Sebuah cerita pembuka sekaligus penutup
Aku sudah lama ingin menuliskan ini, menurunkan beban yang selama ini selalu kubawa, namun disisi lain, aku tak ingin merasakan rasa sakit yang selama ini kusembunyikan, disamarkan oleh rasa bahagia berharap suatu saat rasa itu akan benar benar hilang dan tergantikan, tapi ternyata aku salah, dia tersembunyi dan tumbuh besar bersiap untuk mendobrak pintu penyamaran yang ada.
Aku pergi melaukan suatu tugas pengabdian ke suatu daerah jauh dari rumah, cukup jauh memang dari jalan utama namun tidak begitu terpencil. Masih ada minimarket, dan listrik 24 jam, meskipun tidak ada mall atau gelding gelding pencakar langit. Aku tidak melakukan tugas pengabdian sendirian, ditemani beberapa orang lain dengan latar belakang berbeda beda, jumlahnya sekitar 10 orang, dengan salah satu diangkat sebagai penanggung jawab, aku tidak terlalu mengenalnya, biarlah, aku rasa ada atau tidak penanggung jawab tidak akan terlalu berpengaruh, pikirku saat itu.
3 bulan berjalan hingga akhirnya ada suatu program yang membuatku harus bekerja sama dengannya, sang penanggung jawab, berdua, bertugas mengunjungi pulau kecil di sebrang. Dari tempatku kini ke pulau sebrang mengharuskan menaiki perahu selama 1 jam. Untuk pertama kalinya aku membicarakan banyak hal dengannya. Ternyata cukup menyenangkan mengobrol dengannya, menempuh waktu 1 jam perjalanan pulang pergi, berjam jam mengobrol setelah selesai melakukan penyuluhan di desa tersebut membuat waktu rasanya berjalan cepat. Aku mengagumi seluruh kisah yang dia ceritakan, pengalaman pengalaman yang dia dapatkan, hikmah dibalik perjalanan yang tidak selalu mulus, perspektif dia mengenai kehidupan dan banyak hal lain eentangnya, membuatku merasa kagum dan sanggup mendengarkan selama berjam jam. Dia juga pendengar yang baik, membuatku nyaman menceritakan apapun. Aku tidak tahu kapan persisnya, tapi aku rasa, ada suatu yang lain yang muncul ketika bersamanya, ada harapan yang kini tumbuh di dalam hatiku, aku ingin bersamanya seterusnya.
Aku tak pernah berpikir akan menyayanginya, sejak awal bertemu, ada suatu hal yang membuatku yakin bahwa aku tak akan menjatuhkan hatiku padanya, tapi ternyata, hatiku seperti memiliki nyawa yang lain, memilii keinginannya sendiri.
Ini seminggu terakhirku menjalani pengabdian, aku masih mengunjungi desa terpencil itu, melakukan penyuluhan banyak hal kepada anak anak disana, mengajarkan membaca menghitung menulis, rasanya aku tidak ingin kegiatan ini berakhir. Kini giliran dia, membacakan cerita kepada anak anak, aku senang melihatnya, senang sekaligus sedih, karena sebentar lagi akan berpisah dengannya, masih bisakah bertemu dan membicarakan banyak hal? atau akan menjadi asing kembali setelah pengabdian ini selesai? Jika bisa memilih, aku memilih untuk memperpanjang waktu pengabdian ini.
Kini, aku terduduk di balkon, meminum teh hangat sambil melihat bulir bulir hujan yang jatuh ke tanah, aromanya menenangkan. Dua tahun sudah berlalu, sejak saat itu, aku masih berhubungan baik dengannya, tentu, aku yang terus mempertahankan komunikasi, bertanya banyak hal dan bercerita banyak hal, walau dia sudah tidak seperti dulu, kini dia lebih banyak mendengarkan, terkadang bersikap dingin, aku tetap melakukannya, keterlaluan memang, aku hanya tidak ingin kehilangan, ada sebuah harapan, suatu saat nanti aku bisa bercerita kepadanya senelum tidur.
Harapan yang hanya akan menjadi harapan, harapan yang dipaksa harus tenggelam hingga tak dapat lagi muncul ke permukaan. Seminggu lalu, dia menceritakan tentang sosok wanita yang dia inginkan, dan meminta kepadaku untuk mendoakan dan mengamini agar mereka bisa bersama. Mendengarnya aku tersenyum, aku bahagia sekaligus sedih, tidak, aku tidak sedih dan membencinya, aku hanya sedang kecewa, sedih dan marah pada diriku sendiri, mengapa aku membiarkan harapan harapan kosong itu tumbuh, mengapa seluruh sikap dinginnya tidak menyadarkanku bahwa seharusnya aku tidak boleh memaksakan keinginannku, seharusnya aku mengamini seluruh tanda tanda yang dia tunjukan, bukan malah menolaknya, dan semakin memupuk harapan harapan yang seharusnya dipangkas ketika awal mula tumbuh. Aku mengutuk diriku sendiri. Lalu ada perasaan bersalah padanya, terbayang bagaimana rasanya harus meladeni aku yang terus menerus menguhubunginya.
“Semoga kalian bersama dan bahagia selamanya, kudoakan yang terbaik untuk kalian” Ucapku,
“Terimakasih” Katamu, menutup pembicaraan.
Aku masih terdiam, berusaha mencerna semua yang terjadi, kubiarkan air mataku mengalir deras, air mata penyesalan atas seluruh kebodohan yang telah aku lakukan. Ada air mata bahagia karena dia telah bahagia. Setidaknya ada kisah yang berakhir bahagia, walaupun tentu bukan kisahku.
Aku menyeruput kembali tehku, menghirup dalam dalam aroma hujan, memenuhi seluruh rongga dadaku, agar tidak ada lagi rasa yang tersisa. Aku telah selesai dengan harapan harapan yang kubuat sendiri, harapan harapan yang terpaksa harus digusur oleh air mata kesedihan dan penyesalan. Semuanya akan baik baik saja, hanya perlu waktu untuk terbiasa. Aku mengambil handphone ku, menghapus kenangan yang masih tersisa, kenangan yang hanya dibuat sendiri. Aku kembali menarik nafas dalam, menghisap seluruh perasaan dan harapan yang masih tersisa, ikut membuangnya ketika aku menghembuskan nafas perlahan. Kini, aku tidak akan pernah mengganggunya lagi, aku ikhlaskan segalanya, segala perasaan yang pernah dititipkan Tuhan hanya untuk sementara.
Apapun yang terjadi hidup harus tetap berjalan, seperti burung burung yang kembali terbang bebas setelah hujan reda.