Mungkin saat kau membaca ini aku sudah tiada, disembunyikan waktu karena kalah oleh masa.
Kawan, kenanglah aku tanpa membuat kalian bersedih. Kenanglah tawa-tawaku bukan keluhanku. Kenanglah senyumku bukan senduku.
Hidup ini tak ada yang pasti, bila kelak kita bertemu lagi mungkin itu adalah saat-saat kita akan menuliskan cerita kembali. Tentang senda-gurau dikala hati sedang menyakiti sendiri.
Masa kecilku beruntung, bisa memahami apa hangatnya pelukan kedua orang tua..
Bahwa pelukan orang tua adalah tempat ternyaman tanpa lawan, surga pun tak akan bisa memberikan tempat nyaman seperti itu.
Ibu, aku di sini hanya bisa menangis ketika jauh darimu. Ibu, maafkanlah segala kesalahanku.
Ibuku kuat, ia memahamiku lebih dari apapun itu. Meski aku tak pernah tahu, ia sering menangis karena tingkah laku aku yang balum juga baik..
Ibu, janganlah bersedih. Aku tahu, aku belum juga bisa membahagiakanmu. Mungkin, tulisan ini tak berarti apa-apa atas segala rasa yang pernah kau korbankan untukku. Tapi dari tulisan ini aku menyampaikan berjuta rasaku kepadamu..
Ibu ada yang aku tunggu-tunggu dari garis lengkung di bibirmu, mengariskan senyuman dengan sumbringah. Menggambarkan senja di pipi dengan merona. Matamu tajam, membuat aku memejam, ingin mendekap di pelukanmu tanpa harus melepasnya.
Ayahku, seorang yang kuat. Ia lebih sering menangis daripada ibuku, tangisannya itu berupa keringat-keringat yang bercucuran ketika mencari nafkah untuk keluarga sederhana kita..
Ayahku, meski ia sering berbicara mengulang-ulang tapi aku sebenernya senang. Meski aku sering membantai tapi aku ingin tetap berlindung di balik tubuhnya.
Ayahku, engkau yang begitu kuat. Rela menghajar siapa saja yang mengusik kebahagiaanku. Ia, pahlawan bagiku. Melebihi apapun itu.
Ibu, Ayah. Maupun umurku terus bertampah, walau pun kata orang lain aku sudah dewasa. Tapi di hadapanmu aku masihlah anak kecil yang manja. Butuh uluran tangan kalian untuk berjalan ke tempat yang begitu bahagia..
Adikku yang menjengkelkan, meski sering kali kita berkelahi ketika bertemu. Ketahuilah bahwa aku selalu rindu akan moment itu. Aku ingin memeluk kalian. Tak wajar memang, seorang kakak lelaki memeluk adik lelaki. Tapi aku ingin merasakan hal itu..
Kita terlalu gengsi untuk melakukannya, padahal kita menginginkan hal itu..
Adikku, jaga ayah dan ibu ketika kelak aku sudah tersenyum dengan baik..
Adikku, gapailah cita-citamu. Jangan sepertiku yang hanya bisa bersibuk-sibuk dengan kemalasan.
Adikku, kita adalah kebahagiaan ketika bersama, duduk di meja makan bersama Ayah Ibu dan membagi cerita tanpa ada akhir tanda baca
Kepada masa laluku, aku merindukan kamu.
Menghangatkan malamku dengan janji-janji manis bak api unggun..
Mungkin bukan hanya aku yang ingin membahagiakanmu, tapi hanya aku yang ingin menemani kesendirianmu, kesedihanmu dengan tulus..
Aku mempunyai puisi untukmu
Tubuh kini meringkih bersama rindu, tegap badanku terkikis tanpa adanya dekapan darimu. Nama-namamu mengisi penuh isi kepalaku, senyum terbaikmu aku ingat sepanjang waktu.
Kepadamu yang saat ini membuatku jatuh cinta. Ketahuilah sebab saat kau membuat rasa ini terjatuh aku merasa bunga-bunga rindu bermekaran, tunas-tunas kebahagiaan bermunculan dan senyummu bak akar, menguatkan perasaan..
Aku jatuh hati, ingin diam di sana. Tanpa adanya orang lain, meski gelap pekat adalah temanku.
Berbahagialah kalian semua yang ada dalam tulisan masa laluku, meski aku di sini sendiri tapi aku usahakan berbahagia tanpa lelah.
Tempat gelap peristirahatan terakhir.
26-03-2013. 04:35am. Ciputat
Tulisanku, tak sebaik apa yang pernah terjadi dalam hidupku.