yakin bahwa Allah Subhanahu Wata’ala menerima satu saja dari salatku, itu lebih aku cintai daripada seluruh dunia dan seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/166)
“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah), dengan hati penuh rasa takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim rahimahullah oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha,
“Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ayat ini, ‘Apakah yang dimaksud dengan ayat ini ialah orang yang berzina, dan meminum khamar atau mencuri?, dan karena itu ia takut kepada Tuhan dan siksa-Nya?’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, ‘Bukan demikian maksudnya, hai putri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengerjakan salat, berpuasa dan menafkahkan hartanya, namun dia merasa takut kalau-kalau amalnya itu termasuk amal yang tidak diterima’.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Hal yang patut diperhatikan juga dikoreksi oleh setiap individu.
Mereka yang melakukan amalan saleh perhatiannya akan terpusat pada dua hal ini sebagai syarat diterimanya sebuah amalan yaitu,
Ikhlas mengharapkan Wajah Allah Subhanahu Wata’ala dan ittiba yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ikhlas mencakup: merawat niat, meninggalkan syirik, ihsan (beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, (ketahuilah bahwa) sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala melihatmu), senantiasa khusyuk serta menyembunyikan amalan, dsb.
Ittiba mencakup: mempelajari fikih ibadah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan bidah, memperbaiki tata caranya, berusaha mengerjakan yang paling utama dari beberapa pilihan, dsb.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang beramal tanpa dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Diriwayatkan pula oleh Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Dikatakan oleh Syaikh Ibnu Qasim rahimahullah bahwa, “Perkataan dan amalan manusia tidaklah benar sampai ia mendasarinya dengan ilmu.”
Dikatakan pula oleh Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani rahimahullah bahwa, “Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)
Untuk itu, dahulukan ilmu sebelum amal.
Doa yang senantiasa dibaca setelah salat Subuh,
“Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa.”
”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah no. 925, sahih)