saat itu aku menatap cermin, ternyata rambutku bisa cepat tumbuh, merasakan ketebalan yang tdk pernah ku rasakan sebelumnya, menarik, karena benar2 cepat prosesnya, hingga aku berpikir bahwa ini mirip dengan yang teman2 miliki, bisa itu si inisial a, bisa juga seseorang yg kulihat tebal dan lurusnya tadi siang di selasar kampus, lalu jenggot dan kumisku muncul cepat, yang kuingat ini menutupi seluruh muka, aku bisa merasakan pikiran yang dimiliki teman2 pasti menganggap ini pasti risih, buktinya tidak, sampai seperti monyet, lalu bayangan itu hilang
aku beruntung temanku menitipkan kasurnya di kamar kosku, sehingga aku berpikir bakal sangat tinggi dan dekat menyentuh plafon, tapi todak seperti biasanya, di sana tidak ada plafon, kulihat reng, usuk, genting dan balok di atas kasur, kamarku seperti aku menyewa 3 kamar dalam satu kos, serasa kaya karena luas, tapi seingatku karena petir yang keras itu, tiba2 aku sudah di atas balok, bergelantung memeluk balok itu, aku merasakan ketinggian, kuingat aku takut ketinggian karena tragedi BEI yang baru kemarin terjadi, teryata balok jika dilihat dari atas cukuplah tinggi untuk kau merasakan takut, aku tidak tahu kemana perginya teman2 samping kamarku, aku tebak mereka membeli makan malam, aku berusaha untuk tahan sambil meminta pertolongan, ibu kos datang bersama tukangnya mengecek sudut gudang yang berantakan, kupanggil dia, dia kaget sambil mengucap kata ya ampun dalam agama, ya pantaslah aku semakin takut karena itu tandanya ini memang aneh, disusulnya si tukang di belakang ibunkos karena memang pintu kamar kubiarkan terbuka, aku tetap memeluk erat balok itu sambil tetap berusaha tenang, kutatap lagi lantai di bawahku yang tetap terasa jauh ke bawah seperti melihat jurang, aku perintahkan ibu kos menggeser kasur, pertama yang ia pindahkan malah guling, guling yang panjang sebesar kasur makanya itu mustahil untuk tempst mendaratkan, kuperintahkan lagi si tukan mengambil kasur, satu kasurpun sudah dipindah, kuminta kasur temanku ditumpuk di kasurku, benar mereka berhasil melakukan itu, namun aku pikir letak kasur itu tidak berada persis di bawah aku bergelantung, ibu kos lalu menggesernya, baguslah itu sudah tepat, lalu aku mengumpulkan nyaliku dulu, sambil tetap menyemangati diri mau kapan aku akan bergelantung di sini, baik aku siap melompat, ketika melontarkan badan, kususul dengan menghempaskan kakiku ke balok agar badanku terbang ke arah kasur yang mengapa agak bergeser, ketika melayang di pertengahan jalan, kudengar si tukang berdoa dalam lafal identik agama, aku semakin takut, lalu ketika 3/4 jalan aku merasakan ada yang salah, aku tiba2 menyesal terlalu jauh melesat, benar, aku mendarat di lantai, bukan di atas kasur yang tinggi dan empuk itu, aku mendarat dengan posisi jongkok di samping ibu kos berdiri, aku heran kenapa sempat jongkok, jadi teringat para pemain parkour yang sigap mendarat, pengaruh jarak yang terlalu tinggi aku rasakan di seluruh kakiku, lalu sekejap aku terbangun karena kejadian ini membuat aku takut, aku sadari ini mimpi tapi mengapa rasa sakit itu masih terasa hingga aku bangun, aku yakin itu bangun karena aku berada tidur di atas kasur kos samping lemari, sempat aku bingung mana yang sebetulnya mimpi.